Festival Jajanan Bango: Dari Bumi Nusantara untuk Bangsa Indonesia


“Cup, ke Chow Kit yuk, kecap Bango habis,” ujar saya pada suami, menyebutkan pasar terbesar di Kuala Lumpur. Sebagai kaum migran yang sudah ‘hinggap’ di negeri jiran selama 1,5 tahun, akhir pekan selalu kami gunakan untuk berbelanja bahan makanan – terutama untuk menu-menu khas Indonesia.

Di kali lain, saya mengirimkan pesan singkat kepada mbak yang membersihkan rumah secara part time, “Mbak Sah, titip wortel. Brokoli, kecap Bango, tempe.” Kebetulan Mbak Sah tinggal di dekat Pasar Dato Keramat, yang merupakan daerah hunian migran dari Madura sehingga walau kecil, pasar menyediakan cukup banyak produk Indonesia.

Kecap Bango untuk nusantara
Kecap Bango untuk nusantara

Sebenarnya sudah lama saya menjadi penggemar fanatik Kecap Bango, tapi lantas menggila setelah menjadi simbok-simbok yang hobi masak. Tinggal di Kuala Lumpur, mencari Bango tidak semudah di Indonesia, tentunya. Di sana, merk ini tidak diketemukan di supermarket maupun minimarket, hanya dijual di pasar-pasar yang khusus memperdagangkan produk Indonesia, salah satunya di Chow Kit dan Dato Keramat.

Siapa sih yang tidak kenal Bango? Awalnya kecap ini adalah produk usaha rumahan di daerah Benteng, Tangerang. Lahir pada tahun 1928 merk ‘Bango’ dipilih dengan visi agar dapat terbang tinggi hingga ke mancanegara. Bango bertahan di era penjajahan hingga Indonesia merdeka. Pada tahun 2001, PT Unilever mengakuisisi Bango menjadi bagian dari jajaran perusahaannya dan Bango terbang kian tinggi, hingga ke luar negeri, seperti yang diinginkan oleh pendirinya.

Sebagai ibu dari keluarga yang tinggal di negara tetangga, bagi saya penting sekali untuk tetap mengenal kekayaan kuliner Indonesia. Ketika mudik, mudah saja tinggal pergi ke warung untuk mencari makanan tradisional favorit. Kalau di luar negeri? Keseringan tetap harus memasak sendiri karena menu di restoran Indonesia pun terbatas, dan kadang rasanya tidak sesuai dengan selera kita.

Karena itu, saya rela jauh-jauh membeli produk asli Indonesia agar rasa masakannya pun pas di lidah. Bahan-bahan asli Indonesia membuat masakan terasa “asli” dan bukan “blasteran”.

***

Berbicara mengenai kuliner Indonesia seolah tidak ada habisnya. Menurut Arie Parikesit ada lebih dari 6000 jenis makanan Indonesia yang tersebar dari seluruh pelosok nusantara. Tapi berapa yang dikenal oleh dunia? Jumlahnya mungkin jauh lebih sedikit daripada yang kita bayangkan. Yang pasti ada rendang, yang disebut-sebut sebagai makanan paling enak di dunia. Lalu ada nasi goreng, ada mie goreng, sate, dan gado-gado.

Yang lebih sedihnya lagi, sudah yang dikenal hanya sedikit, banyak yang mengira makanan-makanan itu asalnya dari Malaysia. Duh.

Tidak dapat ditampik bahwa sebagai negara bertetangga, kita pasti memiliki kesamaan dalam hal khazanah kuliner. Ketika Indonesia punya sate, Malaysia punya satay – walau mirip tapi cara pembuatannya tetap berbeda. Sate saja di Indonesia beragam jenisnya.

Ketika saya sekolah di Australia, saya banyak mendapati menu-menu khas Indonesia, seperti gado-gado dan nasi goreng dijual di restoran Malaysia. Dan justru yang dijual di restoran Malaysia tersebut rasanya lebih enak daripada yang dijual di restoran Indonesia. *sakit hatinya kuadrat deh*

Apa sih yang dapat kita lakukan untuk memperkenalkan kuliner Indonesia kepada dunia luar?

