Kisah Perjalanan Arem-Arem ke Benua Biru


Punya perut khas Indonesia ini ada suka dukanya. Sukanya, kalau sedang melakukan jelajah kuliner di berbagai sudut nusantara, tidak bakalan tidak puas. Makanan tradisional mulai dari yang sudah sangat umum hingga makanan-makanan langka yang tidak terlalu dikenal.

Dukanya? Walaupun saya dan suami termasuk pemakan segala, Oliq (3,5 tahun) adalah pecinta nasi sejati. Anak kami ini pun lebih suka masakan yang sangat Indonesia sebagai lauknya, misalnya rawon, brongkos, lodeh, tahu tempe, dan sebagainya. Tidak masalah sih bila sedang di rumah karena saya juga termasuk simbok yang suka memasak, dan selera Indonesia memang yang paling pas. Tapi, karena kami termasuk keluarga yang sering travelling ke luar negeri,harus ada strategi tertentu supaya liburan tetap senang dan perut tetap kenyang!

Walaupun tiap traveling selalu berusaha melakukan #JelajahRasa makanan setempat, tetap saja lama-lama lidah dan perut nggak bisa bohong!SAMSUNG CAMERA PICTURES

Salah satu cara paling efisien bagi kami ketika melakukan liburan keluarga ke luar negeri adalah dengan menginap di apartemen yang menyediakan dapur atau kitchenette (dapur kecil). Ini hanya berlaku bila liburan kami ke negara yang dirasa sulit untuk menemukan makanan yang cocok di lidah dan perut. Kalau untuk negara-negara Asia Tenggara di mana nasi mudah didapat, tidak masalah jajan di warung. Beda ceritanya bila kami harus ke Eropa, pasti peralatan perang seperti rice cooker, bumbu instan, abon, sambal botol masuk ke koper pertama kali.

“Mama, Aik lapel, mau maem naci,” bayangkan kalau lagi di negeri antah berantah dan tidak bawa rice cooker.

***

Alkisah (ciyeee), bulan Februari lalu kami hendak ke Turki selama sekitar seminggu. Perjalanan ini memang sudah direncanakan cukup lama, sebagai perjalanan panjang terakhir sebelum saya melahirkan anak ke dua.

Bisa terbayang dong, perjalanan panjang ke benua lain yang sedang mengalami puncak musim dingin. Hamil pula! Pasti kelaparan terus di sana. Perjalanan dengan pesawat terbang ditempuh sekitar 12 jam menuju ke Bandara International Ataturk di Istanbul. Menurut jadwal, kami akan tiba sekitar Subuh di bandara. Langsung terbayang urusan perut.

“Duh, ada restoran yang sudah buka belum, ya?”

“Ada yang jual nasi tidak?”

“Restoran di bandara kalau ada pasti mahal!”

Memang saya sudah memasukkan rice cooker, beras satu plastik, abon, dan beberapa bumbu dasar Koepoe Koepoe di dalam koper. Tapi, kami baru bisa check-in di apartemen yang kami sewa agak siang. Waduh, kalau harus terlantar di Istanbul pada musim dingin dengan perut kosong sepertinya merana banget. Saya juga tidak mau mengulangi penderitaan terdampar di India pada musim dingin waktu hamil Oliq dulu.

Langsung saya putar otak. “Kayanya harus bawa bekal nasi,” batin saya. Sebelum berangkat pun saya sudah melakukan survey kecil-kecilan mengenai Turki. Dan seperti yang sudah saya duga, makanan utama di sana adalah roti yang disebut simit. Roti ini banyak dijual di pinggir jalan, bentuknya agak pipih, rasanya hambar, dan teksturnya keras. Nggak mungkin Oliq doyan!

Simit, roti khas Turki
Simit, roti khas Turki

Setelah mikir-mikir akhirnya saya menemukan ide (yang saya anggap brilian waktu itu huehehehehe). Kenapa nggak bikin arem-arem aja? Kalau bawa nasi takutnya basi dan setelah tergoncang-goncang selama 12 jam di pesawat pasti bentuknya sudah tidak menerbitkan selera. Kalau arem-arem kan simple karena dibungkus satu per satu, nasi dan lauk sudah menjadi satu, mudah dimakan, enak, dan mengenyangkan.

