Shalat Saat Traveling di Luar Negeri


Bagi orang Islam, shalat itu wajib, bagaimana pun juga. Entah lagi di tengah keriuhan Tokyo, dinginnya Norwegia, maupun di pelosok Kulonprogo. Wajib, pokoknya, walaupun ada keringanan ketika sedang bepergian. Masa sudah diringankan masih mau ditinggalkan?

Beruntung saya mendapat suami yang alim dan sangat relijius. Selalu shalat tepat waktu, di mana pun. dan selalu shalat lima waktu di masjid, kecuali sedang dalam perjalanan atau tidak ada masjid di sekitar. Terus ada yang nepuk, “Mas, poligami dalam Islam itu boleh, lho!” OVER MY DEAD BODY.GAibadah

Kembali ke masalah shalat yang hukumnya wajib tersebut, saya pernah menuliskan berbagai pengalaman salah saya di blog ini.

Baca: Belajar Menjadi Minoritas dengan Traveling

Nah, beberapa waktu yang lalu di sebuah forum traveling yang tenar di jagat maya Indonesia ada juga bahasan tentang ini. Foto shalat pun bertebaran. Ada yang di jalan, di atas gunung, di kapal, di taman, dan sebagainya.

Shalat kok foto-foto sih? Hehe, Simbok banget nih, kalau Puput lagi shalat di tempat yang “unik” pasti saya foto. Bukan apa-apa juga, hanya untuk dokumentasi dan ilustrasi kalau kami menulis artikel blog dan naskah buku dengan topik yang berkaitan.

OK, kembali ke topik tentang shalat di tempat umum di luar negeri (di mana Islam bukan agama mayoritas). Ada beberapa orang yang menyatakan bahwa dia sih cuek aja shalat di jalanan, tidak malu dan takut menunjukkan bahwa dia muslim. Biar saja jadi tontonan. Biar saja orang-orang yang jalan kaki itu yang minggir.

Silakan berpendapat, karena itu shalat Anda. But, let’s agree to disagree. Kami punya beberapa kriteria sendiri.

  1. Shalat di tempat bersih.

Ada ulama yang berpendapat bahwa ada beberapa tempat larangan untuk shalat, misalnya toilet, tempat sampah, tempat penyembelihan hewan, kuburan, dan sebagainya. Ada ulama yang berpendapat bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Tirmizi ini lemah. However, mari sepakat bahwa sebaiknya beribadah di tempat yang bersih. Setelah diingat-ingat, selain di kendaraan, kebanyakan kami shalat di taman. Kalau bisa di rerumputan. Alasannya? Lebih nyaman anggap saja rerumputan itu karpet masjid, kan? Selain itu juga lebih leluasa karena tidak menghalangi orang yang lalu lalang.

  1. Shalat di tempat sepi.

Berbeda dengan beberapa orang yang tidak sungkan shalat di tempat ramai dan menjadi tontonan, kami memilih tempat yang sepi (kalau bisa). Pernah sih jadi tontonan, bahkan difoto ketika shalat di Qutb Minar, India. Iya benar di negara di mana muslim lebih dari 1 milyar! Sempat jadi tontonan juga waktu shalat di Fortaleza du Monte Macau.

Tapi kalau bisa yang sepi. Misalnya, ketika kami melipir dekat parkiran di Kiyomizu-dera di Kyoto, mepet di belakang bangku di Schiphol dan Charles de Gaulle, di ujung lorong di Ataturk Havalimani (karena nggak nemu musholla padahal ada).

Buat saya, nggak penting menunjukkan “saya Islam”, toh kelihatan juga saya Islam dari kerudung. Shalat itu urusan saya dengan Tuhan, bukan dengan manusia-manusia lain yang sama-sama lagi plesiran.

Lagipula, ada larangan untuk shalat di tengah jalan, atau di bagian jalan yang digunakan untuk lalu lalang orang karena menghalangi jalan mereka. Bukannya ibadah kita membawa berkah malah menyusahkan orang lain, kan? Selain itu, bukankah lebih nyaman, damai, dan khusyuk untuk shalat di tempat yang sepi dan agak jauh dari keramaian?

  1. Shalat tepat waktu

Puput itu ibaratnya alarm shalat. Ponsel-ponsel, iPad, laptop-laptop, semuanya ada notifikasi adzan. Yang belum kesampaian cuma jam dinding adzan, belum dapat sampai sekarang. Kalau ada yang tahu di mana belinya, tolong kasih tahu ya.

Dalam perjalanan juga selalu shalat tepat waktu, kecuali memang sedang dalam keadaan tidak memungkinkan. Pernah suatu kali ketika kami sedang naik trem yang penuh sesak di Melbourne, notifikasi adzan berkumandang dari ponsel Puput. (((berkumandang))). Orang-orang langsung menengok semua.

Walau saya masih sering ngeyel, benar juga kalau shalat tepat waktu, jalan-jalan jadi lebih nyaman dan santai karena kewajiban sudah ditunaikan.

  1. Jama Ta’dim dan Qashar

Islam memberi keringanan pada musafir untuk menjamak shalat. Menilik poin 3, kalau memungkinkan kami memilih melakukan shalat jama’ ta’dim daripada jama’ ta’khir karena shalat di awal waktu membuat acara traveling juga jadi lebih nyaman.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ
“dan jika kalian ‘memukul’ bumi (melakukan perjalanan) maka tidak ada dosa bagi kalian untuk mengqashar sholat”

Selain itu ada hadits yang menyatakan bahwa Nabi SAW tidak pernah melakukan shalat fardhu lebih dari dua rakaat ketika dalam perjalanan <– Tapi Maghrib tetap 3 kan? Beliau mengashar shalatnya.