Salah satu yang baru-baru ini dilakukan adalah World Street Food Congress di Singapura. Ini adalah sebuah wadah bagi banyak negara untuk memperkenalkan kuliner jalanan mereka masing-masing. Delegasi Indonesia, didukung penuh oleh Kecap Bango,  saat itu memperkenalkan beberapa jenis makanan, yaitu Gudeg Yu Nap, Kupat Tahu Gempol, Ayam Taliwang Bersaudara, dan Soto Ambengan Pak Sadi. Dan tampaknya menu Indonesia yang dijual di ajang WSFC 2015 ini berhasil menarik minat pengunjung sehingga selalu ludes dengan cepat.

Bango mendukung WSFC 2015 di Singapura
Bango mendukung WSFC 2015 di Singapura

Kalau kita sendiri, apa yang bisa kita lakukan? Pada dasarnya keluarga kami punya perut yang sangat Indonesia, jadi masakan pun selalu menu Indonesia. Anak saya, Oliq (4 tahun) pun seleranya sangat Indonesia, dia lebih suka sayur bobor, brongkos, gudeg, rawon, soto, daripada makanan-makanan cepat saji seperti ayam goreng ataupun burger.

Di Malaysia, setelah mudik, suami biasanya membawa jajanan khas Indonesia ke kantor. Yang paling sering adalah bakpia dan yangko dari Jogja serta lanting khas Kebumen dan sekitarnya.

Sebagai keluarga penggemar traveling, kami seringkali juga memilih untuk menyewa apartemen kecil daripada hotel. Alasannya sederhana, bisa memasak sendiri. Selain lebih hemat, juga lebih cocok untuk perut kami yang sangat Indonesia ini. Rekor memasak Simbok di luar negeri, antara lain sayur lodeh terong di Norwegia,  rawon di Jepang (sayangnya dengan bumbu instan), dan pecel di Turki. Doakan ya cita-cita berikutnya tercapai: memasak gudeg di Peru.

Jadi perut Indonesia ini seolah dangdutan ria ketika mendapat undangan untuk menghadiri Festival Jajanan Bango 2015 di Stadion Mandala Krida, Jogja, 17 Mei 2015 lalu.

***

Mungkin banyak yang belum mengenal event Festival Jajanan Bango (FJB) ini. Simbok juga baru mengetahui dua tahun terakhir, namun ternyata FJB telah berlangsung selama 10 tahun. Konsepnya sederhana namun mengena. Yaitu memperkenalkan makanan-makanan nusantara ke kota-kota di Indonesia. Setiap tahun Bango mengadakan FJB di beberapa kota, memperkenalkan berbagai jenis makanan dari daerah lain.

Dari Bango untuk Indonesia
Dari Bango untuk Indonesia

Terus terang saja, Indonesia ini sangat luas. Jenis makanannya sangat banyak. Bahkan, kadang makanan khas dari kota tetangga saja kita tidak kenal, apalagi dari lain pulau.

Bagaimana berharap dunia mengenal makanan kita, kalau kita sendiri tidak kenal?

Selain upaya untuk memperkenalkan makanan daerah lain, FJB juga berupaya menjaga kelestarian kuliner asli Indonesia. Di tengah desakan globalisasi, termasuk dari segi kuliner, bangsa Indonesia sudah sangat mengenal makanan asing misalnya burger dari Barat, pizza dari Italia, sushi dari Jepang, bimbimbab dari Korea, dan lain sebagainya. Tentu hal tersebut tidak dapat dihindari dan justru menambah kekayaan kuliner yang ada di Indonesia. Namun, kita tentu tidak mau generasi muda hanya mengenal makanan ‘impor’, dan melupakan makanan asli Indonesia.

Saya jadi teringat lima tahun lalu, ketika menikah. Saya bilang ke orangtua, tidak mau macam-macam. Makanan yang sederhana saja. Hanya, saja kalau bisa ada kipo. Apa itu kipo? Kipo kepanjangannya adalah iki opo alias apa ini. Banyak orang Jogja saja tidak mengenal makanan dari Kotagede ini, apalagi orang-orang dari daerah lain. Kipo termasuk jajanan pasar yang sudah jarang ditemukan lagi. Makanan ini bentuknya kecil, imut, sebesar ibu jari yang dibungkus daun pisang berbentuk memanjang. Kipo terbuat dari tepung ketan dengan isian kelapa dan gula Jawa. Setelah dibungkus daun pisang, kemudian dipanggang.

