12 Hal yang Kamu Pelajari Saat Hidup di Luar Negeri


Tinggal di luar negeri baik untuk sekolah atau untuk kerja itu tidak semuanya penuh dengan warna-warni nan ceria. Percaya deh banyak juga ‘sengsara’-nya. Makanya kalau dibilang hidup di luar negeri itu bikin kita lebih mandiri itu memang bener banget. Well, untuk yang kerja di luar negeri sebagai profesional mungkin tidak terlalu ngoyo seperti yang kuliah, baik yang bayar sendiri, partly scholarship atau yang beasiswa penuh. Oh ya, yang saya maksud luar negeri di sini adalah negara-negara yang relatif lebih maju daripada Indonesia, walau beberapa poin mungkin juga valid untuk negara dengan kemajuan setara negara kita.12 hal luar negeri

  1. Hemat

Kecuali kamu keturunan Bakrie, atau punya trust fund sejuta dolar, kamu harus hemat. Walaupun uangmu mungkin banyak, dengan nilai rupiah yang rendah, otomatis uang jadi kurang berharga. Apalagi di negara-negara tersebut harga barang lebih mahal. Di awal kedatangan, kita akan otomatis menkonversikan harga ke dalam rupiah, jadi setiap belanja yang ada syok melulu. Hasyeeem moso seiket kangkung AUD 6, alias 50 ribu coba!

  1. Masak

Saya terkagum-kagum dengan kemampuan teman-teman lelaki saya dalam hal masak-memasak. Mereka, kebanyakan adalah pekerja profesional, tidak terbiasa memasak sendiri. Di Indonesia belahan dada manapun, sangat mudah untuk mendapatkan warung makan dengan harga terjangkau — kalau nggak mau dibilang murah meriah. Buat apa masak? Nah, begitu pula yang dialami oleh teman-teman saya. Awalnya mereka hanya membawa bekal (yes — kami kuliah bawa bekal untuk makan siang demi poin 1):

  1. Indomie goreng sayuran mixed
  2. Telur dadar sayuran mixed
  3. Telur ceplok + sayuran rebus yang dikasih garam sedikit
  4. Nutella sandwich

Pada akhir kuliah mereka sudah bisa memasak oseng-oseng, berbagai bakwan yang edible lah.

Masak sendiri ini memang ‘wajib’ hukumnya bagi yang tinggal di luar negeri karena hemat (restoran di luar negeri jauh lebih mahal karena ongkos membayar pekerja — pelayan, koki, kitchen hand — sangat mahal, selain berbagai pajak dengan peraturan ketat). Selain itu, apa sanggup berbulan-bulan atau bertahun-tahun hanya makan makanan Indonesia sesekali saja? Saya sih nggak sanggup kalau cuma makan roti melulu.

Masih mending ya cuma masak saja, teman-teman saya yang tinggal di negeri yang lebih antah berantah bahkan lebih advanced. Mereka sampai bela-belain bikin tahu, tempe, toge, dan nanam bumbu-bumbu macam kencur, kunyit, dll.

  1. Tepat waktu

Di Jakarta, kalau ketinggalan metromini, masih ada metromini lain di belakangnya. Di negara maju, hampir semua transportasi publik punya jadwal yang tepat. Saya bahkan sampai hapal jadwal bus-bus yang sering saya pakai di Australia, misalnya Bus 703 rute Middle Brighton ke Blackburn. Kalau saya habis kerja shift malam, saya akan pulang naik bus jam 11.17 malam. Pas musim dingin, biar nggak kelamaan nunggu di halte, saya baru akan keluar dari restoran jam 11.10, misalnya.

Apalagi kalau perginya Sabtu-Minggu. Di Australia, akhir pekan dan hari libur interval bus akan lebih panjang. Bisa jadi kalau ketinggalan bus harus nunggu 1-2 jam hingga bus berikutnya. Dan pada hari-hari itu banyak bus juga selesai beroperasi lebih sore. Kalau saya jalan-jalan ke City (Melbourne CBD) dengan teman-teman, kebanyakan teman saya yang tinggal dekat dengan Kampus Monash Caulfield akan lebih leluasa pulang karena kereta baru akan habis lewat tengah malam. Nah, saya yang tinggal dengan Kampus Monash Clayton harus nyambung pakai bus yang habis jam 8-an. Kalau kemalaman (which is almost always), saya terpaksa jalan kaki sekitar 3,5 km sampai kontrakan. Sendirian itu, tengah malam pula.

