The Grass is (Not) Always Greener Overseas


Banyak orang yang memiliki keinginan untuk bekerja dan hidup di luar negeri. Saya pun demikian, selalu menikmati kesempatan untuk hidup di luar negeri dan punya keinginan untuk tetap merantau selama usia produktif. Makin jauh makin baik, tapi dekat pun sudah Alhamdulillah.

Kuat menghadapi winter minus belasan derajat?
Kuat menghadapi winter minus belasan derajat?

Apa sih yang sangat menarik di luar negeri? Merujuk pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau” memang ada anggapan bahwa hidup di luar negeri berarti taraf kehidupan meningkat, terutama bila kita pindah ke negara dengan standar hidup lebih tinggi. Wajar sih berpikir demikian karena toh keputusan seseorang untuk bekerja/hidup di luar negeri adalah untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Kalau nggak lebih baik, ngapain juga pindah?

Tapi…ya… tapi… tidak semuanya indah di luar negeri. Saya punya beberapa teman yang mati-matian mencari PR (Permanent Resident) di Australia. Semua dilakoni demi mendapatkan secarik izin tinggal dan bekerja penuh di negara Kanguru itu, dengan pandangan bahwa kehidupan mereka akan lebih baik daripada di negara asal. Usahanya? Mulai dari hutang puluhan ribu dolar untuk bersekolah (karena PR lebih mudah didapat bila kuliah di Australia) – bahkan ada yang sampai hutang kertu kredit. Di sana mereka bekerja superkeras untuk membiayai hidup sehari-hari yang sangat mahal, membayar biaya kuliah, plus untuk membayar hutang-hutang. Beda dengan saya yang tinggal ongkang-ongkang kaki karena mendapat beasiswa. Istilahnya, bagi saya kerja cuma sunnah, bagi mereka fardu – nggak kerja ya nggak makan.

Setelah itu, mereka harus mengurus proses PR yang panjang dan rumit yang belum tentu juga digranted. Nyatanya, ada beberapa teman yang setelah mendapat PR malah kemudian memutuskan untuk pulang ke negara asal di Malaysia dan India karena tidak kuat dengan tekanan di Australia. Tidak mudah bukan?

Magnet luar negeri yang paling besar adalah bayangan besaran pundi-pundi yang akan didapat. Misalnya, gaji ART sinting saya si NST itu dulu RM 700 atau setara dengan Rp 2,6 juta plus THR dan uang pulsa, sementara makan dan tinggal sudah disediakan, demikian juga dengan tiket dan biaya visa. Menjadi supir taksi di Malaysia bisa menghasilkan RM 150 sehari, yang kalau dia bekerja 20 hari saja selama sebulan akan mendapatkan RM 3000 atau sekitar Rp 11 juta. Puput sudah pernah membahas tentang hal ini di sini.

Menjadi TKI di Taiwan atau Hong Kong atau Korea misalnya, akan mendapatkan gaji sekitar Rp 6,5 juta sebulan. Di Indonesia, dengan pendidikan dan ketrampilan minim, mana bisa dapat segitu?

Tapi, sekali lagi, besaran gaji itu tidak menggambarkan realitas kehidupan di negara tujuan. Kami misalnya, walau pendapatan Puput naik dibanding sewaktu kerja di Jakarta, pengeluaran pun berlipat. di Indonesia, ada THR, bonus tahunan, jatah saham perusahaan, di sini hidup ya cuma dari gaji bulanan, pinter-pinternya nabung saja dari situ. Sementara itu secara umum biaya hidup lebih tinggi, walau tidak setinggi Australia dan Eropa tentunya. Salah satu yang biaya paling tinggi di negara maju adalah biaya jasa – dokter, servis, salon, pendidikan anak. Salah seorang kawan menyekolahkan anaknya yang berusia 4 tahun dengan biaya RM 8000 untuk 3 bulan atau sekitar Rp 10 juta per bulan. Wuiiiih, bisa buat beli tiket PP ke Eropa itu!

Belakangan ini marak artikel tentang pegawai di Jepang yang rela tidur di apartemen padahal gajinya setara dengan Rp 24 juta sebulan. Link-nya ada di sini. Walaupun saya yakin kehidupan sebenarnya para pekerja di Jepang tidak separah itu, besaran 24 juta itu memang tidak besar untuk ukuran Tokyo – salah satu kota paling mahal yang pernah kami kunjungi. Jangan bandingkan gaji 24 juta di Jakarta, bisa tinggal di apartemen bagus, atau nyicil rumah mewah di Cluster Sevilla di BSD. Apalagi, kalau gaji segitu dibawa ke Wonogiri, wah bisa buat bangun vila mewah dengan view Waduk Gajah Mungkur!

Hidup di Jepang juga rasanya tidak sangat mudah karena orang sana terkenal pekerja keras, istilah kerennya workaholic. Di sini, Anda mungkin bisa bekerja nyambi whatsappan, buka FB, twitteran atau bahkan nyambi ngeblog dan jualan jilbab online, di sana mungkin tidak bisa. Di sini Anda tenang karena anak sudah diasuh pembantu/nanny yang gajinya 1-2 juta saja dan tinggal dipantau melalui nanny cam, di sana anak Anda harus masuk daycare dengan biaya sangat besar per jamnya.

