Naik Pesawat Apa Ke Mana?


Traveling tidak jauh dengan moda transportasi udara pesawat terbang. Apalagi, Indonesia ini berpulau-pulau, mau naik kapal bisa tua di jalan keburu cuti habis, makanya pesawat terbang jadi pilihan transportasi. Selain cepat, nyaman, tiketnya juga sering promo.

Cari tiket promo
Cari tiket promo

Oliq dulu mania pesawat terbang (sekarang lebih senang konstruksi, terutama tower crane), dia hapal banyak jenis pesawat terbang dan tail fin sekitar 30-40 maskapai waktu umurnya belum genap 2 tahun. Hapalnya juga pakai bahasa bayi, misalnya Afuyang (Air France), Kemekmekmek (KLM), Afoyot (Aeroflot), Wawa Duda Joyoyo (maksudnya pesawat Garuda ijo alias Citilink). Bisa bedain  jenis sederhana seperti  Boeing 737, Boeng 747, dan Airbus 380, Antonov 225, Airbus Beluga dan Galaxy C5.

Kalau dipikir-pikir, selama umur saya yang masih 23 tahun ini, sudah lumayan banyak jenis pesawat yang saya tumpangi dan ada berbagai pengalaman lucu.

Pesawat yang paling sering saya tumpangi tentu saja Boeing 737 (seri 300-800ER) yang kebanyakan dimiliki Lion Air dan Garuda dan Airbus 320 punya AirAsia untuk penerbangan jarak pendek. Tidak ada yang spesial dengan pesawat ini, walau Oliq lebih suka Boeing karena posisi jendelanya lebih rendah jadi dia lebih leluasa melihat luar.

Ibu hamil naik pesawat aman
B777 Turkish Airlines

Pesawat terkeren dan terbesar yang pernah saya naiki adalah Airbus 380-800 milik Air France. Waktu itu kami terbang 14 jam dari Singapura ke Paris CDG. Penerbangan dengan jumbo jet kaya gini turbulensi jadi tidak terlalu terasa dibanding pesawat yang lebih kecil. Nyaman banget, terutama karena posisi kami di belakang pembatas, jadi leg room-nya luas. Pas bosen duduk di kursi, saya sama Oliq main rumah-rumahan lantai. Udah ngerasa kaya jaman susah waktu nggloso di lantai Senja Utama.

Sayangnya, long-haul naik pesawat keren cuma sekali itu. Kami lebih sering berjodoh dengan Boeing 777 yang leg room-nya sempit kalau naik Etihad, KLM, dan 747 tuwek punya Garuda, dan naik Airbus 330 bersama maskapai kesayangan umat AirAsia X.

Jenis pesawat yang sudah agak jarang ditemui sekarang adalah Fokker 70 milik KLM yang sempat saya cicipi dengan rute Amsterdam Schiphol – Stavanger Sola. Pesawatnya, seukuran dengan ATR 72 yang pernah saya tumpangi dengan rute Bangkok- Luang Prabang.

ATR 72-500 Bangkok Airways di Luang Prabang. Foto pinjam dari Wikipedia.

Ada pengalaman lucu di Suvarnabhumi waktu mau ke Luang Prabang. Kebetulan dari ruang tunggu para calon penumpang masih harus diangkut bus menuju ke pesawat Bangkok Airways. Pas turun dari bus langsung terdengar seruan-seruan, “F*ck! We’ll be flying on this?” “Oh my God, is this even real plane?”

Please deh , kalian jauh-jauh datang dari Eropa, Australia mbok ya jangan ndeso-ndeso amat. Simbok aja — yang cuma wanita lemah yang butuh perlindungan lelaki perkasa — cuma mesam-mesem kalem kok. Memang pesawat ATR 72-500 itu kelihatan kecil banget dibanding pesawat-pesawat yang lainnya. Ya iyalah, kapasitasnya cuma 70an, bandingkan dengan Boeing kecil yang kapasitasnya 100 lebih. Tapi, yang lebih ngenes lagi bukan ukurannya, melainkan desain eksterior pesawatnya yang berupa gambar-gambar warna-warni dilengkapi pohon kelapa persis seperti gambaran anak TK!

Naik pesawat buatan dalam negeri? Pernah dong beberapa kali naik Merpati pakai CN 235 rute Medan Polonia – Gunungsitoli Nias. Pesawatnya udah tua banget, kalau mendung dikit aja nggak jadi terbang. Nah sekali naik ini ke kamar mandi, eh jendelanya ditutupi kardus. Gubraks.

