Atas Nama Nasionalisme Aku Menjelajah


image

Selamat pagi, Indonesia!

Puluhan orang sibuk menyiapkan peralatan “perang” masing-masing. Tripod-tripod diberdirikan, berjajar bagaikan milik pewarta olahraga di tepi stadion sepakbola. Kamera-kamera dengan lensa sepanjang lengan dipasang. Harganya mungkin tak kurang dari 10 juta. Semuanya bersiap menyambut matahari terbit dari Punthuk Setumbu.

image

Selamat pagi, Borobudur! Terimakasih telah memberikan foto-foto cantik untuk kami. Foto-foto yang dalam hitungan menit akan diunggah ke akun-akun media sosial kami. Dalam hitungan jam dan hari bertaburan di blog-blog kami.

image

Tapi apa yang aku lakukan ketika Merapi meletus dan menghamburkan abu menyelimutimu, Borobudur? Apa pula yang sudah aku lakukan ketika gempa menghantam dan meretakkan batu-batu megahmu?

Selamat siang, Indonesia!

Aku berdiri menghirup udara segar berselaput ombak di tepi Pantai Iboih. Birunya laut sampai-sampai menyilaukan mata yang sudah dilindungi kacamata hitam keluaran Amerika. Nyiur melambai di pinggir pantai. Pulau Rubiah yang hijau seolah-olah memanggilku untuk menyentuhnya. Selamat siang, Pulau Weh!

image

Tapi apa yang aku lakukan untuk Aceh ketika tsunami melanda? Apa yang aku berikan ketika Sabang porak poranda?

Selamat sore, Indonesia!

Lelah sepertinya tidak pernah datang mendera ketika kita bersenang-senang. Tiga kamera harus bekerja bergantian untuk mengabadikan berbagai pose yang kami lakukan. Mulai dari melompat, kayang, jumpalitan, koprol, semuanya dilakukan demi satu kata: siluet. Mencari siluet foto paling keren kala matahari tenggelam di Pantai Panembahan.

image

Tatkala wisatawan sibuk berpose, tukang-tukang ojek menunggu dengan sabar. Mereka mengais rejeki dari para pendatang ini. Lumayan, untuk beli beras sekilo dua kilo.

Selamat sore, Ujung Genteng! Namamu menyiratkan lokasimu. Jauh dan terpencil. Untuk menggapaimu kami harus duduk berjam-jam menempuh kemacetan dari Ibukota. Indahmu tiada tara. Tapi kehidupan di sekelilingmu pun tidak seindah asa. Kemiskinan masih mendera, transportasi terbatas, sekolah pun jauh. Sementara, kadang ikan-ikan pun enggan mendekati jaring para nelayan.

Apa yang sudah  kulakukan untukmu, Ujung Genteng, selain terus memaki pemerintah karena jalanan yang buruk di media sosial?

Selamat malam, Indonesia!

Tripod-tripod kembali berjajar, ditemani oleh kamera-kamera keluaran terbaru. Pemilik mereka adalah pemuda-pemudi, mengenakan celana kargo dan jaket berisi bulu angsa untuk terlindung dari dinginnya Ranu Kumbolo. Para pemburu bintang, para pemburu milky way.

Selamat malam, Semeru! Elokmu memang sulit dikata. Ribuan manusia berhasrat menyentuh puncakmu. Kadang, tak peduli aturan. Tak peduli keselamatan. Apa yang sudah kami lakukan untukmu, Semeru? Selain mengibarkan bendera tanda menaklukkanmu. Apa yang kami lakukan ketika dirimu berlumur sampah? Apa?

Atas nama nasionalisme aku menjelajah nusantara. Atas nama nasionalisme aku turut merusaknya. Tapi ketika aku ditanya apa yang sudah kuberikan padamu, Indonesia, aku sudah lupa nasionalisme itu apa.

***

Indonesia seolah-olah meledak ketika terdengar berita satu tangan jahil milik negeri ini menggoreskan tanda mata di Gunung Fuji, Negara Matahari Terbit sana. Cacian, makian, hujatan dilancarkan kepada si pemilik tangan.

image

Menunjukkan kecintaan pada bangsamu di negeri lain dengan cara itu? Nasionalisme macam apa itu? Satu tangan jahil merugikan ratusan juta saudara sebangsa.

Satu tangan jahil? Omong kosong.

image

Dakilah Jabbal Rahmah di Arab Saudi sana. Goresan nama-nama Indonesia terpampang di bukit yang konon adalah tempat pertemuan antara Adam dan Hawa. Tempat pertemuan dua orang pertama di bumi ini kalian lukai dengan tangan-tangan kotor kalian. Kalian yang datang ke sana atas nama agama.

