The Man Onboard AK 348


Hal paling kejam yang saya lakukan adalah memisahkan ayah dari anak-anaknya. LMemisahkan Puput dari Oliq dan Ola.

Berat sekali.

image

Lebih berat daripada ketika memutuskan akan berhenti kerja. Lebih sulit daripada malam sebelum pengumuman UMPTN. Lebih berat daripada ketika saya ‘diusir’ dari kos-kosan di Bogor.

Lebih berat daripada ketika saya masih sekolah di Australia dan housemate terkena cacar air dan saya belum divaksin, “Iki piye nek aku ketularan ora ono sing ngopeni, iso-iso dadi bandeng.” PS: ‘bandeng’ adalah istilah untuk mayat di kalangan wartawan.

Buat kami long distance relationship itu adalah jalan terakhir. Mangan ora mangan asal kumpul.

Kenyataannya harus terjadi juga. Dan kami, akan — dengan segenap jiwa raga — berusaha untuk mengakhirinya. Lah, sambat wae, kan tinggal balik ke KL gampang to?

Ada beberapa pertimbangan yang membuat kami memutuskan untuk ‘memperpanjang’ LDR ini. Yang paling utama adalah adanya support system yang memadai di Jogja.

Ih Olen pengen enaknya aja!
Iya benar. Ibu yang stres akan berakibat anak-anak yang tidak terurus dengan baik pula. Di KL kami sendirian, asisten hanya datang 2-3 seminggu untuk bebersih. Otomatis beban kerja saya akan banyak sekali harus mengurus 2 anak, 1 suami, dan rumah. Masih untung itu suami cuma 1…kalau 4? Yeeeeeee.

Banyak kok yang sukses mengurus rumah tangga sendiri! Saya mungkin bukan salah satu dari banyak orang itu. Ingat kan saya pernah bilang di postingan The Battle of New Moms, saya nggak mau jadi supermom. Saya khawatir kalau balik ke KL pada saat Ola masih sangat bayi (yg berarti waktu tidurnya masih nggak jelas) waktu istirahat saya pun kurang. ASI pun bisa macet karena kecapekan. Malam, Puput dan Oliq juga mungkin tidak nyenyak. Akibatnya, jelas rentan sakit. Kalau saya sakit yang mau bantu urus anak-anak dan suami siapa?

Ya jangan sakit!
Cangkemmu taklolohi rawit.

Kalau repot, ya jangan masak! Ehem, cari makan di KL itu ga semudah di Jogja. 40 meter ada bakul bakso, pecel, sate. 50 meter ada bakul gudeg. 100 meter ada pecel lele lengkap, soto, siomay, lotek, gado-gado.

Lebih dari itu, buat saya masak adalah bentuk terapi. Refreshing. Sama dengan ngeblog.

Pertimbangan berikutnya adalah Oliq yang mulai suka sekolah. Dulu di KL Oliq mogok sekolah. Sebagai Simbok kekinian jelas saya galau luar biasa takut kalau Oliq sampai trauma sekolah. Di Jogja, sejak hari pertama tidak ada yang namanya ditunggu. Langsung ditinggal dan nanti dijemput.

image

Awalnya Puput selalu tanya dengan nada sedih, “Jadi kapan kamu mau balik ke KL?” Setiap ditanya seperti itu mata saya pasti langsung panas. Lalu basah. Luar biasa merasa bersalah.

Belakangan setelah Puput mengantar Oliq ke sekolah dia jadi tahu betapa anaknya menikmati sekolah di sini. Papa sedikit berdamai dengan kenyataan.

Kenyataan bahwa dirinya harus bolak balik Kuala Lumpur – Jogja setiap satu atau dua minggu.

Kenyataan bahwa dia harus tinggal di rumah yang sepi.

Kenyataan bahwa rumahnya tidak lagi berantakan. Sepi. Sunyi. Hening.

Tuh kan mata saya basah lagi.

image

Paling tidak *fingers cross* ini tidak akan berlangsung lama. Paling tidak, ia masih bisa sering melihat anak-anaknya. Alhamdulillah masih diberi rejeki untuk bolak-balik. Masih diberi kenyamanan untuk pulang pergi sambil mencari waktu yang tepat untuk kembali bersama.

