Ibu Hamil Tukang Ngelayap


Diary of A Pregnant Traveler (Part 2)

Ibu hamil tukang ngelayap. Gelar itu sudah resmi saya sandang sejak hamil pertama pada tahun 2010 lalu. Kalau dipikir-pikir memang waktu itu cukup banyak acara traveling, tapi rasanya terlalu berlebihan wong saya selama hamil paling cuma jalan-jalan satu atau dua kali sebulan ke luar kota dan hanya tiga kali ke luar negeri.

Waktu itu memang yang agak dahsyat adalah ketika saya sama suami saya, Puput, backpacking ke India ketika kehamilan 4,5 bulan. Dan yang paling heboh karena di Taj Mahal sempat ditangkap polisi dan lalu terdampar semalaman di stasiun kereta yang joroknya tiada banding. Cerita lengkapnya di sini.

Ah tapi itu masa lalu. Hamil ke dua ini agak lebih hati-hati. Maklum, selain karena hamil, umur yang udah tambah tua (#hakdesh), juga kerena ke mana-mana harus bawa Oliq (3,5 tahun).  Tapi, hati-hati bukan berarti kami berhenti traveling wekekekekeke.

Ternyata waktu pose begini di Repulse Bay Hong Kong udah hamil muda
Ternyata waktu pose begini di Repulse Bay Hong Kong udah hamil muda

Sebenarnya, kami baru tahu kalau saya hamil pada bulan Oktober 2014. Waktu itu sepertinya sudah sekitar 2 bulan. Baru deh terpikir, “Jadi waktu ke Hong Kong dan Makau sudah hamil dong?” Padahal, waktu itu sempat ada tragedi nggak makan seharian di Makau gara-gara tidak menemukan makanan halal. Seharian cuma makan roti tawar dan susu saja. Setelah itu harus lari-lari sambil gendong Oliq mengejar waktu tutup restoran halal di Islamic Center di Causeway Bay, Hong Kong. Alhamdulillah, jabang bayi kuat!

Sepulang dari Hong Kong dan tahu bahwa saya sudah hamil, keinginan jalan-jalan agak direm sedikit. Hamil muda harus hati-hati kan? Selain itu kondisi dompet juga harus dipulihkan lebih dulu. Makanya, pada bulan November, ketika kehamilan memasuki 3 bulan, kami hanya ke Jogja setor cucu buat simbah-simbahnya. Selain itu, karena tinggal di Kuala Lumpur, kami cuma pusing-pusing ke KL Bird Park, Ipoh yang ditempuh dengan mobil selama 3 jam perjalanan, serta Putrajaya – yang hanya sepelemparan batu.

"Aik sayang adik!" kata Oliq di Kellie's Castle, Ipoh
“Aik sayang adik!” kata Oliq di Kellie’s Castle, Ipoh

Bulan Desember kami sempat ke Bagan Lalang, sebuah pantai kecil tidak jauh dari Bandara KLIA. Waktu itu nggak nginep sih, yang penting Oliq senang saja main-main pasir di pantai.

Petualangan berikutnya, masih dengan kandungan berusia 3 bulan adalah road trip nekat ke Kuala Terengganu. Kenapa nekat kan cuma sekitar 6 jam perjalanan? Karena waktu itu Malaysia sedang dilanda banjir besar yang dikatakan sebagai banjir terparah selama 26 tahun terakhir! Duh biyung, piye iki?

Kuala Terengganu, Malaysia
Kuala Terengganu, Malaysia

“Udah nggak jadi aja!” kata Delin, adik saya waktu saya bilang mau menembus banjir ke Kuala Terengganu. Saya dan Puput sempat galau juga sih, gimana ini kalau lagi hamil-hamil kejebak banjir di jalan. Sayangnya, namanya traveler kere, udah booking hotel yang tidak bisa direfund, eman-eman kalau uangnya hilang. Setelah konsultasi lewat Twitter dengan akun Dinas Perhubungan-nya Malaysia, akhirnya kami nekat berangkat karena kabarnya jalan tol Kuala Lumpur hingga Terengganu masih tidak terkena banjir. Nyatanya, perjalanan agak molor 1-2 jam karena terkena banjir di dua titik dan kemacetan mengular.  Tapi kami sukses sampai Kuala Terengganu tanpa halangan lain yang berarti.