Pernah juga ketinggalan bus waktu pulang dari Puffing Billy sama teman-teman dari berbagai negara. Eh, berhubung paling jauh, ada teman laki-laki yang menawarkan diri menemani naik bus (padahal seharusnya dia udah turun duluan, tapi ikut busnya muter), udah dibilang nggak usah tetep ngeyel. Apparently, chivalry is not dead.

  1. Naik Transportasi Umum

Biasa naik bus atau motor? Kecuali kamu punya duit banyak atau sudah berkeluarga, rasanya sayang kalau harus beli kendaraan pribadi. Beli mobil bekas mungkin murah, tapi maintenancenya mahal. Belum lagi pajak-pajak. Belum lagi tarif parkir.

Makanya, umum bagi pelajar punya jadwal bus, kereta, trem.

Naik taksi? Go-jek? Jeeeeeh taksi mahal banget. Saya pernah pulang kerja entah kenapa bus jam 11.17 saya bablas gitu aja nggak berhenti di halte. Saya sama seorang penumpang lagi udah melambai-lambai heboh, eh busnya terus aja. Akhirnya calon penumpang satunya naik taksi, saya ndomblong sendirian nunggu bus terakhir jam 12.20 malam. Musim dingin pula.

  1. Jalan Kaki

Kalau memang tidak ada transportasi umum ke daerah itu ya jalan kaki. Dulu sama teman sering menghayal andai saja ada ojek atau becak atau bajaj jadi nggak perlu jalan berkilo-kilo. Kadang, walaupun ada transportasi, lebih memilih jalan kaki untuk menghemat tiket. Di Kuala Lumpur saya sering jalan kaki ke beberapa tempat walau ada jalur bus ke situ.

Terus terang saja, kalau di Indonesia memang jalan kaki jadi aktivitas yang kurang emnyenangkan, karena trotoar tidak memadai, polusi udara banyak, dan panas. Di luar negeri jalan kaki lebih menyenangkan karena lebih nyaman dengan pemandangan yang tidak familiar, misalnya ketika kami jalan kaki menyusuri Champs Elysees dari Arc de Triomphe sampai Museum Louvre sejauh 3,8 km.

  1. Pekerjaan Rumah Tangga

Laundry express: 4000/kg. Laundry bersih wangi: 3000/kg. Setrika saja 2000/kg. Itu harga cuci baju setrika di Jogja, kalau di Jakarta terakhir saya di sana 2 tahun yang lalu harganya 9.000/kg. Masih terjangkau kan? Jangankan keluarga yang sudah punya penghasilan pribadi, mahasiswa saja sekarang banyak yang milih pakai jasa laundry. “Lebih baik makan pakai tempe saja daripada harus cuci baju”

Di negara lain (bahkan yang sekelas Malaysia saja) laundry terbilang mahal. Paling adanya dobi cuci baju pakai koin. Setrika tetap harus dilakukan sendiri. MATEK KOWE, MBOK! Saya paling anti yang namanya setrika, mending juga beli baju baru daripada nyetrika πŸ˜€ :D.

Untungnya, di negara maju apartemen biasanya menyediakan mesin cuci. Kadang mesin cuci pribadi, kadang mesin cuci koin untuk bersama. Sayangnya, nggak ada mesin setrika.

Di rumah kalian ada berapa pembantu? Ada sopir sama tukang kebun juga? Ada satpam? Di luar negeri ART sangat mahal (kalau ada). Sebagai gambaran saja di Malaysia, yang budayanya nggak terlalu beda dengan kita dan harga-harga juga masih setara, saya harus bayar RM 15 per jam untuk mbak-mbak yang bebersih dan setrika. Sekali datang biasanya 4 jam. Saya pakai 3 kali seminggu. Jadi saya harus bayar RM 720 atau setara Rp 2,5 juta per bulan untuk ART yang datang hanya 12 jam seminggu. Gubrak, yes?

  1. Memotong Rambut dan Menjahit

Di Australia, jasa itu sangat mahal. Makanya, salon, penjahit, dokter, mahal harganya. Selama saya di sana, sama sekali nggak potong rambut hingga rambut saya sepantat. Poni saya potong sendiri. Nah, kalau teman-teman cowok kan susah nggak potong rambut selama 1,5 tahun (teman-teman cowok saya waktu itu kebanyakan model pejabat negara, nggak ada yang model Puput wekekek). Karena enggan pergi ke barber yang harganya mahal, akhirnya selalu saling cukur mencukur.

Tukang jahit pun sangat mahal. Saya pernah beli jins obral seharga AUD 13. Dan beli jins di Indonesia aja selalu kepanjangan, apalagi di Australia! Saya bawa ke permak jins, bayarnya AUD 10! JANC*KKK!!! Sejak itu saya mending potong sendiri.