  1. Mukena atau tanpa mukena

Saya sering shalat tanpa mukena. Sebenarnya, mukena juga hanya “ngetrend” di Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya. Di Arab semua sudah mengenakan abaya dan tidak memerlukan mukena lagi. Di Jama Masjid India, saya juga melihat banyak perempuan shalat tanpa mengenakan mukena. Mereka hanya mengenakan kerudung, pakaian biasa (saree yang menutup tubuh, lengan tertutup), bahkan banyak yang celananya hanya sebatas mata kaki (padahal harus tertutup, bukan?).

Kebetulan karena memang berhijab, selalu bercelana panjang, dan berlengan panjang, saya jadi sering shalat tanpa mukena karena merasa sudah tertutup (walau masih dianggap kurang syar’i. Maafin Simbok, yeeees?). Paling saya tambah pakai kaus kaki. Kalau tidak bawa kaus kaki, celana agak saya plorotkan sampai menutup kaki, atau kaki saya tutupi selendang. Tapi kadang saya shalat pakai mukena juga seperti di Ngong Ping Hong Kong.

  1. Wudhu atau Tayamum?

Ketika berada dalam kendaraan (pesawat, bus, kereta) biasanya kami hanya bertayamum. Untuk di tempat wisata lebih sering wudhu, walau mungkin tidak maksimal. Pernah suatu hari di Nganu (Simbok lupa di mana) mau wudhu antrean toiletnya ngalah-ngalahin antrean raskin. Akhirnya bertayamum.

PS: Menurut pendapat saya, seorang muslim selain punya kewajiban terhadap Allah juga terhadap sesama. Saya sering merasa terganggu ketika melihat orang-orang berwudhu di wastafel dengan kaki sampai diangkat. Menurut saya sih tidak sopan seperti itu di tempat umum, di mana wastafel seharusnya hanya untuk mencuci tangan. Selain itu, biasanya air akan berceceran membuat area yang seharusnya kering menjadi becek dan kotor. Bukan hanya menjengkelkan pengguna lain tetapi juga para janitor.

***

Bandara di negara-negara di mana muslim tidak menjadi mayoritas kebanyakan juga menyediakan tempat beribadah, kadang berbentuk musholla (khusus muslim, misalnya di Bandara Tullamarine Melbourne dan HKIA di Hongkong), kadang berbentuk “multi-faith prayer room” alias ruang sembahyang untuk berbagai agama (Misalnya di FRA, HRW, dan banyak bandara lain di Eropa dan Amerika Serikat). Di banyak tempat, misalnya di Melbourne dan Hong Kong, tidak jauh dari musholla ada restoran halal.

Saya melihat banyak ketakutan dialami oleh teman-teman traveler untuk shalat di tempat umum. Takut ditangkap polisi. Kabarnya ada negara yang melarang orang beribadah di tempat umum, Perancis misalnya, jadi kalau polisi melihat orang shalat di jalan akan dihentikan. Terus terang saya tidak tahu seberapa benar kabar tersebut. Mungkin benar. Mungkin salah. Mungkin benar, namun ada alasan yang baik di balik itu. Tapi ini juga menjadi salah satu pertimbangan kami untuk mencari tempat shalat yang agak tertutup sehingga tidak menarik perhatian. Buat apa juga sengaja pamer untuk cari perkara waktu jalan-jalan kan? Mudharatnya lebih banyak 🙂

Kalau ada salah penafsiran pada tulisan ini karena pemahaman ilmu agama saya yang cetek, Simbok minta maaf. Kalau ada perbedaan pendapat, silakan :))

***

GIVEAWAY

Huehehe waktu nulis ini, saya sama sekali tidak berniat mau bikin giveaway. Eh, pas mau upload di blog ngelihat masih punya banyak kaos Malaysia yang bisa dibagikan. OK jadi sekalian berbagi.

Gampang deh syarat giveawaynya:

  1. Share postingan ini ke Facebook atau Twittermu (salah satu atau salah dua), tag FB: olenka priyadarsani atau twitter @backpackologyID dengan hashtag #BackpackologyIbadah
  2. Beri pendapatmu di kolom komentar tentang beribadah ketika traveling (apa saja terserah), boleh ditambah sharing pengalaman unik. Tolong sertakan akun Twitter, FB, atau nomor handphone agar bisa dihubungi bila menang.

Sudah gitu aja, kan Simbok kalau bikin GA ga pernah ruwet.

Hadiah untuk 5 pemenang:

1 tas rajut (hadiah utama)

5 kaus

6 gantungan kunci Turki dan Malaysia

Deadline: 20 Desember 2015

Advertisements

59 thoughts on “Shalat Saat Traveling di Luar Negeri”

  1. kemarin ke Qutub Minar mbok, buat shooting Video travelling. banyak yg shalat disitu, yang dekat tomb itu mbok, ada taman dan gundukan. banyak orang shalat berjamaah kemarin.

    Perempuan India kalau shalat memang pakai baju sehari hari itu mbok, kerudung cuman diselempangkan di kepala. Jadi masih kelihatan rambutnya. dan kaki nya nggak pakai apa2.

