Menggamit Pagi Plaosan


Gerobak sapi berukuran sedang itu melambatkan lajunya. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu sederhana, didominasi warna biru, namun dengan beberapa corak berwarna cerah.

Tiga orang wisatawan asing sengaja menghentikan laju gerobak sapi, untuk kemudian berfoto bersama. Takjub mereka melihat gerobak yang ditarik sapi. Alih-alih membiarkan pemilik gerobak melanjutkan perjalanannya, mereka malah sengaja ikut menumpang di dalam gerobak. Sapi pun berderap pelan meninggalkan jalan depan kompleks Candi Plaosan.

Hari itu, si sapi jadi idola para wisatawan
Hari itu, si sapi jadi idola para wisatawan

Saya tertawa melihat pemandangan yang tidak biasa itu. Jujur saja, entah sudah berapa tahun lalu terakhir kali saya melihat gerobak sapi yang masih dioperasikan sebagaimana fungsinya. Biasanya hanya melihat d TV, atau bahkan menjadi pajangan di sebuah pameran atau museum.

Keberadaan gerobak sapi sederhana itu tampak begitu menyatu dengan suasana di sekitar Candi Plaosan Lor yang masih dikelilingi sawah. Desa yang mengelilinginya pun masih sederhana, kemajuan teknologi tidak mengikis ramah tamah khas Jawa.

“Ngersake nopo?’ tanya ibu-ibu pemilik warung merangkap penjaga parkiran.

“Toyo mawon setunggal,” saya membeli air. Walaupun hari masih pagi, panasnya sudah terik. Srengengene wis cemlorot.

Gerbang Candi Plaosan Lor
Gerbang Candi Plaosan Lor

Malu saya mengakui, lahir dan besar di Sleman, DIY, baru pada usia tiga puluhan saya menginjakkan kaki di Candi Plaosan – yang berada di Klaten, tidak terlalu jauh dari rumah orangtua.

Pun, saya juga menyadari betapa Plaosan tidak mendapatkan apresiasi yang seharusnya. Padahal, tidak kalah cantik dengan candi yang lain, kompleksnya pun terbilang besar dan sangat menarik.

Kalau ada berlian di dekatnya, pasti batu safir tidak dilirik, pikir saya.

Berlian itu adalah Candi Prambanan, yang terletak hanya satu kilometre jauhnya. Candi Prambanan menyedot ribuan wisatawan – domestik maupun mancanegara. Sesungguhnya, letak yang begitu dekat dengan Prambanan seharusnya mampu menjadi aset untuk menarik pengunjung datang. Nyatanya tidak demikian.

Ah, kasihan kalian yang belum pernah ke Plaosan. Saya saja sampai jatuh cinta.

Berjalan memasuki gerbang terlihat batu-batu candi yang ditumpuk begitu saja. “Kapan akan dipugar, Pak?” tanya saya pada Pak Satpam.

“Wah, tunggu perintah dari atas, Mbak,” ujarnya, melanjutkan mengisap rokok kretek, menghembuskan asapnya. Saya pun memilih tidak bertanya lebih jauh, langsung melangkah menjauh.

Candi Plaosan sebenarnya merupakan candi kembar, terdiri dari Plaosan Lord an Plaosan Kidul. Kompleks yang masih tegak berdiri adalah Plaosan Lor, sementara Plaosan Kidul tinggal puing-puing yang entah kapan akan dipugar kembali.

Dwarapala, Sang Penjaga tempat suci
Dwarapala, Sang Penjaga tempat suci

Saya disambut Dwarapala, patung raksasa penjaga.

Melangkah memasuki kompleks candi, seolah-olah saya tersedot ke masa Syailendra, menjadi Pramudyawardhani – puteri Samaratungga. Suaminya, Rakai Pikatan, yang memerintahkan pembangunan candi ini di abad ke-9.

Salah satu sudut yang saya suka
Salah satu sudut yang saya suka

Dari jalanan saya tidak menyangka bahwa kompleks Candi Plaosan ternyata besar. Panjangnya mencapai 460 meter sedangkan lebarnya sekitar 290 meter. Di bagian dalam pagar bahkan terdapat parit yang mengelilingi kompleks candi.

Candi perwara Plaosan
Candi perwara Plaosan

Candi utama di Plaosan Lor dan Plaosan Kidul memiliki teras yang datar yang mengelilingi candi. Menurut sejarawan arsitektur seperti ini cukup unik, karena berbeda dengan candi-candi lainnya. Ada yang berpendapat bahwa teras yang datar tersebut dahulu difungsikan sebagai vihara.

Kompleks Candi Plaosan Lor memiliki halaman tengah yang dikelilingi oleh dinding dengan pintu masuk di sebelah barat. Pada bagian tengah halaman terdapat sebuah pendopo. Di halaman ini terdapat tiga buah altar, yaitu altar utara, timur, dan barat. Di altar utara terdapat stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha. Sementara itu di altar timur terdapat gambaran Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya. Di altar barat terdapat gambaran Masjusri.

Megah berdiri walau, cantik rupawan
Megah berdiri walau, cantik rupawan

Kompleks candi terdiri dari 174 bangunan kecil dan 116 stupa yang merupakan ciri khas candi Buddha. Saking terpesonanya, saya sampai lupa bilang, Candi Plaosan ini memang candi Buddha, namun arsitekturnya terpengaruh gaya Hindu, sesuatu yang sangat umum terjadi pada candi-candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Matahari makin meninggi, menyinari jajaran candi-candi kecil yang membatasi kompleks dengan persawahan yang menghijau. Burung-burung terbang di atas tanaman jagung dengan santai. Kicaunya menyejukkan. Birunya langit pun mendamaikan.

Saya kembali terbayang menjadi Pramudyawardhani. Dihadiahi candi oleh sang suami. Bukti cinta yang agung, tidak kalah dengan Shah Jehan yang membangun Taj Mahal untuk permaisurinya. Mengkhayalkan romantisme ratusan tahun yang lalu sangat mudah karena suasana sepi, hanya diiringi semilir angin dan sesekali burung yang berkicau.

Candi Plaosan, bukti romantisme masa silam
Candi Plaosan, bukti romantisme masa silam

Pulang nanti, coba saya minta dihadiahi candi oleh suami. Ah, jangankan candi, roti saja suka lupa kalau dititipi.

Kenyataan kembali menyeruak. Saya bukan Pramudyawardhani.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 2.

2 Banner Mar - Apr 2015

Advertisements

11 thoughts on “Menggamit Pagi Plaosan”

  1. Oalah, soko Sleman, tho simbok, hehe… Ibu saya asli wong Klaten, mbak, kakek-nenek alm rumahnya di belakang optik Ibrahim yg di jl.raya Jogja-Solo. Tiap lebaran pulang ksana, tp ngga pernah ke Candi Plaosan. Ngga tau… Yowislah nanti main ksana. Suwun infone nggih ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s