***

Nasionalisme hanyalah sebuah kata. Tidak penting kita mengartikannya seperti apa, yang penting bagaimana kita mengamalkannya.

Buat saya, nasionalisme itu cinta negeri sendiri. Tidak ada hubungannya dengan traveling mau di dalam atau di luar negeri.

Orang yang telah menjelajah ke 17 ribu pulau di Indonesia tanpa melakukan apa-apa tidak lebih nasionalis daripada Mbah Karjo tetangga saya, yang tidak pernah ke mana-mana namun selalu sibuk menghijaukan halaman rumahnya, dan membagikan tanaman-tanaman itu pada para tetangga.

image

Kalian yang berbangga menghabiskan jutaan rupiah untuk pergi ke Raja Ampat sana mungkin juga tidak lebih nasionalis daripada kawan saya Alid. Walau suka jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya sendiri, ketika kembali dia menggalang teman-temannya untuk melakukan gerakan bersih sampah di lokasi wisata di kota kelahirannya.

Jangan bangga kita sudah menjelajah Indonesia kalau tidak melakukan apa-apa. Ditanya kita sudah melakukan apa, mendadak amnesia.

Nasionalisme itu bukan ke mana.
Nasionalisme itu apa yang dilakukan.

***

Tulisan ini disertakan dalam lomba “jalan-jalan dan nasionalisme” yang diadakan oleh Travel On Wego Indonesia.

Advertisements

25 thoughts on “Atas Nama Nasionalisme Aku Menjelajah”

  1. Tidak bisa lebih dari setuju daripada ini. Ketika gengsi nyaris menutupi rasa malu, rasa sungkan, dan kebanggaan semu.

    Hidup mas Alid! 🙂

    Like

      1. Hehe, Lha wong di email tiba-tiba muncul new post dari njenengan lewat Backpackology.me, langsung dibaca seksama, lalu meninggalkan komentar 🙂

        Like

  2. terakhir ke borobudur tahun 2014 kemaren dan panasnya ampun2an.

    kalau masalah sampah sepertinya sebagian orang memang belum sadar akan ulahnya. dan ketika ada warga negara asing memungut sampah seperti kasus gunung rinjani kemaren kita baru deh rame dan ngamuk2. hallo, kemana kalian selama ini?

    Like

  3. Amnesia.itu memang penyakit kambuhan sebagian besar orang Indonesia kayanya ya mbok. Ngakunya nasionalis tapi klo traveling buang sampah sembarangan..foto narsis terus kertasnya dibuang gitu aja. Giliran lagu indonesia di claim tetangga melu mencak2 la selama ini apa yg sudah kita perbuat untuk Indonesia??
    eh betewe itu serius mas Alid bersih2 kampung??? :p

    Like

  4. “Kalian yang berbangga menghabiskan jutaan rupiah untuk pergi ke Raja Ampat sana mungkin juga tidak lebih nasionalis daripada kawan saya Alid.” <- emang nasionalis-nya Alid gimana mbak?

    Like

    1. Ariii mocomu ra genep po piyeeee? Alid ki reresik air terjun ning jombang. Sekalian reresik sisan golek jodo (tapi tep ra oleh2)

      Like

  5. bwhahahah ini semua jadi ikutan bahas Alid, dia kece yah mbokkk, bikin bersih-bersih kampung :3

    SETUJUUUU!!! Nasionalisme bukan diukur dari berapa banyak provinsi yg sudah dijelajah di negeri sendiri kan? tapi apa yg sudah dilakukan untuk negeri ini

    *eh aku udah ngapainnnn ya?*

    Like

  6. Beuh, aku belum pernah ke Ujung Genteng. Belum jadi-jadi tiap mau ke sono. Btw, Indonesia ki bukan 17.000 pulau lho mbak, tapi sekitar 13.466 pulau saja. Cmiiw. Pas baca bagian mengamalkan, pikiranku langsung melayang pada mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Hahaha. Aku produk Orde Baru 😥

    Like

    1. Nek jamanku sing takkelingani 13.447. Mungkin saiki bertambah pulau2 gusung barang haha. Mbuh yo. Tapi angka 17rb kui bertebaran jeh. Ga tau juga pastinya.

      Aku produk Balai Pustaka.

      Like

  7. Astagah nagah,,, bau nagah,,, nagahnya siapa???
    Aku terharu disebut-sebut di blog ngehits kece yg alexanya tinggi dan engagement dan trafficnya selancar jalanan jombang yg anti macet ahahaha…

    MERDEKA!!!

    Like

  8. Saya suka dengan kalimat terakhirny “Nasionalisme itu bukan ke mana. Nasionalisme itu apa yang dilakukan.” Sebagai bahan introspeksi diri, untuk melakukan sesuatu yang postif bagi sekitar.
    Salam kenal dari Malang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s