    OVER MY DEAD BODY……

    Like

  2. Kalau saya mottonya adalah : Travelling jalan, dan ibadah pun tetap jalan 🙂 Alhamdulillah selama jalan-jalan, selalu tetap berusaha menjalankan shalat 🙂 Dan pengalaman shalat di negara minoritas muslim yang paling berkesan buat saya adalah waktu shalat di taman di Osaka Castle, Jepang. Saya dan teman-teman pikir tempatnya udah cukup bersihlah dan lumayan sepi untuk shalat 🙂 Eh, pas selesai shalat, ada anjing lewat bersama majikannya, dan si anjing dengan santainya buang “pup” dong di area dekat tempat kita shalat 🙂 Langsung bersyukur karena alhamdulillah sudah melaksanakan kewajiban sebelum ngeliat adegan itu 😀

    Like

  3. Aku pernah di Jepang disuruh sholat ditaman aku nginep sama temen Philippines yg tinggal disana dia ngga ngijinin aku beribadah di rumahnya,tp kulihat ditaman ngga memungkinkan sholat akhirnya aku sholat aja dikamarnya diam2 wudhunya bilang mau kebelakang, trus pintu kamarnya kukunci dari dalam bilang lg ganti baju…hehehe

    Like

      1. Karena dia religius dia ngga mau dirumahnya ada yg beribadah agama lain selain agamanya tp kalo temanku yg orang Jepang mereka welcome aja ngga masalah

        Like

  4. Akun twitterku @cerpenmisfah, pengalamanku di Philippines, kamar ortu angkat dimana aku nginap penuh dgn gambar,patung dan simbol agamanya, trus pas sholat kubalik aja itu gambar dan patung2nya aku taruh ke pinggir

    Liked by 1 person

  5. Halo mbak.. mau ikutan hehe.
    Pengalaman ibadah selama traveling sama partner kurang lebih sama. Alhamdulillah dpt prtner traveling (pacar) itu kaya alarm shalat. Jd tiap adzan, pasti kami ribut nyari mesjid terdekat.. shalat dan sekalian numpang istirahat kan lumayan adem. Pas traveling selama bulan ramadhan pun nyempetin shalat dimesjid jg berkah tersendiri, krn banyak mesjid yg nyediain buka puasa gratisan kan.. jd sekalian shalat dan berburu takjil hehe.

    Terus pengalaman lain, pernah jg kami shalat di perahu.. pas perjalanan dari Tarakan menuju malinau ( kaltara) krn udh mepet perahu mau brgkt, sementara kami berdua blm shalat ashar.. walhasil sambil ajrut2an kena gelombang, shalat seadanya di perahu..
    Bahkan kamipun sekalian wudhu pake air sungai, nyiduk langsung dari pinggir perahu. Hehe.

    Kalo cowok mah kan ya gampang shalat dimana aja, saya jg mencoba untuk ga mempersulit diri.. niatin aja gtu dlm keadaan darurat (kalo ga nemu mesjid atau lg diperahu sgl macam) saya paling ngerangkepin celana jeans pake bawahan mukena yg selalu dibawa ditas kecil sy (krn sering traveling jd biasa bw mukena tipis di sling bag) dan voila bs shalat dmn aja. Soal wudhu dan tayamum pun menyesuaikan keadaan aja. Kalo pun gak nemu tempat wudhu ya tayamum aja. Niatnya ya bismillah aja semoga Allah ngerti dan yg penting gak ninggalin shalat.

    Twitter : @La_tivaaa

    Like

  6. Nama: Wahyu Triyani
    Fb: Witri Prasetyo Aji
    Twitter: @witri_nduz

    Ibadah itu kewajiban, meskipun sedang travelling. Selalu bawa mukena atau kalo enggak nyari masjid buat ibadah, yahhh meskipun belum bisa tepat waktu.
    Dan baca postingan ini, kayak dicambuk. Intropeksi diri dan harusnya lebih dekat sama Allah. Sholatnya harus bisa tepat waktu.

    Like

  7. Semakin sering traveling dan ketemu orang semakin yakin bahwa masih banyak orang yang toleran mbok, entah klo pengalaman temen-temen yang lain. Tapi aku ganteng sih dan baik hati jadi ketemu orang yang baik hati juga. Aku bilang gak makan babi eh temenku di Korea nemenin ke supermarket dan ngubek-ngubek satu persatu demi nyari mie instan yg kagak mengandung babi. Ke Jepang makan malam sama temen di keluarganya mereka rela buka piring baru yang belom pernah dipake biar terhindar dari babik. Dan masih banyak pengalaman2 saling menghargai yang saya dapatkan ketika traveling. Semuanya positif.

    Untuk sholat ehehe, aku orangnya sering lupa sih mbok *sengojo* tapi aku pernah sholat hari raya kurban di Itaewon Korea, Rasane unik soale abis sholat aku dipelukin banyak laki-laki timur tengah sambil ngucap eid mubarak haha

    Like

  8. Saya suka post dengan tips beda begini. Kasus banget nih, banyak yg suka traveling tapi lupa shalat.

    Share pengalaman yang dalam negeri aja ya:
    1. Saat ke Sikunir, Dieng-menanti sunrise. Dari jalanan aja udah penuh bejubel manusia, cowok+cewek, giliran subuh di masjid (asyik kan bisa shalat di masjid bukan di jalanan) Di jamaah perempuan, isinya ibu-ibu+nenek-nenek aja, entah kemana cewek-cewek hijaber tadi.

    2. Saat ke Bromo, menanti sunrise juga. Ada 1 cewek yang pengen subuhan, tapi karena liat situasi (gak ada alas dan mukena ditambah ada anjing yang lalu lalang) dia nyaris mundur. Saya bujuk2, akhirnya mau. E..tapi, begitu tau wudhunya pakai air dingin, akhirnya dia nggak jadi. Astaghfirullah, sedihnya.