Pulangnya benar-benar penuh petualangan. Karena masih punya sisa libur satu hari, Puput bilang kami akan melakukan pit stop di Gambang City – sebuah resor yang sebenarnya hanya 2 jam perjalanan dari Kuala Lumpur. Setelah puas main di kebun binatang mini kami kembali ke hotel dan mendapati kabar buruk: jalan tol menuju ke Kuala Lumpur kebanjiran!!! Dueeeeeng. Berangkat tidur cuma bisa berdoa besok banjir sudah surut. Bangun tidur langsung ngecek Twitter dan mendapati jalan tol ditutup total.

Liburan yang manis agak berakhir tragis. Kami menuju ke Kuala Lumpur melalui jalan alternatif yang disarankan. Seharusnya bisa sampai di rumah dalam waktu dua jam saja, nyatanya kami harus memutari empat negara bagian di Malaysia dan butuh waktu selama 10 jam perjalanan. Untungnya, adik bayi di perut tidak rewel, Oliq pun tidak sangat rewel walau terlihat bosan karena terlalu lama di dalam mobil dan sempat mengalami macet panjang.

Dasar ibu hamil tukang ngelayap!

Berfoto do Shwedagon, lelah pun terbayar
Berfoto do Shwedagon, lelah pun terbayar
Pose di Danau Kandawgyi
Pose di Danau Kandawgyi

Tahun Baru adalah juga hari ulang tahun saya, jadi kami merencanakan liburan yang agak istimewa. Khusus buat saya ini sangat istimewa karena liburan ke Myanmar kali ini juga berarti akhirnya saya berhasil menamatkan seluruh negara ASEAN yang sempat tertunda 5 tahun. Yay, travelling family ke Yangon! Di sana kami sangat menikmati kunjungan ke pagoda-pagoda. Shwedagon, pagoda paling penting di Myanmar memang luar biasa menakjubkan. Sekelilingnya bersih, rapi, nyaman untuk anak-anak dan ibu hamil. Tidak terasa pagoda-hopping selama 5 jam berjalan kaki pun masih sanggup dilakukan ibu hamil 5 bulan ini *pijat-pijat kaki dan bokong*

Kembali gelar ibu hamil tukang ngelayap tersemat rapi di dada. Bukannya kalau hamil lebih baik di rumah saja? Enggak bahaya tuh naik pesawat? Kalau kenapa-kenapa di jalan gimana? Alhamdulillah sejak awal kehamilan saya memang tidak mengalami yang namanya morning sickness. Dan selama perjalanan – walau masih tetap minum kopi – asupan buah dan sayur juga dijaga.

Februari adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Kami akan ke Turki, salah satu negara dalam bucket list selama bertahun-tahun. Perjalanan 12 jam dari Kuala Lumpur ke Istanbul dilalui dengan sukses walaupun punggung sudah pegal. Maklum, perut sudah membuncit dan masih harus memangku kepala Oliq yang tidurnya telentang di kursi pesawat.

Istanbul yang seru
Istanbul yang seru

Petualangan kami di Turki sungguh luar biasa. Terima kasih Tuhan, keluarga kecil kami sudah bisa mengunjungi Hagia Sophia, sudah dapat shalat di Blue Mosque, sudah dapat pengalaman menyeberang benua dalam sehari, sudah dapat menikmati mahakarya nenek moyang masa lampau – walaupun berada di negeri yang jauh.

Finally Hagia Sophia!
Finally Hagia Sophia!

Tidak hanya Istanbul, kami juga terbang ke Cappadocia, sebuah tempat yang hampir-hampir tidak terasa nyata. Lanskapnya seperti planet Mars, dengan formasi batu-batu yang tidak ada duanya di dunia. Gunung batu dipahat menjadi rumah-rumah, hotel-hotel cantik, rumah ibadah. Di Cappadocia kami benar-benar memanjakan mata menyaksikan ciptaanNya.

