There’s Nothing Like Australia


Kalau kalian mau cari info wisata ke Australia, kalian udah nyasar dengan sukses. Coba search di kategori ‘Australia’. Ini saya mau meneruskan tulisan seri #KindnessProject yang intinya saya berbagi cerita bertemu dengan orang-orang baik di berbagai negara.

There is no kindness too small. Nggak ada kebaikan yang terlalu kecil. Satu senyum pun bisa lho menghangatkan hati orang lain. Setelah bercerita tentang baiknya orang-orang Jepang, kali ini saya mau cerita tentang Australia.

Australia sudah sangat akrab dengan pendatang, toh sebagian penduduk Australia pun pendatang. Negara ini sangat multietnis. Perempuan berkerudung pun di mana-mana, jadi saya tidak terlihat seperti ‘alien’ di mata mereka.

Biar adil, saya juga harus bilang bahwa Australia dekat di hati saya karena Simbok cukup beruntung pernah ngangsu ngelmu di negara ini dengan biaya dari pemerintah sana. Jadi harap maklum kalau agak subjektif. Eh ini blog kan bukan koran jadi ndakpapa kalo ndak objektif.

Bangsat itu ada di mana-mana. Pardon my French lah! But it’s true jerks are everywhere. Saya pernah mendengar beberapa pemuda mabuk naik mobil yang meneriaki beberapa mahasiswa Cina yang sedang menunggu bus dengan makian yang pakai huruf F. Lalu ada pula kasus seorang mahasiswa Indonesia dipukul waktu ramai-ramainya kasus Schapelle Corby itu.

Jangan satu dua kasus membuat kita menggeneralisasikan hal negatif. Ayo berpikir positif selalu.

Ada berapa orang baik yang saya temui di Australia? Jawabannya: buanyaaaaaaak.

image

Mulai dari seorang mbak-mbak yang membantu saya memasukkan tiket di mesin Stasiun Caulfield ketika pertama kali naik kereta ke kampus Monash di Clayton. Yee gimana saya tahu wong itu pertama kali ke luar negeri, biasanya juga bayar metromini 75 jurusan Blok M-Pasar Minggu pakai ribuan lecek.

Lalu, waktu tahun 2012 saya ke Australia untuk liburan dengan Puput dan Oliq, saya juga ketemu beberapa orang baik yang masih saya ingat sampai sekarang.

Ketika tiba di Sydney melalui bandara, kami naik kereta menuju Stasiun Wynyard. Mungkin karena melihat kami yang gotong-gotong koper, seorang nenek langsung tahu bahwa kami turis. Ia tersenyum lebar dan berkata, “Welcome to Sydney!” Segitu doang ih. Segitu doang? Buat saya berarti banget lho serasa disambut karpet merah. Berarti banget makanya saya masih ingat walau sudah bertahun-tahun lalu.

Di Melbourne Zoo kami pun dapat sambutan hangat dari ibu penjual tiket. Ia langsung tahu bahwa kami dari Indonesia dan langsung bercerita macam-macam. Tentang ia pernah ke Bali, tentang ia pernah belajar Bahasa Indonesia. Subhanallah, saya senang banget jadi orang Indonesia saat itu.

Flight Attendant paling baik yang pernah saya temui adalah dalam penerbangan KLM antara Amsterdam dan Stavanger. Om-nya (agak terlalu tua untuk dipanggil Mas, tapi kok kasihan banget kalau dipanggil Pakde. Kalian yang pernah naik KLM pasti tahu maksud saya) ngajak ngobrol ramah banget dan saya dikasih 2 porsi meal *ahem*. Nah, FA terbaik ke dua adalah mbak pramugari Tiger Airways Melbourne-Sydney. Mbaknya keturunan Pasifik (mungkin Samoa, Tuvalu, Fiji atau sekitarnya) sangat cantik. Dengan ramah ia bertanya apa saya tahu cara menggunakan baby seatbelt (Oliq masih 6 bulan). Saya bilang saya tahu. Mbaknya bilang walau saya tahu, ia akan menjelaskan sekali lagi. Jelasinnya ga sambil lalu gitu. Justru sangat ramah dan detail, dia sampai berlutut di lantai, lho. Keren, kan?

image

Orang baik berikutnya sudah membuat saya masih merasa bersalah sampai sekarang. Ceritanya saya, Puput, dan Oliq pulang jalan-jalan malam di City menuju ke tebengen di flatnya Ririn (teman saya) di Brunswick. Kami nunggu trem di stop-an depan Royal Women Hospital. Ketika sedang menuju ke halte, saya melihat ada seorang laki-laki duduk di bangku. Penampilannya seperti tunawisma. “Waduh, moga-moga nggak ngganggu. Medeni,” kata saya. Saya takut laki-laki itu mabuk dan mengganggu kami. Bahkan mungkin berbahaya.

Suudzon gets you nowhere.

Ketika saya mendekat, saya udah ancang-ancang aja mau berdiri di pojokan. Nggak mau duduk deket bapak itu. Takut diganggu, takut bau, dsb. Saya bahkan nggak mau duduk di bangku panjang sebelahnya (bangku panjangnya ada 2). Mungkin Si Bapak ngerasa kecanggungan saya. Dia berdiri tersenyum ramah pada saya, mempersilakan saya duduk. Lalu melangkah menjauh ke ujung halte.

Simbok langsung buka kutang.

Nyusuin Oliq.