    Twitter : @lidhamaul

    Like

  9. Nahhh….pas di LN kadang2 pas mau shalat kita butuh petunjuk ya di mana tempat shalatnya.. Bila berkunjung ke negara yg penduduknya byk muslim tentunya mudah cari masjid atau mushala.. Ketika ke negara yg minoritas muslim penting banget ya kita punya petunjuk utk sholat..

    Like

  10. Mengenai jama’ dan qashar, saya masih ragu kalo kita boleh menjamak solat saat traveling karena tujuan travelingnya untuk liburan bukan untuk beribadah. Sayangnya saya masih belum dapat ilmu atau hadist shahih tentang masalah ini.

    Cuma buat saya pribadi rada ngeganjel aja sih kalo pas traveling ke suatu tempat, trus demi bisa jalan-jalan dengan nyaman, lalu kita men-jama’ & meng-qashar shalat wajib..

    imho..

    Like

    1. Kalau setahu saya selama memang dalam keadaan safar, baik singgah maupun berniat mukim (tidak dijelaskan untuk tujuan apa, tapi ada batasan hari) 4 mahzab sepakat boleh jama qashar. Dalilnya menggunakan An Nisa 101. وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ“dan jika kalian ‘memukul’ bumi (melakukan perjalanan) maka tidak ada dosa bagi kalian untuk mengqashar sholat” Itu sepengetahuan saya sih ya mbak, tapi ilmu agama saya pun masih cetek sekali. Oh dalilnya nanti saya masukin ke blogpost 🙂

      Like

  11. aku blm pernah ke LN mbk, *kaciaan. jd aku share pengalaman aku wktu travelling ke bedugul bali aja yak.
    wktu tu, memang sdh masuk wktu dzuhur, jd aku dan rombongan, sepakat utk sholat dulu. nah kbetulan tmpt bus berhenti deket sm masjid, tp masjidnya tinggi bgd, hrus ngelewatin ratusan anak tangga dan itu adlh masjid satu2nya. jd ya apa boleh buat, meskipun menggos2, kaki pegel, ttp dilakoni demi merasa nyaman saat tengah sholat, gk khawatir ada bekas anjing dimana mana.
    sukses bwt karyanya ya mbak..
    o ya, aku share lwt twitter aja ya mbak, di @mumaken 😀

    Like

    1. Hihihi perjuangan demi ibadah itu ridhanya besar. Di Blue Mosque Turki malah ada beberpa anjing bobo manis di pelataran masjid lho

      Like

  12. Mbak Olen, saya ikut GA-nya yaa 🙂

    Saya juga muslim. Jelas sudah diatur, di manapun, dalam kondisi apapun, salat tak bisa ditinggalkan. Sudah jelas, sifatnya adalah wajib. Dan Allah pun memberikan keringanan jika kita bepergian jauh, sehingga ada aturan tentang jamak. Walau memang, ada yang berbeda pendapat tentang boleh tidaknya jamak. Yang jelas, kita harus berupaya untuk selalu menyempatkan salat, soal diterima atau tidaknya salat kita, itu urusan Tuhan kan? 🙂

    Soal pengalaman salat saat traveling, tanpa bermaksud pamer, saya masih punya kesan saat perjalanan Sape-Gilimanuk:

    Keterbatasan ongkos pulang memaksa saya untuk menumpang truk ekspedisi kemiri asal Bajawa seturunnya dari kapal feri di Pelabuhan Sape, Sumbawa. Saya duduk di depan, tengah, di antara sopir dan kernet. Malam-malam membelah jalan raya Sape-Dompu. Saya sudah salat Magrib-Isya di kapal.

    Setelah sempat istirahat tengah malam hingga jelang Subuh di warung pinggir jalan Dompu-Bima, sopir truk mengisyaratkan melanjutkan perjalanan. Meskipun sudah masuk waktu Subuh, karena sudah istirahat, tak mungkin (sungkan rasanya) saya memaksa sopir berhenti di pom bensin atau masjid untuk memberi kesempatan saya salat. Saat itu musik khas Flores sedang diputar keras-keras sebagai teman perjalanan agar sopir tidak mengantuk. Saya mencoba berbicara dengan sopirnya.

    “Pak, saya permisi mau salat Subuh di sini (di dalam truk),” kata saya tanpa menyebutkan saya akan tayammum dan salat sambil duduk. Di luar dugaan, ia langsung menjawab, “Oh iya silakan,silakan.” Sang sopir langsung mematikan pemutar musik di dashboard truknya. Saya segera bertayammum, lalu salat sambil duduk. Niat salat dan fokus saya tetap tertuju kepada Allah, meskipun di depan saya kalung salib menggantung dan bergoyang seiring truk berjalan 🙂

    Wah panjang ya, maaf maaf hehehe.

    FB: Rifqy Faiza Rahman
    Twitter: @anandarifqy
    Nomor HP: 0877 598 143 30

    Thanks Mbak 🙂

    Like

  13. Salam kenal mbak, saya imama 😀

    Meskipun kita lagi traveling atau bepergian kewajiban mesti tetep diinget hehe karena Dia sudah ngasih kita kesempatan buat liat keindahan ciptaanNya, mestinya ada waktu buat mengingatNya juga (ini kewajiban sih hehe buat 5 kali seharinya :D) Dan saya paling suka loh mbak shalat di tempat pas traveling gitu ,rasanya ada sesuatu yang beda yang saya rasain hehe.

    Pingin share beberapa pengalaman pas traveling buat melaksanakan kewajiban kita yaa hehe ..

