Mari Menjadi Hagia Sophia


“Tiiit tiit,” ponsel saya bergetar ketika sedang berada di kebun, sibuk mencampur nutrisi untuk tanaman. Ternyata pesan Whatsapp dari Noni, teman lama saya.

Terbaca:

“Yuhu. Sekarang aku baru tahu kenapa kamu namain adiknya Aik dengan nama Sophia. Hagia Sophia (nama lainnya Aya Sofya -ed) memang magically. Magical. Gw jatuh cinta juga. Bisa merasakan Bagaimana Tuhan dimuliakan dengan berbagai cara bahkan mungkin berbagai bahasa.”

Screenshot_2015-11-02-21-31-57

Mohon abaikan kesalahan tata bahasa dan typo, maklum teman saya ini jarinya jempol semua. Abaikan juga kenyataan bahwa setelah itu kami berlanjut dengan diskusi mengenai Ottoman spice dan teh viagra. Dan lantas membahas tata laksana penggunaan dildo. Sungguh pembicaraan remaja tahun 1990an. Absurd. Ngalor-ngidul.

Pesan Whatsapp dari Noni membawa saya terbang kembali ke bulan Februari. Saat itu, pada pukul sekian, kami mungkin tengah melangkahkan kaki menuju Sultanahmet. Udara dingin menghembus. Jalanan masih basah karena gerimis tadi Subuh. Orang-orang mengenakan jaket tebal menunggu trem di hentian Beyazit Kapali Carsi. Pedagang, pembeli, dan mungkin pencopet beramai-ramai menuju ke Grand Bazaar. Sepasang burung berasyik-masyuk di depan Firuz Aga Camii.

Kami menuju ke Hagia Sophia. Aya Sofya. Sancta Sophia. Tomato,Tomahto. Same-same.

Saya, mengandung 6 bulan, mendorong stroller Oliq. Puput sibuk memotret setiap bakul simit yang ia temui dengan Canon EOS 400D-nya yang sudah renta (tapi belum terlalu renta untuk diganti!). Kami membawa tiga kamera. Karena Turki terlalu indah untuk tidak diabadikan.

The magnificent Hagia Sophia
The magnificent Hagia Sophia

Terlalu mudah jatuh hati pada Turki.

Pagi itu, tepat pukul 9.00 kami sudah siap di depan gerbang Hagia Sophia. Langsung masuk begitu gerbang dibuka. Kami sengaja datang sedini mungkin untuk menghindari turis-turis berombongan. Tur-tur kelompok dari negara-negara Asia Timur dengan pemandu mereka yang bersuara cempreng menggunakan mikrofon mini dan dengan lelah melambai-lambaikan bendera kecil.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Gerbang luar yang sedang direnovasi

Bukan rasis, bukan arogan. Hanya lebih nyaman meresapi sejarah Hagia Sophia ketika jumlah pengunjung masih sedikit. Ketika suara-suara dari luar mampu teredam dinding-dinding tebal berusia 1500 tahun. Dinding-dinding tebal membatasi diri dari dunia yang kejam, kasar, keras, dan penuh pengkhafiran. Dinding-dinding tebal yang menjelma menjadi perangkap perdamaian di dalamnya.

Hagia Sophia is by far the most prominent building representing interfaith relationship. No others.

Saya memalingkan muka ketika melihat lukisan di kubah. Ada Bunda Maria, Bayi Yesus, kaligrafi Takbir berdiri berdampingan. Saya memalingkan muka karena airmata menetes. Kata orang saya ini perempuan kuat berhati dingin, padahal hati saya sebenarnya selembut harum manis, mudah leleh. Cengeng.

Saya menangis di Taj Mahal, menyaksikan bukti cinta seorang suami pada istrinya. Selain juga karena perjuangan berat masuk ke Taj Mahal hingga pengalaman ditangkap polisi.

Baca: Perjuangan Berat Demi Taj Mahal

Saya menangis di Melbourne. Ingat masa-masa saya menimba ilmu di sana. Sendirian di negeri asing. Belajar, bekerja, berjumpa dengan berbagai pengalaman baru.

Baca: Bekerja Part Time di Australia

Saya menangis di Menara Eiffel. Bersyukur bisa sampai di kota yang yang disebut-sebut paling romantis di dunia. Romantis sedikit, pesing iya.

Baca: Mimpiku Tertambat di Sorbonne

Saya menangis di depan Ka’bah, bersyukur bisa ke Baitullah walaupun tidak bisa total beribadah karena harus mengurus Oliq yang masih berusia 11 bulan saat itu.

Baca: Beribadah Umrah Membawa Bayi

Tapi entah kenapa Hagia Sophia begitu mempengaruhi saya. Bangunan ini pertama kali dibangun sebagai Gereja Yunani ortodoks pada tahun 537, yang kemudian berubah menjadi Gereja Katolik Roma antara tahun 1204-1261, lalu kembali menjadi Gereja Ortodoks Yunani, lalu berubah lagi menjadi masjid di bawah kekuasaan Turki Ottoman (Utsmani) pada tahun 1453. Sejak tahun 1943 di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, Hagia Sophia berubah menjadi museum.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Berkali-kali berubah fungsi, selalu ada peninggalan zaman sebelumnya yang masih kekal terpampang. Hagia Sophia adalah bangunan dengan gaya Byzantium peninggalan Yunani, berbagai relik dan mozaik Kristus dan Bunda Maria masih tergambar di dinding-dindingnya. Di banyak sisi, terdapat kaligrafi Islami yang dibuat semasa kekuasaan Ottoman.

Berjajar. Berdampingan. Rukun.

Membuat saya bertanya-tanya mengapa di dunia nyata kita tidak dapat demikian? Jangankan beda agama, satu agama pun masing sering berselisih, yang satu merasa lebih suci daripada yang lain. Merasa lebih dekat dengan surga. Merasa lebih disayang oleh Yang Kuasa.

Looking back, Hagia Sophia membuat saya mengingat persahabatan saya dengan Noni. Two very different persons. Saya muslim solehah, Noni….saya bahkan tidak tahu dia (sekarang) menganut agama Kristen atau Katolik. Saya tidak pernah tahu. Honestly, I never asked and I never give a damn.

Selama 16 tahun kenal, tahu sifat, kepribadian, berbagai masalah pribadinya, saya tidak tahu agamanya. Orang yang sudah sangat sering menginap di rumah saya, bahkan dengan cueknya meninggalkan kutang di kamar mandi, sampai Puput berkata, “Woh, sak mangkok bakso!”

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Anyway, bukankah umat apa pun sebenarnya menginginkan perdamaian? Kerukunan tidak peduli apa agamaku, selama kau tidak menggangguku. Sejajar dan berdampingan.

Mengapa kita tidak bisa menjadi seperti Hagia Sophia?

Advertisements

15 thoughts on “Mari Menjadi Hagia Sophia”

  1. Indahnya bersama dalam perbedaan :)). Seperti Istiqlal dan Katedral atau Prambanan dan Sewu :hehe, semua berdampingan dan damai :haha.

    Like

      1. Iya sih, karena jalan ke sananya jauh banget. Aturan gerbang yang di dekat candinya itu dibuka ya :hehe. Jadi orang yang mau ke Plaosan bisa melipir dulu ke Sewu.

        Like

    1. Yg paling sering promo qatar airways. Join komunitas kaya backpacker dunia dan backpacker internasional aja. Selalu ada yg ngabarin promo. Atau bandingkan harga tiket di skyscanner.net

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s