Apa sih arem-arem itu? Di beberapa daerah arem-arem ini dikenal dengan nama lontong isi. Memang, bentuknya seperti lontong, tapi dalamnya ada isinya. Isinya pun bisa disesuaikan dengan kesukaan kita, beberapa jenis isian yang paling umum menggunakan ayam, daging, tahu, tempe, serta kentang.

Hmmmmm jadi lapar nih….

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sudah menyiapkan bahan arem-arem. Salah satu yang paling krusial adalah daun pisang. Sebenarnya daun pisang kluthuk adalah yang tepat karena tekstur yang lemas mudah dibentuk namun tidak mudah sobek. Selain itu, daun pisang kluthuk dapat membuat lontong/arem-arem berwarna kehijauan alami. Sayangnya, di pasar daerah rumah sulit menemukan daun pisang kluthuk, asal daun pisang saja sudah oke.

Nah, untuk isian, kebetulan di kulkas masih punya ati ampela dan tahu putih, jadi rencananya itu saja, nggak usah repot-repot. Tapi masak nggak ada sayurnya sih? Kebetulan Oliq penggemar wortel, jadi saya bisa sertakan potongan kecil wortel. Untuk bapak dan simboknya akan dibuat versi pedas.

Arem-arem
Arem-arem

Begini nih resep arem-arem sederhana ala Simbok:

Resep Arem-Arem a la Simbok

2 cangkir beras

1 cangkir santan encer

1 sendok teh garam

3 cangkir air

Beras ditanak (boleh menggunakan rice cooker, boleh diaron) hingga matang. Saya menggunakan rice cooker dan hasil nasinya lembek tapi masih dapat dibentuk. Sesuai dengan yang saya harapkan.

Sementara menanak nasi, kita buat isiannya:

4 pasang ati ampela, iris kotak kecil

2 buah tahu putih, iris kotak kecil

1 buah wortel, rajang kecil-kecil atau boleh juga diparut

4 siung bawang merah

3 siung bawang putih

merica bubuk Koepoe Koepoe secukupnya (sedikit saja bila ada balita yang masih tidak doyan pedas)

½ sendok teh ketumbar bubuk Koepoe Koepoe

2 butir kemiri

1 batang sereh, digeprek

½ cangkir santan

gula pasir secukupnya

cabe rawit iris tipis untuk versi yang pedas

Minyak untuk menumis bumbu

Cara membuat isian:

Haluskan semua bumbu (bawang merah, bawang putih, merica, ketumbar, kemiri, garam, sereh), tumis hingga menimbulkan bau harum. Masukkan potongan kecil ati ampela, tahu, dan wortel, aduk rata. Tuangkan santan. Masukkan gula pasir secukupnya. Masak hingga santan menyusut. Cicipi untuk memastikan asin dan manisnya sesuai selera Anda. Bila air sudah surut, angkat sebagian isian. Sebagian lagi dimasak dicampur dengan potongan cabe rawit yang sudah dipersiapkan. Tidak perlu terlalu lama karena nanti cabe akan masak ketika dikukus.

Potong lembaran daun pisang lebar-lebar untuk membungkus arem-arem. Jangan lupa, lap dengan kain basah agar daun bersih dari kotoran.

Ambil satu centong kecil nasi yang sudah matang dan letakkan di atas daun. Penyet-penyet menggunakan sisi daun yang lain agar nasi kempal, tidak buyar. Letakkan isian, kira-kira satu sendok makan penuh di bagian tengah. Pastikan nasi membungkus semua isian dengan baik agar tidak ambrol. Gunakan ujung-ujung daun untuk merapikan bentuk arem-arem, tekan-tekan agar padat. Semat ujung-ujungnya dengan lidi atau tusuk gigi.

Kukus kira-kira 30 menit. Kukus lebih lama bila (seperti kami) hendak dibawa bepergian jauh agar arem-arem tidak cepat basi.

Arem-arem siap terbang ke Eropa.

