Jejak Secarik Jarik Batik


You can’t go wrong with jarik batik -Backpackology

Hari itu suhu Melbourne mencapai 40 derajat Celcius. Terik membakar kulit yang sebenarnya sudah terlalu familiar dengan panas. Saya dan suami terpaksa mengibarkan bendera putih melawan panasnya Melbourne di bulan Januari. Kami menyerah, kalah, bersimbah peluh menuju oase terdekat, yaitu keran air di Shrine of Remembrance — sebuah monumen bersejarah di pusat kota. Lantas, kami menggelar jarik batik yang biasanya untuk menggendong Oliq (saat itu usia 6 bulan), di atas rumput. Jarik batik menjadi alas duduk.

Penyelamat dari panasnya Melbourne
Penyelamat dari panasnya Melbourne

Bulan Mei 2011 usia Oliq 11 bulan, kami melaksanakan umrah ke Tanah Suci. Udara panas dan kering menyambut. Pemimpin rombongan menyarankan untuk melakukan ritual umrah pada malam hari, selepas Isya untuk menghindari terik matahari. Entah kenapa, malam itu Oliq tidak mau digendong bapaknya. Akhirnya saya terpaksa menggendong Oliq tanpa bergantian ketika melakukan tawwaf — berkeliling Ka’bah tujuh putaran. Lagi-lagi, jarik batik menjadi dewa penolong sesuai khittahnya. Jarik batik menjadi gendongan bayi.

Jarik ungu sampai ke Makkah!
Jarik ungu sampai ke Makkah!

Hari itu kami sangat menikmati Kyoto. Kotanya bersih, penduduknya ramah, kuil-kuilnya cantik mempesona. Kami sedang berada di Kiyomizu-dera, salah satu kuil paling populer di Jepang. Di sana-sini terlihat murid-murid yang sedang berdarmawisata. Beberapa di antara mereka mengajak saya berbicara dalam bahasa Inggris, sebagai salah satu bentuk tugas dari sekolah. “Kawaii, kawaii,” kata mereka sambil mencubiti pipi Oliq yang kala itu berusia 13 bulan. Tengah hari telah tiba, kami harus makan siang dan melaksanakan shalat Dhuhur. Mustahil kan ada mushola di sini? Akhirnya kami mengambil salah satu sudut di dekat parkiran. Untung, Kiyomizu-dera sangat bersih. Di sudut ini saya dan Puput bergantian melaksanakan shalat. Jarik batik kini berubah menjadi sajadah darurat.

Jarik tidak kalah cantik dengan kimono kan?
Jarik tidak kalah cantik dengan kimono kan?

Paris menyambut kami dengan keganasan musim dingin Eropa Barat. Tubuh serasa menggigil kedinginan dan ketika angin bertiup, tulang di tubuh ini seakan langsung membeku. “Tuhan, beri kami sinar matahari!” batin saya tak sanggup lagi. Menara Eiffel menjulang di langit kelabu Paris. Mendung, buram, sephia. Entah bagaimana, tiba-tiba matahari menyeruak. Langit berubah menjadi biru. Paris seolah bernyanyi diiringi kicauan burung. Doa memang terkabul, matahari bersinar, tapi hawa dingin tetap menusuk tulang tidak berubah. Ini adalah hari terdingin bagi kami (at that time). Karena khawatir akan kedinginan, saya mengalungkan jarik batik ungu yang sudah sangat kusam ke leher Oliq. Pipi nyempluknya sedingin es. Jarik batik kami kini menjadi syal.

Menggigil di Paris
Menggigil di Paris

Gara-gara Puput yang belum puas jalan-jalan di Red Lights District Amsterdam malam sebelumnya, ia mengajak kami untuk kembali ke sana. Alasannya kurang banyak ambil foto. Huh. Akhirnya selepas matahari tenggelam kami kembali ke De Wallen tersebut. Bagi yang belum tahu, ini adalah kawasan prostitusi, di mana para penjaja seks “berpromosi” di etalase. Legal hukumnya. Kalian hanya dapat mengambil foto sekitar, atau kanal-kanal cantik. Jangan berharap dapat memotret mbak-mbak dan tante-tante di balik etalase kalau tidak mau berurusan dengan tukang pukul. Red Lights District juga jadi kawasan wisata para turis yang sebenarnya hanya untuk memuaskan rasa penasaran. Tak disangkal sih, pemandangan kanal yang dihiasi lampu merah berpendar dari etalase-etalase itu memang sangat fotogenik. Ketika sudah akan pulang, tiba-tiba saja turun hujan salju deras. Baby stroller Oliq hanya memiliki tutup pada bagian atas, namun kami tidak punya stroller protector yang biasa digunakan orang-orang Eropa. Akhirnya, untuk menghalangi butiran salju mengenai Oliq yang sudah tidur nyenyak, jarik batik saya kerudungkan menutup bagian depan. Menembus salju kami berlari beberapa ratus meter hingga tiba di apartemen sewaan. Jarik batik jadi pelindung stroller dari salju.

Jarik ungu multifungsi
Jarik ungu multifungsi

Kami adalah orang yang fungsional, tidak terlalu suka dengan hiasan-hiasan yang tidak ada gunanya. Apalagi ketika sedang traveling, semua barang harus bermanfaat, kalau bisa tidak hanya berguna untuk satu hal. We are light travellers. Lagian, kalau traveling bawa bayi dan banyak barang malah repot, kan?

Sebagai orang Jawa, umum untuk menggendong anak menggunakan jarik atau selendang, yang biasanya bermotif batik. Walau belakangan ini banyak ibu muda yang lebih suka menggunakan gendongan instan yang dianggap lebih praktis. Buat saya, jarik batik tetap jadi andalan.

Jarik batik mungkin mirip fungsinya dengan kain Bali yang bisa dijadikan apa saja. Bisa untuk alas, dijadikan rok, selimut, dan sebagainya. Kelebihannya dibanding kain Bali adalah bahannya yang lebih kuat sehingga nyaman dan aman untuk menggendong batita. Selain itu, motif batiknya sangat Indonesia. Beberapa kali, di luar negeri, saya disapa oleh sesama orang Indonesia yang mungkin mengenali karena jarik yang saya pakai untuk menggendong anak.

Bahkan, di Masjid Nabawi, saya pernah bertemu dengan teman yang sudah belasan tahun tidak berjumpa. Ia mengenali saya dari jauh karena jarik batik yang saya gunakan untuk menggendong Oliq ia kenali dari Facebook.

Buat saya, kain-kain kumal yang warnanya pun sudah kusam tersebut bukan semata selembar kain biasa. Jarik-jarik batik itu adalah pengingat akan rumah. Pengingat akan pulang.

I love to travel because I know I have a home to go home to.

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakan Wego’ yang diberi tautan ke halaman ini: http://www.wego.co.id/berita/kompetisi-blog-perjalanan-dan-kain-tradisional/

 

Advertisements

18 thoughts on “Jejak Secarik Jarik Batik”

  1. Adek sepupuku juga ada pengalaman soal kain. Kalau ngedot harus sambil ngemut sarung bekas datok (kakek) sampe tuh sarong koyak mengoyak masih aja dikemut hehe.

    Semoga menang mbak Olen

    Like

  2. Luar biasa bisa gendong Olig pakai Jarik kemana mana, aku sampe sekarang (anak e wis umur 8 thn) sik nggak isok gendong karo Jarik, wis gawe gendong ‘modern’.

    Jarik tak hanya untuk gendong, ya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s