Get Your Priorities Straight, Investasi Untuk Masa Depan


“Horangkayah! Jalan-jalan melulu. Sering ke luar negeri pula!” Familiar dengan kata-kata itu? Sama dong dengan saya. Entah berapa banyak kawan di media sosial yang pernah berkata seperti itu. Bayangkan berapa banyak lainnya yang tidak mengatakan mengatakan langsung pada saya. Sudah, sudah, tidak perlu dibayangkan. Daripada hanya membayangkan, bagaimana kalau kita mewujudkannya?

Dalam keluarga kami, sebenarnya pengaturan keuangan lebih banyak dilakukan oleh Puput, suami saya. Terus terang, dia lebih pandai dalam hitung-hitungan dan investasi sementara saya lebih jago dalam hal belanja? Sounds familiar? 😜

Kami membagi pendapatan menjadi dua: uang sewa apartemen, tabungan, investasi, dipegang oleh suami, dan uang belanja sehari-hari, biaya sekolah anak dan semua keperluan anak dipegang saya. Perencanaan liburan diatur saya dengan persetujuan dan dana dari suami :D.

receh

Karena kami adalah keluarga dengan pendapatan tunggal — saya ibu rumah tangga — otomatis kami harus pintar-pintar mengatur keuangan agar semua kebutuhan tercukupi dan tetap ada porsi yang cukup untuk tabungan dan investasi.

Saya memang bukan Ligwina Hananto yang luar biasa pandai dalam keuangan. Saya bahkan tidak membuat catatan pengeluaran. Saya juga bukan pula Merry Riana yang sudah berhasil mencapai financial freedom (tolong aminkan yang kencang agar saya bisa mencapai kebebasan finansial seperti itu), namun saya ingin berbagi pengalaman dan kiat bijak mengatur keuangan untuk masa depan yang lebih baik.

Lifestyle vs Income

Menurut saya kesalahan paling mendasar yang berakibat pada porak porandanya keuangan seseorang ketika ia lebih mementingkan gaya hidup, padahal pendapatannya tidak mampu menopang gaya hidup tersebut. Lifestyle vs Income, nemesis dalam keuangan personal.

Seseorang mungkin saja selalu berganti gadget ketika muncul seri baru, dan itu tidak masalah karena penghasilannya memang besar. Sementara itu, seseorang dengan gaji sedikit di atas UMR dan memilih pulang kantor selalu naik taksi adalah sebuah kesalahan besar.

Kalau Anda sanggup, silakan saja. Kalau tidak, lupakan. Apalagi kalau sampai terjebak hutang rentenir atau kartu kredit! Celaka!

Tempatkan Kebutuhan pada Skala Prioritas

Diagram diambil dari sini
Diagram diambil dari sini

Klise ya, saran yang ini. Secara umum untuk semua orang prioritas pertama adalah sandang, papan, pangan, pendidikan. Baru setelah itu prioritas orang berbeda-beda. Seseorang mungkin meletakkan entertainment seperti menonton bioskop, konser sebagai prioritas dalam kebutuhan tersier mereka. Yang lain mengeluarkan banyak uang untuk hobi koleksi batu akik, misalnya. Keluarga kami menjadikan traveling dalam prioritas utama setelah kebutuhan primer.

Aduh, udah berkeluarga punya anak-anak, tapi pengen liburan keluarga tanpa bokek. Jangan kuatir, ada kok kiat-kiatnya.

Baca: Bagaimana Membiayai Liburan Keluarga

Bijak dan Hati-Hati Berinvestasi

Hari gini siapa sih yang tidak berinvestasi? Investasi bisa berupa tabungan deposito, reksadana, saham, emas, properti, dan sebagainya. Ingat, bahwa investasi tidak selalu untung, bisa jadi merugi. Misalnya: Anda investasi emas, namun kini harganya turun, jadi bukannya untung malah buntung.

Saya dan suami pun pernah rugi besar dalam berinvestasi. Tapi kami mengambil pelajaran dari situ untuk lebih bijak dan hati-hati dalam berinvestasi.