Duuuuh, orang lain mah sibk belanja-belanji kostum musim dingin buat liburan ke Eropa, Simbok malah sibuk di dapur bikin arem-arem.

Oliq bukannya bantu malah sibuk nyobek-nyobekin daun pisang. Duh le, di sini mahal e harganya…

***

Tapi, perjuangan pun belum selesai. Ada dua masalah yang waktu itu saya pikirkan. Pertama, takut arem-aremnya basi sampai di sana. Ke dua, bakal disita nggak nih sama imigrasi Istanbul? Karena rencananya arem-arem akan dimasukkan ke ransel, bukan di dalam koper yang masuk bagasi.

Ya sudahlah, berdoa saja semoga arem-arem selamat sampai di tujuan. Aaaamiiin.

Siang hari, proses membuat bekal arem-arem sudah selesai. Tinggal berbagai panci, wajan, mangkok yang menggeletak di bak cuci piring. DUHHH!

Menjelang malam kami berangkat menuju bandara. Seperti biasa, bawaan selalu minimalis, hanya satu koper agak besar (yang di dalamnya sudah ada rice cooker, beras, dan bahan makanan), satu tas cangklong, dan satu tas kamera. Sip, off we go.

Setelah check-in, di Bandara KLIA, saya mulai deg-degan mencangklong tas berisi arem-arem. Lalu memikirkan scenario jawaban bila ditanya, “These are rice cakes with filings. Indonesian traditional food. Very delicious.” *macak Duta Kuliner Indonesia* Haishhh.

Alhamdulillah, lolos sampai ke gate tanpa ditanyai (mungkin karena penampilan saya sangat meyakinkan). Kami menunggu pesawat Turkish Airlines yang akan membawa kami ke Istanbul.

Di pesawat, disediakan pilihan makanan Eropa dan Asia, saya pilih Eropa dan ternyata memang enak. “Yang ini hambar,” kata Puput, suami saya yang memilih makanan Asia. Kabarnya memang demikian, walaupun budaya Turki campuran Asia dan Eropa, masakannya cenderung hambar.

“Untung bawa bumbu lengkap,” pikir saya.

Standar kids menu di pesawat adalah telur, makanan yang paling tidak disukai Oliq. “Don’t worry, baby, Simbok is always ready!”

Oliq dan arem-arem yang marem
Oliq dan arem-arem yang marem

Kami tiba di Bandara Ataturk Istanbul pagi hari. Di luar masih gelap-gulita. Dingin sekali, suhu kira-kira antara 5 hingga 10 derajat Celcius. Saya kembali deg-degan ketika menghadapi pemeriksaan custom. Ternyata tas hanya masuk ke mesin x-ray tanpa digeledah.

Alhamdulillah, Bapak, Ibuk, arem-aremku tekan Turki!

Untuk mencapai apartemen yang sudah kami sewa, kami harus naik Metro dari bandara ke Stasiun Aksaray, disambung dengan trem ke Grand Bazaar. Bisa ditebak dong ibu hamil langsing kelaparan karena harus jalan sambil dorong stroller Oliq. Sementara Puput berjibaku dengan koper.

Di dekat Stasiun Aksaray, kami istirahat di sebuah taman. Banyak kucing lucu. Perut sudah keroncongan. Untung bawa bekal arem-arem. Walaupun sudah dingin, ternyata sama sekali belum basi, masih enak dan cocok benar untuk cuaca dingin. Hampir mbrebes mili saking senangnya bisa makan arem-arem di Istanbul #CurhatanRasa. Kenyaaaaaang!!!!

Makan arem-arem lahap di taman Aksaray
Makan arem-arem lahap di taman Aksaray
Laporan di FB, eh ternyata ada yg bikin hestek #SaveAremArem
Laporan di FB, eh ternyata ada yg bikin hestek #SaveAremArem

***

Tahu nggak bahwa Koepoe Koepoe ini ada sejak tahun 1942? Wuiiih, lebih tua daripada simbah-simbahnya Oliq. Lebih tua daripada Indonesia Raya! Produk Koepoe Koepoe pun bermacam-macam, mulai dari bumbu-bumbu, pewarna makanan, bahan pembuat kue, dan saus serta sambal di bawah merk Dua Belibis (iyak, tepat, yang sambalnya enak banget itu!)

