Balada Pembantu selepas Hari Raya


Hari pertama masuk kerja, saya langsung dicurhati seorang kawan Melayu yang tengah kebingungan, sebut saja namanya Puan (Ibu) Rosi.

Puan Rosi (R) : “Puput, apa sekarang Kerajaan (Orang Malaysia menyebut pemerintah sebagai kerajaan, meskipun kepala negaranya Presiden atau Perdana Menteri) Indonesia menerapkan aturan yang lebih ketat pada warga negara yang bekerja di Malaysia?”

Saya (S) : “Saya rasa justru Kerajaan Malaysia yang lebih ketat membatasi warga negara asing masuk, tak heran banyak projek-projek yang delay karena kekurangan tenaga kerja, terutama construction workers. Ada apa memangnya?”

R : “Saya punya pembantu daripada Indo belum balik-balik juga… Saya tanya kawan-kawan lain yang punya pembantu Indo pun sama, banyak yang belum balik.”

S: “Ah, itu masalah klasik puan… jangankan di Malaysia, di Jakarta pun tiap selepas Raya pasti ada saja pembantu yang tak balik, biasanya karena nak kahwin, tapi kadang juga alasan keluarga nak jaga ibu bapa, atau kadang malah dah dapat majikan baru. Dah kontak dia kah?”

R : “Sudah, dia janji nak balik akhir minggu ni… tapi dia minta wang, spesifik 2,6 juta rupiah. Saya nak (mau) hantar duit, tapi ragu juga… tapi kalau tak hantar, nanti dia tak balik… pening kepala saya. Dia cakap nak buat berobat sodara, tapi tak tahulah benar atau tak. Berapa ya 2,6 juta rupiah tu?”

S : “Wah hati-hati puan, pembantu memang banyak yang bertingkah.. Dengan majikan sama-sama Indonesia pun dia boleh bertingkah banyak, apalagi dengan majikan Malaysia… Kalau 2,6 juta kira-kira dalam 700 sampai 800 ringgit sahaja.”

R : “Saya dah kol (telpon) dia, memang dia nak balik KL lagi, tapi dia minta duit…Kalau masih sekitar satu bulan gaji dia, masih OK lah… mungkin petang ni saya nak ke western union hantar duit.”

S : “Dah berapa lama dia ikut puan? Jujur tak?”

R : “Dah lama, dah hampir 4 tahun… so far dia memang jujur, saya dah cuba tes letak duit kat meja, dia selalu kemas lalu cakap, puan hati-hati kalau letak duit, nanti hilang.”

S : “Dulu dapat pembantu daripada ejen (agen) kah?”

R : “Tak, saya cari sendiri.. Kebetulan saya ada kawan orang Surabaya, saya datangi dia langsung di desanya. Sememangnya dia hidup susah, cuma kerja di ladang orang. Dia cakap memang nak kerja benar-benar.”

S : “Oh kalau cari sendiri sepatutnya lebih baik memang. Tapi saya dulu juga punya pembantu, meskipun cari sendiri tapi akhir-akhir dia banyak tingkah, so saya putuskan pulangkan saja dia.”

R : “Itulah, saya pun risau sebenarnya.. Sekarang dia sering berkumpul dengan pembantu-pembantu lain di dalam kondo. Kadang setelah selesai bekerja, dia berkumpul dekat kolam renang. Saya kol (call) dia tak angkat talipun. Bulan lepas dia cakap nak bekerja part time di tempat orang, masih di kompleks kondo saya, buat cari tambahan duit. Tapi saya tak bagi, sebab permit dia dengan saya sebagai majikan, nanti kalau ada apa-apa, saya yang kena, susah pula nanti…”

S : “Benar puan, jangan bagi… saya punya pembantu pun mulai banyak tingkah setelah bergaul dengan pembantu-pembantu lain dalam kompleks kondo. Selepas tuh sering keluar rumah, kadang sampai malam baru pulang. Sekarang saya cari pembantu part time sahaja yang lebih mudah.”