  1. Menggurangi rasa “nggumunan”

Culture shock itu wajar. Jangankan tinggal, ketika kita tiba di tempat baru, sering ada hal-hal yang bikin kita melongo. Ada 3 pengalaman yang berkesan buat saya:

  1. Ketika dompet saya jatuh. Bahkan belum sadar kalau dompet hilang pun sudah ada orang yang telpon flat saya, mengatakan bahwa dia menemukan dompet, dan dompet bisa bisa diambil di pool bus.

Cerita lengkapnya di There’s Nothing Like Australia

  1. Ketika bertemu dengan teman baru bernama Pua. Dia dari negara bernama Tuvalu (baru dengar saat itu). Dan Pua bercerita bahwa dalam 20 tahun negaranya (yang berupa pulau) akan tenggelam total, jadi saat itu Pemerintah Tuvalu sedang melobi Australia dan New Zealand agar mau “mewakafkan” tanah. Bagaimana perasaanmu kalau kamu tahu dalam sekian tahun negaramu udah nggak ada lagi dan kamu sebangsa akan pindahan ke secuil tanah yang disediakan negara lain?
  2. Si mas-mas Argentina yang di tengah kuliah copot kaos kepanasan dan pamerin six pack-nya. Kalau nggak lagi terpesona sama Pak Dosen, Simbok langsung merapat deh.

Cerita lengkapnya di Kuliah di Luar Negeri, Perpustakaan, dan Bikini

  1. Pakai Barang Bekas

Percaya nggak awal saya sampai di Australia, saking nggak punya uangnya, saya beli baju-baju bekas (terutama winter coat dan semacamnya) di toko barang bekas. Iya, saya pakai baju bekas orang, kaya pasar awul-awul di Sekaten. Yang terkenal untuk mahasiswa Monash Clayton adalah Savers di Dandenong. Kalau teliti bisa dapat barang bagus sih. Yang nggak beli bekas cuma daleman, makanya saya nangis gero-gero waktu 4 kutang saya dicolong maling jemuran.

Selain toko barang bekas macam Savers dan Salvation Army, garage sale suka jadi “syurga” mahasiswa kere. Penemuan terbaik saya di garage sale mahasiswa Indonesia adalah TV seharga AUD 10 (sekitar 65 ribu rupiah waktu itu) dan — guess what — cowek dan munthu!!!!

Urusan barang bekas ini nggak semata-mata beli saja. Di Melbourne tiap hari kami (saya lupa sekali sebulan atau dua kali sebulan) adalah jadwal pembuangan barang-barang besar. Jadi Rabu orang-orang sudah mengeluarkan berbagai barang di depan halaman rumahnya agar Kamis bisa terangkut. Dalam tumpukan rongsokan selalu ada harta karun, apalagi kalau sampahnya bule Australia kaya. Wuiiih. Teman saya ada yang pernah nemu handphone, monitor komputer, dan sebagainya. Seorang teman lihat ada sofa masih bagus. Karena malu, tengah malam dia dan satu temannya lagi nggotong sofa panjang itu untuk dibawa ke flatnya. Ada lagi nih teman saya yang sekeluarga hobinya jalan-jalan tiap Rabu sore keliling kompleks sambil bawa troli kosong. Jadi tiap nemu yang menarik langsung angkut.

HIDUP KERE!!!

  1. Belanja grosir

Cuma di Indonesia saya jarang menemukan kebutuhan sehari-hari dengan pak yang besar — baru akhir-akhir ini saja ada. Di Australia dan Malaysia kebanyakan sampo, sabun, body lotion ukurannya di atas 1 liter. Buat saya yang masih sendiri saja belinya susu fresh yang 2 literan. Belum lagi sebungkus besar tisu toilet. Harganya memang beda jauh, dan wadah kecil jarang ditemukan di Oz.

  1. Mematuhi peraturan

Sebenarnya mematuhi peraturan sih di mana-mana wajib. Tapi jujur di negara kita penegakan hukum masih sangat lemah jadinya peraturan juga sulit ditegakkan sementara warganegara juga ndableg. Di Melbourne seorang teman saya menaruh kaki di kursi depannya dalam kereta. Ketahuan petugas dan langsung didenda AUD 150.

Puput pernah nih naik busway sambil makan ketan serundeng. Udah saya bilangin nggak boleh makan. Eh, dianya ngeyel. Didatangin petugas, “Pak, maaf, nggak boleh makan!” Terus saya pura-pura nggak kenal aja. Nyengir dan mbathin “SUKUUUR!”

