Blogger dan Bahasa Indonesia


(Karena kita adalah duta bahasa #eeaaa)

Sudahkah kalian bisa membedakan “di” sebagai imbuhan dan “di” sebagai kata depan? Sudahkah kalian mencetak miring semua kata-kata dalam bahasa daerah dan bahasa asing bila menulis artikel dalam Bahasa Indonesia?

Sudahkah tata bahasa menulis kalian sempurna?

Simbok jelas belum sempurna. Sangat sulit untuk menemukan penulis yang dapat menggunakan tata bahasa dengan sempurna. Tapi, menurut saya, sebagai blogger yang menulis dalam Bahasa Indonesia, kita wajib belajar kembali tentang bahasa. Kalau perlu sambil pakai baju merah putih dan makan Krip Krip.

Blog kan bebas gaya bahasanya? Fenomena blogging memang semarak, membuat orang menjadi lebih berani menulis. Menulis kini bukan lagi monopoli orang-orang tertentu dan kelompok-kelompok pecinta sastra saja. Pejalan, pedandan (#halah, maksudnya pesolek), ibu rumah tangga yang hobi masak, semuanya mendadak memiliki blog dan rajin menulis. Sebuah perkembangan luar biasa dalam dunia tulis-menulis kita.

Foto dipinjam dari sini
Foto dipinjam dari sini

Blog memang menjadi sarana sempurna untuk mengungkapkan opini, argumen, bahkan curhatan. Maka dari itu, bahasanya pun seringkali tidak baku, bercampur bahasa asing dan daerah, serta sering menggunakan bahasa percakapan. Misalnya menggunakan kata-kata: nggak, ga, gue, banget, dsb. Menurut saya itu sah-sah saja.

Tapi, tetap saja saya gatal bila membaca tulisan dengan tata bahasa yang superngawur.

Ealaaaah, Mbok, sopo to kowe kok gatelen barang? Simbok kan cuma remah-remah rengginang di dalam kaleng Khong Guan.

Salah satu kesalahan umum yang dilakukan adalah penempatan “di” dalam kalimat. Kesalahan sepele seperti ini, apalagi dilakukan oleh published writers (penulis yang bukunya sudah diterbitkan), membuat saya terenyuh dan gatal minta ampun pengen garuk-garuk pantat.

Kesalahan penempatan “di” sebagai imbuhan dan “di” sebagai kata depan seolah-olah menjadi hal yang lumrah. Umum terjadi di dalam status Facebook, di dalam tweet, di blog, bahkan di buku! Nah, kalau yang terakhir itu membuat saya ingin garuk-garuk pakai excavator!

Kalau Anda pernah sekolah SD, rasanya tidak perlu bingung dengan aturan tata bahasa yang ini. Ini mudah dan mendasar, seharusnya semua orang Indonesia yang berpendidikan memahami.

Kalau bingung, pakai prinsip ini (ini contohnya pun sederhana dan tidak menggunakan bahasa baku, sesuai dengan bahasa percakapan yang sering digunakan di blog).

….dikeloni di ranjang…

“di” yang pertama adalah sebagai imbuhan, berupa prefiks – ditemui dalam kalimat pasif. “di” di sini tidak dapat berdiri sendiri, selalu terikat pada kata berikutnya. Dalam kalimat pasif seperti ini “di” sering disematkan bersama akhiran “kan” atau “i”, misalnya dalam kata “didatangkan” atau “didatangi”.

“di” yang ke dua adalah kata depan, merujuk tempat (kadang juga waktu). Penulisannya dipisah dengan kata berikutnya.

Misalnya:

di ranjang, di pantai, di malam hari, di sebelah, di samping.

Mudah bukan? Ini pelajaran SD, jadi harap maklum kalau Anda melihat saya garuk-garuk itu bukan karena panuan melainkan baru saja menemukan kekeliruan tata bahasa sederhana namun fatal (terutama bila dilakukan oleh seseorang yang saya anggap sudah terbiasa menulis).

Oh ya, bila ingin menggunakan kata “Anda” A-nya capital, ya, please.

Menurut saya, kekeliruan lain yang mencolok adalah dalam penulisan judul. Namanya juga judul, pasti dibaca pertama, jelas langsung terlihat jelas.