Ibu hamil di Pasabag, Cappadocia
Ibu hamil di Pasabag, Cappadocia

Bagi keluarga kami, mengenalkan anak dengan dunia luar itu sangat penting. Bahkan, kalau bisa, pengenalan dilakukan sejak dalam rahim. Bayi mungkin tidak ingat detail yang dialami, tapi kami yakin ia dapat merekam pengalaman berpetualang yang pasti sangat bermanfaat di kemudian hari. Dasar keluarga penggemar travelling!!!

Boleh saja kan jalan-jalan terus? Buat saya syarat ibu hamil bisa jalan-jalan hanya 2: sehat dan niat. Kalau memang kondisi fisik mengizinkan, kenapa harus berhenti melakukan hobi hanya karena hamil?

Ternyata perjalanan ke Turki harus menjadi perjalanan panjang terakhir kami karena bokek luar biasa hahahahaa. Eh, beneran ini! Akhirnya, pada akhir Maret kami cuma liburan singkat ke Johor Bahru di bagian selatan Malaysia. Niat hati mau nyeberang ke Singapura, tapi paspor ketinggalan. DUENGGG!!!

Bulan Maret dan April kami hanya jalan-jalan ke Langkawi, sebuah pulau cantik di pesisir barat Malaysia – sekitar satu jam penerbangan dari Kuala Lumpur. Saya dan Puput pernah mengunjunginya delapan tahun yang lalu dan hingga kini masih tetap suka, Cocok banget buat yang  bawa anak kerana pantai-pantainya bersih dan cantik.

Akhir April ini, saya terbang ke Jogja dengan perut sudah sangat buncit – usia kehamilan mencapai 33 minggu. “Besarnyeee!” komentar petugas maskapai melihat perut saya.

“Entar beberapa bulan juga langsing lagi,” batin saya. Berharap. Semoga benar, Ya Allah.

Untuk usia kehamilan di atas 28 minggu, ibu hamil harus  menyertakan surat layak terbang dari dokter (fit to travel certificate). Di bandara, saya tinggal memperlihatkan surat tersebut dan menandatangani formulir dari maskapai. Isinya? Intinya mereka tidak akan bertanggung jawab bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama dalam pesawat.

Sekarang saya mengetik tulisan ini, di Jogja, dengan perut yang sudah sangat buncit membuat saya kesulitan memangku laptop. Punggung pun sudah sangat pegal kalau duduk terlalu lama. “Ikan paus kesayangan,” kata Puput, suami saya.

Insya Allah, saya akan melahirkan bulan depan. Tapi sebelum melahirkan masih ada satu keinginan yang belum dipenuhi: booking tiket untuk liburan keluarga berempat ketika adik bayi sudah lahir.

Sudah pantas belum dijuluki Ibu Hamil Tukang Ngelayap?

***

Diary of a Pregnant Traveller (Part 2) ini mengisahkan perjalanan-perjalanan yang saya lakukan ketika mengandung Ola (nama panjang ditentukan nanti bila sudah lahir). Diary of A Pregnant Traveller (Part 1) yang mengisahkan perjalanan-perjalanan saya ketika hamil Oliq dapat dilihat di sini. Saya hanya ingin berbagi bahwa nyatanya ibu hamil pun masih dapat melakukan travelling, tentu saja, sehat adalah syarat mutlak. Selain itu, destinasi dan itinerary pun harus disesuaikan dengan kondisi kehamilan agar jalan-jalan tetap nyaman walau perut sudah bawa buntelan.

Tulisan ini juga disertakan dalam lomba yang diadakan oleh NUK Indonesia dengan judul #PregnancyStory. Maaf saja kalau ceritanya tentang traveling, maklum Ibu Hamil Tukang Ngelayap.

Advertisements

9 thoughts on “Ibu Hamil Tukang Ngelayap”

  1. Salam buat jabang bayi keduamu, Mbok, semoga lahir dengan sehat, dan Simboknya yang keren banget ini supaya selamat juga menjalani semua prosesnya. Setuju, selama ada niat dan ada kesehatan, seberapa jauh perjalanan pun tetap bisa dijajal. Salut!
    Ditunggu cerita-cerita perjalanan dengan anggota keluarga barunya, Mbok!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s