    1. Pas naik ke Gunung Penanggungan.
    Waktu itu mataharinya udah mau terbit, langsung aja saya cepet-cepet naik gunungnya, eh di puncak lupa gak ada air akhirnya tayamum… Dan pas naik ke puncak dari puncak bayangan lupa bawa matras atau alas, tapi Alhamdulillah dikasih pinjam matras sama pendaki lain, rasanya shalat subuh di puncak ketinggian itu,subhanallah mbak. Apalagi pas selesai salam trus liat sekeliling, liat langit yang indah banget, trus liat gunung welirang dari kejauhan, kalo kata adam levine just a speck of dust within the galaxy ~ hehe ngerasa keciiiil bangett mbak apalagi kan di samping – samping pegunungan gitu jadi Ya Allah aku ini keciiil banget di bumi, ndak panteslah kalo ada rasa besar hati atau sombong diri hehe..

    2. Pas Solo Traveling ke Jogja
    Waktu itu bulan puasa dan habis sahur saya buka pintu kamar, karena sebelumnya udah riset kecil kecilan alias cari-cari info mushalla terdekat hotel dan akhirnya nemu di gang depan hotel. Waktu itu Alhamdulillah bisa ikutan jamaah di mushalla, trus pas habis shalat salam-salaman gitu sama ibu – ibu yang lagi shalat di samping saya haha seru juga ya bisa nemu saudara di tempat yang jauh dari rumah, trus habis shalat lanjut balik ke hotel buat jalan kaki di sekitaran Malioboro #lanjuttravelingdeh hehe

    3. Sholat di Fatumnasi
    Ini pengalaman shalat paling terbaru saya pas traveling di Kupang kemarin mbak. Di Desa Fatumnasi, So’e, sepertinya belum ada mushalla akhirnya di tempat istirahat sementara rombongan kami di Lopo Mutis saya ambil wudhu trus minta sopir mobil kami buat buka kuncinya…Ini salah satu pengalaman shalat paling khusyuk saya sepertinya mbak hehe. Di desanya itu sepiii banget pas menjelang mau maghrib dan mobilnya berjarak agak jauh dari ruang berkumpulnya rombongan, jadi di dalam mobil saya sendirian yang bersuara ” sret … sret..” pas takbir, ruku’,sujud, dan gerakan shalat lain. Saya posisinya sambil duduk di samping pintu. Pas salam (lagi hehe dapet “feel” nya pas habis salam terus ini mbak), saya liat dari balik kaca dan matahari dari jauh, waktu itu saya ngerasa damai aja gitu mbak kayak rasanya itu nyesss di hati, mungkin juga karena kesyahduaan keadaan pas itu hehe…

    Nah itu tadi mbak beberapa pengalaman ibadah saya, untuk akun sosial media saya:
    Twitter : @imalavins
    fb: facebook.com/imalavins
    No.HP : 085852711572

    Terima kasih 😀

    Like

  14. Masalah sholat selama traveling ini ya. Hmm.. gampang-gampang susah juga tapi ada pengalaman unik. Standarnya sih sholat di kamar hostel kalau kebetulan menginap di hostel dan pastinya dijama’ & qashar. Teman-teman sekamar gak pada ngurusin kok, malah kadang tanya2 “Kamu muslim, ya? kok wajahnya oriental? kok kamu mirip Fadli Zon”

    Suatu ketika di pertengahan 2014, Ibu ngasi aku sesuatu sebelum aku trip 10 hari ke Kamboja & Thailad yg lagi rusuh kudeta. Malam sebelum berangkat, Ibu ngasi sajadah kecil lipat dari kain tipis hadiah dari temennya yang baru pulang dari Umroh. “Jangan lupa sholat kalo jalan2 ya, bang”. Anak sulungnya ini pun mbrebes mili waktu di kamar tengah malam mengingat sholatnya masih bolong2 terus dikasih nasehat oleh Ibu. Sejak saat itu, kalau jalan2 diusahakan sholat dengan make sajadah kecil itu. Kalau di KL dan sedang komuter dan mepet waktu, biasanya sholat di stasiun LRT Kampung Baru yang ada Musholla kecil.

    Pengalaman lain yg seru waktu sholat di Krabi dan ditanyain sama jamaah yang lain. Pas dijawab dari Indonesia, mereka ngomongin sarung malah. Mereka suka sarung kita dan akhirnya diajakin makan seafood di rumah salah satu jamaah bareng anak-anak TPA. Duh, tau aja pejalan pas-pasan kayak aku. Perngalaman lain waktu jumatan di Chiang Mai yg pernah aku post di blog. Abis jumatan diajakin makan siang di sekolahan belakang Mesjid. Seluruh jamaah jumatan, pengajian ibu-ibu, dan siswa-siswi Madrasah kumpul mengitari meja makan yg penuh makanan enak…dan gratis. Rezeki #travelersyariah banget ga sih, mbok?

    Duuh, maap ya panjang. Abisnya kalau menyangkut sholat dalam perjalanan banyak kenangannya. Nampak kan dari wajahku yang bersinar berkat air wudhu…dan mirip Fadli Zon (teuteup!)

    Like

  15. Saya juga suka shalat pakai pakaian biasa (ga pake mukena), asal tetap menutupi semua aurat tubuh dan lekuk tubuhnya (tidak pakai yang ketat).
    Tetap sehat, shalat, dan semangat ^^

    Salam,
    Elfirapus
    Wa: 0856-4666-8303

    Like

  16. Aku bukan traveler, tapi kalo berpegian jauh, sekali atau duakali sih pernah. Nah kalau udah diajakin keluarga untk bepergian jauh, jujursihagak males, takut ntar sholatnya gimana.
    Kalo lagi bepergian jauh, paling enaknya tu nemuin masjid yang unik dan ngersain sensasi sholat disana.
    Pernah nemuin masjid yang arsitekturnya tradisional, airnya dingin, tempat wudhunya bersih, ga ada kran, cuma ada air yg dialirin ke tempat wudhu, pake bambu, dan airnya itu dari mata air yg jernih dan bersih banget.
    Kalau bepergian dan bisasolat plus nemuin tempat tempat solat yg kaya begitu, rasanya ada yg beda aja. Bepergian jadi lebih berasa nyaman.