Contoh penulisan judul yang benar:

Jelajah Pantai-Pantai Indah di Lombok   bukan  Jelajah Pantai-Pantai Indah Di Lombok

Aturan baku penulisan judul adalah partikel (termasuk preposisi seperti “di”, “ke”, “dari” dsb) ditulis dengan huruf kecil. Kecuali, bila preposisi tersebut berada di awal kalimat. Misal:

Dari Sawarna ke Komodo, Aku Merindumu

Ada lagi yang bikin saya lebih gatal. Karena kalau garuk-garuk pantat, takut jadi burik, sekarang garuk-garuk pipinya Adam Levine aja. Kekeliruan ini sering sekali saya temui di jejaring sosial, misalnya di status Facebook, komentar status Facebook, dan juga dalam bentuk tweet. Penulisan kalimat yang menggunakan aturan judul. Ehemmm, bisa jadi kesalahan itu panjang mengular hingga satu paragraf. Bagaimana mata tidak gatal, padahal sedang tidak beleken, kalau membaca kalimat berikut:

Seneng Banget Hari Ini Kumpul Sama Keluarga….Makan Bareng-Bareng, Habis Sebakul Nasi, Ikan Mas, Lele, Tempe Sepapan, Tahu Selancar. Lain Kali Ditraktir Lagi Ya Mbah….*Kecup-Kecup Simbah*

#Gubraks

Satu lagi yang membuat saya ingin panggil Pak JS Badudu, penulisan tanda baca dalam percakapan. Kesalahan ini umum terjadi bahkan dalam buku-buku yang diterbitkan.

Contoh yang benar:

Bambang berkata, “Aku harus pergi sekarang, Dian.”

“Jangan, tinggalkan aku, Mas. Bagaimana dengan anak-anak kita?” Dian menjawab sambil meratap. Bambang tidak peduli.

Eaaaa, tapi siapalah saya ini, kalau kata Oliq cuma “Engineer Dapur”, tidak punya gelar Master dalam Kesusastraan.

Satu lagi yang membuat saya juga gatal (dari tadi satu lagi ora uwis-uwis wakakaka) apabila menyelipkan kata atau kalimat dalam bahasa asing, mohon dicek ulang apakah penulisannya benar. Ketika menulis untuk blog, saya sering menggunakan kalimat dalam Bahasa Inggris dan bila tidak yakin (terutama bila bentuk idiom), saya selalu meng-Google terlebih dahulu. Lebih baik repot sedikit daripada malu belakangan.

Misalnya: periksa ulang apakah ada kata dalam Bahasa Inggris “romanticly”. Ya benar, tidak ada, karena yang betul adalah “romantically”.

Saya hanya penggemar buku. Dulu zaman saya masih kecil, koleksi novel dan komik saya pernah mencapai rekor hingga 1000 buku.

Jadi, saya juga sadar betul perbedaan kualitas buku-buku sekarang dan masa lalu. Dulu, buku dari penerbit mayor selalu menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Saya ingat betapa menikmati membaca buku-buku terjemahan karangan Enid Blyton atau Agatha Christie.

Sekarang, rasanya semakin awut-awutan. Saya tidak paham apakah banyak editor yang tidak memahami kaidah Bahasa Indonesia yang benar, atau mereka terlalu diburu tenggat waktu sehingga banyak kesalahan tata bahasa dan typo yang lolos. Para editor, Simbok jangan di-bully yaaaa…..

Demikian curhatan Simbok hari ini, semoga gatal-gatal ini segera berakhir. Kalau bukan kita, para penulis – baik blogger, editor, maupun spesialis penulis status Facebook – siapa lagi yang bisa melestarikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar?

Saya juga masih sering sekali membuat kesalahan, kok. Mari belajar lagi!

***

Disclaimer: Maaf bila pemenggalan kata di blog ini tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang benar, karena itu otomatis dan Simbok yang gaptek ini tidak tahu cara membetulkannya. Kalau ada yang tahu bagaimana caranya, mohon bantuannya 🙂

Advertisements

24 thoughts on “Blogger dan Bahasa Indonesia”

  1. Saya kok jadi bingung Mbok? Si Mbok menyeru supaya kita memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi kalau terlampau baku malah nanti terkesan kaku dan karenanya Mbok bilang kalau itu “sah-sah saja”.

