The Battle of New Moms


Dunia maya itu hanyalah kiasan. Ibaratnya pepes pindang, dunia maya itu hanya daun pisang dan bitingnya. Dalamnya? Siapa yang tahu itu pindang beneran atau ternyata isinya tempe, jamur. Siapa yang tahu itu pedas atau tidak.

Kata survei yang pernah beredar, salah satu orang paling menyebalkan di Facebook adalah para ibu baru yang tak bosan-bosannya mengunggah foto bayinya. Bayi tidur, bayi ketawa, bayi dimandiin, bayi digendong tiap tamu yang jenguk. Bayiiii wae! #hakjleb *Simbok ngaca*

Kayanya kok bahagia banget ya punya bayi! Ya iyalah, tidak bisa dipungkiri anak adalah anugerah yang luar biasa, tidak terwakili oleh uploadan apapun. Udah meteng 9 bulan bawa gembolan ke mana-mana, mosok lahiran ga seneng?

Don’t you know that the battle behind that is life-threateningly horrifying #halah. Saya tetap tidak bisa membayangkan para ibu yang berjuang melahirkan secara normal, bahkan tanpa epidural. Sakitnya kaya apa, coba! Anu yang sekecil itu buat ngeluarin bayi sebegono!

Siap-siap masuk kamar operasi...
Siap-siap masuk kamar operasi…


Kebetulan saya melahirkan Oliq dan Ola secara cesar. Bukan disengaja, melainkan memang sampai lewat waktu tidak ada kontraksi. Waktu Oliq, blas tidak ada rasa mulas. Kalem aja spa siang hari padahal sorenya udah dijadwalkan c-section. Waktu Ola saya “dianugerahi” kesempatan untuk merasakan kontraksi. Dua hari dua malam pasca ujian SIM di Polres, saya nggak bisa tidur karena kontraksi tiap 10 menit. Nyatanya sudah ditunggu, dirogoh, tetap tidak ada bukaan. Jadinya kembali cesar bersama simbah.

Cesar mah enak, nggak sakit! Gundulmu mencelat! Bayangkan saja harus dikelilingi banyak dokter, disuntik sana-sini, dan sadar selama proses melahirkan. Nggak sakit sih waktu dibeleh. Tapi habis itu….

Saya beruntung langsung bisa melakukan IMD di kamar operasi, kurang sukses. Di kamar pemulihan Ola langsung bisa menyusu. Saya menghabiskan semalaman di rumah sakit. Another battle starts now.

Wahai para manusia yang durhaka pada ibunya, hanya neraka balasannya. Baik yang melahirkan normal, cesar, water birth, hypno birth entah apalagi, semuanya akan merasakan hal yang sama. Ketika jahitan dan obrasan belum sembuh, sudah harus ngopeni bayi yang baru lahir.


Countless of sleepless nights. Mulai dari gantiin popok, nyusuin. Perjuangan lain juga bagi para ibu yang kesulitan mengeluarkan ASI. Perjuangan juga bagi kami yang ASInya berlimpah sehingga tiap 2-3 jam sekali harus memompa. Baju sehari bisa ganti 5-6x karena bocoran susu. Bau ASI sampai bikin mual sendiri.

Belum lagi yang mengalami baby blues. Ah itu cuma ibu-ibu manja! Takuncali munthu kalau bilang gitu! Baby blues bukan mitos, ada beneran walau saya tidak mengalami. Bayangkan saja, kita bawa manusia di perut 9 bulan, terus dikeluarkan. Jelas hormon jungkir jempalik. Belum juga karena kelelahan fisik dan psikis. Duh.
Betapa kejam suami yang tidak mau berjuang bergandengan tangan dengan istrinya.

“Kalau bisa sih kugantiin lahirannya!” Woh mbahmu kiper tenan, sunatan wae semaput, arep lahiran.

Beruntung saya punya support system yang memadai. Sehari setelah Ola lahir, Puput harus kembali ke KL, jadi saya harus berjuang sendiri selama minggu pertama. Untungnya, ada bidan bapak mertua yang menginap tiap malam. Jadi kalau saya capek Ola bisa diurus bidan semalaman dengan bekal ASI Perah.

Mengurus bayi dengan kondisi jahitan masih sakit itu perjuangan. Lha wong miring saja susah, apalagi harus gantiin popok tiap 1-2 jam. Tengah malam, baru saja diganti, lagi nyelehke bokong, wis mak “Prooot prooooot!”. Duh biyung.

Menyusui masalah lain lagi. Hal paling sakit dari punya anak adalah menyusui di hari-hari pertama. Lidah dan langit-langit mulut bayi kasar jadi puting berasa seperti diparut. Nangis-nangis beneran deh. Coba deh tanyakan pada ibu-ibu kalian.

Hari ini saya demam, pompa ASI saya rusak dan karena mengurus servis saya terlambat memompa. Akibatnya payudara kanan membengkak dan disentuh pakai ujung jari saja sakitnya luar biasa. Nah, para suami, di sini peran kalian. Ringankan derita istri dengan memijat secara rutin. Jangan berpikir porno, pijat susu, it is what it is. Masa mau minta dipijat suami orang lain?