    Twitter : @ishyedeska

    Like

  17. Shalat adalah kewajiban itu sudah nggak bisa ditawar-tawar lagi. Jadi keinget ketika ke Vietnam jaraaang banget nemu masjid (terutama di Vietnam Utara, seputaran Hanoi). Saya tayamum lalu sholat di dalam sleeper bus menuju Sapa, di tengah suara jedang jedung jedang jedung house music (dan bau kaos kaki para bule itu, haha).

    Di selatannya kota Bến Tre juga begitu. Setelah frustasi nyari Bird National Park, berhenti di warung kopi dan sholat jamak qashar di kursinya. Tapi kali ini bisa numpang wudhu di kamar mandi warkopnya.
    Nggak jarang juga saya sholat di tengah liputan. Ada kondisi dan tempat tertentu yang nggak memungkinkan nyari mushola atau masjid, karena di sana nggak ada.

    Dua hari yang lalu misalnya, pas ikut rombongan Menkeu kunjungan kerja ke Pasuruan dan Gresik. Waktu sholat Dhuhur tiba ketika masuk Gresik. Tapi karena di pabrik, nggak ada yang tahu di mana tempat sholatnya. Padahal udah mepet banget waktunya. Daripada pusing, segera nanya satpam arah Barat dan sholat gitu aja di deretan kursi area makan. Wkwkw.

    Catatan penting adalah: nggak ada kewajiban pakai mukenah saat sholat. Baju juga nggak dianggap najis meskipun terkena debu atau basah (yang kena becek benda-benda najis berat). Intinya jangan banyak alesan 😛

    *ditaroh sini juga biar peluang dapetin GA-nya dobel. Mwahahaha*

    Like

  18. hii mba, salam kenal

    mau share pengalaman dikit waktu ke halong bay.
    waktu ikut tur one day trip ke halong bay, aku numpang solat di ruang nahkoda kapalnya. waktu itu aku liat2 keadaan sekitar, sepertinya ga ada tempat buat solat, kapalnya ada 2 lantai, lantai 1 itu tempat makan, lt 2 itu geladak terbuka. sempet mikir solat di geladak terbuka, tapi takut kotor. jadi aku minta tolong guidenya buat minta ruangan, eh ternyata ruangan yg ada ya ruangan nahkoda, tapi ruangannya cuma muat buat duduk, ya jadilah aku solat duduk.

    sama satu lagi, pas perjalanan Vientiane – Hanoi. itu aku naik sleeper bus. aku solatnya ya di dalam bus dalam keadaan duduk juga. untungnya bus itu ga terlalu penuh, jadi bisa sujud. ya tapi rada risih juga diliatin bule2 yang duduk dibelakang kursi aku.

    twitter : @wianwee
    FB : Wian Indrawan

    Like

  19. Hai mbak, salam kenal. Pertama kali sy ke ke LN itu ke Prague untuk acara kantor. Tiba waktu sholat sy cari lorong yang bersih dan agak sepi. Ternyata di tengah2 sy sholat ada rombongan dr kantor lain yang lewat situ. Dan mereka dg sabar nungguin sy slse sholat lho pdhl mrk mau lewatnya d belakang saya lho, bkn d dpn org sholat, hehe.. Alhamdulillah disaat bny islamphobia msh bny yg bertoleransi.

    Twitter : @mayadamayanti

    Like

      1. Oh akupun biasanya pake muslim pro. Tapi buat waktu shalat aja. Kalo urusan kiblat suamiku. Ntar aku tanya deh dia pake app apa

        Like

  20. Hai mba Olen. Saya mungkin agak berbeda sebab agama saya Katolik. Ikut nimbrung sebab tema GAnya “tentang beribadah ketika traveling (apa saja terserah)”.

    Saya pribadi berpendapat kalau agama itu hubungan vertikal antara umat dan Tuhannya. Sifatnya demokratis, tidak boleh dilarang-larang karena menyangkut hak asasi manusia. Di sisi lain, bagi saya traveling dan beribadah sebaiknya jalan bersamaan sebab saya percaya kesempatan untuk traveling datang dariNya, jadi seyogyanya kita tidak boleh lupa untuk mengucapkan terima kasih. Sesimple itu.

    Saya pernah bersitegang dengan orang-orang yang melarang saya untuk ke gereja ketika sedang traveling. Alasannya karena mereka takut saya hilang kalau pergi sendiri atau karena sedang asyik main. Belajar dari pengalaman, saya selalu mempelajari peta sebelum berangkat, memastikan gereja yang saya tuju termasuk rute jalan kaki atau kendaraan, dan kalau bisa solo traveling atau max hanya bertiga. Kalau bisa pergi ibadah dengan teman yang memang stay di kota tsb, itu sebuah keberuntungan. Tapi saya tidak mau mengandalkan atau merepotkan orang lain.

    Jika sedang bepergian dengan teman Muslim (mostly dinas kantor), saya berusaha mengingatkan sholat lima waktu juga. Mostly malas sholat karena tidak bisa wudhu dan tidak mau tayamum karena merasa kulitnya akan kotor. Jika mereka memang sudah niatnya tidak mau sholat, saya tidak mau memaksa. Kembali lagi, semua itu hubungan dia dan Tuhannya, sing penting saya sudah mencoba mengingatkan.

