Perjuangan Berat Demi Taj Mahal


Tulisan ini pernah dimuat dalam antologi Finding Islam (QultumMedia). Ini adalah versi aslinya.

Jamanku masih kecil dulu, nonton film India itu seperti makanan sehari-hari. Waktu itu masih eranya video (punya kami merknya Betamax), belum bentuk CD, apalagi model file-sharing seperti sekarang. Tiap kali sewa film India, bahkan tetangga pun berkerumun ikut nonton bareng. Seru deh, ada joget-jogetnya, adegan romantis dan sedihnya juga maksimal banget. Maklum, hiburan waktu itu masih sangat terbatas.

image

Saking seringnya nonton film India, akrab juga sama nama-nama bintang film dan lokasi-lokasi yang sering muncul dalam film. Tapi, lokasi tujuan utama semua makhluk di bumi kalau ke India ya ke Taj Mahal – termasuk aku!
Begitu ada promo tiket yang super murah, langsung deh dibeli. Murah banget tiketnya saat itu, cuma seharga satu kulkas kecil untuk pulang pergi. Namanya juga tiket promo, waktu terbang masih sekitar 7 bulan setelah pembelian.

Lama juga ya 7 bulan? Udah bayangin ketemu Shah Rukh Khan, sama aktor-aktor yang main di 3 Idiots. Byuuuh, gimana bisa ketemu aktor Bollywood, wong nginepnya aja di Paharganj – kawasan backpacker yang superduper kumuh itu.

Singkat cerita, 7 bulan berlalu.  Rencana tetap sama, tapi ada yang berbeda. Aku dihamilin suamiku. Jadilah waktu mau berangkat dimarah-marahin banyak orang.

“Edan, hamil gitu masih mau ke India. Itu negara kotor banget kali!” kata salah seorang teman kantorku waktu itu.

“Diundur aja, kenapa?” kata seorang teman laki-laki.

“Entar kalo mbrojol di sana gimana? Bisa-bisa mukanya kaya orang India,” kata yang lain lagi. Alhamdulillah ya Allah kalau wajah anakku kaya Amir Khan *usap muka*.

Karena kebetulan sampai kehamilan 5 bulan ini tidak pernah ada keluhan sama sekali, akhirnya aku lempeng-lempeng aja, setia pada rencana semula. Lagian, itu tiket promo saudara-saudara, nggak bisa direfund atau ditunda. Rugi kali kalau hangus gitu aja, kami kan traveler kere.
Despite the bulging belly, the show must go on.
***

Tiba di hari-H, aku sudah sok gaya aja, tetep gendong Deuter 55 liter walaupun nggak penuh-penuh amat isinya. Di bagian depan perut udah makin buncit. Setelah sempat transit di KL, aku dan suami sampai di Bandara Indira Gandhi di New Delhi.

Langsung melongo lihat bandara yang terang, kinclong, bersih, rapi, canggih, pokoknya semua yang bagus-bagus deh. Bahkan lantainya bisa buat ngaca sampai jerawat di bawah hidung Puput kelihatan. Kalau muka ibu hamil sih cantik dan kinclong. Tsaaaah.

Ternyata kerennya cuma di permukaan aja. Ibaratnya muka cewek yang dipoles krim BB tebal-tebal. Dalamnya tetap bopeng.

Sepanjang jalan dari bandara ke Paharganj yang kelihatan rumah-rumah dan flat-flat kotak, kebanyakan kotor. Makin dekat dengan tujuan, makin kelihatan kumuh. Langsung deg-degan aku, kebayang kalau hotel yang udah dipesan online seperti bangunan-bangunan yang kami lewati. Salah satu hotel namanya Bridge View, keren banget namanya. Nggak kebayang kalau ternyata cuma flat kecil tiga lantai yang bener-bener hadap ke jembatan. Kalau tamunya lihat dari jendela kamar yang kelihatan cuma tembok jembatan. Eeeenggg, nggak bohong sih nama hotelnya, tapi kan…..

Makin lama makin panik aku, masa kami lewat bangunan-bangunan yang udah berupa puing-puing. Di depannya banyak gelandangan yang bikin api unggun buat panasin badan mereka. Maklum saja saat itu musim dingin dan suhunya sering di bawah 5 derajat Celcius.

Jangan-jangan hotel yang aku pesan kotor banget kaya ini.

“Ih, seram banget ini daerahnya,” kataku pada Puput. Yang diajak ngomong cuma ngangguk-angguk dengan tatapan kosong. Setelah tanya beberapa kali, becak yang kami tumpangi tiba juga di depan hotel yang sudah dipesan. Bangunan-bangunan di sekitar hotel rata-rata juga kumuh, tua, dan kotor. Dengan was-was kami masuk.

