Jatuh Cinta dengan Orang Jepang


Baru sekali pergi ke Jepang, saya langsung jatuh cinta pada orang-orangnya. Padahal, biasanya saya bukan tipe orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dulu bayangan saya tentang orang Jepang adalah seperti Nagao Kanji di Tokyo Love Story. Dingin, spaneng. Lebih parah lagi, seperti para tentara Jepang jaman penjajahan. Mungkin hanya satu dua yang lucu wagu seperti Kenshin Himura Battosai Si Pembantai dalam Samurai X. Atau seperti Nobita. Sementara itu bayangan Puput tentang orang Jepang adalah seperti Miyabi.

image

Dari pertama menginjakkan kaki di Jepang, rasanya tidak habis-habis bertemu orang baik hingga meninggalkan Jepang lagi.

Turun dari pesawat AirAsia di Bandara Haneda, waktu setempat hampir menunjukkan tengah malam. Saya sudah memesan satu kamar hotel untuk ‘transit’ sebelum pindah ke apartemen. Hotel ini menyediakan shuttle bus gratis, antara lain pukul 11.30 dan 12.20.

Orang Baik #1: penjaga konter informasi. Kami terbirit-birit menuju ke konter informasi untuk bertanya di mana parkiran shuttle bus. Si Mbak yang menjaga konter informasi memberitahu, menunjukkan denah. Pembawaannya ramah, Bahasa Inggrisnya pun bagus.

Orang Baik #2: sopir shuttle bus Toyoko Inn. Sampai parkiran, kosong. Hanya ada sebuah minibus bertuliskan Toyoko Inn. “Itu ya?” tanya Puput sambil mendorong stroller Oliq. “Weh bukan itu hotelnya. Tapi kok nggak ada ya?” saya thingakthinguk bingung. Plus mulai menghitung berapa yen musti keluar kalau terpaksa naik taksi. Akhirnya saya berinisiatif bertanya tentang shuttle bus hotel kami. Bahasa Inggris Si Mas-nya mepetΒ  banget tapi dia paham maksud saya. Tapi tampaknya bingung juga menjawabnya. Akhirnya dengan Mas Toyoko Inn masuk ke dalam mobilnya mengambil semacam kertas jadwal. Intinya ia menunjukkan bahwa kami ketinggalan shuttle bus jam 11.30 yang parkir di situ. Shuttle bus terakhir 12.20 parkirnya di terminal yang satunya. Setelah ber-arigatou gozaimasu dengan Mas Toyoko Inn kami tergopoh-gopoh menuju terminal yang dimaksud.

Orang Baik #3: polisi. Waktu sampai di terminal kami masih belum menemukan bus kami. Kebetulan ada polisi, jadi saya tanya. Mas Polisi — dengan Bahasa Inggris terbata — bilang dia tidak tahu. Dia menyuruh kami menunggu dan ia akan tanya pada orang lain. Eh, pas Mas Polisi pergi kami menemukan bis hotel. Jadilah kami masuk. Dari dalam bus kami melihat Mas Polisi tergopoh datang lagi sambil celingak-celinguk mencari-cari. Saya dadah-dadah dari dalam bus yang disambut dengan bungkukan dan dadah-dadah dari Mas Polisi. Good job PakPol. Biar tidak tahu tetap berusaha keras membantu.

Orang Baik #4: Mas beralis aneh. Alkisah, waktu masuk ke stasiun saya nginthil aja di belakang Puput tanpa tap tiket di mesin (guoblokeee!). Jadi ketika mau keluar tiket jadi tidak berfungsi untuk membuka pintu otomatis. Simbok terjebak di dalam! Kebetulan itu pintu tidak ada penjaga. Saya kebingungan dong di dalam, sementara Puput udah di luar. Lalu datanglah mas-mas dengan alis yang dicukur. “Alise aneh banget,” batin saya. Masnya berusaha beberapa menit mencoba membuka pintu dengan tiket saya dan gagal. Akhirnya entah bagaimana pintunya membuka. Voila! Don’t judge book from the cover, don’t judge men from their eyebrows.

