Review: Hotel Clover City Center Plus, Yangon, Myanmar


Myanmar kini terbuka lebar setelah membebaskan visa bagi WNI. Jangan salah, warga Malaysia dan Singapura masih harus apply visa, lho, jadi untuk yang satu ini kita harus berbangga. Mungkin tujuan utama wisata Myanmar adalah Bagan, sayangnya Simbok masih belum sempat ke sana. Hanya Yangon jadi satu-satunya kota di Myanmar yang kami kunjungi, juga jadi negara terakhir yang akhirnya membuat Simbok khatam ASEAN.

Baca: Peringkat Negara ASEAN Menurut Simbok

Screencap dari clovercitycenterhotel.com
Screencap dari clovercitycenterhotel.com

So, ada apa saja di Yangon? Banyak! Salah satunya adalah Pagoda Shwedagon yang merupakan kuil terpenting di Myanmar. Salah duanya adalah Pagoda Sule, salah tiganya Danau Kandawgyi, dan salah empat cuma dapat enam!

Yangon, walaupun sudah sangat terbuka dan merupakan kota terbesar di Myanmar, bisa dibilang maih jauh tertinggal daripada kota-kota besar negara tetangganya (PS: Yangon pernah menjadi ibukota Myanmar, sekarang sudah dipindah ke Nay Py Taw). Pilihan akomodasinya pun tidak sebanyak Siem Reap dan Phnom Penh di Kamboja, bahkan masih kalah banyak dengan Vientiene dan Luang Prabang di Laos. Hmm, saya tidak tau fakta yang sebenarnya sih, hanya perkiraan berdasar browsing ketika mencari penginapan. Kebetulan kota-kota di atas sudah pernah saya kunjungi sebelumnya.

Kami ke Yangon pada Tahun Baru kemarin. Berbekal diskonan US 15 dari Lambe Peceren alidabdul.com (iya dia mah kasih kode voucher pelit gitu) saya browsing. Ternyata memang tidak mudah mencari yang murah namun nyaman. Saya memang tidak mencari yang budget — melainkan midrange — karena Oliq adalah tukang kritik hotel yang paling vokal.

“Mama, AC hotelnya kok jaman dulu banget!”,
“Kamarnya enggak bagus.”
“Kamar mandinya nglethek-nglethek.”

Kebetulan juga saya hamil Ola 4 bulan, jadi pengen yang agak nyaman lah. Ada beberapa kriteria yang saya cari: harga, lokasi strategis tidak jauh dari tempat wisata, dekat masjid (karena melewati hari Jumat buat Puput Jumatan), gampang cari makanan halal, bersih, dan nyaman.

Setelah klak klik sana sini, bandingkan review Agoda, Trip Advisor, akhirnya saya memilih menginap di Shangrila. Memilih menginap di Shangrila dan tidak disetujui oleh penyandang dana *mewek*. Akhirnya dengan terpaksa saya menginap di hotel belakangnya Shangrila, yaitu Clover City Center Plus Hotel.

Jadi ceritanya, di belakang Hotel Shangrila Sule (yang berada di perempatan jalan utama) ada gang kecil, cukup untuk satu mobil. Nah di sana ada beberapa apartemen, ada yang agak kumuh, ada yang kumuh banget. Ada juga berbagai toko. Ada pedagang keliling. Ada anak-anak main bola di gang yang ramai. Dan di sana lah nyempil hotel kami. Ada dua hotel, yaitu Clover City Center dan Clover City Center Plus. Karena suka plus-plus, kami booking yang belakangan — katanya kamar lebih besar daripada yang tidak plus.

Daerah resepsionis dan kafenya

Secara lokasi walaupun berada di gang kumuh, hotelnya sangat strategis karena dekat dengan beberapa tempat wisata, misalnya Pagoda Sule dan Pasar Bogyoke. Beberapa masjid dan kuil lain juga dapat ditempuh dengan jalan kaki. Daerah tersebut dekat dengan Mahabandoola yang merupakan kawasan muslim, jadi banyak warung halal. Bahkan di sebelah hotel ada ibu-ibu buka warung untuk makan pagi yang halal (ibunya berhijab).

Tiba di sana dari bandara dengan taksi, kami disambut doorman yang sangat ramah. Doorman ini sudah memegang nama-nama para tamu karena resepsionis berada di lantai 2. Keluar masuk hotel berkali-kali yang paling saya perhatikan adalah mas-mas penjaga pintunya yang sangat ramah. Selalu langsung membawakan stroller Oliq atau menggendong. Simboknya aja menggemaskan, apalagi anaknya, kan?
Mbak resepsionis meminta paspor kami. Dia memakai sarung dan beda thanaka. Itu lho bedak yangcuma dicemongkan di pipi, umum dipakai orang Myanmar. Proses check in mudah dan lancar. Barang-barang kami dibawakan ke kamar.
IMG_9283Kamarnya minimalis — tapi masih jauh lebih bagus daripada budget hotel model Tune atau Pop. Tidak terlalu sempit. Cukup untuk kami bertiga. Kamar mandinya cukup besar lengkap dengan sabun dan sampo. Air panas dan AC bekerja dengan baik. Ketel listrik, air minum, kopi, teh juga disediakan. Pemandangan dari kamar adalah dinding kolam renang Hotel Shangrila hahahaha *ketawa miris*

Pada malam ke dua kami dipindahkan ke kamar lain, yang ternyata lebih besar. Ceritanya di-upgrade gitu. Dari kamar ke dua ini pemandangannya luas, karena letaknya di lantai 5. Kondisi kamar-kamarnya bersih dan nyaman.

IMG_9287Bila butuh makanan, jalan saja ke arah Mahabandoola atau Bogyoke, akan ada beberapa warung halal. Kalau mau murah, beli saja nasi dengan bakwan jagung seperti Simbok. Enak banget. Penjual rujak dan buah-buahan juga banyak. Di depan Bogyoke ada masjid, satunya lagi di seberang Pagoda Sule. Minimarket di seberang Shangrila (sebelah bioskop) menyediakan ayam goreng, nugget, tempura halal.
Kelemahannya adalah lokasi di gang yang terbilang kumuh, tidak termasuk breakfast (yes, karena kami pilih yang paling murah), tarif yang lumayan mahal — kalau dibandingkan hotel di Jogja misalnya — tapi mungkin standar bila dibandingkan dengan hotel lain di Yangon.

Lingkungan sekitar
Lingkungan sekitar

Taksi banyak ditemukan di sekitar hotel, jadi kalau ada flight pagi sekali seperti kami pun masih mudah dan tidak perlu memesan sebelumnya. Naik taksi dari hotel ke Shwedagon sekitar seharga Rp 20-30 ribu. Taksi-taksi di Yangon tidak “ngampleng”, beda dengan taksi di Bangkok atau Kuala Lumpur.

Tarif City Center Plus pada saat itu sebesar sekitar Rp 650.000/malam.

 

Advertisements

10 thoughts on “Review: Hotel Clover City Center Plus, Yangon, Myanmar”

  1. Hm, kamarnya bersih. Tak apa-apalah masuk gang yang penting aman dan kalau mau ke mana-mana gampang, anggap saja selisih harga mahalnya jadi pengganti biaya transportasi :hehe. Ngomong-ngomong, ‘ngampleng’ itu artinya apa? *maklum bukan orang Jawa :hehe*.

    Like

      1. Ooo gitu, semoga dengan semakin membaiknya perekonomian dan kondisi politik negara itu, nantinya harga hotel-hotelnya juga bisa lebih murah ya. Pengen juga nyobain Couchsurfing di Myanmar kalau memungkinkan, pasti menarik 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s