Don’t put all of your eggs into one basket.

Pendek kata, jangan letakkan semua telurmu di keranjang yang sama. Artinya, jangan menginvestasikan semua uang pada satu tempat, karena ketika rugi Anda akan kehilangan semuanya.

Selain sejumput emas, kami lebih memilih berinvestasi di bidang properti. Alasannya klasik karena kemungkinan nilai properti turun sangat kecil. Ketika banyak orang menghabiskan uang untuk acara pernikahan, kami memilih menikah sederhana (tanpa dana dari orangtua sepeser pun), dan menggunakan uang tabungan kami untuk membeli satu unit apartemen. Apartemen mungil itu sudah bertahun-tahun disewakan. Alhamdulillah, uang sewanya dapat membiayai hobi travelling kami.

Jadi, jangan iri kalau melihat perjalanan-perjalanan kami. Kami hanya merujuk pada poin ke 2 yaitu pesta pernikahan mewah sama sekali tidak penting, sementara investasi dan jalan-jalan adalah prioritas.

Ingin pernikahan sederhana namun berkesan? Baca cerita pernikahan kami di Runaway Bride (and Groom).

Pikirkan Seribu Kali untuk Berhutang

Kami masih punya hutang KPR di salah satu bank syariah untuk tiga tahun ke depan. Terus terang, hutang tersebut membebani pikiran saya. Kok nggak kurang-kurang, ya?

Pikirkan masak-masak ketika hendak berhutang: tujuannya untuk apa, berapa besar, mampu tidak bayar angsurannya, berapa tahun akan mengangsur, apakah cicilan hutang akan mengganggu keuangan atau tidak, hutang ini riba atau bukan, dan sebagainya.

Bagi banyak kaum urban, memiliki kartu kredit adalah suatu keharusan. Kartu sakti katanya. Sakti memang membeli ini itu tanpa mengeluarkan uang. Tapi, ketika datang tagihan sakti berubah meenjadi sakit. Sakit hati, tepatnya.

Saat ini saya tidak memiliki kartu kredit. Entah mengapa, rasanya lebih nyaman juga tidak harus membayar hutang setiap bulannya. Sekarang memang lebih nyaman karena kartu debit sudah diterima di mana-mana. Sayangnya untuk beberapa hal tertentu, misalnya memesan tiket pesawat maskapai luar negeri atau membooking hotel masih harus menggunakan kartu kredit, makanya suami masih punya dan tagihan selalu dibayar lunas sebelum jatuh tempo untuk menghindari bunga.

Merasa mulai tergantung dan terjebak kartu kredit? Gunting semuanya!

Siapkan Dana Darurat dan Proteksi

Semua orang ingin sehat. Orang-orang berlomba untuk memiliki gaya hidup sehat. Namun, Tuhan seringkali memberi ujian berupa sakit. Mungkin kita sendiri yang sakit, mungkin juga suami/istri, atau malahan anak-anak.

Kesehatan bukan sesuatu untuk diremehkan. Sakit bisa datang sewaktu-waktu, ketika diam di rumah, bahkan saat kita sedang bepergian. Untuk ini kami memiliki cadangan dana darurat yang memang memang hanya diambil dalam keadaan tertentu. Dana ini berada dalam tabungan yang mudah diakses apabila sewaktu-waktu diperlukan.

Selain dana darurat, mempertimbangkan anak-anak yang masih kecil, kami memilik prokteksi ganda. Ups, maksudnya malah proteksi rangkap tiga.

Sebagai warganegara Indonesia kami memiliki kartu BPJS sebagai langkah perlindungan pertama. Kedua, suami memiliki asuransi kesehatan dengan plafon yang lumayan untuk seluruh anggota keluarga. Ke tiga, kami memiliki proteksi berupa asuransi kesehatan personal yang dibayar sendiri.

Mau tahu lebih banyak tentang asuransi kesehatan, jaminan hari tua, dan program pengelolaan kekayaan? Coba buka deh website Sun Life Financial Indonesia. 

