Review: Hotel Eastparc, Jogja


Ketika mengklik “booking” di laman Agoda.com, saya cekikikan sendiri. Lha gimana enggak, hotel yang saya booking ini letaknya paling hanya 2km dari rumah orangtua dan mertua saya,. Tiap dari Ambarukmo Plaza (Amplaz) saya pulang lewat depan hotel ini.

image

Satu temuan saya ketika mencari-cari hotel di Jogja adalah: Jogja ora murah, dab! Jogja ndak murah lagi, paling ga dari tarif hotelnya. Hampir sama dengan Jakarta dan KL untuk standar hotel yang sama. Dan Simbok langsung ndlongop begitu lihat tarif hotel anu yang dibilang paling keren se-Jogja itu.

Kenapa pula pakai nginep di hotel? Uhuks, soalnya itu adalah anniversary kami ke-5 dan kebetulan Puput lagi di Jogja. Awalnya pengen booking di Magelang atau Solo tapi ribet karena setelah check out Puput harus buru-buru ke bandara buat balik ke KL.

Setelah pertimbangan menyeluruh saya booking Eastparc yang memang cuma sakplinthengan dari rumah kami. Hotel ini mengklaim bintang 5 (bagi saya sih standar bintang 4). Tarif sekitar 800 ribu dengan breakfast

image

Dulu waktu pembangunan saya suka skeptis lihatnya. Kirain hotel kecil, ternyata dalamnya keren lho. Bagi saya, lobi biasa-biasa saja. Tapi saya suka konsep koridor yang menyeberang menuju bangunan ke dua tempat kamar kami berada.

“Foto-fotone biasa banget,” komentar Puput merendahkan foto-foto besar yang dipajang di depan lift. Hmmm, kamu bisa moto lebih bagus po?

Kamar saya suka karena cukup luas. Kami dapat twin beds, space di kamar masih sangat layak. Bisa buat jungkir balik kalau mau kelon (tapi ga berkarpet jadi punggung dijamin memar), cukup buat yoga sekeluarga, atau mau senam SKJ versi tahun 1990.

Saya suka banget sama kamar mandinya. Cantik. Luasnya juga cukup besar. Tapi bukan berarti tanpa kelemahan. Yang saya catat ada beberapa hal, antara lain tidak disediakannya sabun cair. Cuma ada sabun batangan bulat yang nggak genah baunya itu. Hari gini gitu loh pake sabun murahan!

Kelemahan lain adalah kulkas yang nggak bisa dibuka. Entah kenapa ya…bukannya kami mau ambil bir yang ada di minibar, sebenatnya cuma mau nitip air sama susu Oliq aja.

Saya suka juga dengan balkonnya karena sisi kanan kiri ditutup tembok sehingga nggak perlu delok-delokan dengan tetangga. View-nya? Kampung. Pagi hari ada ayam berkokok. Ada bakul es dung-dung lewat. Pokoke Jogja banget

image

image

image

image

Hal ter-wow dari Eastparc adalah breakfastnya. Suka, suka, suka banget! Varian makanannya lengkap. Mulai dari yang tradisional seperti nasi gudeg, lontong opor, lontong sayur, mie-mie-an, Western standar seperti potato wedges, sosis, tomat dll, Japanese food, salad, dan masih buanyak lagi. Pastry-nya enaaaaak. Croissantnya enak banget sampai-sampai kami nggembol buat dibawa pulang. Minumannya standar jus berbagai rasa. Yang paling unik adalah pojok jamu yang sedia beberapa jenis jamu. Buah-buahannya nggak cuma kuartet melon-semangka-nanas-pepaya, tapi ada salak, jambu, apel, dan banyak buah eksotis lain. TOP!

Overall, saya puas dan akan rekomendasi hotel ini!

Advertisements

7 thoughts on “Review: Hotel Eastparc, Jogja”

  1. Dengan kelemahan-kelemahan yang ada, memang klaim bintang 5 sepertinya perlu dipertanyakan hehehe. Saya juga kadang menilai hotel lewat maeme Mbak, terutama breakfast. Paling seneng banget nek lihat menu sarapan bervariasi kayak gitu 😀

    Like

  2. Temenku asli Yogya ya ngomong Yogya saiki ora murah hahaha… Syok tenan pas kafe-kafe di sana kebak kabeh padahal harga nggak standard anak kuliahan, tapi ya sudahlah, duit duit mereka sendiri kok 😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s