Mimpiku Tertambat di Sorbonne


Muda-mudi terlihat menyusuri St Michel Boulevard. Ada yang rambutnya pirang melambai, ada yang berkulit cokelat susu, ada yang berhijab warna fuschia dengan boots kulit warga gelap. Pundak mencangklong tas, tangan menggenggam kertas materi kuliah, punggung memanggul asa.

Seorang yang tampaknya mahasiswa duduk menikmati makan siangnya di bangku pinggir jalan. Pisang dan keripik kentang. Tak kikir ia berbagi keripik kentang dengan puluhan merpati.

Sekelompok mahasiswa lain duduk di tengah lapang, membuka bekal masing-masing. Sengaja mereka duduk di lapangan terbuka agar teriknya matahari menipiskan hawa musim dingin.

image

Di belakang mereka berdiri bangunan kokoh dengan atap bagai kubah. Kubah itu bak menusuk langit musim dingin yang biru cerah. Bangunan itu bernama Pantheon, sebuah bukti kebesaran ilmu pengetahuan di Perancis. Bangunan itu adalah tempat bersemayamnya Voltaire, Pierre dan Marie Curie, dan banyak kolega mereka.

Kelompok lain memilih membawa sandwich dan salad mereka menuju ratusan pohon rindang di Jardins du Luxembourg. Berbagi remahan roti dengan semut yang berbaris di tanah berbasah embun.

Kami adalah orang asing, berjalan melintasi Parisien-Parisien muda ini. Berharap anak dalam kereta dorong ini kelak akan menjadi salah satu dari mereka.

Di Sorbonne Simbok berdoa.

Entah kenapa, sejak dulu saya punya keinginan menyekolahkan anak di sini. Universitas Paris. Bukan kampus Gadjah almamater saya, bukan juga kampus Gajah almamater papanya

image

“Tuhan, semoga suatu saat nanti Oliq bisa sekolah di sini. Gratis, Ya Allah,” ucap saya khusyuk, di depan pintu gerbang. Tak terasa mata saya basah. Tuhan ada di manapun, bahkan di tempat ramai penuh muda-mudi ini.

Dua dekade kemudian….

Simbok duduk bersilang kaki, menikmati cafe latte et une croissant. Saya merapatkan jaket tebal karena angin musim dingin menusuk tulang-tulang saya yang menua. Syal warna lembayung yang dibelikan Puput di sebuah bodega kecil di pedesaan Italia melingkar di leher.

Quartier Latin ramai dipenuhi Parisien yang tres chic. Serombongan turis Asia mengeluarkan kamera keluaran terbaru, sembari terbirit mengikuti pemandu mereka yang berbendera.

Masih satu jam sebelum Oliq menyelesaikan kuliahnya. Simbok melanjutkan membaca novel pembunuhan yang ceritanya kusut masai. Merpati datang meminta remah roti.

Puput di mana? Tampaknya sedang berada di Jogja menjaga kos-kosan. Mau beristirahat sejenak katanya, karena kami usai melakukan perjalanan keliling dunia.

Ola di mana? Semoga dia berada di belahan dunia yang lain, sedang bersekolah (gratis) juga. Setelah mengunjungi Oliq, Simbok bisa mengunjungi Ola.

Bermimpi dan berharap itu halal. Ikhtiar itu wajib.

Tuhan, jadikan mimpiku nyata. Aaamiiin.

Advertisements

11 thoughts on “Mimpiku Tertambat di Sorbonne”

  1. Oliq harus sekolah setinggi mungkin. Bahkan melebihi orang tuanya. Berilmu tinggi, kelak pada negara ia mengabdi dan ilmunya ia bagi. Seperti kata Andrea Hirata dalam novelnya, Tuhan memeluk mimpi-mimpi itu 🙂

    Like

  2. Aamiin. Sorbonne juga impian kuliah anakku. Semoga tercapai ya…
    Baca impian simbok, aku jadi ingat impianku nanti saat anak2 kuliah nanti. Ah, mimpi… semoga menemukan takdir yang sama

    Like

    1. Anakmu udah tau impian kuliahnya ke sorbonne ya mb donna. Anakku impiannya masih ke indomaret belu chitato sama biskuat

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s