Kesan pertama: hangat! Setelah didera angin dingin di luar, lobi hotel serasa kamar tidur di rumah. Nyaman dan hangat. Ternyata hotelnya pun sangat bersih dan nyaman, memang tergolong hotel baru kelas menengah. Kamarnya juga bersih, rapi, dan menyenangkan. Satu-satunya poin minus adalah pemandangan ke luar jendela berupa bangunan-bangunan kumuh dengan kabel listrik yang tidak kalah ruwetnya dibanding kemacetan kota Jakarta saat jam pulang kantor. Kelihatan juga para tunawisma bergelung selimut dan karung goni di depan gedung-gedung yang sudah tidak terpakai.
Ini baru awal petualangan kami di India.
***
Mana sih lokasi tujuan wisata utama India kalau bukan Taj Mahal? Jadilah itu agenda pertama kami setelah sampai di India. Booking tiket keretanya pun sudah secara online dan dibayar dengan kartu kredit seperti pesan tiket pesawat. Kami pesan tiket VIP untuk berangkatnya dan Kelas 1 untuk pulangnya. Rencananya ke Delhi-Agra-Delhi tanpa menginap, toh hanya 2 jam perjalanan saja. Jadwalnya sih demikian.

Subuh-subuh saya dan Puput langsung berangkat ke stasiun yang bisa ditempuh dengan jalan kaki 10 menit. Langit masih gelap gulita sementara udara sangat dingin. Jaket tebal, kupluk, syal, sarung tangan lengkap, tapi badan tetap saja menggigil. Untungnya setelah berjalan beberapa saat rasanya agak lebih hangat.
Di stasiun langsung bengong melihat tumpukan (yang tadinya kukira) kargo. Ternyata tumpukan itu adalah orang-orang yang berselimut tebal tidur di lantai stasiun. Kemungkinan sih para calon penumpang yang sedang menunggu keretanya. Mereka memakai bedcover, terpal, apa saja untuk sedikit menghalangi angin dingin. Barang bawaan mereka luar biasa banyaknya seperti orang yang mau transmigrasi aja.

Di peron pun orang yang menunggu tidak kalah banyaknya. Semuanya cuek-cuek saja tiduran di atas lantai.
Tidak berapa lama, kereta Shatabdi Express siap. Aku langsung ketawa ngakak melihat nama-nama kami tertulis di kertas yang ditempel di gerbong kereta. Ternyata memang seperti itu, kertas itu semacam manifes yang memuat nama-nama penumpang. Jadi penumpangnya bisa duduk sesuai dengan nomor kursi di gerbong tempat nama dia ditempel.

image

Gerbong VIP mirip dengan kereta eksekutif di Indonesia. Dan ternyata pelayanannya maksimal banget. Pertama, kondektur datang untuk memeriksa tiket. Setelah itu, penumpang diberi koran pagi, ada yang berbahasa India ada yang Inggris.
Ternyata itu belum seberapa. Pelayan datang lagi, masing-masing penumpang diberi setangkai bunga mawar segar. Wah, wah, baru kali ini aku dikasih bunga sama orang yang ga kenal. Berasa artis idola. Suamiku aja sejak nikah nggak pernah kasih bunga, lho. Bener. Masa kalah romantis sama petugas kereta, ya? #malahcurhat
Setelah itu pelayan menghilang. Tak berapa lama dia kembali lagi, kali ini bawa troli makanan. “Alhamdulillah, ya Allah, ini perut udah keroncongan,” pikirku. Ternyata seperti di pesawat, pilihan menu ada dua. Menu pertama Indian food, yang ke dua Western food. Puput pilih Western dengan roti dan telur, aku pilih Indian dengan naan dan dhal curry.

“Lumayan juga ya rasanya,” kata Puput. Perut terasa lumayan hangat setelah diterpa udara dingin di luar. Minumnya teh hangat, dilengkapi gula dan susu sachetan.

Banyak di antara penumpang gerbong ini adalah turis asing. Sekeluarga bule terlihat di bagian depan. Banyak juga pasangan-pasangan traveler seperti kami. Semuanya terlihat berharap segera sampai di Taj Mahal dalam tempo dua jam.

Satu jam berlalu. “Kok sepurnya berhenti-berhenti terus ya?” kataku.
“Hooh, perasaan dari tadi masih deket aja!” Puput menjawab.

Dua jam berlalu. Makin berharap segera bertemu dengan Stasiun Agra Cant.