#IJudgeTooQuickly

Aduh, banyak deh kalau diingat-ingat. Tapi yang paling saya ingat adalah pada pertengagan musim gugur 2006. Alkisah, saya waktu itu lagi rajin-rajinnya ke perpus demi tesis. Waktu itu belum musim wifi, laptop di flat pun cuma pakai dial up gantian sama housemates. Cara termurah online adalah nebeng komputer di perpus. Tentu buat baca-baca jurnal, sejenis Foreign Affairs atau Harvard International Review gitu, walau sebenarnya sebagian besar cuma nebeng Friendster-an sama YM-an.

Nah karena pikiran yang berkecamuk demi masa depan pascasekolah, entah bagaimana dompet saya jatuh di bus loop kampus. Ini semacam halte untuk beberapa jalur bus. Tapi saya nggak ngeh kalau dompet jatuh. Saya melenggang pulang. Flat saya sekitar 6 menit jalan kaki dari kampus, saya huni dengan 2 orang teman.

Sampai di flat saya dihadang teman saya, Grace. Percakapan berikut terjadi dalam Bahasa Inggris yang saya terjemahkan.

Grace: Olen, barusan ada yang telpon, katanya nemuin dompetmu.
Olen: Heeeeh? * langsung merogoh sempak tas* Oh em ji bener Grace ga ada.
Grace: Tenaang. Orang yang nelpon tadi bilang dompetmu yang isinya recehan doang udah diopeni sama sopir bus Grenda. Nih dia ninggalin nomor telp.

Langsung saya nelpon. Percakapan berikut sejatinya juga dalam Bahasa Inggris.

Olen: Halo, ini Olen yang dompetnya jatuh.
Mas Baik Hati Tanpa Pamrih (MBHTP): Oh halo mbakyu. Saya sama sopir bus Grenda yang tadi nemu dompet di bus loop.
Olen: Maturnuwun sanget lho Mas
MBHTP: Saya tadi nemuin dompet, terus saya lihat kartu mahasiswa. Saya tanya International Student Services dikasih no telp kos-kosanmu. Dompetmu sekarang sama sopir bus. Telpon aja ke 555-GRENDA buat ambil. Dompet kok raono isiine lho mbak, sampeyan kere tenan.
Olen: *berkaca-kaca* suwun tenan yo Mas

Saya telpon ke pool Grenda di Dandenong dan dikasih ancer-ancer jalan ke sana. Hari itu juga saya ambil dompetnya. Utuh isinya.

Baik-baik ya orang ini.

Yang nggak baik cuma orang yang berhasil bikin saya nangis tersedu-sedu di Negeri Kanguru gara-gara nyolong 4 kutang saya di jemuran. Dan jaket Billabong malah enggak dicolong.

Kutang is so expensive in Australia and there is no way you buy them in Salvation Army or Savers.

Damn. Damn.

Advertisements

22 thoughts on “There’s Nothing Like Australia”

  1. Oh damn, ‘kutang’ was so valuable :O

    Meskipun secara diplomasi hubungan RI-Australia sempat naik turun gara-gara Bom Bali, hukuman mati, nyatanya orang-orangnya sepertinya gak terpengaruh ya Mbak. Bener banget, sekali suuzon, nyatanya bisa sampai merasa bersalah yang membekas.

    Saat itu, memang friendster lagi musim ya. Jadi kangen foto alay di FS 😦

    Like

    1. Kutang itu muahalll qy. Tenan. Ada terpengaruh sih tapi ga semua. Dan biasanya cuma sebentar. Emangnya jaman FS kamu dah lahir?

      Like

  2. Hakakakka kutang oh kutang!
    Emang orang sukanya fokus ke yang negatip2, begitu ada yang negatip dikit lgsg disorot padahal kan gak smua orang kayak begitu kaleee terbukti dr tulisan simbok. Tapi tetep maling kutang ada dimana2, terbukti juga dr tulisan simbok :))

    Like

    1. Aku heran apa itu emg spesialis kutang po piye ya? Padahal jemuran lainnya kayanya lebih mahal, ada jaket, celana jins dll. Untung aku ora dipelet

      Like

  3. Hikmah dari tulisan ini… Don’t judge by its KUTANG! Hahaha.

    Selama di jalan daku sering menerapkan pola pikir begini mbak, pada dasarnya semua orang adalah baik, asal kita berperilaku baik pasti akan ada kebaikan dari orang yang kita temui saat itu. Sekian dan terima uang tunai buat beli tiket obral ke Australia. 😀

    Like

  4. Baca ini jadi tambah kepengen ke Austraia deh yang termasuk di salah satu travel wish listku *Mari menabung kumpulin modal, Nong :D*
    BTW, soal orang mabuk dulu waktu pertama kali ke Jepang dan tersesat di daerah antah berantah yang sangat sepi orang, tiba tiba ketemu orang mabuk gitu…terus karena udah gak ada orang lain lagi, terpaksa deh mau gak mau nanya ke dia. Tapi, alhamdulillah dia masih nyambung pas ditanya, dan berkat dia alhamdulillah sampe ke tujuan 🙂

    Like

  5. Salam kenal mba, Saya Esti tinggal di Jl.Kaliurang Jogja. Hehehe..
    Baca blog mba Olen ini karena saya sdg mencari info tentang Kuala Lumpur, dan blog mba Olen muncul di mbah Google, dibaca, eh malah ketagihan. Hahaha..
    Paling berkesan baca artikel mba yang ini mba, bikin saya mbrebes mili (terharu) karena jd kangen Melbourne, terutama area Monash University di Clayton Huhuhu. Padahal saya cuma di sana tiga mingguan, buat conference and short course di Monash. hahahahahaha. *lebay*

    Semoga sukses selalu rencana jalan-jalannya mba dan keluarga.. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s