R : “Itulah, saya pun nak macem tu, tapi saya perlu pembantu tuk jaga rumah sebab anak saya pulang sekolah tak da yang jaga. Mungkin nanti kalau anak saya dah sekolah boarding house, saya kena macem tu juga lah..”

S : “Kalau di kompleks saya, ada memang pembantu yang disewakan untuk kerja part time. Tapi itu puan majikan ada kat rumah, so dia boleh tahu pembantu pergi ke rumah mana. Biasanya majikan memang dah kenal dengan keluarga yang menyewa pembantunya.”

R : “Kalau macem tu memang OK lah, kalau saya tak boleh sebab saya bekerja.”

S : “Itulah puan, so jangan bagi dia bekerja di rumah orang lain.”

R : “Sebenarnya kalau dia memang tak nak balik lagi karena nak kahwin pun tak pa, saya pun tak boleh apa-apa, tapi paling tak dia cakap dulu lah. Jangan saya dah jemput kat airport, dia tak muncul pula..”

S : “Memang patutnya macem tu, kena cakap lah dengan majikan kalau tak balik lagi. Tapi memang banyak yang nakal, di Jakarta pun banyak yang macem tu, tak cakap apa-apa tahu-tahu tak muncul lagi.”

R : “Okelah kalau macam tu, saya nak hantar duit petang ni, semoga dia balik akhir minggu ni seperti janji dia, terima kasih ya…”

S : “Sama-sama puan, semoga dia memang balik KL lagi.”

Mungkin ini kisah klasik yang selalu berulang tiap tahun terutama buat warga Jakarta, tapi tetap tak ada solusi pasti. Padahal sebenarnya untuk kasus pembantu yang bekerja di Malaysia, dalam pengamatan saya rata-rata keluarga Melayu di sini cukup baik, seperti kawan saya tadi. Dia tinggal di kondo menengah ke atas, bukan mewah memang, tapi sudah lebih dari cukup. Pekerjaannya pun relatif sedikit, beberes satu kondo tentunya tak makan waktu lama, terbukti dia masih sempat main-main setiap harinya. Tapi ya itu, kadang memang orang tak tahu diuntung, sudah dapat yang bagus masih belagu dan banyak tingkah. Padahal sebenarnya gajinya pun sudah cukup, sekitar RM 700-800 bersih, makan dan akomodasi ikut dengan majikan seperti pembantu tinggal di rumah pada umumnya. Kalau si pembantu mau berhemat, dia bisa menabung hampir seluruh gajinya, mungkin dia hanya perlu uang untuk tiket pulang kalau tak disediakan sang majikan. Uang segitu jelas sangat lumayan untuk pekerjaan informal, apalagi dalam kondisi krisis seperti sekarang.

Kalau keluarga di Jakarta saja sudah kebingungan jika si pembantu tidak balik, apalagi keluarga di KL yang pembantunya dari negara lain. Urusan permit, biaya agen, adaptasi dengan pembantu baru kalau dapat, pastinya sangat menguras dompet dan emosi.

Jadi ya, kalau memang ada yang berminat jadi pembantu di Malaysia, tolong ya, kerja yang baik dan jangan banyak tingkah, apalagi sampai main dukun… Kalau memang nggak betah, bilang baik-baik dengan majikan, jangan main kabur aja, nanti malah ketangkep Polis Diraja Malaysia, trus dipenjara dan dideportasi. Kalau sekarang, begitu udah kena black list, rasanya susah balik lagi karena sekarang imigresen juga ketat menerapkan scan sidik jari…. Jadi inget balada Simbok dan NST yang legendaris itu hihihiiii……………

UPDATE : Alhamdulillah, akhirnya pembantu kawan saya, Puan R, sudah balik ke KL lagi… Lega juga dia, saya pun turut senang berarti pembantu dia masih beritikad baik, tidak menambah daftar pembantu indo berkelakuan buruk yang membuat cap pembantu “indon” begitu lekat di Malaysia….

Advertisements

One thought on “Balada Pembantu selepas Hari Raya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s