Nikmati Hidup Tanpa Melupakan Surga

Hemat bukan berarti pelit. Mengatur keuangan seksama bukan berarti tidak mau bersenang-senang. Tentu saja, bersenang-senang sesuai dengan proporsi dan ketersediaan dananya. Mengeluarkan uang untuk hobi sah-sah saja selama cash flow keluarga terjaga, apalagi keluarga dengan single income seperti kami.

Bapak saya pernah bilang, “Nduk, kayanya uang jalan-jalanmu setahun itu cukup ya buat beli rumah satu.” Uhuks. Ya, benar, bagi banyak orang memang sepertinya kami menghabiskan terlalu banyak untuk traveling. Namun, buat kami itu adalah cara menikmati hidup yang tentu saja sangat tergantung dengan dananya. Kalau ada uang, kami berpelesir ke luar negeri. Kalau lagi bokek, jalan-jalan yang dekat saja. Jauh dekat sama saja, hati senang.

Wisata murah meriah di Semarang
Wisata murah meriah di Semarang

Bersenang-senang boleh, tapi jangan lupakan akhiratmu. Dari seluruh harta yang kita miliki ada sebagian hak orang lain. Dan bagian itulah yang berupa zakat, harus diberikan kepada mereka yang berhak.

***

Mau hidup tentram? Jangan lupa zakat, infaq, dan sedekah.

Mau hidup nyaman di hari tua? Jangan lupa berinvestasi saat masih muda dan kuat.

Mau hidup sejahtera? Jangan hidup ‘lebih besar pasak daripada tiang’.

Mau hidup senang? Jangan lupa plesiran!!!!!

Advertisements

18 thoughts on “Get Your Priorities Straight, Investasi Untuk Masa Depan”

  1. Aku juga gitu, pake kartu kredit langsung bayar penuh biar gak kena bunga hehe, kasihan bank-nya, gak dapet banyak untung selain biaya bulanan atau tahunan yg murah itu.

    Makanya bingung sama orang yang anti banget pake kartu kredit tapi pada suka maksa ngerepotin orang *eh terdengar curhat ya? :p

    Like

    1. hahahah masih ada ya yang pinjem-pinjeman kartu kredit?? Aku cuma bisa ngakak aja sih, apalagi kalo yang minta pinjem di grup traveling yang itu tuh….belum juga pada kenal udah minta pinjem.

      Like

      1. Masih mbak Olen. Ya ya ya dari grup nganu juga hehe. Padahal udah kubilang aku sendiri skrg lebih sering pake debit, feenya lebih murah. Bahkan bisa bayar di minimarket pula kan (jika tiket kursnya rupiah), eeeh masih aja keukeuh, padahal secara materi kayaknya bank yg kejer-kejer nasabah kayak dia eh dia gak mau, gak pingin pusing blablabla.

        Like

  2. suka banget ama kata kata ini :

    “Bersenang-senang boleh, tapi jangan lupakan akhiratmu. Dari seluruh harta yang kita miliki ada sebagian hak orang lain. Dan bagian itulah yang berupa zakat, harus diberikan kepada mereka yang berhak.”

    semoga selalu bisa konsisten untuk berbagi ya mbok

    Like

  3. keceee kak Olen pembahasannya 🙂
    doakan tahun depan sudah terbebas dari kartu kredit yaaah iniihh :)) tahun ini udah berhasil nutup 2, kayaknya mau nyiasin 1 aja takut ada kepepet2 :((

    Like

    1. Makasih Mei, emang aku simbok inspiratif *dikeplak voucher hotel*. Kamu besok di Oz buka rekening kan ya? Debet card di sana lebih sakti lagi haha. Btw, kamu berangkat kapan?

      Like

  4. Prioritas, prioritas… Gaya hidup itu seperti godaan yang melenakan. Harus terus belajar dan beraksi menentukan skala prioritas nih.. Supaya masa depan… penuh dengan liburan *eh* 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s