Wuiiih, Uti-nya Oliq sampai mumet gara-gara permintaan calon manten. Akhirnya berhasil menemukan pedagang kipo di Pasar Kotagede dan bisa memesan untuk hari-H. Yihaaaaa!

Nah, di FJB 2015 yang diadakan di Jogja ini bagaikan surganya kuliner nusantara. Ada makanan dari ujung barat, tengah, hingga ke timur. Festival ini juga diramaikan dengan layar tancap. Duh, terakhir kali lihat layar tancap mungkin seperempat abad silam, deh!

Tengkleng Solo jadi idola!
Tengkleng Solo jadi idola!

Komunitas blogger dan penggiat media sosial diberi kesempatan untuk kopdar dengan beberapa pakar kuliner Indonesia, antara lain Mas Arie Parikesit, Mas Jeffry Sie bos besarnya Gudeg Yu Nap, admin Hunger Ranger dan sebagainya.

Para narasumber sedang asyik ngobrol tentang makanan Indonesia
Para narasumber sedang asyik ngobrol tentang makanan Indonesia

Mas Arie membeberkan tentang kekayaan kuliner nusantara yang pernah ia coba. Salah satu karakteristik makanan nusantara adalah kaya rempah dan berbumbu. Maklum saja, sejak zaman dahulu Indonesia dikenal dengan kekayaan akan rempah-rempahnya.

“Salah satu makanan unik yang pernah saya coba adalah sayur daun putri malu,” kata Mas Arie. Langsung semua hadirin seolah terlempar pada masa kecilnya, ketika senang sekali bertemu tanaman putri malu yang langsung kuncup begitu disentuh. Namun, tidak ada yang mengira bahwa ternyata di salah satu sudut Indonesia, putri malu ini ternyata dapat dimakan. “Masaknya dengan santan dicampur telo.”

Mas Arie juga menyebutkan makanan unik lain yang pernah ia coba adalah buah sirsak bakar yang dimasak bercampur dengan ikan di Maluku. Laaaah sirsak kan biasa dimakan begitu saja, paling pol juga dijus. Keunikan-keunikan citarasa nusantara terpendam semacam ini yang ingin digali oleh Bango sehingga lebih dikenal secara nasional.

Admin-admin Hunger Ranger
Admin-admin Hunger Ranger

Hunger Ranger, salah satu penggiat media sosial di Jogja pun menceritakan kisah mereka mblusuk Jogja demi kuliner tradisional. Hunger Ranger ini juga mengadakan tur-tur kuliner di Jogja dan respon pesertanya sangat positif. Nah, buat kalian yang pengen mblusuk Jogja cari makanan unik, silakan kontak akun Twitter @hungerranger.

Simbok bersama @ddcyw, salah satu seleb tweet juga penggemar kuliner
Simbok bersama @ddcyw, salah satu seleb tweet juga penggemar kuliner

Berbicara masalah FJB, ini adalah yang pertama kali saya datangi. Kok ya kebetulan diadakan di Jogja pas saya boyongan ke Jogja untuk acara melahirkan. Makanya, Simbok bela-belain datang naik motor sendiri ke Mandala Krida padahal sudah hamil 36 minggu alias 9 bulan. Udah gitu, bawa motor pakai SIM pinjaman gara-gara punya saya udah mati beberapa tahun lalu (please, please jangan ditiru yaaaaa!).

“Hei, Mbak, menko nek mbrojol ning ndalan piye?” ujar tetangga sebelah rumah orangtua saya. Artinya, nanti kalau lahiran di jalan, gimana?

Well, at least, kalau kontraksi di jalan nanti kontraksi sambil kekenyangan udah makan enyak enyak enyak di FJB. HUSH! *dislenthik bojo*

Walau sudah lewat makan siang ternyata para pengunjung masih antusias. Beberapa merchant dessert laris manis, seperti Coconut Eskrim dan Alpukat Keruk. Dapur MpokDuren dipenuhi pembeli yang berdesakan di depannya. Kalau tidak ingat perut yang seukuran gentong, pasti saya ikut merangsek ikut antre. Maklum saja hari itu panasnya nggak ketulungan.