    Maaf jadi kepanjangan, tapi aku salut dengan keluarga mas Puput dan mba Olen yang selalu berusaha mendulukan Allah di atas segalanya.

    @wiensantika

    Like

    1. Lho pas traveling ke gereja malah asyik kan ya? Bisa merasakan misa dgn suasana yg berbeda. Lagian gereja2 di LN bagus2 banget. Selesai ibadah foto2 deh.
      Tayamun itu pakai debu, bukan buat mengotorkan tapi debu justry membersihkan elektron negatif. Begitu ilmiahnya. Haha. Simbok sok tau ini.

      Like

      1. Memang asyik mba. Beda kota saja bisa beda tata caranya padahal sama-sama gereja Katolik, apalagi kalau beda negara.
        Pada jijik mesti pakai debunya itu mba, jadi memilih untuk tidak sholat, haha..

        Like

  21. Halo mbak, salam kenal..
    Saya juga mau share pengalaman sholat di negeri orang dong..
    1. Saat ini saya lagi menempuh student exchange ke Barcelona bersama beberapa teman-teman se-univ yang tersebar di berbagai negara Eropa. Beberapa mereka alhamdulillah kampusnya ada ruangan kecil yang khusus didesain buat sholat. Tapi kampus saya di Barcelona, nope. Pas ada kelas yang melewati jam sholat, saya sholat di bawah tangga basement. Alhamdulillah sampai sekarang nggak ada yang tiba-tiba mak pethungul pas saya lagi sholat.
    2. Tahun ini saya pertama kali melaksanakan sholat idul adha bersama umat muslim tinggal/lagi traveling di Barcelona. Kami sholat indoor di lapangan basket salah satu tempat fitness di dekat La Rambla. Jadi pas sholat ditontonin sama bule-bule Spanyol yang lagi treatmill di lantai atas. Khotbah-nya dalam dua bahasa, Arab sama Spanish jadi sama-sama nggak ngerti. Setelah sholat, dihujani sun pipi kanan kiri sama ibu-ibu timur tengah.
    3. Yang mengena banget ketika pertama kali sholat jamaah di islamic center-nya Barcelona. Pulang kuliah iseng meluncur ke sana buat ngejar sholat dhuhur berjamaah. Masjidnya ada di basement jadi pas adzan suaranya nggak kedengeran dari luar. Pas denger adzan secara langsung *setelah hampir 3 bulan cuma denger lewat aplikasi* saya langsung nangis mbak. Bener-bener kangen sama suara adzan dan sholat jamaah di masjid.
    4. Pas travelling ke Paris, saya sempet sholat di taman deket Eiffel. Nyari bangku yang jarang orang lalu-lalang dan ambil wudhu pake setangah botol air. Waktu mau nggelar sajadah sempet bingung karena ada anjing gedhe yang jalan-jalan cantik di rerumputan tempat saya mau sholat. Akhirnya saya kira-kira bagian rumput mana yang bersih dan aman. Pas di Brussels, saya cuek bebek sholat di deket laundry room-nya hostel dan sempat sholat subuh di ruang tunggu Brussels airport. Alhamdulillah nggak kena marah orang hostel dan petugas airport.

    Paling enak emang punya travelmate yang punya kesadaran menjalankan sholat walaupun lagi asyik jalan-jalan. Travelmate saya kadang masih suka ninggalin sholat. Jadi saya sendiri yang gedibukan waktu nyari tempat yang pas buat sholat.
    Doain ya mbak, semoga travelmate saya dibukakan hatinya biar sholatnya nggak bolong-bolong walaupun lagi ngetrip.

    Kalau saya tetep berusaha wudhu kalau sholat di kendaraan selama ada toilet. Meskipun pas udah selesai harus ngelap air yang berceceran di lantai atau sekitar wastafel. Untungnya sampai sekarang saya nggak pernah atraksi angkat-angkat kaki di wastafel karena saya selalu membasuh kaki di toilet pake botol.

    Like

  22. Alhamdulillah, saat traveling selalu nemu masjid dan memang menyempatkan diri saat waktu sholat tiba. Cuma kemarin saat menjelajah ke Pejawaran, saat pulang setelah longsor dimana-mana dan jalan menjadi macet, kami harus menunggu di pinggir jalan hingga setengah jam. Ditambah lagi jalanan yang diperbaiki dan dibeton sana-sini cukup menguras waktu, walhasil sholat duhur baru bisa ditunaikan saat kami berhenti sejenak persis di depan lokasi longsor desa sijemblung kabupaten banjarnegara beberapa waktu lalu.

    Masih terlihat jelas longsoran tanah yang mengubur hidup-hidup sebuah dusun ini. Nyawa orang, hewan, harta benda dan lainnya semua terkubur longsoran tanah. Hanya sebuah rumah yang persis di bawah tebing tinggi yang selamat hingga kini. Rumah tersebut masih berdiri gagah dan menjadi saksi kisah pilu sebuah bencana.

    Tepat di seberang lokasi longsor, berdiri sebuah masjid yang cukup bagus walaupun tidak terlalu besar. Dari logo mimbar di dalam masjid ini, terlihat simbol keraton ngayogyokarto hadiningrat. Sepertinya pihak keraton ikut menyumbang pembangunan masjid dusun sijemblung ini. Sampai detik ini, masjid ini menjadi tempat persinggahan para musafir yang habis bepergian jauh dan ingin menunaikan kewajiban sholat wajibnya. Kami pun saat itu menyempatkan sholat duhur di sini walaupun sudah hampir jam 14.30.