  1. Kreatif

Jauh dari rumah, di luar zona nyaman, kita makin kreatif deh. Apalagi kalau duit pas-pasan kaya saya. kepingin apa-apa juga dimodifikasi. Misalnya nih, saya pengen makan rujak. Harga kedondong dan bengkoang di little Vietnam — Springvale — seharga jins dan biaya potongnya. Ga rela dooong ratusan ribu demi rujak. Akhirnya saya pakai buah-buahan yang murah di Australia, misalnya apel, pir, apalah yang lagi diskon. Bikin pecel nggak pake kangkung, kan mahal juga tuh, diganti lettuce. Tempe mahal, makannya daging dan JEROHAN dooong! Eh, BTW, kalau buat tempe mah saya bela-belain deh.

***

Maaf ya contohnya kebanyakan Australia dan Malaysia saja karena selain Indonesia saya cuma pernah tinggal lebih dari setahun di negara-negara itu. Doain bisa tinggal di negara lain lagi habis ini.

Tuh kan saya jadi kangen jalan-jalan sekolah di luar negeri lagi. Selalu ada yang seru. Doain ya saya bisa nerusin kuliah lagi :))

Advertisements

28 thoughts on “12 Hal yang Kamu Pelajari Saat Hidup di Luar Negeri”

  1. Seru Mbok :hehe. Btw itu maling jemuran di negeri orang apa di negeri sendiri? Saya berusaha untuk tidak ketawa (karena itu artinya tertawa di atas penderitaan orang) tapi kok akhirnya ngakak juga :haha. Pintar nih penuturannya.
    Setuju… hidup di negeri orang mesti menjunjung langit di sana. Itu juga artinya keluar dari zona nyaman karena banyak sekali tantangannya. Jadi kalau masih ada yang berpikir hidup di luar negeri itu enak, mesti pikir-pikir lagi ya Mbok :haha.
    Amin, mudah-mudahan bisa nerusin kuliah lagi di luar negeri :)).

    Like

  2. Menarik mbak e… ngakak pas bagian kutang dicolong maling jemuran. Semoga bacaan sehat ini disimak oleh pekerja-pekerja baru yang baru nyampe di Australia supaya mereka nggak boros yah. Jangan sampai jadi trend holiday dulu baru work hihihi

    Like

    1. Hahahhaha mereka kan datang ke sana duitnya banyak. Nek aku apalah….cuma sangu 2 juta plus laptop yang belinya seken. Nunggu uluran tangan pemerintah doang

      Liked by 1 person

  3. Jadi inget cerita Trinity yang mau jalan setahun motong rambut ala ABRI biar di LN gak potong rambut haha. Kalo aku tinggal di OZ dan buka jasa pijet kayaknya bakalan laris ya mbok. Apalagi dengan embel-embel “Harga Kampung”

    Oalah, iki niat ke OZ kok jadi tukang pijet. :v

    Like

    1. Tapi Yan, ke Oz itu kalau punya skill yg dibutuhkan gampang lho. Misal nih temennya temenku orang India, dia pengen dapat Permanent Resident, dia kursus masak dulu. Baru datang ke Oz langsung dpt PR karena juru masak dibutuhkan. Skill lain termasuk salon, tukang jahit itu gmpang dpt PR. Kalau yg macam programmer, penulis mah ga laku di sana, udah banyak hahaha. Coba kamu kursus jadi spa terapis plus plus wakakak

      Like

  4. Baca tulisannya jadi berasa kayak masih ngekos dulu didalam negeri. Kayaknya saya kudu merasakan tinggal lama di negeri orang biar bisa masak… hahaha disini terlalu mudah apa-apa tinggal touch screen. πŸ˜€

    Like

  5. Setuju mbaaak… Terutama poin yang masak. Di Indo hampir nggak pernah masak, seringnya beli. Sekarang di Barcelona masak terus. Selain mengobati homesick, kalau sering makan di luar bisa-bisa nggak ada namanya Yurop trip.. Wkwkwk

    Like

  6. Oh indahnya mengere di negeri orang. Ngekek moco seng potong rambut. Wes pirang kali poniku mengsle gara2 motong dewe, pernah jg dipotongin temen sambil dia liat tutorial di youtube, pernah juga dpt kortingan dr salon krn pake voucher diskon, trus pernah disuruh motong rambut konco lanangku dadine rak keruan hahahaha. Hidup kere!

    Like

    1. Aku yo hooh Gy, pas kae kan durung kudungan dadi kudu tampil wow ngono. Gek rambutku ki lurus banget nek poni menceng ketok banget wekekek

      Like

    1. Untungnya aku di melbourne yg asian groceriesnya lengkap. Ga perlu bikin2 kaya gitu semua ada. Plg ngenes beli dondong sebiji seket ewy

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s