Tiga jam berlalu. Belum ada tanda-tanda akan sampai.

image

Empat jam berlalu. Kereta makin sering berhenti. Kami sudah mulai lapar lagi. Untung sempat bawa cemilan dan air putih. Coba kalau ada bakul pecel seperti di Indonesia, wah enak banget.
Lima jam berlalu. Para turis sudah mulai melongok-longok tidak jelas. Tersiar kabar bahwa kereta api tidak bisa ngebut karena kabut yang terlalu tebal. Penumpang makin tidak sabaran. Sepasang penumpang berusia lebih dari setengah baya tampak mulai panik.
Enam jam berlalu. Kereta makin seperti keong. Sedikit-sedikit berhenti. Aku sudah pasrah duduk di pojokan. Untungnya kereta hangat, kamar mandinya juga lumayan bersih.
Semua penumpang juga tampaknya sudah seperti kehilangan harapan. Ada yang tidur, ada yang menunduk pasrah.
Tujuh jam berlalu. Akhirnya kami sampai juga di Stasiun Agra Cant. Kereta yang seharusnya sampai pada jam 8 pagi, baru tiba jam 1 siang. Langsung seluruh penumpang buru-buru keluar dari kereta. Mungkin banyak yang seperti kami, harus mengejar kereta kembali ke Delhi jam 8 malam nanti. Jadi harus segera sampai di Taj Mahal secepatnya.

Kalau Delhi sudah dianggap parah, Agra ini paraaaaaah banget.
Begitu keluar dari stasiun, penumpang (yang sebagian besar turis) langsung disambut ratusan calo, sopir bajaj, sopir becak, sopir taksi. Semuanya berteriak, mendesak-desak, melambaikan tangan. Aku sampai seperti didorong ke sana kemari sebelum akhirnya berhasil keluar dari kerumunan yang ganas. “Aduh, kaya dirubungi ikan piranha,” kataku. Kayak udah pernah aja dirubungi piranha.
Ternyata urusan menghindari calo dan para sopir belum selesai juga. Ada satu yang ngotot buntutin kami. “No, no!” aku bilang sambil berjalan cepat menghindari mas-mas yang nekat ini. Kami sampai harus jalan zig-zag untuk menghindari si mas calo. Saking keburu-burunya, bukannya jalan menuju ke gerbang keluar, kami malah nyasar di tengah barisan bajaj-bajaj. Pas mau balik ke jalan yang benar, eh ketemu si mas calo lagi. Aduh!

Akhirnya kami menawar salah satu bajaj untuk ke Taj Mahal. Lupa sih berapa ongkosnya, tapi yang jelas lebih murah dari ongkos bajaj Jakarta yang sering-sering lebih mahal dari taksi itu. Puput dan aku duduk manis di bajaj.
Ternyata sopir bajaj yang sudah sepakat harga malah menghilang. Datang orang lain. Dia tanya pakai Bahasa Inggris.

“Dari mana kalian?”

Kami enggan menjawab. Udah capek, keburu-buru, dikejar calo, maleslah buat ngeladenin orang nggak jelas.

“Kalian duduk di bajajku tapi nggak mau ngomong sama aku.” Ash, mbuh lah pak, batinku.

“Kami mau ke Taj Mahal sekarang, ini sudah siang,” kata Puput.

Tiba-tiba sopir bajaj pertama datang lagi dan kami pun selamat dari obrolan tidak jelas si laki-laki yang mengaku pemilik bajaj itu.

Dari luar kompleks, bangunan utama Taj Mahal tidak kelihatan. Kompleksnya terlihat super luas. Bubur-buru kami ke konter tiket. Konter untuk wisatawan asing tidak perlu mengantre lama, sementara untuk wisatawan domestik antriannya cukup panjang.

Ternyata di depan gerbang pemeriksaan tiket antriannya mengular. Antrian dibagi dua, laki-laki dan perempuan. Alasannya karena petugas akan memeriksa tubuh pengunjung juga. Puput antre di barisan laki-laki membawa tas kamera. Aku di antrian perempuan membawa ransel yang di dalamnya ada sebotol minuman dan buku panduan wisata.

Entah kenapa hari itu pengunjung domestik banyak sekali, mungkin karena hari Sabtu jadi banyak yang datang dari daerah. Antrian laki-laki sangat cepat. Antrian perempuan lama karena sebagian besar membawa tas tangan yang harus diperiksa satu persatu.

Hampir satu jam mengantri, sampai juga di depan petugas pemeriksa. Tiketku disobek oleh petugas laki-laki, lalu aku diperiksa oleh petugas perempuan. Sial bener hari itu, si petugas bilang tasku terlalu besar dan masuk nggak boleh bawa buku panduan. Aku disuruh kembali ke gerbang depan buat nitipin tas.
Mewek enggak. Mewek enggak. Udah nyaris banget sih meweknya.
Busyet, kudu jalan sekitar 200 meter buat nitipin tas. Untungnya, Puput sempet kasih beberapa rupee sebelum pisah antrian, jadi aku masih punya uang buat nitipin tas. Kenapa buku panduan dilarang masuk masih jadi misteri buatku.

Buru-buru aku balik lagi di antrian, dan ternyata sudah semakin panjang. Hampir dua kali lipat daripada antrian pertama. Masa mau nggak jadi masuk sih, perjuangannya udah berat banget. Taj Mahal gitu, lho, kapan lagi mau ke sini.

