10 Makanan Jogja Favorit Simbok


Apalah kerja ibu hamil selain glundang-glundung nggak cetho dan ngganyem. “Olen ki kok mangaaan wae,” ujar Mbah Kakung-nya Aik suatu hari. Ini jadi berasa deja vu  dengan komentar Mbah Kakung terhadap NST setahun silam.

Pernah ngerasain ngidam sengidamnya masakan Indonesia?
Pernah ngerasain ngidam sengidamnya masakan Indonesia?

Setelah sekitar 3 minggu di Jogja, Simbok sudah beberapa kali berkesempatan (ciyeeh), mencoba-i makanan-makanan favorit kembali, walau belum semuanya. Silakan kalau ada yang mau ke Jogja bisa dijadikan referensi.

Gudeg Bu Amad

Lokasinya mudah dijangkau, yaitu di seputaran UGM. Sebenarnya gudeg di Jogja sangat banyak yang terkenal, antara lain Gudeg Wijilan, Gudeg Pawon, Gudeg Yu Djum, Gideg Permata, Gudeg Bu Cipto, Gudeg Sagan, dan lain-lain. Saya juga sebenarnya lebih menyukai gudeg basah dengan areh yang gemlonyor (misal Gudeg Sagan), dibandingkan dengan gudeg kering yang terlalu menonjolkan nangka alias gori. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan Bu Amad, gudeg kering yang bagi saya lebih pas di lidah karena tidak semanis gudeg Yu Djum maupun Bu Cipto.  Saya sering membawa berbesek-besek gudeg Bu Amad ke KL untuk para tetangga.

Harganya lumayan mahal, untuk ukuran Jogja, satu besek berisi ayam, telur, tempe tahu bisa mencapai 40 ribu. Tapi gudeg itu memang mahal, mas mbak, wong di dekat rumah saya aja, gudeg tanpa nama yang laris bisa membanderol 20 ribu untuk telur tempe tahu.

Mie Lethek Pemadam Kelaparan Mbah Mo

Mie lethek ini asli kuliner pribumi banget wekekekek *dikepruk dedek-dedek KAMMI bertopeng Guy Fawkes*. Asalnya dari Srandakan Bantul yang makin men-Jogja. Gimana nggak pribumi, mie nya sendiri bukan dari gandum maupun beras, melainkan dari tepung tapioka alias telo alias gaplek. Disebut “lethek” artinya kusam/kotor/lusuh karena memang warnanya tidak putih bersih dikarenakan pembuatannya tanpa bahan pemutih, pengawet, dan MSG.

Penampilan kumal mie lethek
Penampilan kumal mie lethek

Lhoo, udah sehat, murah, enak!

Mie lethek yang paling terkenal adalah Mbah Mendes. Tapi Pemadam Kelaparan Mbah Mo di Dlingo tidak kalah enaknya. Warungnya pun ramai tamu bermobil, seporsi hanya Rp 10.000 dan segelas wedang uwuh hanya Rp 3.000.

Mie Lethek Mbah Mo Dlingo
Mie Lethek Mbah Mo Dlingo

Untuk Mie Lethek Mbah Mendes yang di Maguwo, Simbok baru mau coba nanti sore nyam-nyam…

Kupat Tahu SGM

Sebenarnya judulnya tidak demikian, tapi karena letaknya di dekat pabrik susu SGM, makanya disebut seperti itu. Ada yang bilang tahu guling Gembiraloka juga karena letaknya tidak jauh dari Kebun Binatang Gembiraloka. Dulu, waktu saya masih piyik, sering sekali makan di sini. Warungnya sempit dan selalu penuh sesak. Porsinya sedikit, mau nambah takut kebanyakan.

Kupat tahu SGM nan legendaris
Kupat tahu SGM nan legendaris

Ternyata, puluhan tahun berlalu, kupat tahu SGM masih enak. Sekarang warungnya besar pelayannya juga banyak. “Ibuke tahu guling wis meninggal, saiki bapake wis kawin meneh. Bojo anyare ayu,” kata Mbah Kakung mengabarkan gosip terkini. Penting kali yeee.

Yang beda dari tahu guling ini adalah porsinya sekarang banyak sekali, terutama tahunya. Kalau menurut saya akan lebih seimbang bila kupatnya yang dibanyakin dan tahunya dikurang. Ealaah, siapalah Simbok ini…. Tapi kuahnya masih kental dan gurih pedas. Bedanya dengan kupat tahu Magelang adalah kuah tidak memakai kacang tanah.

Satu porsi Rp 10.000

Soto Soleh Tegalrejo

Permasalahan dari Soto Soleh “Barokah” sama peliknya dengan permasalahan pekerja migran,  adalah kualitas yang tidak sama di setiap cabangnya. Yang paling enak tetap di markas besar di Tegalrejo. Cabang di depan Monumen Jogja Kembali terlalu manis, di dekat Quality Hotel sudah menghilang, dan di Kalitirto bumbunya kurang joss. Belum coba cabang baru yang di Kridosono.

Saya adalah penggemar soto, terutama daging sapi dengan kuah yang bening. Seenak-enaknya Soto Kadipiro atau Soto Ambengan Pak Sadi, soto daging sapi tetap jadi andalan saya. Selain soto Soleh, saya suka soto Pak Muh di dalam Pasar Beringharjo.

Lotek Colombo Bu Bagyo

Lokasinya tidak di Colombo, melainkan di Sagan. Ada banyak Lotek Bu Bagyo lain, tapi entah itu cabang resmi atau tidak. Nah, walau ada ‘cabang’ di dekat rumah, Simbok lebih suka di pusatnya. Di Bu Bagyo Sagan ini nggak pernah sepi. Mau jam berapapun selalu ramai, terutama mahasiswa.

