Traveling ke Luar Negeri Tidak Nasionalis?


Terlalu sering saya dicurhati oleh teman-teman sesama traveller yang mengatakan bahwa mereka dicela oleh teman-teman mereka sendiri karena sering jalan-jalan ke luar negeri. Dibilang tidak nasionalis lah, tidak cinta Indonesia, dan sebagainya. Terus terang saja, saya sering menulis cerita perjalanan luar negeri untuk Yahoo dan media lain. Saya cermati, sering ada komentar yang mengatakan “Indonesia punya pantai yang lebih bagus dari itu, ngapain jauh-jauh ke luar negeri,” dan semacamnya. Seolah-olah kalau kita tinggal di negeri yang indah, terus kita tidak punya hak untuk berkunjung ke tempat lain yang dianggap “kurang indah”.

Di Indonesia, apa ada kubah yang sedemikan fenomenal?
Di Indonesia, apa ada kubah yang sedemikan fenomenal?

Beberapa tahun lalu saya sempat terperangah ketika saya iseng mengatakan ingin melihat Angkor Wat di Kamboja pada salah seorang teman. Teman–yang saya anggap wawasannya luas ini–malah bilang seperti ini, “Halah, lebih bagus Borobudur! Ngapain mahal-mahal ke sana.” Bagi saya ini aneh karena, pertama, dia belum pernah ke Angkor Wat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana peninggalan sejarah tersebut. Kedua, saya tahu Borobudur itu luar biasa indah, lantas apa tidak boleh saya melihat candi-candi lain, di Indonesia maupun di luar negeri? Ketiga, indah itu relatif. Misalnya, seseorang mungkin beranggapan bahwa pantai-pantai di Lombok sangat indah, yang lain mungkin menganggap pantai di Sumbawa lebih oke, yang lain lagi lebih suka pantai di Thailand selatan. Pendapat semuanya sah, bukan?

Ada yang pernah bilang tidak akan ke luar negeri sebelum menjelajah seluruh pulau di Indonesia. Tentu saja itu hak Anda. Bagus tentunya untuk bisa menjelajah Indonesia dan keragaman alam serta budayanya. Tapi, bukan berarti lantas melabeli mereka yang suka wisata ke luar negeri sebagai “tidak nasionalis” atau “tidak cinta Indonesia”.

Ada banyak faktor mengapa seseorang memilih untuk travelling ke luar negeri. Salah satunya adalah akses yang semakin mudah dan murah dengan adanya berbagai rute penerbangan murah. Alasan lain mungkin orang tersebut ingin mendapatkan pengalaman berkunjung ke suatu tempat yang adat istiadatnya sangat berbeda dengan tempat asalnya. Alasannya lain mungkin karena ingin saja. Ya, bisa sesederhana itu. Bukan berarti lantas tidak nasionalis.

Apa nasionalisme seseorang diukur dari banyak sedikitnya cap di paspor?

Saya melihat kebanyakan teman saya (yang memang sebagian besar adalah traveller dan travel blogger) berkunjung ke negara-negara tetangga terutama karena adanya kesempatan. Selain itu biayanya relatif murah, kadang tiket penerbangannya lebih murah daripada penerbangan domestik Indonesia.

Banyak di antara mereka yang mengakui ingin berkunjung ke suatu negara karena memang ada yang dituju. Misalnya, ingin melihat sendiri Taj Mahal di India atau ingin merasakan sensasi menyeberang di Shibuya Crossing di Tokyo. Jadi, mereka tidak lagi hanya melihat di TV atau membaca buku, namun dapat merasakan sendiri. Ingat, pengalaman itu seringkali lebih berharga daripada uang.

Lalu, kembali ke masalah nasionalisme tadi, apa benar mereka ini tidak nasionalis? Kebetulan teman-teman yang sering travelling ke luar negeri ini ternyata juga mereka yang sudah sangat fasih berkelana di Indonesia. Derawan, Kakaban, Komodo, Pulau Weh, bahkan sampai Raja Ampat sudah pernah didatangi. Banyak pula yang sudah pernah mendaki Semeru, Kerinci, maupun Rinjani. Ada pula yang sudah blusukan museum ke museum di berbagai kota kecil di Indonesia. Banyak juga yang hafal khazanah kuliner nusantara ini. Lalu, mereka promosikan kekayaan Indonesia tersebut melalui tulisan dan foto.