Akhirnya antri sambil berdoa. Cemas melihat matahari makin menggelinding menjauhi puncak kepala. Harap-harap cemas menunggu giliran diperiksa.
Satu jam berlalu.

Pas mau diperiksa, aku baru sadar kalau pada antrian pertama tadi si petugas udah merobek tiket. “Mati aku kalau harus balik beli tiket dan antri lagi, bisa-bisa pingsan!” Air mata udah merebak di kelopak. Tinggal disentil aja langsung bercucuran.

Entah ide darimana akhirnya aku pegang tiketnya di bagian yang sudah sobek, jadi sobekannya ketutup telapak tanganku. Pas si petugas tiket heboh memeriksa tiket-tiket lain lain, aku merangsek ke depan sambil bilang, “Already…already!” Maksudku, udah disobek, Pak! Untungnya si petugas nggak terlalu perhatian.

Aku diperiksa petugas yang sama tadi. Kupandang dengan tatapan tajam, setajam silet. Kalau beneran, si mbak petugas udah jadi sashimi.
Tumpukan cemilan, biskuit, nasi tergeletak di tong sampah dan sekitarnya. Jadi setiap kali petugas menemukan makanan di tas tangan pengunjung, langsung saja dibuang di tong sampah tanpa basa basi. Kasihan sih sebenarnya karena aku yakin banyak pengunjung yang merupakan orang nggak punya – yang mungkin juga datang dari jauh.

Aku keluar melewati alat pendeteksi logam dengan sedikit terengah-engah. Campuran antara lega dan kecapekan. Di depan gerbang Puput sudah menunggu depan wajah tercemas yang pernah kulihat. Wajahnya bahkan kelihatan lebih panik dibandingkan beberapa bulan kemudian ketika listrik mati saat perutku sudah dibelah ketika sedang operasi cesar. Ups, itu lain cerita….kembali ke Taj Mahal.

Aku langsung cerita kesialanku hari itu. “Aduh kasihan banget, ayo cari minum dulu,” katanya bertindak seperti suami yang baik. Kami minum dari air keran karena botol air udah kutinggal di tas di tempat penitipan. Waktu itu sudah jam 2 siang.

Langsung deh kami beraksi foto-foto. Puput bawa DSLR, aku pakai kamera saku andalan. Jepret sana sini di depan gerbang besar dari batu paras merah. Gerbang ini adalah pintu masuk menuju ke bangunan utama Taj Mahal yang dibangun dari pualam putih bersih.
Setelah perjuangan panjang nan berat hari itu, rasanya pas kalau menghadiahi diri sendiri dengan foto-foto narsis. Sayangnya saat itu tongsis belum ditemukan, jadi masih harus kerepotan menyetel tripod.

Waktu Puput sedang sibuk mengatur tripod, aku sempat memperhatikan juga. “Kok nggak ada orang lain yang pakai tripod ya? Mungkin emang orang sini nggak segitunya kalau urusan kamera,” pikirku.

Belum juga satu jepretan foto dengan tripod, tiba-tiba muncul seorang petugas polisi. Dia bilang, nggak boleh pakai tripod di sini. Ada di papan peraturan di depan. Kami bilang nggak baca soalnya keburu-buru (padahal di buku panduan juga ada informasinya, aku saja yang nggak teliti bacanya).
“Ya udah, kami nggak pakai tripod lagi!” kata Puput sambil beresin tripod.
“Kalian harus ke markas sekarang!” kata si polisi. “Ayo ikut aku.”

Polisi ini meminta kami membuntutinya menuju markas. Mau tak mau kami ikut dia. Tapi berhubung muka polisinya ini lucu, sama sekali tidak seram, sambil jalan aku dan Puput tetap gantian berfoto. Ya gimana lagi, waktunya udah terbatas banget soalnya jam 5 tutup. Si polisi harus beberapa kali berhenti dan menyuruh kami cepat-cepat. Tapi mukanya tetap lucu sih, jadinya kami nekat aja sambil foto-foto.
Di dalam markas aku dan Puput disuruh menghadap komandannya, namanya Sersan Prasath.

“Kalian tahu ada peraturan kalau tripod tidak boleh masuk ke sini,” kata Sersan Prasath. Komandan yang ini masih muda tapi tegas juga. Agak keder nih.

“Nggak tahu, nggak sempat baca.” Ngaku aja deh biar cepet urusannya.
“Tasmu tadi diperiksa nggak?” Si Sersan nanya lagi.

“Ya diperiksa, dong, dibuka-buka semuanya,” kata Puput membela diri. Lah emang bener kan udah diperiksa semuanya.

“Kamu harus identifikasi mana petugas yang periksa tas kamu. Dia nggak teliti, harus ditindak. Kamu ingat wajahnya?”
Yah, Pak, si Puput ini muka istrinya aja suka lupa, masa disuruh identifikasi petugas pemeriksa yang nggak penting banget untuk diingat, jeritan hatiku.

“Nggak ingat, lah!”