Hidup dua tahun di Aceh pasca tsunami membuat saya jadi sering naik pesawat kecil. Salah satu perjalanan seru saya adalah terbang dengan pesawat mungil bermesin tunggal dari Banda Aceh ke Lamno. Saya tidak ingat persis jenis pesawatnya, sepertinya hanya 4-seater, kemungkinan Cessna atau Gippsland. Pilotnya namanya Pak Leo, orang Australia, yang sudah sangat sepuh. Kebayang nggak penerbangan 20 menit dengan pesawat yang bunyinya “Ngiiiing, ngiiiiing, ngiiiiing.” Terbangnya pun rendah sampai motor di bawah kelihatan, bahkan kadang orang jalan pun kelihatan. Tapi sayangnya walau rendah kalau sampai terjun bebas ya almarhum.

Lalu ketika sampai di Lamno, Pak Leo dengan sigap menurunkan pesawat….”Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!” Landing dengan sukses…DI LAPANGAN BOLA. Ternyata airstrip darurat di Lamno adalah lapangan rumput berkerikil, ga ada runway, ga ada aspal.

Simbok turun dan langsung nguntal Panadol.

DASH 7 UNHAS di Bandara Binaka Gunungsitoli, Nias. Foto oleh Mas Arie Parikesit @arieparikesit

Pernah juga beberapa kali naik pesawat UNHAS (United Nations Humanitarian Air Service) salah satunya dari Gunungsitoli Nias ke Banda Aceh mampir Simeulue. Kata Mas Arie Parikesit kemungkinan naik jenis de Havilland Canada atau DASH7. Pilotnya bule-bule muda dengan landing yang semacam rem pol – lepasin – rem pol – lepasin – rem pol – lepasin. Alhasil pesawatnya kaya mau nyusruk berulang kali tapi penumpangnya malah ketawa-ketawa nggak jelas. Pas udah nyentuh runway langsung semuanya tepuk tangan. Waktu turun di bandara pilotnya dadah-dadah gitu kaya Miss Universe.

Pernah juga naik Susi Air, SMAC, Riau Airlines, NBA dan entah penerbangan apa lagi yang sekarang udah kukutan. Yang lucu kalau naik pesawat kecil adalah kita harus ditimbang dulu. Kadang pakai timbangan badan biasa gitu, terus ranselnya ditimbang juga. Pilotnya nyatetin kadang sambil pegang kalkulator. Jadi…“Olenka, 45kg. Next!” Simbok masih langsing maklum jaman susah nan jahiliyah.

Waktu mau naik Susi Air dari Meulaboh ke Medan, saya dengan teman dari Jakarta. Masuk bandara, kosong blong. Nggak ada petugas satu pun. Ke runway, pintu nggak dikunci. Jadinya malah foto-foto dulu di runway. Di bandara ini kita juga harus ditimbang, tapi lebih advanced, nggak pakai timbangan badan lagi. Tapi TIMBANGAN BAGASI! Jadi saya check in lanjut manjat timbangan bagasi kaya yang biasa ada di bandara-bandara itu lho. Temen saya melongo, batinnya, “Nih anak gendeng banget manjat-manjat di situ!” Pas dia check in, disuruh petugasnya naik timbangan juga. Terus ngakak dan bilang, “Kirain tadi kamu becanda!”

GYAAAAAAAAAAAAAAA.

Advertisements

9 thoughts on “Naik Pesawat Apa Ke Mana?”

  1. Saya pernah naik Susi Air dari Biak ke Serui. Legroom-nya luas, luas banget… lha wong duduk paling belakang sama barang-barang :haha. Turbulensi dan turunnya berasa banget tapi kalau ada kesempatan, saya pasti mau lagi :hehe. Pesawat memang sangat menghemat waktu, ketimbang jalan darat/laut yang bisa berjam-jam, bahkan berhari-hari… :hehe.

    Like

  2. Timbangan bagasi masih mendinglah ya ketimbang timbangan daging. Itu timbangan yang harus digantung pake pengait macam di film thriller hahaha. Oliq, kalo naik odong-odong bahasanya jadi apa mbok?

    Like

  3. Jiahahaha… timbang badan timbang badan… Kapan lagi coba timbang badan pake timbangan bagasi gitu. Btw itu pesawat dengan dekorasi ala-ala tk rasanya kok kayak ikut rombongan playgroup 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s