Orang Baik #5: Ibu-ibu petugas JR di Stasiun Tokyo. Efisien memvalidasi tiket JR Pass kami. Mereka juga membookingkan seats (yang kemudian w-nya tidak terpakai karena kami ketinggalan shinkansen gara2 salah naik kereta gara-gara Puput)

Orang Baik #6: Bapak yang menggotongkan stroller. Karena akan naik shinkansen menuju ke Kyoto, kami harus ke Stasiun Shinagawa lebih dulu. Ternyata waktu mau naik kereta ke sana, jalurnya memang benar tapi arah naik keretanya salah. Duuuuuh biyuuuung! Kami langsung bisik-bisik panik. “Kudu turun ganti kereta.” Kami melompat turun di stasiun berikutnya: Stasiun Kanda. Puput sibuk mengurus koper merah, sementara saya mendorong stroller Oliq. Ternyata kami tidak menemukan lift di stasiun ini. Akhirnya saya harus menggendong Oliq sekaligus menyusuinya, sementara tangan kanan mencangking stroller yang lumayan berat. Di punggung ada ransel. Turun tangga yang curam. Setengah perjalanan, ada seorang bapak yang tanpa ba bi bu mengambil alih stroller dari tangan saya, turun hingga tangga bawah, meletakkan stroller, membungkuk dan melambaikan tangan, kemudian berlalu pergi. Orang baik sejati. Tidak kebanyakan omong.

Orang Baik #7: Petugas bus di Terminal Kyoto. Sibuk menjelaskan jalur-jalur bus untuk berbagai tujuan wisata. Ramaaaaah sekali. Bahkan sebelum bus datang calon penumpang sudah berbaris rapi.

image

Orang Baik #8: Petugas tiket Kuil Kinkakuji. “Indonesian? Selamat datang! Apa kabar?” Sapanya sambil tersenyum lebar. Sayangnya tiket tidak lantas digratiskan.

Orang Baik #9: Nenek di bus. Sepanjang perjalanan antara Istana Kyoto sampai terminal ada nenek duduk di samping kami. Dia heboh ngajak Oliq ngomong. Sama-sama tidak tahu bahasanya tapi keduanya terkekeh geli. Sampai terbahak-bahak. Penumpang lain yang melihat pun ikut nyengir. All the way to the final stop. Anakku gampangan, yes, digodain nenek-nenek aja seneng banget.

Orang Baik #10: Pasangan muda di Kawaguchiko. Sepulang dari “nginguk” Gunung Fuji kami mampir dulu di Danau Kawaguchiko. Baru setelah itu pulang menggunakan kereta jalur Fujikyu. Di stasiun bertemu dengan pasangan muda yang gemes banget sama Oliq. Sampai digendong-gendong dan anaknya ketawa-ketawa. Mbaknya cantiiiik banget sih, bapaknya Oliq sampai ikut ngiler. Sementara Simboknya bertanya-tanya Si Mbak Chan pakai losion muka apa ya bisa kimpling kaya gitu.

Orang Baik #11: Pak Polisi di Haneda. Ya ampun Simbok murahan banget ya sampai terpesona sama polisi yang ngadain random check. Ceritanya kami lagi duduk manis di bandara, nunggu pesawat. Oliq tumbang habis nyusu. Tiba-tiba saya didatangi Pak Polisi Ganteng (PPG). Ditanya macam-macam sambil diminta tunjukin paspor. Si PPG ini Bahasa Inggrisnya sangat bagus, nanyanya juga sopan dan ramah. Dia sampai jongkok di hadapan saya yang duduk di kursi. Untung Oliq udah selesai nyusunya, kalo enggak kan…nganu yaaaa. Percakapannya kira-kira demikian, “Wah Indonesia, saya beberapa bulan yang lalu ke sana lho Jeng!” kata PPG sambil melihat paspor saya. “Ke Indonesiane ke mana Paklik?” saya bertanya balik. “Ke Jogja, tugas kantor, Mbakyu!” ujarnya dengan mata berbinar bak Nohara Shinosuke bersua dengan Kakak Cantik.
Walah itu omahku, je, seneng ndak di sana?” PPG lantas bercerita tentang jalan-jalan dinasnya di Jogja. Tak kurang, ia menunjukkan foto-foto Jogja di ponselnya. Foto-foto yang cukup familiar di mata saya, Gunung Merapi yang gagah dan hijaunya pepohonan.

Pak Polisi Ganteng menutup kisah manis kami di Jepang. Mungkin masih banyak lagi orang baik lainnya yang sudah kami temui di sana. Misalnya, tiap saya masuk kereta — regardless betapa penuhnya — secara ajaib akan muncul kursi kosong untuk saya dan Oliq. SELALU. Bahkan Singapura saja tidak seperti itu, demikian juga dengan Malaysia dan Australia, apalagi Paris dan Istanbul!

Simbok jatuh cinta.