    Eh, sebelum Mbok ikut memperhatikan kaidah tata bahasa komentar-komentar para komentator, saya cukupkan sampai di sini saja 😀

    Like

    1. Lhoooo sah-sah saja mempergunakan bahasa percakapan, tapi ada kaidah yg tetap harus diperhatikan, to? Ya ndak? Misale di yg disambung dan dipisah, kapital dan huruf kecil, penggunaan tanda baca yg tepat dan enak dilihat. Bukan demikian, Mas Mawi?

      Like

  2. Saya pernah membaca kata seorang penulis veteran, lupa siapa, bahwa sejatinya penulis adalah pencipta bahasa. Mereka mendobrak pakem yang baku, mencipta kata-kata baru yang dalam buku Agatha Christie terjemahan yang saya yakin sama-sama kita sukai, belum ada. Mungkin argumen itulah yang digunakan mereka supaya sahih mencipta kata yang sebenarnya sama-sama kita tahu kekurangtepatannya :hihi.
    Tapi saya setuju dengan Mbok, pakem ada bukan untuk didobrak main hantam, ya. Tetap ada aturan dasar yang sama-sama harus kita hormati dan laksanakan :hihi.

    Like

    1. Setuju banget sama Gara. Buatku, kosakata bertambah itu nggak apa-apa tapi tidak lantas paem2 paling penting sembarangan didobrak. Sebenarnya mereka tidak berniat mendobrak juga sih, cuma tidak mau belajar mana yang benar mana yang salah.

      Liked by 1 person

  3. Dulu pernah lho aku suka mengoreksi penulisan yang keliru kemudian dibalas dengan argumen seperti yang disebutkan Gara. Akhirnya ya udahlah ya, belajar bahasanya sekarang cukup buat diri sendiri aja dan untuk orang lain yang sama-sama mau belajar. 😀

    Like

    1. Aku nggak pernah ngoreksi kak cit, kecuali orang2 dekat aja. Paling pol aku cuma garuk2 pantat doang wekekeke. Bahasa dan kosakata memang berkembang tapi rasanya tata bahasa tetap ada pakem yang harus diikutin

      Like

  4. Hahahahhah aku gemes, Mbok. Kadang mampir ke blog temen, viewer-nya akeh, blogger terkenal, tpi kalau nulis ga ada titiknya. Jadi setiap satu kalimat habis, dia pakai titik-titik. Habis itu lanjut nulis tanpa spasi. Ish, guatelnyaaaaaaaaaa.

    Btw, kata “blog” juga harus dimiringkan, Mbok. Begitu juga dengan “blogging”. Kecuali Blogspot, yo ngga, kan sebuah nama/merek. :)))

    Like

    1. kalo “blog” itu debatable soale dibilang udah terserap jadi Bhs Indonesia. Tapi ya mbuh ya wekkeke. minimal ki nek nulis rapi ora kakehan titik2.

      Like

      1. Aku rabu depan pulang lama di jogja. Mau lahiran. Aaakkk aku gelem kopi jambi. Kami lagi krisis kopi tubruk ini dan bertahan pake kopi Kenya pabrikan, kurang nendang. Mau mauu

        Like

  5. nek menurutku pribadi sih, bebas bebas wae sih mau bagaimana. soalnya kalau terlalu resmi juga beban nulis dan berat dibaca.
    cuma kalau untuk penulisan di sebuah karya ilmiah baru aku mutlak harus bener. kalau di blog, mungkin sebatas penggunaan beberapa aturan yg dasar aja yg harus bener. haha.
    kalo cuma sebatas status mah aku gak masalah mbok, hahaha.
    kayak komenku ini kan keliru soalnya habis titik nggak pake huruf kapital :p

    Like

  6. Bahasa kita padahal indah ya, kalau kata-kalimatnya dirangkai secara telaten dan serius, tentu ada pesan yang dalam.

    Alah bisa karena terbiasa 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s