Traveling dengan Anak: Stroller, Baby Carrier, Baby Wrap, atau Jarik?


Sebagai ibu muda yang masih kinyis-kinyis, walau sudah cukup banyak menjejak kota-kota bersama Oliq saya masih sering galau akut kalau mau berangkat traveling. Enaknya bawa stroller atau baby carrier ya? Atau bawa dua-duanya? Strollernya yang mana? Dih ribet. Tapi itu sekitar 1-2 tahun yang lalu, sekarang sih Oliq sudah hampir 4 tahun, jadi pilihannya hanya bawa stroller atau tidak.

Turki menyenangkan bagi anak-anak
Turki menyenangkan bagi anak-anak

Saya tahu kok banyak ibu-ibu yang sama galaunya dengan saya, yang ada akhirnya bawa semuanya. Seluruh perlengkapan balita dibawa sampai-sampai kaya keong bawa rumahnya. Saya pernah dan cukup lama memanfaatkan kain alias jarik. Bahkan dulu sempat dikomentarin beberapa temen yang bilang jarik batik Oliq selalu muncul di setiap foto. Saya juga pengguna stroller, dan kemudian baby carrier yang sebenarnya dibeli agak semi-terpaksa. Baby wrap tampaknya tidak terlalu berjodoh dengan saya. Beli sebelum melahirkan tapi hanya digunakan sebentar saja.

Mari kita bahas bersama kegunaan masing-masing benda khusus ketika traveling.

Stroller alias kereta dorong

Disebut juga baby trolley atau pram, jadi ketika di luar negeri petugas check in mengatakan “pram” itu maksudnya adalah stroller. Di era modern seperti sekarang siapa sih orangtua yang tidak menggunakan  stroller? Kayaknya ini barang wajib banget punya.

Cerita dikit deh tentang stroller Oliq. Sebelum melahirkan udah browsing-browsing McLaren dan Quinny yang katanya tangguh betul plus super keren apa daya kemahalan buat dompet. Stroller Oliq merk Pliko dapat gratisan waktu beli carseat. Walau disangka ringkih, ternyata stroller ini masih bagus sampai sekarang di umur 4 tahun dan sudah menjejak 6 negara. Mungkin karena stroller hanya dipakai untuk travelling saja, sementara kalau jalan-jalan ke mall atau jalan-jalan luar kota tidak pernah bawa karena Oliq sejak umur 2 tahun sudah lari-lari sendiri dan jarang minta gendong.

Stroller gratisan dan jarik yang berubah fungsi jadi syal
Stroller gratisan dan jarik yang berubah fungsi jadi syal

Stroller Oliq ini kecil, sayangnya tidak ringkas ketika dilipat. Pengaturan sandaran juga tidak bagus, tidak ada sandaran tangan, tidak ada pelindung bagian depan. Untung saya bukan termasuk Simbok yang terlalu ribet urusan beginian, jadi tidak terlalu terganggu dengan kondisi stroller gratisan kami.

Sebelum ke Turki saya memutuskan untuk membeli satu stroller lagi, yaitu Coco Latte i-Sport. Ya ampun,  Oliq udah besar kenapa beli stroller lagi? Waktu itu saya mikirnya karena i-Sport lebih ringkas, ringan, kalau tidak dipakai dicangking pun mudah. Sengaja beli untuk jalan-jalan ke Turki. Lagipula, menilik kalau saya sedang hamil, pembelian stroller ini bisa dikatakan investasi untuk adiknya Oliq juga.

Kapan bawa stroller? Kami tidak selalu bawa stroller ketika travelling, ada kalanya bawa gendongan saja. Biasanya bawa stroller ketika kami jalan-jalan ke luar negeri, ke luar kota hampir tidak pernah bawa. Bawa stroller itu secara umum memang memudahkan walau ada kalanya jadi menyusahkan juga, terutama kalau stroller yang dibawa besar dan berat. Misalnya, ketika kami ke Yangon, Myanmar, jalanan tidak stroller-friendly, dan banyak yang tanpa trotoar. Kalaupun ada, trotoarnya bolong-bolong atau dipenuhi pedagang kakilima. Jadinya agak repot.

i-Sport di Topkapi Sarayi
i-Sport di Topkapi Sarayi

Di beberapa negara, ketika kita naik kendaraan umum, bus/kereta tidak wheelchair accessible, artinya tidak ada tempat juga untuk stroller. Selain itu, kadang harus menggotong stroller naik turun tangga karena tidak ada lift.