Advertisements

39 thoughts on “Jatuh Cinta dengan Orang Jepang”

  1. Damn true mbok!!kenangan terdalam wkt kita salah naik kereta ke airport,bahkan ga tau berhenti di terminal mana,ada muda mudi baik bgt bela2in tlp ke maskapainya untuk nanyain,smp terminal airport security ikut anterin kita yg terbirit2 ngejar pesawat smp ke tmpt boarding room krn uda telat (alhasil sih ktinggalan peswat jg tokyo-osaka,ssstt….tiket pswt jauh lbh murah drpd shinkansen)
    Itu smua blm termasuk kebaikan petugas stasiun,org2 dijalan yg bakal ninggalin tujuannya demi antar kita ke lokasi (pdhl ga searah), supir taksi yg ga mau dibyr krn dia nyasar wkt antar kita ke apartemen sewaan,dll
    Mungkin bnr budaya malu org jepang tinggi bgt,jd kl smp terlihat tidak tahu oleh org asing,bisa bunuh diri di tempat,hehehe

    Aku sampe terkangen2 pengen balik lg ksana kl ada rejeki^^

    Like

    1. Iye bener banget pokoke apike pol2an orang Jepang itu. Ga banyak omong tapi gimana gitu. *moga2 Ola besok bisa sekolah di Jepang

      Like

      1. Ammmiinn….tos lg kita mba,aku jg berharap anakku bs sekolah disana,apalgi wkt di osaka ak ambil private tour dan ternyata guidenya pernah tinggal di indonesia 2th, dia pun jatuh cinta sm indonesia krn itu bahkan dia ga patok waktu untuk kita jalan2. Dia bahkan nawarin homestay buat ankku kl mau sekolah dsana.

        Kl ngeliat generasi skrg ga terbayang ya dulu bs Jajah kita dan digambarkan lbh kejam dr belanda :p

        Like

  2. Allo, Mbak Olen…Perkenalkan saya Inong, silent reader blog ini sejak beberapa bulan lalu dan baru berani nongol kasih komentar nih πŸ™‚

    Saya kerja sebagai penerjemah bahasa Jepang di Jakarta dan udah beberapa kali ke Jepang πŸ™‚ Kejadian orang baik #3 dan orang baik seperti orang baik #11 juga udah pernah aku alami waktu di Jepang. Untuk orang baik #11 pun tokohnya sama sama PPG dan kejadiannya juga di Haneda pas si PPG lagi ngadain random check πŸ™‚ Dan seperti Mbak Olen, untuk orang baik #11 nya pun jadi malah diajak ngobrol sama beliau pas tahu saya bisa bahasa Jepang…ih, jadi kangen Jepang deh πŸ˜€

    Like

    1. Hadhoo Inong salam kenal juga. Takut ya sama saya sampai ga berani nongol hihahahahahhaah *dilempar wajan*
      Orang Jepang tuh emang aslinya ramah ya mungkin hambatannya di bahasa aja. Tapi ga bisa bhs Inggris pun mereka selalu sopan dan ramah. Ga pernah mandang sinis gitu.

      Duh. Alamat booking rute AA ke Sapporo ini

      Liked by 1 person

  3. Itu PPG nunjukin foto di hape tipikal India sekali hehe.

    Ngakak di bagian 8. Sayang gak ada fotonya satupun ya mbok? apalagi yang PPG. Gini hari kan gak ada poto katanya hoax hehehe

    Like

  4. Wajah dek Oliq sudah mirip orang Jepang πŸ˜€

    Saya selalu percaya, pertemuan dengan orang-orang baik itu bukanlah kebetulan. Di sinilah kalau kita jeli, bahwa Tuhan turut “campur tangan” dengan urusan-urusan manusia di bumi. Ya supaya kita bersyukur πŸ™‚

    Like

    1. Besok akan kutulis pengalamn bertemu orang2 baik di negara2 lain. Tuhan turut campur taangan dgn urusan manusia di bumi. Dan Tuhan ada di mana-mana

      Liked by 1 person

  5. Semakin memantapkan diri untuk segera ke Jepang. Semoga ketemu juga sama orang-orang baik seperti yang Simbok jumpai. Hehehe ..

    Btw, hapal banget sama tokoh Tokyo Love Story. Anak lama ya? :p

    Like

  6. Bener mas,,, kemajuan Jepang dibarengi dengan menjaga nilai-nilai luhur leluhur mereka seperti salam, terimakasih, maaf. Seperti yang saya liat di Kuil di Nikko yang ada Sansaru nya,,,saya liat muda-mudi yang modis dan juga yang menggunakan kimono mereka tetap semangat menaiki tangga untuk menghormati dan berdoa kepada leluhur mereka. Salut buat Jepang.

    Like

  7. Hahaha…
    Memang selalu ada orang baik dalam perjalanan saat kita sedang membutuhkan.
    Saya juga sering spt itu.
    Terutama ketika budget traveling mepet hingga jatah makan harus dikurang2i. Tapi selalu saja ketemu orang yg mau jajanin saya.

    Salam kenal Bu Olen…
    Salam jg buat si dedek (lucu dedeknya, pantes kalo orang jepang banyak yg ngegodain)
    Ibu sungguh luar biasa, masih bs sering traveling sambil mengurus keluarga. *tepuk tangan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s