“Aku panggil mereka ke sini nanti kamu tunjuk!”

“Nggak bakalan ingat. Udah tripodnya diambil aja. Kami baru saja datang, nih, dan waktunya udah mepet banget. Kami jauh-jauh dari Indonesia, lho!” Lalu Puput bicara dalam Bahasa Jawa padaku, “Wong regane ming 150 ewu!” Harga tripodnya hanya 150 ribu.

Akhirnya setelah kami berdua memohon dibantu tatapan memelas, kami dilepaskan dari ruang interogasi. Tripod disita dan dapat diambil ketika akan pulang.

Tergesa-gesa kami kembali foto-foto di depan Taj Mahal. Puput pakai tas kamera sebagai pengganti tripod. Kadang pakai pagar dan bangku agar kami dapat foto berdua.
Lantai di seluruh bangunan di sini sangat dingin, padahal untuk masuk tidak boleh pakai alas kaki. Dan kami juga nggak punya kaos kaki. Akibatnya, kadang aku harus berhenti untuk mengusap-usap telapak kaki yang kedinginan.
Bicara soal Taj Mahal, yang sering dilupakan adalah masjidnya. Kontras dengan bangunan utama yang berwarna putih, masjid yang berdiri di sebelahnya dibangun menggunakan batu paras merah. Megah, cantik, berwibawa, sayang tanpa jamaah.
Imam masjid mengumandangkan adzan untuk shalat asar yang merdu, dan ratusan – mungkin ribuan pengunjung berada dalam kompleks Taj Mahal – namun ketika shalat, jamaah Sang Imam hanya 3 yaitu Puput, aku, dan seorang wisatawan lain dari Indonesia juga. Imam masjid ini sangat ramah mengajak kami ngobrol. Bahkan waktu aku mau wudhu, beliau menyiapkan air dalam bejana dan menuangkannya pelan-pelan jadi aku bisa langsung wudhu dengan air yang mengalir. Bayangkan, seorang Imam masjid mau menyiapkan dan membantu jamaahnya berwudlu. Ah sayang, yang indah seperti ini malah dilupakan orang.

Selesai shalat, aku dan Puput gerilya lagi untuk ambil foto-foto bagus. Pokoknya semua difoto biar nggak nyesel kekurangan foto pas pulang. Kami sempat juga melihat matahari tenggelam di balik tembok kompleks Taj Mahal.

Sampai lupa rasa lapar (saking laparnya) padahal makanan terakhir ya sarapan di kereta pagi tadi. Kami baru keluar waktu sudah diumumkan semua pengunjung harus segera keluar karena kompleks akan ditutup. Buru-buru ambil foto-foto lagi. Tak lupa nyamperin si Sersan Prasath buat ambil tripod. Dianya sudah pergi, yang ada cuma anak buahnya. Kami ambil tripod tanpa kesulitan. Para petugas polisi menggiring pengunjung keluar seperti pengembala kambing saja.
Begitu keluar, langsung laparnya kerasa lagi.

Waktu keluar ini ada anak kecil dagang gantungan kunci yang ngikutin kami. Luar biasa jualannya.

“Ten rupees for one, Sir!” katanya sambil geleng-geleng kepala.

Kami bilang tidak sambil terus maju.
Sepuluh rupees dapat dua, katanya menurunkan harga. Kami cuek aja.
Sepuluh rupees dapat tiga, empat, lima, enam…..sepuluh. Kami langsung ngakak. Hebat banget banting harganya. Kasihan sih, tapi kami tetep nggak beli juga. Maklum, traveler kere.
Karena baru jam 6, masih banyak waktu sebelum kereta balik ke Delhi berangkat. Kami mampir di restoran kecil depan kompleks. Menunya dalam Bahasa India tanpa penjelasan dalam bahasa Inggris. Akhirnya Puput main tunjuk aja kari yang paling mahal.
Yang ternyata adalah kari kacang mete. Menurutku rasanya aneh bin ajaib, tapi berhubung lapar banget, makanan langsung telan aja nggak sempet mampir di lidah.

Kami menyetop bajaj untuk berangkat ke stasiun. Setelah tawar menawar, jatuhnya lebih mahal daripada ongkos tadi pagi. “Mungkin kena surcharge soalnya udah malam,” kata Puput ngawur. Kami sampai di stasiun dengan selamat – tapi tidak lepas dari drama.

Puput bayar ongkos yang udah disepakati. Eh, si tukang bajaj bilang, itu tadi ongkos buat satu orang, jadi harusnya bayar dua kali lipat.

“Enak aja,” kataku.

“Kamu penipu,” kata Puput. Kami cuek aja ngeloyor pergi ninggalin si tukang bajaj.