Sejak lahiran Oliq, sebenarnya Puput lebih “fasih” memegang bayi baru ceprol dibanding saya. Dia lebih mahir mengganti popok juga. Tapi dulu, tiap malam saya rela begadang mengganti popok semalaman dan malah membiarkan Puput ngorok sepuasnya. Kali ini lain, kalau tahu popok Ola basah saya bangunkan Puput toh saya masih harus menyusui setelah itu. Bagi tugas lebih baik daripada memforsir diri demi titel Super Mom? Yang ada malah tumbang.

Kehidupan ibu baru tidak secerah apa yang terlihat di Facebook. Punya dedek-dedek unyu yang bikin gemetz! Behind that there is a prolonged battle.

Setelah melahirkan anak pertama itu perjuangan karena sebagian besar dari kita sama sekali belum tahu apa-apa. Boleh deh Anda sampai menelan berbagai buku parenting, ikut berbagai komunitas, join forum-forum di FB. Prakteknya? Nggak segampang itu masdab!

Melahirkan anak ke 2, ke 3, dan seterusnya juga tetap perjuangan karena sambil mengurus bayi, ada “beban” tambahan, yaitu tetap ngopeni kakaknya, juga memastikan dia nggak cemburu sama adiknya.



Bisa diperhatikan kalau saya hanya mengunggah foto Ola, Oliq, dan Puput (kecualo foto melet euforia pasca operasi itu!) karena muka ibu baru nggak layak tampil. Yah, kecuali Anda Kate Middleton. Muka zombie saya mending tetap berada di belakang layar, bergelut bersama pompa ASI, popok, dan minyak telon. Takutnya nanti kalau saya unggah foto malah kalian beramai-ramai gilo dan meng-unfriend saya.

Sudahkah kalian berkabar dengan ibu kalian hari ini?

Ya, gitu aja deh.
Tertanda,
Simbok yang lagi ngrangkaki

Baca kisah kelahiran Ola di sini

*Update terbaru: susu sudah tidak ngrangkaki setelah rutin pijat susu oleh suami

Advertisements

32 thoughts on “The Battle of New Moms”

  1. sungguh, para lelaki harus dibekali pengetahuan tentang merawat bayi! 😀
    saya juga baby blues syndrom pasca lairan kedua yg SC juga. gimn ga, anak pertama baru umur setahun dua bulan, baru lancar2nya jalan, ngomong belum jelaa, saya diSC, habis lahiran lgsg pindah rumah, plus ibu saya cuma seminggu nungguin saya dan sebulan kemudian bulan puasa.
    lagi ngurus si baby, masnya minta keluar. jahitan masih basah terpaksa nggotong si mas yg ga mau pulang2 padahal dedek di rumah sendirian.
    udah gitu bulan puasa bangun malam untuk masak. ga punya kulkas jadi kudu belanja-masak-belanja-masak.
    wah curhate pol-polan ini mak! 😀

    Like

  2. wah… postingan yang mengena bangets. Sepakat bangets deh sama isi postingannya. Bener-bener perjuangan jadi ibu baru. Ga gampang dan poto pasca sesar-nya jadi bikin ketawa juga. Saya malah ga sempat foto pasca sesar, maklum bukan kate middleton hehe…
    salam kenal mak…

    Like

  3. Sesar enak? hahaha yang ngomong gitu cobak suruh sesar deh baru tau rasanya yaa hehe. Soal posting2 di Facebook aku mah ga peduli orang mau bilang apa, kalau ga suka tinggal dilewatin aja ya haha. Biasanya yg ngomong gitu pasti belom punya anak *soktau*, kalaupun udah punya anak, mungkin dia kurang bersyukur dan koneksi internetnya jelek jadi ga bisa terus2an upload2 foto anaknya haha.
    Salam kenal ya mak.. Seru baca ceritanyaa hehe

    Like

    1. Hahahah kalo sosmed mah apa aja salah. Upload foto sama pasangan/bayi dibilang ga menghargai jomblo. Upload foto lagi ngafe sama temen dibilang ga hargai SAHM hahahah rauwisuwis

      Like

  4. Waah wis lego tooh mbakyuu… hehehehe… kalau kata theurbanmama.com – There’s always a different story in every parenting style.. termasuk gimana cara melahirkan dan mengasuh bayi, enjoy aja…. selamat yaaa atas kelahiran Ola, semoga keluarga tambah bahagia dan jalan2nya semakin rame dengan membawa 2 anak Ola dan Oliq…

    Like

  5. Duh jadi ngerasa haha. Saya kadang nurut sama Ibu (berarti lebih banyak nggaknya) bukaan!
    Aku suka banget tulisannya. Thanks udah share. Jadi ngerasa kesindir deh ehehe

    Like

  6. Barusan sudah telpon ibuk yang lagi liburan di Bali :)).

    Para ibu memang kuat, saya yang dulunya big baby karena beratnya di atas normal (banget) saja bisa lahir secara normal. Entah pakai epidural atau tidak saya tak tahu (ya iyalah) tapi saya lahirannya normal, dan saya menganggap ibu saya wanita yang hebat banget. In fact, semua ibu memang hebat, karena bisa mengalami semua itu. Kami para pria mungkin sepersepuluh dari rasa sakit itu saja tidak mampu menanggungnya (dulu pernah ada teman yang cerita soal penelitian tentang ini) tapi para ibu bahkan bisa tahan sakit yang lebih dari itu.

    Setuju, Ibu adalah insan di dunia yang memberi kita hidup, entah apa jadinya kalau kita durhaka pada si pemberi hidup :)).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s