Pengalaman Menyetir Sendiri di Cappadocia


Cappadocia memang menjadi magnet bagi setiap wisatawan yang datang ke Turki. Meskipun cukup jauh dari Istanbul, kota terbesar walaupun kini bukan lagi pusat pemerintahan Republik Turki, Cappadocia tetap menjadi primadona karena alamnya yang unik dan bisa dinikmati dari angkasa lewat wisata balon udara yang tersohor, maupun dari darat dengan bis atau mobil biasa.

Balon udara alias hot air balloon di Cappadocia, Turki
Balon udara alias hot air balloon di Cappadocia, Turki

Saya, Simbok, Oliq, dan Ola yang masih anteng di perut simbok sudah sangat menanti-nantikan perjalanan ke Cappadocia. Sebenarnya saya berencana menjajal balon udara yang termahsyur itu, namun sayangnya cuaca pada hari itu tidak mendukung yang berakibat semua penerbangan dibatalkan. Pastinya semua patuh dengan larangan dari otoritas setempat, tidak ada operator yang nekat menerbangkan balon udaranya. Namun ada hikmahnya juga, karena tidak jadi naik balon udara, akhirnya kami putuskan untuk mengeksplor kota kecil ini lebih jauh.

The backpackologist siap menjelajah Cappadocia, Turki
The backpackologist siap menjelajah Cappadocia, Turki

Pilihan yang mudah sebenarnya adalah ikut tur naik bis. Ada pilihan paket half day dan full day, bedanya tentu jumlah obyek wisata yang dikunjungi. Lumayan mahal juga sebenarnya, tapi pastinya enak tinggal terima beres saja. Namun setelah kami pikir-pikir, ikut tur seperti ini kurang bebas, apalagi dengan kondisi Simbok yang lagi hamil dan Oliq yang kadang-kadang rewel atau mengantuk. Lagipula, ikut tur rasanya kurang “backpacking” dan kurang asik. Akhirnya kami putuskan untuk menyewa mobil dan menyetir sendiri, lepas kunci kalau istilah di sini. Sewa mobil untuk disetiri sendiri sebenarnya memang cukup lazim di Eropa dan Amerika, tak heran di bandara banyak konter penyewaan mobil, jadi begitu turis sampai di bandara langsung bisa menyetir sendiri dan nantinya dikembalikan ke bandara lagi.

Mobil sewaan kami di Cappadocia, Turki, dengan latar satu kampung yang berisi rumah-rumah dari batu yang dipahat
Mobil sewaan kami di Cappadocia, Turki, dengan latar satu kampung yang berisi rumah-rumah dari batu yang dipahat

Nah, buat orang Eropa mungkin biasa aja, buat saya orang Indonesia yang baru pertama kali ke Turki pastinya lumayan kagok juga… Lho kok gitu?? Asal tahu aja, mobil di Indonesia dan mayoritas Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Thailand, Australia) menganut setir kanan karena bekas jajahan Inggris. Indonesia pada mulanya menganut setir kiri karena bekas jajahan Belanda, namun akhirnya berubah ke setir kanan karena mengikuti negara tetangga. Sementara Turki menganut setir kiri seperti lazimnya negara Eropa daratan. Karena bujet terbatas, saya pun mencari yang paling murah yaitu tipe manual. Ini juga masalah lagi, karena sekarang terbiasa menyetir mobil matic, tiba-tiba disodorin mobil manual dengan setir kiri pastinya langsung kagok. Biasanya, persneling dan rem tangan pakai tangan kiri, sementara kaki tinggal ngegas dan ngerem, tiba-tiba langsung berubah haluan persneling dan rem tangan kaki kanan, sementara kaki harus siap injak kopling juga.

Dengan menyetir sendiri di Cappadocia, kita bebas kapanpun mau berhenti dan sekedar jeprat-jepret
Dengan menyetir sendiri di Cappadocia, kita bebas kapanpun mau berhenti dan sekedar jeprat-jepret

Benar saja, begitu saya membereskan administrasi dengan petugas konter mobil dan mencoba mobilnya, langsung saja mati mendadak tepat percobaan pertama gara-gara gak pas injak kopling. Percobaan kedua berhasil sesaat, tapi mati lagi gara-gara lupa lepas rem tangan. Penjaga konter pun langsung terlihat panik,

“Are you sure you can drive this car?”