Aku berjalan menembus angin dingin membayangkan kereta yang hangat yang akan segera mengantarkan kami kembali ke kamar hotel yang nyaman.
Ternyata perjuangan kami di Agra belum berakhir.
***

Stasiun Agra Cant jauh lebih parah daripada Stasiun Delhi. Tumpukan calon penumpang jauh lebih menggunung. Di seantero peron yang ada orang yang menggelar karpet dan bedcover untuk alas tidur. Aku dan Puput masih seneng-seneng aja, belum kepikiran kalau itu akan jadi malam terpanjang kami seumur hidup.
Karena punya tiket Kelas 1, kami diperbolehkan masuk ke ruang tunggu khusus untuk Kelas 1 dan VIP. Ada penjaga tua berjenggot lusuh di depan pintu. Ruangan sudah penuh sesak, tidak ada penghangat, namun paling tidak bisa menghalangi terpaan angin dingin karena merupakan ruang tertutup. Malam itu suhu rata-rata 4 derajat Celcius.

Di ruang tunggu, tinggal tersisa satu kursi lagi. Kursinya terbuat dari besi yang bikin pantat dingin, walau lama-lama hangat juga sih. Puput duduk di lantai di depanku. Kami berdua mengutuki kebodohan kami hanya pakai sandal gunung bukannya sepatu olahraga yang hangat.
Baru beberapa menit berbondong-bondong orang masuk ke dalam ruang tunggu. Mereka cuek-cuek aja menggelar alas tidur di lantai, nggak peduli kepala mereka menyeruduk kaki-kaki orang lain yang duduk di kursi.
“Aku mau cari anget-anget dulu ya,” kata Puput. Perutku juga rasanya udah beku kena udara dingin, sangat butuh minuman hangat. Coba ada bandrek susu sama pisang goreng. Apalagi kalau ditambah tempe mendoan panas. Mi rebus pakai telur dan cabe rawit pasti enak banget deh! Intinya itu semuanya cuma ngarep aja.
Mas-mas yang duduk disebelahku nawarin selimut soalnya dia bawa lebih. Kayanya orang-orang lokal ini memang udah tahu banget banyak insiden waktu musim dingin, jadi hampir semuanya memang bekal selimut sama makanan. Kaya orang mau naik gunung aja deh.

Lumayan selimut si mas sebelah bisa bikin pahaku yang cuma pakai celana jins tanpa longjohn ini agak hangat. Terus dia nanya, “Dari mana?” Indonesia, kataku. Habis itu dia langsung telponan dan ngomong ngalor-ngidul terus nyebut-nyebut Indonesia Indonesia gitu. Wah mas, aku jadi orang Indonesia pertama yang kamu ajak ngobrol ya sampai getol banget laporan sama temennya. Ya wis nggak apa-apa, Mas, boleh kok lapor ibu bapakmu juga, yang penting ini selimut pinjem dulu ya!

Puput balik ke ruangan bawa dua gelas susu panas. Seruputan pertama: surga. Seruputan-seruputan berikutnya sembari mikir, ini kalau kebelet pipis gimana ya. Segelas susu ini sangat bersejarah, sampai-sampai gelasnya yang dibuat dari tanah liat masih aku simpan sampai sekarang.
Sudah pukul 8, tapi masih belum ada tanda-tanda kedatangan kereta Shatabdi Express. Turis-turis bule – yang beberapa kami kenali dari kereta saat berangkat – mulai kasak-kusuk khawatir.

Tapi aku punya kekhawatiran yang lebih mendesak. Kebelet pipis. Di ruang tunggu itu ada toilet, dan aku langsung membayangkan yang terburuk. Karena sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya aku ke toilet di ruang tunggu.

The worst experience ever! Pengalaman terburuk sepanjang masa dan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Nggak hanya baunya yang super pesing tapi….astaga…ranjau di mana-mana. Aku nggak sanggup dan langsung mundur teratur. Keluar dari ruang tunggu aku cari toilet lain di sebuah kafe. Di sini baunya pun sudah tidak bisa digambarkan lagi, tapi hanya ada sedikit ranjau. Tetap ada! Dan nggak ada pilihan lain.
Giliran aku balik ke ruang tunggu, Puput yang gantian kebelet pipis. Dia masuk ke toilet di ruang tunggu dan bilang, “Nanti kalau kebelet lagi, aku mending pipis di peron!” FYI saja, selama kami di India, melihat orang pipis di trotoar itu sangat umum. Bahkan pernah ada tiga-empat orang pipis barengan mengelilingi sebuah gardu listrik kecil.
Waktu terus berlalu dan masih belum ada tanda-tanda munculnya kereta kami. Saat ini lewat kabar yang beredar semua calon penumpang sudah tahu kabar keterlambatan semua kereta karena kabut tebal. Bahkan ternyata untuk kereta api jarak jauh sudah terlambat hingga 10 jam.