Berkebalikan dengan yang banyak didengungkan, saya berpikir Indonesia itu bukan surga. Tidaklah tepat untuk menyatakan demikian. Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang alamnya sangat indah dan kaya beragam budaya. Sayangnya, kadang orang-orangnya sendiri yang gagal menjaga dan melestarikan kekayaan alam Indonesia ini. Pantai yang indah dengan pasir putih ternoda oleh botol-botol minuman yang ditinggalkan begitu saja. Di sela-sela stupa candi, ada bungkus plastik makanan ringan. Bahkan, di puncak gunung–yang katanya pendakinya adalah pecinta alam–pun mengalami masalah sampah. Surganya di mana?

Kalau saya berkata seperti ini, apa kemudian saya tidak cinta Indonesia? Salah besar. Sejauh saya melangkah ke beberapa benua, belum pernah saya mendapati negara yang alamnya seindah Indonesia. Tapi, seindah-indahnya pantai di Belitung yang saya sangat sukai, saya tetap menikmati kunjungan ke pulau-pulau di Thailand. Walaupun saya ini penggemar tempe garis keras, saya menikmati makan nasi kerabu khas Kelantan di Malaysia. Saya agak malu sih mengakui bahwa saya belum pernah naik ke puncak Monas, padahal saya pernah sampai puncak Menara Eiffel dan Tokyo Skytree.

Indonesia bukan surga, tapi keindahan alamnya luar biasa. Karena itu, mari kita jaga bersama.Jangan mengaku cinta Indonesia kalau masih tega membuang sampah sembarangan.

Sekali lagi, saya merasa kegemaran jalan-jalan ke luar negeri tidak ada hubungannya dengan menipisnya nasionalisme. Jangan mau jadi katak dalam tempurung. Lagipula, kalau tidak pernah melihat tempat lain rasanya lebih sulit menikmati keindahan negeri sendiri karena tidak ada pembandingnya.

Mereka yang sering bepergian ke luar negeri itu juga berperan dalam mempromosikan wisata Indonesia ke luar negeri. Banyak teman-teman yang sengaja membawa foto, informasi tentang Indonesia yang mereka sebarkan kepada para pejalan yang mereka temui di manapun.  Saya tidak akan lupa betapa senang saya ketika bertemu dengan orang lokal di Norwegia yang mengatakan bahwa saya adalah orang Indonesia pertama yang ditemuinya. Ia lalu bertanya ini itu kepada saya. Ketika travelling, kadang kebahagiaan itu datangnya dengan cara yang sederhana.

Selamat bertualang!

Advertisements

19 thoughts on “Traveling ke Luar Negeri Tidak Nasionalis?”

  1. Nah! Saya suka sekali dengan posting ini… kalo boleh jujur sih, kita ini sering keberatan (terlalu berat maksudnya) dengan segala kehebatan yang didengung-dengungkan seakan tiada bandingannya… walaupun pada akhirnya, saya juga tidak ingin membanding-bandingkan, karena memang selalu tidak apple to apple. Kecintaan saya pada Borobudur tidak bisa mengubah rasa bahwa saya selalu merasa at home di Angkor. Hati saya ada disana juga.

    Like

    1. Hooh demikian. Dumeh Indonesia ini udah cantik banget moso ga boleh liat negara lain. Iki efek mudik jogja besok aku ga iso bhs indonesia yg bener

      Liked by 1 person

  2. Mau ke mana pun, bagi saya yang penting bisa dapat kesempatan bertualang. Tidaklah pada tempatnya bagi semua orang untuk men-judge tujuan bepergian orang lain: semua orang punya pilihannya masing-masing. Selama perjalanan itu memperkaya diri, ke mana pun itu, kenapa tidak? :hehe.
    Mau ke luar negeri yang jauh, atau cuma melipir beberapa langkah ke Lapangan Banteng, Garuda Indonesia tetap setia terpatri di paspor (dan di hati) :haha.

    Like

  3. Ah, yang bilang ga nasionalis sih sirik aja itu… :p kalau dapet undian keliling dunia gratis juga foto2nya dipajang di facebook 😀

    Like

  4. Ah mbok aku wis biyasah digituin, entah terlalu ganteng apa terlalu kaya aku sering dicibir begitu. Ada juga yang “kagak bakalan iri sama alid sebelum dia menginjak tanah suci” hellooooowww emang gue pikirin.

    Lagian yang biasa ngolok-ngolok gitu klo ditanya balik “sudah pernah kemana saja kamu ke Indonesia? Ke Pulau Madura sudah? Ke Bromo? Aku dong udah sampai Flores, kowe ming ngomong tok”

    MERDEKA!!! SALAM PRAMUKA!!!

