Ta Prohm, Candi Paling Misterius di Angkor


Sudah nonton Tomb Raider kan? Itu lho yang ada Angelina Jolie jadi Lara Croft. Kalau Simbok sih belum pernah nonton wekekek. Salah satu lokasi yang digunakan di film itu adalah Ta Prohm, sebuah kompleks candi yang menjadi bagian dari peninggalan Kerajaan Khmer di Siem Reap, Kamboja.

Candi-candi Angkor dibangun pada abad 12-13 oleh Raja Jayavarman VII. Ta Prohm dikenal juga dengan nama Rajavihara. Ta Prohm dulunya memang wihara dan perguruan alias sekolahan yang dihuni sekitar 12.500 orang. Lalu apa yang membedakan Ta Prohm dengan candi-candi lain di kompleks ini?

Salah satu spot favorit di Ta Prohm
Salah satu spot favorit di Ta Prohm

prohm3

 

Dalam kompleks Angkor yang bola-bali disebut adalah Angkor Wat, yang memang menjadi primadona. Tapi banyak orang justru lebih terkesan dengan Ta Prohm, termasuk kami. Bedanya dengan yang lain adalah ta Prohm sengaja dibiarkan seperti saat reruntuhan tersebut “ditemukan kembali”. Well, Ta Prohm tidak pernah hilang, namun kompleks candi tersebut terabaikan selama ratusan tahun sebelum akhirnya dipugar pada awal abad ke-21 dengan bantuan Perancis.

Waktu sampai di Ta Prohm, Oliq tidur di tuk tuk dan saya tidak tega untuk membangunkan. Akhirnya, Puput masuk dari gerbang barat sementara saya, Oliq, dan sopir tuk tuk menunggu di gerbang timur. Biasanya memang seperti itu, karena wisatawan akan masuk dari gerbang satu dan keluar lewat gerbang lainnya.

Saya cengoh barang 40 menitan di tuk tuk sambil menunggu Oliq bangun. Waktu dia bangun saya ajak untuk masuk lewat gerbang timur, dengan harapan akan ketemu bapaknya di tengah-tengah.

Sambil menggendong Oliq (anaknya waktu itu agak rewel karena nggak enak badan dan udara panas banget), saya masuk dan langsung terpana. Keputusan untuk membiarkan candi ini sesuai dengan kondisi aslinya justru sangat menakjubkan.

Akar-akar pohon raksasa memeluk bebatuan yang sudah ratusan tahun usianya. Seolah-olah melindunginya dari masa kini. Batang pohon menyeruak di antara tumpukan puing candi.

Misi menemukan Puput jadi serasa mustahil.

Sebagian besar candi Ta Prohm memang hanya berupa puing-puing. Beberapa memang dipugar – kadang dibantu agar berdiri tegak dengan kayu-kayu. Sebuah crane berdiri di tengah-tengah reruntuhan dan pepohonan tua yang ratusan tahun umurnya. Kekinian di tengah kekunoan. “Ada klen!” ujar si calon enjinel bangunan.

Kami berjalan tak tentu arah. Kadang menyelinap di antara reruntuhan, kadang masuk ke dalam terowongan dalam candi. Ta Phrom dengan reruntuhan dan batang dan akar pohon yang menjalar ke mana-mana memang terkesan misterius, magis.

Di beberapa bagian telah dibuat semacam boardwalk sehingga memudahkan wisatawan untuk berjalan. Dan tentu saja demi keselamatan, karena banyak akar pohon dan batu-batuan yang berserak.

Masuk ke Ta Prohm seperti masuk ke dalam labirin. Kadang menemukan jalan mudah, kadang harus membungkung-bungkuk, kadang menemukan jalan buntu dan harus kembali lagi untuk mencari jalan lain. Beberapa kali saya terjebak dalam jalan buntu yang sepi, tidak ada satupun manusia. Padahal, saat itu Ta Prohm sedang ramai kunjungan (sepertinya memang selalu ramai all year around sih).