Terimakasih Airasia, sungguh memudahkan. (Btw, ini bukan soft campaign atau paid post ya)

image

Puput hampir selalu jadi orang pertama yang keluar dari gerbang kedatangan internasional Adisucipto setelah AK 348 hari Jumat mendarat. Ketika yang lain masih sibuk dengan bagasi dan kartu bea cukai, Puput sudah melenggang keluar disambut senyum anak istrinya.

Alhamdulillah.

But, this soon shall pass.

THIS SOON SHALL PASS.

Advertisements

26 thoughts on “The Man Onboard AK 348”

  1. Reading this post and seeing those pictures have touched me so deeply :’)). Iya, this too shall pass, soon, very soon. Semangat terus ya Mbok, waktu yang tepat untuk kalian bersama kembali tanpa berpisah pasti akan datang, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya *pengaruh 17 agustus*. Mungkin kita bisa kopdar nih kalau suatu hari saya ke Yogya lagi :haha *pede banget :haha*.

    Like

  2. Just sharing..
    Ak dan suami LDR dr sblm nikah,awalnya sih ga bgini,smp dia pindah ke kantor baru dan mulai sering pergi ke berbagai kota/negara. Dan akhirnya jd jadwal rutin kl dia cuma pulang ke rumah tiap 2-3mg sekali. Bahkan kelahiran anak pertama dia tdk di tmpt dan hrs melalui sendiri. Awalnya berat,biaya telpon membengkak,bantal hbs 3bh buat temen nangis (lebay),yg terberat kl anak2 sakit dan hrs urus sendiri.

    Percaya deh,berat itu cuma di awal,waktu berlalu dan kita jd terbiasa,bukan brarti jd terbiasa melepas hubby pergi (itu sih smp skrg msh sedih trs) tp terbiasa untuk rutinitas sehari2. Saya yg awalnya merasa tergantung skali dgn hubby jd jauh mandiri,bgitu pun anak2,kl anak lain smp nangis2 minta ikut bila ditinggal ayahnya,anak2 kami sdh mengerti dan jd mandiri pula.

    Hal lainnya…sebanding dgn bertambah anak,aplg anak2 makin besar,waktu sy makin bnyk tercurah untuk anak2,nanti mba olen bakal alamin sndr,rumah ky kapal pecah,badai mainan bs dtg 3x sehari,blm kl anak berantem,hrs siap2 cadangan emosi dan sabar segunung,di saat2 bgini justru sy bersyukur yg sy urus berkurang 1org,kan kasian yg hubbynya pulang dr kntr dapatin rumah kacau,istri yg lg emosi,anak nangis dll belum lagi kita harus ladenin bpknya hahaha
    mgkn suatu saat mrk besar akan lbh mudah pula melepas mrk sekolah di kota bahkan negara lain,krn sdh terbiasa jauh dr ortu.

    Like

    1. Kalau kami sih beda mbak. Buat kami yg terbaik justru tetap bersama. Justru saat anak2 kecil kami habiskan bersama2 karena tidak lama lagi mereka akan punya dunia sendiri2, mungkin akan berbeda kota dan negara. Kami ga ingin sih terbiasa berpisah. Memang tidak ingin LDM. Saya saja memutuskan berhenti bekerja salah satunya krn ga mau jarak jauh. Jadi ini temporary. And thi soon shal pass hehehe

      Like

  3. Mba Olenka baca tulisan ini makjlep banget deh. Sy yang (masih)suka ngerengek balik ke KL malah lupa sisi lain yg harus dsyukuri yaitu kebersamaan. Mau di KL, Jakarta ato Depok yg paling penting dikasih kesempatan kumpul. Sblom nikah pernah LDR, trus abis lahiran juga pisah sbntar..rasanya ga enak banget. Nungguin suami pulang kerja tiap maghrib itu masih lebih nikmat dbanding nungguin tiap Jumat di airport+sakitnya nyusuin pasca lahirn. Semoga cepet ngumpul lagi ya (di Eropa as requested) hehhehe
    **jadi condo mewah di setiawangsa itu sepiii dooong 😉

    Like

  4. ola lucuuu bangettt mba ^o^.. mirip sapa yaaa? untungnya KL-Jogja ga gitu jauh yaa :).. jd masih bisa lah minimal banget sebulan sekali :D.. aku sndiri blm prnh LDR gitu ama suami..jd ga tau gmn rasanya :). jgn sampe juga sih..ga pengen bgt

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s