    Hati rasanya bergetar saat salam terakhir dan menengok ke kiri. Saat itu langsung disambut pemandangan longsor yang sampai detik ini masih belum rata tanahnya. Masih sama sepertu waktu itu, hanya jenazah-jenazah yang sudah dievakuasi. Kami hanya tertegun sambil berdoa semoga nyawa-nyawa yang tercabut secara berjamaah tadi mendapat tempat di sisi TYME, dan semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu menunaikan kewajiban, salah satunya sholat wajib. Karena kita tidak akan tau kapan ajal/nyawa ini akan lepas begitu saja dari raga ini. Kita harus siap dengan bekal amal ibadah dan kebaikan tentunya.

    twitter @hendisetiyanto
    fb hendi setiyanto

    Like

  23. Salam kenal, Mbak. Ijin nimbrung GA nya ya.
    Tentunya ibadah yang wajib tidak boleh ditinggalkan. Dimanapun kita berada, harus kita jaga dan laksanakan sebaik-baiknya.

    Kalau ke luar negeri sih belum pernah ( .. saya mimpi dulu aja, he). Tapi saya punya pengalaman sholat di perjalanan dengan bis Sumatera – Jawa waktu pulang dari Palembang.
    Setahu saya memang sopir bisnya ini tidak pernah mengerjakan sholat ( atau memang tidak berkewajiban ? ). Waktu bis berhenti untuk rehat, dia pergunakan untuk makan, setelah itu lanjut perjalanan. Dan sedihnya, hanya sedikit penumpang yang tetap istiqomah menjalankan sholat, kebanyakan tidak menjalankan ( atau memang tidak berkewajiban ? ).
    Untuk dhuhur ashar, saya jama’ qoshor saat bis berhenti untuk istirahat siang. Dan maghrib isya’ saat berhenti pada malam harinya. Ini masih bisa dilakukan di rumah makan tempat berhentinya bis.
    Selepas menyeberang selat Sunda, masuklah waktu subuh. Sesuai perkiraan saya, bis ini tidak berhenti untuk mempersilahkan penumpangnya sholat subuh. Untung saya sudah antisipasi bawa air mineral. Saya berkeyakinan selama mudah mendapatkan air, saya pilih wudhu dengan air. Di dalam bis sebenarnya ada toilet, tapi air di baknya itu bekas ( maaf ) cebok dan bau toiletnya sangat tidak sedap. Jadi, saya pilih pakai air mineral saja. Cukup usap-usap bagian wudhu, tidak perlu siram-siram, he. Kalau wudhunya tetap di dalam toiletnya.
    Dan waktu itu saya sholat dengan duduk menghadap kearah jalannya bis ( menghadap ke timur ), karena kondisinya tidak memungkinkan saya untuk menghadap ke kiblat. Ruku’ dan sujud saya lakukan dengan membungkuk sebisanya.
    Demikian cerita dari saya, Mak. Terima kasih perhatiannya.

    FB : Wahyuni Mintarsih

    Like

  24. Salah satu pengalaman yang epik adalah hal cari makan halal di Chiang Rai, Mei 2015 lalu.

    Di Bangkok, saya dan 2 teman seperjalanan masih bisa berlega hati, beberapa tempat makan halal masih bisa dengan mudah dijumpai. Sampai Ayutthaya, mulai ketar-ketir, namun menjelang sore masih ketemu seorang muslim yang berjualan bakso di pasar apung. Dan berakhir di Chiang Mai – Chiang Rai, kekhawatiran sulit mencari makan halal pun terbukti. Beberapa jam pertama, kami hanya mengonsumsi roti bekal dari Bangkok.

    Puncaknya ketika sedang mengikuti tour ke Golden Triangle, perbatasan Thailand – Laos – Kamboja. Salah satu fasilitas tour adalah makan prasmanan. Dhyar! Tidak ada satupun menu yang bisa kami makan. Saking penginnya makan nasi, kami merajuk ke tour leader untuk melobi pemilik restoran membuatkan scramble egg dan menyediakan saos sambal. Dimakan dengan nasi hangat, sudah nikmat lah itu. Harap-harap cemas, akhirnya pemilik restoran bersedia. Bahkan menawari, apa telurnya mau digoreng dengan minyak sayur, bukan dengan minyak yang biasa mereka pakai. Sip. Alhamdulillah. Kami pun makan dengan sangat lahap. Tetep enak dan halal. Hahaha.

    *mbok, nek menang, aku gelem gantungan kunci Turki yak, alamatku, awakmu isih nyimpen to, wkwkwkwk*

    Like

  25. Udah lewat nih giveaway nya 😀

    Tp pengen komen bukan karena giveaway mbok :))
    Kalau lagi jalan2 sm suami, dia ga pernah bawa sarung,, dan kalau pas lagi pake celana pendek, pas sholat doi demennya pake bawahan mukenaku, mbok.hahahah

    Like

  26. Alhamdulillah nemu post yg sngat bermanfaat inih..makasih mbok. Aq emg cari2 postingan macam begini sbg persiapan backpackeran entah kapan.xixixi…. aq dlu liat di foto2 org muslimah diluar solat ga pke mukena takjub dan shock😂.trnyata biasa aja ya dan ga ada kwajiban solat pke mukena..xixi..

    Like

    1. Hihihi cuma belum sempurna itu. Bajuku masih ketat2. Sekarang juga masih pakai jins sama kaus tapi ga seketat itu. Udah ga pede juga sama gelambir hahahahahha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s