Confession of A Coffeeholic Traveller


I travel. I drink coffee. I brink coffee home.

One out of many highlights in my life is sipping Balinese coffee on the height of fog-clouded Munduk. The other time is sitting on top of Mt Geureute, enjoying a cup of Acehnese coffee, while looking down to the mindboggling beauty of the beaches and, ironically, also the massive destruction caused by the Tsunami.

Ih Simbok keminggris.

image

Saya akui, saya ini pecinta kopi. Wait, that’s not quite right. Saya penggila kopi.

Awal mula kegilaan saya terhadap kopi adalah ketika masih kuliah. Saat itu teman terbaik untuk mengerjakan ratusan halaman terjemahan adalah kopi. Hampir tiap malam saya begadang untuk mengetik terjemahan orderan dari beberapa penerbit di Jogja. Uangnya memang sangat saya butuhkan untuk membeli pulsa, fotokopi bahan dan catatan kuliah, sekadar jajan, atau untuk menyewa komik/novel dari taman bacaan.

Kopi juga jadi teman terbaik saya menghabiskan malam-malam bergaul bersama Gianluca Pagliuca, Youri Djorkaeff, dan Diego Simeone, serta Massimo Moratti.

Saya suka banyak jenis kopi, dari dalam maupun luar negeri. Saya sangat menikmati harumnya kopi Flores, walaupun belum pernah ke sana.

Saya juga suka kopi Aceh. Dulu ketika bekerja di Aceh, ketika harus pergi ke Lamno (2 jam dari Banda Aceh) atau Calang (7-8 jam dari Banda Aceh) biasanya saya dan driver mampir di kedai kopi di Gunung Geureute. Nikmat sekali. Pernah juga mencicip kopi luwak dari Gayo. Hmmm satu kata: setrong!

Sudah tidak terhitung berapa kali saya ke Solong di Ulee Kareng, salah satu kedai kopi paling happening di Aceh. Meeting di Solong. Pengen jajan, ke Solong. Ketemuan sama mitra di Solong. Waktu kerja di Jakarta dan ada tugas ke Aceh pun selalu mampir ke Solong. Sayangnya, saya masih belum sukses meramu sendiri kopi Aceh di rumah. Mungkin karena di rumah nyaringnya ga pakai kaos kaki hahahahhaahaa

Saya suka arabika, robusta terlalu asam untuk lidah saya. Campuran 70 arabika 30 robusta sudah cukup asam bagi saya.

My coffee is dark, with sugar and milk — just like myself, strong yet sweet and smooth *dikeplak*

Entah kenapa saya belum berjodoh dengan kopi Toraja, yang katanya salah satu yang terbaik di negeri ini. Beberapa kali mencicipi kopi Toraja rasanya kok tidak pas di lidah saya. Kemungkinan sih yang saya minum juga bukan yang kualitas baik…karena Puput waktu pulang dari Toraja malah kopinya ketinggalam di pesawat. Ealah, apalah dirimu tanpaku, Cup!

“Kopi Bali kurang kuat,” kata Puput. Memang sih dibanding kopi Aceh atau kopi Flores, kopi Bali dan kopi Jawa rasanya lebih soft. Tidak garang. Tapi saya suka tuh, apalagi minumnya pagi-pagi yang sejuk di Munduk. Atau di beranda yang menghadap.ke sawah-sawah di Ubud. Atau di balkon menghadap ke birunya Uluwatu. Ah, Olen sih geleman.

Saya juga menikmati rasa unik kopi Belitung, terutama suasana hangat di warkop Kong Djie Tanjung Pandan. Di sini kokoh-kokoh dan haji-haji mengobrolkan masalah pelik negeri ini dengan santai sambil sesekali menyesap kopi dan mencomot camilan.