Loteknya memang enak sih, dilengkapi bakwan dan ketupat. Boleh pilih mau cabe berapa/ Kalau Puput suka cabenya 6, Simbok cukup 4 saja. Gado-gadonya juga enak. Kelebihan utama di Bagyo adalah servisnya yang memuaskan. Jadi, begitu datang kita pesan, menulis sendiri di kasir. Misal: 1 lotek kupat cabe 4, 1 lotek kupat cabe 6 dobel bakwan (Mbak Olen), di kertas minuman ditulis: 2 es jeruk (Mbak Olen). Langsung dihitung dan bayar di tempat. Cari tempat duduk deh, dan duduk manis di sana. Nggak terlalu lama kemudian ada yang mengantar, “Mbaaaak Olen!” langsung Simbok ngacung. Walau seramai apapun nunggunya tidak terlalu lama karena petugas pengulek loteknya juga banyak. Habis makan langsung pulang karena sudah bayar sebelumnya. Jadi pelayanannya memang efisien. Saya sering nongkrong nunggu lotek bungkus karena sekeluarga suka lotek Bu Bagyo.

Harga seporsi lotek kupat Rp 11.000 memang termasuk mahal untuk ukuran Jogja tapi porsinya buanyaaaak. Dan hebatnya lagi, Puput yang makannya sedikit pun bisa habis karena enak.

Bu Bagyo sekarang mendiversifikasi dagangannya berupa Sego Sate, dan banyak menu Chinese food. Kemarin saya coba cumi goreng telur asin dan memang enak. Kabarnya kwetiau dan ayam goreng menteganya juga enak.

Sate Klatak Pak Pong

“Daginge empuk!” ujar Mbah Kakung, setelah mencicipi sate klatak Pak Pong yang saya bawa dari Festival Jajanan Bango 2015. Padahal gigi Mbah Kakung tinggal 4. Sate klatak ini berbeda dengan sate kambing lain yang diberi bumbu kecap, tapi hanya dibumbu garam. Selain empuk, walau tanpa bumbu, tidak ada bau prengus kambing sama sekali. Dimakan dengan bumbu gule. Tulisan lengkap tentang Sate Klatak Pak Pong pernah ditulis Puput di sini.

Sate Klathak, kuah gulai, nasi, dan lombok rawit, perpaduan sempurna yang menggoda
Sate Klathak, kuah gulai, nasi, dan lombok rawit, perpaduan sempurna yang menggoda

Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng

Yang ini memang tiada duanya, Mbah Marto nan legendaris. Kelebihan Mangut Lele Mbah Marto adalah rasa lele asapnya yang sangat nikmat. Tempatnya juga mblusuk, langsung mengambil di dapur. Tempat makannya bangku-bangku biasa di rumah dan teras Mbah Marto. Pokoke patut coba!

Selain mangut lele, Mbah Marto juga jualan gudeg dan garang asem.

Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng yang legendaris, dengan lele besar dan bumbu cabe yang menggoda
Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng yang legendaris, dengan lele besar dan bumbu cabe yang menggoda

Mangut lele Mbah Marto juga pernah ditulis Puput di sini.

Angkringan KR

Ketika Angkringan Kopi Joss sudah terlalu mainstream dan ramai dan mahal, ada baiknya menggeser pantat sedikit ke sebelah utara. Angkringan KR (Kedaulatan Rakyat) juga menyediakan berbagai nyamikan hore khas angkringan, misalnya sego kucing sambel teri, sego kucing oseng-oseng tempe, berbagai gorengan, sate keong, sate kerang, berbagai baceman, ceker, dan lain sebagainya.

Bakmi Jowo Bintaran Kulon

Bakul Bakmi Jowo di Jogja itu mbladrah di mana-mana. Yang paling heits mungkin Mbah Mo Bantul, tapi kalau saya sih emoh adoh-adoh ke sana. Apalagi di sana, antrenya bisa lama banget. Bisa-bisa Simbok babaran sebelum bakminya datang.

Nah, kalau adik saya Delin, favorit bakminya tergantung pacar. Pas pacaran sama yang dulu favoritnya adalah Bakmi Pak Rebu di dekat purawisata. Pacarnya ganti, bakmi Jowo favoritnya pun ganti. Sekarang adalah Bakmi Jowo Bintaran Kulon. Enak sih memang saya pernah dibawain ke rumah.

Rasanya gurih, bisa minta pelengkap jerohan, ati, rempela. Rasa ayam kampungnya membuat kuah jadi gurih. Nyam nyaaaaaam.

Sambel Welut Pak Sabar

Belut di tempat Pak sabar kabarnya lebih gurih karena hanya menggunakan belut sawah, bukan belut ternakan. Yang paling khas di sini adalah sambal belut, yaitu belut goreng yang sudah dihilangkan tulangnya, diulek dengan sambal yang sangat terasa kencurnya.

Selain sambal belut, ada juga belut goreng dengan lalapan, lele, dan ikan air tawar. Lokasinya lumayan mblusuk tapi selalu ramai dengan mobil-mobil.

OK, makan apa kita besok?          

Advertisements

14 thoughts on “10 Makanan Jogja Favorit Simbok”

  1. Lotek Bu Bagyo tetep nomer siji. LOTEK paling uenakk sak Yogya *iseng mbuzzer sopo ngerti dikenalke anake* hahaha.
    Tapiii jadi penasaran Mie Lethek Mbak Mo, kapan mrono mbak e? Lotekdar diganti miedar 😀

    Like

    1. Takcobo sing mbah mendes ring road sik yo lim. Nek enak.kita mrono wae. Cedak soale. Kiro2 aku mbrojol iso langsung mulih

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s