Stroller paling enak digunakan:

  • Di negara maju karena infrastruktur sudah memadai
  • Kalau anak sudah terlalu berat untuk digendong
  • Liburan lama (lebih dari 2 hari) yang melibatkan banyak jalan kaki
  • Tempat-tempat wisata yang mendukung dan stroller-friendly
  • Liburan musim dingin (bawa serta protector, selimut dan lain-lain)
  • Untuk umroh stroller hampir-hampir tidak berguna karena proses jalan kaki hanya dari hotel ke masjid. Anda hanya butuh stroller kalau memutuskan untuk sa’i dengan stroller. Saya agak lupa apa stroller diizinkan masuk area Ka’bah untuk tawwaf. Kami sih dulu menggendong Oliq untuk tawwaf dan sa’i.

Bila membawa stroller ke pesawat:

  • Tidak ada biaya tambahan/bagasi untuk stroller bayi, walaupun menggunakan maskapai LCC
  • Anda boleh meninggalkan stroller di konter check in (bila bandara kecil dan Anda merasa tidak memerlukan stroller lagi). Anda boleh membawa stroller hingga ke pintu pesawat, cocok bila bandara besar seperti KLIA2.
  • Aturan bandara berbeda-beda, ada yang stroller diberi luggage tag di konter check in, ada yang diberi tag di gate, terakhir saya naik airasia tidak diberi tag sama sekali.
  • Pengambilan stroller pun berbeda-beda. Untuk bandara tanpa garbarata seperti JOG, stroller akan diletakkan di sisi tangga pesawat. Untuk banyak bandara lain, stroller diletakkan di ujung garbarata dekat pintu pesawat (IST, KUL). Di beberapa bandara lain, stroller keluar bersama bagasi (AMS), diletakkan di lost and found (CDG), atau di overweight baggage (KLIA2). *Mungkin berubah sewaktu-waktu sebaiknya Anda tanya petugas bandara
  • Ketika memasuki pemeriksaan x-ray mesin, beberapa bandara mengizinkan kita mendorong strollernya saja (misal: bandara-bandara di Indonesia dan Malaysia), ada yang mengharuskan kita melipat dan memasukkannya dalam mesin x-ray (semua bandara Australia dan Turki, misalnya)

 

Baby carrier atau gendongan bayi

Jenis ini sangat praktis untuk dibawa jalan-jalan, cocok untuk bayi newborn hingga sekitar 12kg. Kelemahannya hanya satu: yang nggendong harus kuat. Kami punya baby carrier hadiah, dulu hanya dipakai sesekali karena Oliq lebih suka memakai jarik. Baby carrier yang kami punya dulu hadiah, kualitasnya pun tidak bagus.

ergobaby cocok untuk simbok yang strong
Ergobaby cocok untuk simbok yang strong

Beberapa hari pertama pindah ke Malaysia, ketika masih tinggal di hotel, saya mengalami kesleo tangan. Waktu itu tidak bawa stroller karena bawaan dari Jogja sudah terlalu banyak. Jarik sudah suwek dan tangan yang kesleo sudah tidak sanggup menahan Oliq, akhirnya saya membeli Ergobaby yang harganya nyaingi tiket PP ke Hong Kong itu! Tapi memang ada harga ada rupa, kualitasnya sangat bagus, sehingga ketika beneran kami ke HK, tidak bawa stroller, hanya bawa Si Ergo. Waktu ke Siem Reap pun demikian, dan gendongan bayi itu sangat berguna ketika kami menjelajah Angkor Wat. Kapasitasnya mencapai 20 kg, dan karena Oliq mungil, masih banyak waktu. Saya bersyukur sih beli Ergo, bisa dipakai adiknya Oliq, tinggal dibelikan baby insert.

Baby carrier paling cocok untuk:

  • Bayi newborn hingga toddler di bawah 12kg.
  • Traveller yang sangat mobile seperti kami
  • Kondisi destinasi yang agak berat, misalnya candi, bukit, trekking, dsb
  • Suhu/iklim tropis, subtropis
  • Melatih anak untuk jalan sendiri karena kalau bawa stroller terus kecenderungannya anak jadi malas

Baby wrap

Saya punya baby wrap dengan merk Sleepywrap yang harganya 500 ribu. Untuk newborn memang nyaman tapi bagi saya cara penggunaannya sangat tidak nyaman. Kalau sudah diikat malas lepas lagi. Akhirnya Si Sleepywrap pensiun dini. Kalau ada yang butuh silakan kontak saya, dijual dengan harga koprol.

Kain batik alias jarik alias selendang

Jarik batik saya cukup jaya, sudah melintas tiga benua, sangat eksis di foto-foto kami. Sejak melahirkan di Jogja, rasanya jadi terbiasa menggendong dengan jarik batik ini. Memang cocok untuk bayi baru lahir. Kelemahan utama bagi saya adalah tidak bisa gantian dengan Puput yang nggak punya pinggang dan sampai terakhir pakai jarik pun tetap nggak bisa gendong Oliq.