Ramainya FJB 2015 Jogja
Ramainya FJB 2015 Jogja

Beberapa merchant lain juga bekerja keras melayani pembeli yang antre mengular, antara lain: Mie Koclok Mas Edi Cirebon dan Pempek Tekwan Mang Ilir.

Ada beberapa hal yang saya catat dalam penyelenggaraan FJB 2015 di Jogja ini:

  • Merchantnya cukup banyak, 51 gerai belum termasuk drinking station. Gerai terbagi menjadi Jagoan Kuliner Barat, Tengah, Timur, Legenda Kuliner, Jagoan Kuliner World Street Food Congress, Makanan/Minuman Penutup dan Cemilan.

    Gerai-gerai wilayah barat
    Gerai-gerai wilayah barat
  • Pembagian tenda yang berdasarkan wilayah membuat pengunjung lebih mudah mencari gerai yang diinginkannya. Terlebih, ketika memasuki kompleks festival, setiap pengunjung diberi denah.
  • Meja-meja yang disediakan untuk pengunjung pun lebih dari cukup. Banyak juga yang memilih lesehan di area layar tancap.

    Meja kursi makan tersedia dan nyaman
    Meja kursi makan tersedia dan nyaman
  • Menurut saya, harga-harga makanan utama juga masih terjangkau, antara 10.000 hingga 20.000 per porsi.
  • Bango juga memperkenalkan sejarahnya melalui Dapur Bango dan Kampung Bango.
  • Sebagai upaya menghargai tuan rumah, FJB juga memberikan area khusus untuk Angkringan, yang bagi orang Jogja sudah menjadi bagian dari gaya hidup. (Apalagi untuk anak kos saat tanggal tua wekekeke)
  • Sebagai ibu dari anak balita, saya juga senang sekali melihat tersedianya ruang menyusui, ruang kesehatan, dan area bermain anak. Jadi, para orangtua yang membawa anak-anaknya ke sini tidak perlu risau.

    Ada ruang menyusui, lho, mall aja kalah!
    Ada ruang menyusui, lho, mall aja kalah!
  • Terakhir, namun tidak kalah penting, FJB menyediakan spot-spot asyik untuk berfoto.

Yang mungkin banyak disesalkan oleh para pengunjung adalah mahalnya parkir. “Parkir motor 5000, rekor termahal parkir motor di Jogja,” cuit seseorang yang di-RT sebuah akun Twitter informasi Jogja. Bagi saya, nggak terlalu masalah sih, toh cuma sekali saja. Bayangkan kalau parkir di mall-mall Jakarta yang tarifnya jam-jaman!

“Saking enjang, Mbak! Raine nganti gosong!” ucap salah satu tukang parkir sambil mengeluarkan motor Mio saya. Dari pagi, sampai mukanya gosong, katanya. Tidak apalah mengeluarkan uang lima ribu untuk sekali parkir, karena sama artinya memberi rejeki untuk para bapak ibu tukang parkir seperti ini.

Akhirnya, Simbok pulang dengan hati senang dan perut kenyang, lima porsi sate klatak Pak Pong, dan seporsi tahu tek Cak Kahar, serta beberapa bungkus kecap Bango dan bumbu bacemnya. Nggak cuma saya yang senang, sampai di rumah Mbah Utinya Oliq senang dapat kecap,  Mbah Kakungnya Oliq pun senang dapat oleh-oleh sate klatak.

“Empuk yo daging e!” katanya, padahal giginya tinggal empat saja.

Wooo, Bango bawa rejeki buat semua orang!

Salam dari trio bumil!
Salam dari trio bumil!

 

*Sumber informasi:

Advertisements

4 thoughts on “Festival Jajanan Bango: Dari Bumi Nusantara untuk Bangsa Indonesia”

  1. Rekor memasak Simbok di luar negeri, antara lain sayur lodeh terong di Norwegia, rawon di Jepang (sayangnya dengan bumbu instan), dan pecel di Turki. Doakan ya cita-cita berikutnya tercapai: memasak gudeg di Peru.<<< ini sumpah bikin ngakak mbak 😀

    juara emang bango… di rumah juga sedianya bango, kalo pulang kampung di ambarawa sedianya kecap lele, favorit di ambarawa tuh hahaha…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s