Berbagai bumbu Koepoe Koepoe mejeng di dapur
Berbagai bumbu Koepoe Koepoe mejeng di dapur

Karena saya hobinya memasak makanan tradisional, dan cenderung jarang membuat kue, yang jadi andalan adalah bumbu-bumbu Koepoe Koepoe semacam ketumbar, lada, jinten, dan sebagainya. Kalau sedang di rumah, mungkin mudah mencari rempah-rempah khas Indonesia. Tapi kalau sedang di luar negeri, bumbu Indonesia itu seperti harta karun berharga!

Dulu waktu sekolah di Australia, rela banget jauh-jauh ke toko Indonesia demi membeli bumbu-bumbu Indonesia. Tidak masalah kalau harganya lebih mahal daripada sebatang besar cokelat merk terkenal.

Sekarang, walaupun mudah menemukan rempah-rempah Indonesia di Malaysia, saya selalu sedia bumbu-bumbu botol, terutama untuk bekal kalau sedang travelling ke luar negeri. Gila, travelling mau masak sendiri? Hehehe, biar hemat dan pasti halal, lebih enak masak sendiri. Tipsnya ada di sini.

Ketika di Turki, saya sempat belanja di pasar untuk beli sayur, ikan, buah. Masaknya yang sederhana saja asal halal, sehat, hemat, dan mengenyangkan.

Masak sendiri saat traveling, siapa takut?
Masak sendiri saat traveling, siapa takut?

Di Malaysia, cukup mudah menemukan Koepoe Koepoe karena ada beberapa distributor resmi. Dan tampaknya produk Koepoe Koepoe juga banyak digunakan oleh orang asli Malaysia untuk membuat kue.

Koepoe Koepoe dijual lewat Amazon
Koepoe Koepoe dijual lewat Amazon

Hebatnya lagi, ternyata produk Koepoe Koepoe juga dapat dibeli di Eropa. Salah satunya lewat http://pasarindonesia.ch. Jadi bagi yang berada di Eropa, masih bisa membeli produk Indonesia dengan mudah yang dijamin kehalalannya. Dan ternyata Koepoe Koepoe juga dijual lewat Amazon.com! Wuiih tambah suka deh para emak-emak Indonesia di luar negeri sana.

Ini #CurhatanRasa-ku, mana #CurhatanRasa-mu?

Advertisements

13 thoughts on “Kisah Perjalanan Arem-Arem ke Benua Biru”

  1. Wuahh bumbune bisa dibeli lewat online juga ya meski posisi nggak di Indonesia. Btw kolom kartune gambar terakhir kudune ditambahi buat Aik, “Duhh mak, posemu…” 😛
    Good luck, semoga menang mbak e.

    Like

  2. Alamak, arem-arem juga bisa go international ya Mbok. Keren!
    Paling pol memang masak sendiri ya Mbok, apalagi kalau Simboknya pintar masak begini, dijamin urusan perut itu kekhawatiran nomor sekian bagi anak dan suami, meski buat sang istri, tetep… :hihi.
    Good luck buat kompetisinya!

    Like

  3. Rajinnyaaaa, aku gak kebayang kalau harus bawa rice cooker segala. Lha wong apa-apa pengennya compact kalau traveling, ini malah bawa rice cooker. Saluuut!

    Aku kok cuma taunya produk Koepoe-koepoe ini cuma lada putih dan hitam aja ya? hehehe

    Mbok, aku mbok dimasakke arem-arem nak mertamu yooooo

    Like

    1. Segalanya akan berubah begitu kamu punya anak. Dan kamu akan rela mmenggeret2 koper karena tahu kebahagiaan istrimu tergantung pada mau makan ga anaknya. Ahhahaha

      Aku pindah jogja yuk taktraktir lotek wae

      Like

      1. Kayaknya sih begitu ya, pastinya hehehe. Btw udah pindah Jogja nya atau gimana? Update posisi terakhir dong, ntar janjian traktiran biar gampang 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s