Jarik suwek di puncak Gunung Padang
Jarik suwek di puncak Gunung Padang

Di Malaysia, saya sering melihat bayi-bayi digendong dengan jarik, yang kemungkinan besar babysitternya asli Indonesia.

Jarik cocok untuk:

  • Anak bayi baru lahir hingga 1 tahun (lebih dari itu pundaknya sengkleh)
  • Traveling yang santai dan sebentar
  • Biasanya dijadikan komplemen stroller (saya sering pakai untuk selimut, protector stroller)
  • Bisa berguna untuk hal lain juga, misalnya: sajadah, rok, syal

 

 

 

Advertisements

22 thoughts on “Traveling dengan Anak: Stroller, Baby Carrier, Baby Wrap, atau Jarik?”

    1. Sangat friendly. Trotoarnya besar2.Bahkan masuk hagia sophia pun stroller boleh kok. Cuma pas masuk blue mosque ya dilipat. Namanya juga ke masjid. Anak2mu bukannya udah gede? Atau hamil lagi? Entar sleepywrapnya takcariin dulu lupa taruh di mana

      Like

      1. Nggak hamil, tapi kepengen hamil lagi. Biarpun belum positif ya cicil2 dulu ajalah 😀 Oke, gpp mbak cari aja dulu, aku juga ga buru2 amat, masih negaif kok 😀

        Like

  1. Aku bukan simbok-simbok muda yang kinyis, tapi artikel ini berhasil menarik perhatian karena judulnya yang menggelitik (ada pilihan “jarik” laaahhh) 😀

    Tulisanmu lucu, Mbok. Campuran bahasa Jawa itu bikin tulisanmu kocak! Makasih ya buat sarannya 🙂

    Like

  2. makasih mba tips nya, seneng baca2 pengalamannya si mba.
    kalau ke singapore sm malay bawa stroller gimana mba? repot ga kira2 ya? makasih

    Like

  3. Mba, saya mau tanya.. dulu berdasarkan pengalaman mba ke luar negeri, strollernya dimasukin ke check in baggaged atau di bawa masuk ke dalam cabin? Saya insya Allah mau mudik ke indonesia dan masih bingung gimana cara bawa strollernya. apa perlu beli stroller travel bag supaya lebih aman? atau cukup di wrap dengan plastik yang mesinnya tersedia di bandara itu? dan jadi untuk stroller tdk dimasukkan ke dalam timbangan baggage ya? saya simpulkan gitu berdasarkan tulisan di atas. trimakasih mba sblmnya..

    Like

      1. Ga udah pake apa2 lagi. Dilipet n ditinggal aja di depan pintu pswt. Nanti diurus sama staf. Biasanya dimasukkan bagasi pesawat paling luar (tapi tdk dianggap checked in baggage)

        Like

  4. Manfaat sekali artikel nya mba,buat mahmud yg mau travelling bawa anak.. 😘

    btw..di foto yang naik stroller isport..oliq nya tidur posisi nya cape kayaknya.hihi

    Disitu saya ragu..mau bawa stroller yg cuma bisa posisi duduk,atau sewa stroller yg bs posisi tidur

    Menurut mba gmn?
    Rencana sih trip kul-sin
    Anakku berat nya 14kg

    Like

    1. Kalo aku tetep prefer yg ringkas. Oliq punya yg agak gedean tapi justru beli isport buat ola kalo jalan2. Oliq dah ga pake stroller. Ola 7 bulan pun udah pake isport. Ringan kalo emg harus dilipat. Klo Sin KL menurutku ga masalah. Isport oliq sampai oz juga. Masalah cuma kalo di negara2 dingin aja sih atau negara yg byk cobblestone

      Like

  5. Mba,saya mau ke Turki berdua saja dg anak saya usia 1,5thn. Menurut mba stroller penting jg atau baby carrier aja udh cukup. Apa membawa stroller (pliko) malah bs merepotkan saya nntinya?
    Trmksh bnyk.

    Like

    1. Kalau menurut saya penting, apalagi sendirian ga ada gantian gendong. Turki stroller friendly bahkan hagia sophia pun nyaman pake stroller. Pedestriannya juga besar2. Pokoknya pake yg ringkas aja in case anaknya ngambek minta digendong, gampang jinjing strollernya

      Like

  6. asalamuallaikum mbak salam kenal, mbak mau tanya ergobaby nya yang tipe apa ya mbak. aku baca baca kok banyak banget ya mamcamnya. kalau buat umroh berarti better pakai ergo dan jarik aja ya mbak
    thanks

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s