Membawa ASI Perah Saat Travelling


Saya yakin ada banyak ibu-ibu pembaca blog yang merupakan ibu menyusui, yang sering bepergian dengan bayi mereka, atau yang terpaksa memompa ASI saat dinas ke luar kota/luar negeri karena bayinya ditinggal.

20150917023918

Pengetahuan Simbok tentang per-ASI-an sebenarnya masih sangat sedikit. Yang jelas tahu adalah bahwa ASI makanan terbaik baik bayi, dan di bawah 6 bulan hendaknya bayi hanya mengasup ASI. Karena itu saya berusaha keras memberi ASI eksklusif bagi Ola (Oliq sih lulus ASI sampai postdoc deh).

Saya ibu menyusui dan merayakan World Breastfeeding Week.

Hueheheheh.

Ada banyak pertanyaan mengenai peraturan membawa ASI perah dalam pesawat. Untuk penerbangan domestik sebenarnya tidak ada masalah karena tidak ada larangan membawa cairan di atas 100 ml dalam kabin. Jadi silakan saja bawa berbotol-botol ASI dalam cool box, make sure penyimpanannya benar supaya tidak rusak ya.

Nah, untuk penerbangan internasional, ada larangan membawa liquids, gel, and aerosol lebih dari 100 ml dan tidak lebih dari 1 liter untuk keseluruhan. Kalau botol ASI biasanya 100-150ml, kalau dibuang gimana dong?

Tenang saudara-saudara, ternyata ASI adalah salah satu perkecualian dalam peraturan tersebut.

20150917023918(1)

Merujuk peraturan dari AS yaitu Transportation and Security Authority (TSA) ibu yang bepergian dengan bayi atau tidak, boleh membawa ASI dalam botol yang lebih dari 100ml dengan total lebih dari 1 liter dengan catatan ibu harus mendeclare ASi tersebut kepada petugas bea cukai. Bagi yang membawa cool box dengan ice pack di dalamnya, hendaknya juga mengatakan pada petugas. Biasanya, bila penerbangan panjang (longhaul), dan ice pack hanya bertahan 6-7 jam, ASI dapat dititipkan di freezer pesawat.

Untuk peraturan Indonesia, ada Pasal 2 Ayat 3 Perdirjenhub No 43/2007 yang memperbolehkan ASI, formula lebih dari 100ml per botolnya. Jumlahnya tidak dibatasi.

Tapi, lebih baik consult maskapainya juga. Misalnya, Airasia cuma bilang yang bisa dibawa ke kabin hanya seperlunya saja. Terus ada juga kasus Alyssa Milano (Milano alright bukan Soebandono!) yang marah-marah di Heathrow karena ga boleh bawa ASI.

Kalau ada petugas melarang ASI, ingat, sodori peraturan tersebut, jangan sodori kendinya!

Untuk formula, saya sih tidak terlalu concern, karena tinggal ibu-ibu tinggal meminta air panas di pesawat. Gratis. Masalahnya pas nunggu di bandara dan ga ada air panasnya kaya Bandara Adisucipto karena dispensernya GA DICOLOKIN!!!

Waktu zaman Oliq, saya nggak punya pengalaman bawa ASI perah ke mana-mana karena Oliq pertama kali pergi ke luar negeri waktu dia umur 6 bulan (Australia). Saat itu dia udah nggak doyan ASIP lagi.

Nah, Ola dibiasakan minum ASIP, karena kadang-kadang dititipin waktu saya heboh ngurusin Oliq mau berangkat sekolah. Media ASIP-nya? Pake dot Huki murah meriah oooooohhh please judge me karena nggak disendokin atau pakai cupfeeder atau soft cup feeder 500 ribu punya Medela. *langsung dislenthik AIMI*

Doain aja yah yah yah Ola nggak bingung puting. Frekuensi dia pake dot adalah 1 kali pagi hari dan 1 kali sore hari. Selain itu selalu nyusu langsung dan skin to skin, kecuali kalau saya tinggal sebentar ya tambah 1 kali lagi.

20150917023918(3)

Kemarin, kami harus terbang dari Jogja ke Kuala Lumpur untuk mengurus visa Ola. Puput ada di KL dan nggak bisa cuti. Saya terus terang angkat tangan untuk bawa dua anak sendirian. Akhirnya, setelah menimbang dan mengingat, saya pinjam bidannya Bapak Mertua untuk dibawa ke KL seminggu. Budhe Siti ini salah satu dari dua yang memang sehari-harinya megang Ola. Jadi udah fasih banget deh, dibanding eyang-eyangnya yang udah sepuh.

Nah, saya memutuskan untuk bawa 2 botol ASIP masing-masing sekitar 120ml. Walau kendinya dibawa, takutnya butuh pas saya ribet ngurusin Oliq (ya emang sempet ribet banget pas Oliq kelilipan di pesawat).

Ternyata di bea cukai JOG lempeng saja itu ASI masuk. ASI saya bawa saat masih beku dengan harapan tahan lebih lama di udara luar.

Permasalahan datang ketika mau diminumkan dan ASI masih dingin. Yang seperti saya bilang tadi di ruang tungg bandara internasional dispensernya nggak dicolokin dan di ruang menyusui dispensernya dicolokin tapi nggak ada airnya. SAMI MAWON!

20150917023918(2)

Akhirnya itu ASI dikempit dan dianget-angetin pakai tangan. Untung Ola nggak rempong jadi doyan ASI suhu ruang yang agak dingin dikit.

ASI diminumkan waktu di ruang tunggu (delay 2 jam karena kabut asap) dan di pesawat. Sampai KL masih sisa sekitar 70ml yang terpaksa dibuang. Besoknya produksi ASI saya agak seret karena kecapekan dan kurang tidur. Alhamdulillah sekarang sudah oke lagi berkat jagung dan kopi susu.

Oh ya, barusan saya baca-baca, menurut CDC, ibu menyusui yang sedang bepergian sebenarnya tidak perlu minum suplemen apa-apa karena takut ASInya menyusut. Ya cukup disusui aja sesering mungkin sambil maintain skin-to-skin. Tapi yang nggak kalah penting, asupan ibu juga harus bergizi. Yang belakangan ini kan yang suka lupa? Suka kapiran?

20150917023918(4)

Heeh.

Happy travelling, moms!

Advertisements

17 thoughts on “Membawa ASI Perah Saat Travelling”

  1. Nanti kalo udah punya anak (istri mana istri) aku catet deh peraturannya dan simpen di dompet dan tunjukkin ke petugas kalo dilarang bawa asi.

    Tapi selama kendinya di bawa sih kayaknya aman ya. Asal penumpang sebelah gak ngintip aja. Oke sip.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s