    Liked by 1 person

    1. Kudune kowe omong “Awakmu iki durung tau dolen2 ae ribuuut. Mung cangkem tok sing wis tekan mblitar.” Eh kok mblitar terus. Ganti ngawi lah

      Like

  5. Kalau aku sih Mbok masih berpendapat klo “yg kebanyakan itu nggak baik”. Kebanyakan plesiran ke luar negeri nggak baik. Kebanyakan plesiran di dalam negeri nggak baik. Kebanyakan di rumah thok juga nggak baik. #lho

    Walau pun takaran “kebanyakan” itu relatif buat tiap-tiap orang, tapi mungkin ya sesekali harus diimbangi dengan plesiran tujuan lain. Maksud saya, klo misal kita dibilang nggak nasionalis karena “kebanyakan” plesiran ke luar negeri ya sekali-kali plesiran di dalam negeri gitu, dan sebaliknya.

    Pokoknya dibuat imbang saja lah menurut saya. Tapi omongan orang kadang bikin yang sudah imbang jadi goyang-goyang lagi, hahaha. 😀

    Like

  6. Hahaha…sama telak,ak jg blm pernah ke puncak monas,3x gagal trs…tos kita!!

    Jujur sy termasuk Tipe yg lbh suka travel ke LN, bkn krn tdk nasionalis tp lebih krn kemudahan transportasi dan sensasi petualangan berada di tmpt yg kita tdk tahu apa2 bahkan terkadang berkomunikasi pun sulit,tp ternyata kita bs sukses menjelajah.
    Saat membaca peta,bertanya dgn bahasa tarzan…terkadang sy serasa sdg mengikuti amazing race hahaha

    Untuk dlm negeri sndr sptnya hampir seluruh Jawa,sumatra,bali dan lombok sudah sy dijelajah,diluar itu?kembali lg ke transportasi yg sulit. Berbeda dgn sy,suami justru sering ke tmpt2 sulit spt tnh toraja,derawan,tual,pulau2 di papua,pedalaman kalimantan,dll

    Jarang2 sy dan suami bs travel bareng,jd kita saling melengkapi cerita,suami di dalam negeri dan sy di luar negeri hahaha

    Like

  7. Mboookkk, aku juga sering dapat celaan kayak gitu. Padahal, menurutku:

    “Traveling is a matter of interest, not a matter nationalism.”

    Buat aku yang suka eksplor kota, ya kota-kota di luar negeri lebih menarik. Tapi aku juga tetap punya seabrek wishlist Indonesia. Mana yang bisa diwujudkan dulu, yang luar atau dalam negeri dulu, ya nggak masalah.
    Sabar, sabaaarrr…

    Like

  8. Mungkin mereka yang seperti itu memang sangat cinta Indonesia jadi lebih menyarankan dan membanggakan keindahan-keindahan di Indonesia atau mereka hanya iri saja :p

    Like

  9. Haiiyaaa. . .
    Ngga ada hubungane blas, sih. Prinsip orang juga beda2 yo, Mbok.

    Pokoke sampah2 yg pada ditinggal di objek wisata kui dadi PEER banget buat warga Indonesiaaah.

    Like

  10. sebenernya definisi Nasionalis itu apa sih? mungkin itu dulu yang harus dijelaskan *macak socrates*
    nek aku belum ke luar negeri ya karena belom ada kesempatan. dan kalau menurutku, mau jalan-jalan ke manapun itu nggak ada masalah. itu terserah anda 🙂

    Like

  11. Setuju bangettt mb..
    Indonesia itu luas, dan kalo nunggu sampe Khatam keliling Indonesia, kita belum tau keterbatasan waktu yang kita punya.
    So why dont we make it balance right?

    Like

  12. Saya melihat kebanggaan-kebanggaan semu ketika seseorang mengatakan dia bangga sudah sampai raja ampat, tak usah ke hawaii, maladewa… Dia bangga karena berhasil menginjakkan kaki dan menyelam di sana, saya salut. Tapi kekaguman saya hilang ketika dia merendahkan pejalan lain yang tengah menikmati perjalanannya ke mancanegara. Hakikat pejalan yang “andhap asor” pun luntur. Nasionalisme bukanlah diukur dari rasio perbandingan perjalanan dalam negeri dan luar negeri, ini hanya bagian kecil. Nasionalisme adalah sebuah pemahaman tentang kedaulatan. Jika tindak tanduk kita gak akan membahayakan kedaulatan dan ketahanan negara, ya ga akan jadi masalah 😀

    Tapi menurutku, Mbak, Indonesia memang kaya, memang surga. Tapi baru surga dunia, yang indah tapi tak sempurna. Surga sesungguhnya masih tak kasat mata. Indonesia memang hebat, dan kita harus mendukung orang-orang yang berhasil menginjakkan kaki ke seluruh penjuru nusantara, dan juga mendukung orang-orang yang berhasil “membawa” paspor bersampul Garuda melintasi tapal batas negara, seperti Backpackology! Tsaaaah 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s