Keadaan di ruang tunggu pun tidak lepas dari drama. Keterbatasan kursi membuat semua orang tidak mau meninggalkan kursinya karena pasti akan diduduki orang lain. Dua orang bule cewek sudah tidak tahan lagi dan terpaksa pergi ke toilet. Yang satu pipis dan satunya lagi menjaga pintu yang memang tidak bisa dikunci. Lalu mereka gantian. Mereka balik dengan wajah ditutup syal untuk menghalangi bau. Dan kursi-kursi mereka sudah diduduki orang lain.

“Itu kursi kami!” kata salah satunya.
“Memangnya ada tulisan nama kalian di kursi ini? Kalau kalian pergi, ya sudah berarti ini jadi milik orang lain!” kata seorang bapak setengah tua yang duduk di kursi itu. Dia terus menyerocos marah-marah dalam Bahasa Inggris dicampur Hindi. Marahnya nggak berhenti-berhenti sampai menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Dua mbak-mbak bule itu akhirnya nggelosor aja di tengah orang-orang lokal yang udah ngorok di lantai duluan.

Itulah kenapa semuanya enggan meninggalkan kursi karena kalau diduduki orang lain pasti harus duduk di lantai yang sangat dingin. Terutama bagi turis seperti kami yang nggak bawa perlengkapan apa-apa. Pantat bisa langsung mati rasa. Puput dan aku harus gantian duduk di kursi biar pantat nggak mati rasa dan ganti posisi duduk.
Segelas susu itu jadi satu-satunya minuman kami sepanjang malam menunggu di stasiun. Kalau beli minum lagi resikonya kebelet pipis lagi, dan kami ogah ke toilet lagi. Herannya, ibu hamil kan biasanya beser, malam itu aku nggak terlalu pengen pipis, mungkin juga kandung kemihnya udah beku. Apaan sih ini ngomongin kandung kemih?

Makin malam semua orang makin gelisah. Para wisatawan asing yang ada dalam ruangan seolah-olah membentuk Ikatan Turis Merana di Agra. Kami saling menyampaikan berita tentang kereta yang ditunggu. Misalnya, “Katanya satu jam lagi datang!” atau “Delay sampai tengah malam.” Semuanya kabar yang nggak akurat sama sekali. Kami bolak-balik di PHP-in sama corong informasi yang ngabarin kereta delay satu jam. Satu jam berikutnya, kereta delay satu jam lagi. Begitu seterusnya. Karena informasi yang nggak jelas seperti itulah, kami nggak bisa mutusin untuk cari penginapan saja.

Lewat tengah malam kereta belum juga tiba. Pak Penjaga Pintu meninggalkan posnya di depan pintu ruangan karena kedinginan. Dia membawa dua kursi, satu untuk dia sendiri, satunya langsung aku akuisisi karena tepat ditaruh di sebelahku. Sekarang aku dan Puput jadi nggak perlu lagi gantian duduk di lantai.

Si Bapak Penjaga Pintu itu menggelar selimutnya, terbuat dari bahan seperti karung goni yang sudah lusuh. Dia berbaik hati menyelimuti pahaku pakai sebagian selimut goninya (si Mas-Mas yang tadi minjemin selimut entah udah ke mana bawa selimutnya itu). Kebaikan kecil yang tak terkira. Untung saja karena jaket tebal, perutku yang sudah buncit nggak terlalu kelihatan. Coba kalau kelihatan hamil, pasti orang-orang pada menatap kasihan.
Dini hari kami sudah pasrah. Satu keluarga wisatawan bule yang bareng kami di kereta berangkat mungkin sudah bersumpah nggak akan balik ke India lagi selamanya. Well, aku punya teman orang Amerika yang sangat kaget waktu tahu aku hamil dan backpacking ke India. Dia bilang dia pernah ke Delhi sama suami dan dua anak remajanya. Pengalamannya sangat buruk sampai salah satu anaknya bilang, “Mommy, jangan pernah bawa kami ke India lagi!”
Jam satu pagi. Masih belum ada tanda-tanda.

Jam dua pagi. Pak penjaga di sampingku sudah pulas.

Jam tiga pagi. Sementara orang lokal banyak yang tidur nyenyak sampai ngorok nyaring di lantai, wisatawan asing hanya terkantuk-kantuk pasrah. Udara dalam ruangan sudah sangat pengap karena terlalu banyak orang di dalam ruangan. Sampai menggerakka

image

n kaki aja susah karena ada kepala orang di depan kakiku.

Aku cuma berharap segera pagi, jadi udara mungkin lebih hangat dan kabut juga menipis. Atau mungkin kami bisa memilih untuk naik bus, walaupun pilihan yang ini justru lebih beresiko.
Lewat pukul 6 pagi, Pak Penjaga Pintu keluar dan dia masuk lagi sambil berteriak, “Shatabdi, Shatabdi!” Kami saling menatap tak percaya.