“Ya ya, I’m fine, just need a little practice,” kata saya sekenanya, padahal emang rada panik juga gara-gara mati-mati terus pas ngetes mobilnya. Akhirnya pelan-pelan setelah bisa menyinkronkan tangan kanan dengan kaki, mobil sukses meninggalkan konter rental menuju hotel tanpa menabrak apapun. Alhamdulillah…

Mobil sedan Renault, pilihan termurah kali ini, dengan latar pegunungan Cappadocia yang mistis
Mobil sedan Renault, pilihan termurah kali ini, dengan latar pegunungan Cappadocia yang mistis

Pilihan termurah adalah jenis sedan buatan Renault Prancis yang tidak beredar di Indonesia. Lumayan lah, bisa coba-coba mobil yang gak ada di Indonesia. Selepas menjemput Simbok dan Oliq dari hotel, kami langsung mencari pom bensin terdekat. Rada ketar-ketir juga karena bensin sudah mendekati kosong, kalau sampai kehabisan di tengah jalan kan horror banget, mana jalannya sepi-sepi di tengah gurun, suhunya nyaris nol pula, wah susah pokoknya. Ternyata pom bensin tidak terlalu jauh. Harga bensinnya jauh lebih mahal daripada di Indonesia, tapi berhubung rada khawatir kehabisan bensin di tengah gurun, akhirnya saya beli agak banyak sekalian.

Simbok dan Oliq dengan salah satu obyek wisata wajib di Cappadocia, Turki
Simbok dan Oliq dengan salah satu obyek wisata wajib di Cappadocia, Turki

Kelar urusan bensin, tiba saatnya eksplor Cappadocia. Ternyata memang Cappadocia sangat indah dan misterius. Gugusan batu-batu berbentuk topi, rumah-rumah yang dipahat dari batu kerucut, dan gunung-gunung yang berlapis-lapis benar-benar membawa kita ke alam lain yang tak terbayangkan sebelumnya. Menyusuri jalanan Cappadocia dengan mobil lebih memanjakan padangan mata kita. Jalanan yang sepi di tengah gurun dan pegunungan batu memang terasa menggoda, kadang masih ada sisa-sisa salju di pinggir jalan yang menambah suasana menjadi mistis. Tapi saya tetap tidak berani menggeber laju mobil, karena memang mobil yang masih asing buat saya dan juga saya ingin tetap menikmati pemandangan sekitar yang luar biasa.

Pemandangan spektakuler dari atas bukit di Cappadocia, Turki
Pemandangan spektakuler dari atas bukit di Cappadocia, Turki

Keasyikan tersendiri ketika menyetir adalah kita bebas berhenti kapan saja kalau kita melihat obyek menarik. Di Cappadocia, terlalu banyak spot-spot menarik yang sayang untuk dilewatkan. Walaupun bukan obyek wisata resmi, banyak lokasi dengan pemandangan spektakuler yang sayang dilewatkan. Dengan naik mobil sendiri pastinya tinggal berhenti dan jepret-jepret, tapi pasti tak bisa lama-lama karena hawa dingin yang menusuk tulang.

Jadi kalau ingin menikmati Cappadocia lebih puas, jangan ikut tur tapi sewa mobil sendiri saja. Dijamin seru dan menantang dengan bonus pemandangan yang wah.

 

Advertisements

14 thoughts on “Pengalaman Menyetir Sendiri di Cappadocia”

  1. Mba, salam kenal. Saya Geraldine.
    Seneng banget bisa nemu blog ini dan dapat tips backpacking. Btw kalau nyetir di sana mesti ada SIM khusus ya? Secara SIM yang saya punya SIM A yang pastinya hanya untuk wilayah Indonesia.
    Berencana pingin ke Turki buat Resolusi tahun 2016 ni. Hihihi.

    Like

    1. harusnya sih SIM internasional… tapi saya juga cuma pake SIM biasa n boleh2 aja… cappadocia gak ketat kok masalah SIM, rasanya juga gak diperiksa waktu nyewa.. cuma paspor aja yg dicek, gak ditinggal juga

      Like

  2. Saya juga kalau bertualang di kota-kota Indonesia (lokal sih, belum internasional seperti ini :haha), selalu berusaha cari persewaan kendaraan (terutama motor). Eksplorasi bisa dilakukan semau kita, bebas mau ke mana saja, selama apa pun (dalam rentang masa sewa, tentu saja). Pengalaman perjalanan pasti akan jadi lebih lengkap dan komprehensif, kalau bahasa kerennya :hehe.
    Jadi saya paling suka kota yang wisatanya ramah persewaan motor :hihi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s