Untuk luar negeri saya suka banget dengan kopi Vietnam, terutama merk Trung Nguyen, memang pabrik kopi terbesar di Negeri Paman Ho itu. Kopi Vietnam dibuat menggunakan phin, filter khusus. Trung Nguyen mengeluarkan banyak varian kopi, kesukaan saya No 4, 5 dan paling suka Buon Me Tot Special Legendee yang harganya dua kali lipat dari yang reguler.

Kopi Vietnam buat saya gampang bikinnya. Asal takaran udah tepat, mau pakai phin, saring biasa, atau pakai coffee maker pun selalu enak. Kalau kopi-kopi lain saya suka dicampur susu cair, untuk kopi Vietnam lebih suka susu kental manis. Walau diseduh sendiri pun enak, tentu yang paling enak tetep kopi 10000 dong di mas-mas pinggir jalan Pham Ngu Lao atau di dek junk boat yang lagi berlayar pelan di Halong Bay.

Waktu ke Siem Reap, kami beli kopi Mondulkiri — tanpa ekspektasi apa-apa. Sampai di rumah diseduh dan bau harum langsung menyeruak. Rasanya enak sekali. Mirip dengan kopi Vietnam. Setelah dibaca baik-baik tulisan di bungkusnya, ternyata Mondulkiri adalah sebuah wilayah di Kamboja bagian timur, dekat perbatasan dengan Vietnam. Pantas mirip.

Pernah mencoba kopi India dan Kenya tapi tidak cocok di lidah. Mungkin juga yang kami minum terlalu banyak campuran.

Puput juga suka kopi, sepertinya setelah sama saya. He was more of a milk kinda guy. Bayangin dong Puput yang berambut gondrong dan jenggotan sok alpha male gitu mimiknya cucu cetlobeli.

Jangan kira saya cuma minum kopi hitam atau kopi tubruk. Buat lucu-lucuan atau untuk mengurangi konsumsi kopi tubruk, saya juga minum kopi instan. Favorit saya Ipoh White Coffee original punya Nescafe Malaysia. Saya juga suka Luwak White Coffee yang original, tapi nggak suka variannya. Sayangnya, saya malah belum pernah mencoba G7 keluaran Trung Nguyen.

Saking senangnya dengan kopi sampai-sampai waktu hamil dan menyusui pun saya tetap ngopi. Untuk waktu-waktu tertentu ini saya batasi 2 cangkir per hari khusus kopi tubruk.

Saya pernah sok-sokan detoks kopi, seharian nggak minum kopi. Langsung sakau. Badan lemes semua, berdiri pun hampir nggak mampu. Call it lebay, sumpe broo, lemes banget. I was having bad caffeine withdrawal. Memang sih waktu itu langsung mandeg, tidak pelan-pelan. Saya juga pernah mengalami periode minum kopi hanya sekali seminggu, dan hasilnya, ga apa-apa.

Kopi Starbucks? Saya suka juga walau kadang ga rela sama harganya. Kesukaan saya tetap coffee latte tanpa tambahan rasa-rasa aneh. Waktu di Australia, saya sering ke Gloria Jean’s dan favorit saya Toffee Nut Latte.

Pengalaman buruk perkopian adalah ketik kami ke Eropa. Saya lupa bawa kopi padahal bumbu-bumbu saja lengkap. Saya dimarah-marahin Puput, ga punya kopi padahal musim dingin kaya gitu. Akhirnya kami beli kopi paling murah di Monoprix, yang bisa ditebak: mengecewakan.

image

Oleh-oleh terbaik bagi saya adalah kopi. Saya pernah mendapatkan oleh-oleh kopi Toraja, Manggarai, Bali, Vietnam, Jambi, Lampung, Magelang, Aceh.. Saya lebih bahagia mendapatkan sebungkus kopi daripada setumpuk tagihan.

Saya mengetik ini ditemani secangkir kopi Aroma varian Jawa. Saya adalah orang yang berbahagia.

Advertisements

3 thoughts on “Confession of A Coffeeholic Traveller”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s