Ketika sudah mulai putus asa dalam misi pencarian suami dan sudah berniat balik arah kembali ke parkiran tuk tuk, saya menemukan sosok berbaju hijau yang lagi heboh sendiri ambil selfie pakai tongsis.

Bojoku kuwi!!!

Akhirnya beban di punggung bisa dialihkan kepadanya. Napas saya sudah ngos-ngosan. Angkor sangat panas dan lembab karena dikelilingi hutan hujan tropis. Akibatnya keringat selalu mengucur deras. Ditambah dengan off road di puing-puing, kaki saya sampai lemas. Total air yang diminum Puput, Oliq, dan saya selama day tour kira-kira 8 jam adalah 8 liter air.

Kami kemudian berkeliling lagi, terutama untuk menemukan dua spot paling favorit. Ya, dua titik di mana akar pohon besar seolah-olah tumbuh menyelimuti pohon. Dua lokasi yang sudah terlalu sering kami lihat di brosur-brosur wisata Kamboja.

Di situ para wisatawan harus antre agar dapat berfoto satu-satu. Kami saling memotretkan. Tidak peduli datang dari mana, dengan siapa, semua tujuannya sama: foto.

Pokoknya Simbok suka banget sama Ta Phrom. Keren. Kalau nggak percaya, lihat aja foto-fotonya.

prohm2

prohm5prohm6prohm4

 

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Ta Prohm, Candi Paling Misterius di Angkor”

  1. Aku tuh baru sadar deh bahwa pohon-pohon segede gaban itu bukan dari bawah keatas, tetapi dijatuhkan dulu dari atas ke bawah sampai nyentuh tanah, abis itu nggendut deh akarnya…
    Tetapi emang keren ya Ta Prohm itu…

    Like

    1. Sangat sulit untuk bisa kerja di Oz dgn ijazah s1 dari Indonesia. Kalau mau s2 di sana dan kerja part time ya yang menial work kaya waitress, kitchen hand, kerja di pabrik, jaga lapak di pasar dll

      Like

  2. Akar-akar pohon itu seolah memeluk candi-candi, melindunginya dalam kekuatan yang terlalu ekstrem dan masif. Pengalaman yang sangat mendebarkan agaknya, dibaca dari cerita Mbak selama di sana. Pasti banyak cerita yang bisa digali :hehe. Semoga kompleks percandian ini bisa tetap lestari, di tengah kekuatan alam bermedium akar pohon besar yang terus bergerak itu.

    Like

  3. ternyata yang paling baik jelajah Angkor Wat emang sewa tuktuk seharian yah kak? ihh aku mau banget muter-muter Angkor, aku minimal 2 hari lah yah hahahah, btw itu saking panasnya sampe abis 8liter bertiga apa emang sengaja ditakar segitu biar ga dehidrasi sih kak?

    Like

    1. Pilihannya emg cuma tuk tuk atau sepeda mei. Dan luaaaaasss banget klo naik sepeda. Lagian kadang susah kaya ta prohm, angkor thom masuk lewat pintu A keluar pintu B jadi klo taro sepeda kudu bolak balik. Emang panas bgt kami bolabali beli minum. Keringetan terus

      Like

  4. hai mbak, smoga masi dibaca ya komenku, hihihi, baru nemu link blognya karena nyari reference ke siem reap.
    taun depan mau berangkat kesana, kira2 anakku usia 16 bulan pas berangkat. nah lagi bingung nih, apakah boyong stroller atau cukup baby carrier aja? niatnya baby carrier untuk jalan2 ke angkor, dan di kotanya make stroller gtu. please advice ya mbak 🙂

    Like

    1. Jelas kalo di angkor watnya mending pake carrier ntar repot ngangkut2 stroller. Kalo di kotanya bisa pake stroller kok. Bawa dua2nya aja. Via klia2 kah? Lumayan stroller bisa dipakai waktu transit.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s