Rombongan wisatawan asing yang tadi saling bertukar kabar buru-buru mengemasi tas mereka dan berlomba-lomba menuju ke pintu. Sudah seperti Amazing Race.
Sementara itu dua cewek bule yang menggelosor di lantai beserta beberapa turis asing lainnya menatap iri pada kami. Mereka menunggu kereta jarak jauh yang terlambat sudah 20 jam. Bahkan ada juga yang sudah terlambat lebih dari 24 jam.

Jantungku sampai ser-seran nunggu kereta yang mau datang.
“Aku nggak akan percaya sampai keretanya benar-benar ada di sini,” kata salah seorang turis asing.
Kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Ikatan Turis Mer

image

ana di Agra berubah jadi Ikatan Peumpang Paling Bahagia Se-Dunia

“Tuuuuit tuuuuuiiiit!” Suaranya merdu sekali. Akhirnya kereta Shatabdi Express benar-benar datang. Kami berebut masuk untuk mencari nomor kursi. Tapi semuanya tidak peduli mau duduk di mana yang penting kami sudah masuk ke dalam kereta yang hangat ini.

Yang pertama dicari di kereta adalah toilet – yang alhamdulillah – tidak terlalu mengerikan. Baru di kereta ini aku bisa benar-benar tidur karena memang nyaman dan hangat. Di kantung kursi sudah ada botol-botol air mineral. Baru di sini kami berani minum banyak-banyak karena buang hajat sudah tidak jadi masalah besar lagi.
Aku sudah tidak peduli lagi bahwa kereta kami sedikit-sedikit berhenti, pelan seperti keong, dan butuh waktu sekitar tujuh jam untuk sampai di Delhi.
Kami tiba di Delhi pukul 2 siang. Langsung jalan menuju ke Paharganj di mana kamar hotel yang nyaman menunggu. Langsung mandi air hangat karena rasanya badan dan pakaian kotor banget. Memang kotor banget sampai-sampai lengan jaketku yang seharusnya warna putih sudah jadi cokelat.

Lalu kami shalat jamak Dhuhur Ashar dan qada Subuh yang kelupaan. Disambung dengan makan dan tidur. Nggak ada deh yang ngalahin nikmatnya kasur hotel kami.

Rencana untuk naik kereta ke Jaipur langsung dibatalkan dan memutuskan untuk yang “aman-aman” saja, mengelilingi Delhi.

Sehari semalam tak terlupakan di Agra, India.

Advertisements

25 thoughts on “Perjuangan Berat Demi Taj Mahal”

    1. Hahhaaha haahaha hahah *bingung njawabe*. Nganu….kalo bagi aku, di India aku paling risih diliatin orang2 setempat (padahal travel sama suami dan bajunya tebel ketutup semua). Sementara di byk negara lain aku ga merasa merasa serisih itu pdhl travel sendiri dan waktu dulu pun blm pake kerudung

      Like

  1. Waktu aku ke Taj Mahal, aku juga ditangkep petugas mbok. Pas kejadian aku langsung inget, “oalah ini mbak Olen dan mas Puput banget” hahaha. Kapan-kapan deh cerita.

    Dan, Agra itu kalo nggak ada Taj Mahal nggak ada apa-apanya. Kotanya bikin males buat jalan-jalan :p scam scam scam everwhere. *elapkeringetpakerupee*

    Like

      1. Hahaha. Ditangkap gegara bawa banner kecil bertuliskan “Omnduut was here”. Tanganku sampe ditarik-tarik dibawa ke kantor petugas. Udah kubilang, “You can take it” tapi si bapak masih keukeuh maksa aku menemui atasannya.

        Selesai? nggak! gak lama pas foto-foto, aku didekati petugas bersenjata serem amat. Dia maksa mau ambil kamera. Lha kenapa pula? ternyata barusan aku ngefotoin temen pose jumping. Setelah dikasih lihat kalo fotonya dihapus baru deh dibiarin pergi. Taj Mahaal oh Taj Mahaaal.

        Like

      2. Huahahah emang ada larangan lompat ya. Untung waktu itu enggak, padahal bagi kami itu pose fav. Eh pas hamil dink.

        Like

  2. Wah mba pengalamannya amazing bgt ya,pantesan suamiku bilang ‘don’t ever go to India’ krn dulu dia pernah dikirim kantornya ke Mumbay dan satu kota lg (sy lupa). Katanya bahkan di bandara koper2 penumpang itu bkn pake ban berjalan spt di airport,tp dilempar bgitu aja ke tumpukan dan penumpang yg hrs berebut cari sndr.!
    Saat itu musim panas,dmn2 berdebu,kumuh dan org2nya berperilaku jorok. Padahal ak pengen jg ke Taj Mahal suatu saat nanti. Biasa paling ogah pake travel,tp kl bgini keadaaNnya apa kira2 bakal lbh baik pk travel tour ya??

    Like

    1. Aku ga kebayang klo musim panas itu baunya kaya apa huahahahahahahaha. Ga ngaruh pake tur. Ke taj mahal klo ga winter insya allah aman

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s