Tapi saya belum pernah bekerja di Jepang. Saya hanya pernah bekerja part-time di Australia, yang cerita lengkapnya di sini. Saya harus menjadi pelayan, membersihkan meja kotor, menjadi kasir, menyiapkan berbagai sambal, untuk seluruh restoran (bisa terisi 20-40 kursi) sendirian. Jangan bandingkan dengan restoran-restoran di Indonesia, di mana pelayan bisa lebih banyak dari pengunjung wakakakak *lebay* Pulang kerja kaki bisa gemeteran saking capeknya.

Pendapatan lebih besar di luar negeri, itu mungkin benar. Hidup di luar negeri lantas bermewah-mewah? Belum tentu banget! Boleh ditengok beberapa tulisan mbak-mbak ini yang hidup di luar negeri: Mbak Kartika di Jepang, Mbak Jihan di Irlandia.

Hidup di Indonesia itu kadang enak banget lho. Lapar tinggal ke warung. Males ke warung, tukang bakso datang sendiri. Tukang siomay, tukang rujak, tukang es dung-dung *ngeces*

Pernah ngerasain ngidam sengidamnya masakan Indonesia?
Pernah ngerasain ngidam sengidamnya masakan Indonesia?

Di Indonesia, setinggi-tingginya tarif listrik, bulanannya segitu-gitu aja. Di negara empat musim, kalau musim dingin bisa melonjak drastis. Waktu di Australia saya cuma mengandalkan heater keciiiil banget, biar irit. Buat hemat biaya dulu saya beli baju bekas, lho! Cuma pakaian dalam yang beli baru…ya iyalah… eh udah gitu pernah kehilangan 4 kutang di jemuran. Cuma saat ini nih saya sampai telpon ortu di Jogja sambil nangis-nangis. Tapi sejak kerja di restoran udah bisa beli baju baru walau yang murah-murah. Orang Indonesia mana mau beli baju bekas, kan?

Di luar negeri, walau transportasi bagus, kadang kita harus jalan jauh demi sampai rumah. Di Indonesia, tinggal panggil ojek bayar sepuluh ribu.

Di Malaysia, saya harus bayar mbak bersih-bersih dan setrika RM 15 per jam (Rp 220 ribu sekali datang), makanya saya hanya sanggup bayar 3 kali seminggu dan rela rumah berantakan di banyak hari lain. Di Indonesia laundry berapa per kg?

Maksud saya, jangan saklek membandingkan gaji di luar negeri dan di Indonesia karena pengeluarannya juga berbeda jauh. Selain itu, pajak pendapatan di luar negeri juga berbeda-beda. Di Malaysia, 6 bulan pertama gaji dipotong 26% untuk pajak, setelah itu turun sedikit. Jadi ini juga harus dipertimbangkan.

Lalu ada juga biaya emosional. Berapa banyak di antara kalian yang enggan meninggalkan kota asal karena merasa lebih nyaman dekat dengan keluarga besar? Berapa banyak di antara kalian yang mempertimbangkan faktor kedekatan dengan orangtua karena mereka bisa membantu menjaga anak-anak?

Saya pribadi tidak suka tinggal dekat dengan keluarga besar, makanya faktor ini sama sekali tidak menjadi masalah. Tapi tentu saja ada konsekuensinya.

Contoh saja, dua minggu yang lalu Oliq sempat diopname (iyeee semalem doang) di rumah sakit karena demam. Hari pertama Puput cuti karena sejak pagi kami harus bolak balik ke klinik, ke ruamh sakit, sampai akhirnya dokter memutuskan untuk menyuruh Oliq menginap dengan alasan, kalau menunggu malam nanti sudah tidak ada kamar *doeeeeengggg*. Walaupun dengan asuransi penuh, prosesnya lama dan rumit, kami harus menggendong Oliq yang lemes ke sana ke mari. Pakai BPJS mungkin lebih mudah.

Hari ke dua Puput ngantor. Saya harus mengurus Oliq dan tangan robotnya (diinfus) sendirian. Saya mengurus administrasi yang butuh waktu sekitar 7 jam – mulai dari jam 10 pagi sejak dokter memperbolehkan Oliq pulang dan baru selesai pukul 5 sore. Saya yang hamil besar harus gendong Oliq untuk mengurus ini itu *nari gambyong di koridor rumah sakit* Dan demi nggak edan karena nunggu kami sempatkan kabur ke Starbucks dulu.

Tagihan untuk semalam di rumah sakit dan dua botol infus itu….*drumroll*… setara Rp 10 juta rupiah. Demam doang. Dan obat yang dibawa pulang pun kebanyakan tidak diminum lagi karena anaknya sudah waras-wiris. Bayangkan pekerja di sini yang tidak dicover asuransi!

Nah, bagi yang nggak biasa mandiri dan sendiri, silakan aja kagok-kagok J

Ada lagi nih, soal makanan. Saya tinggal di Malaysia nggak terlalu masalah karena bahan makanan masih serupa. Di sini repotnya kalau beli di warung harga makanan mahal (ingat kan tadi saya bilang sektor jasa itu mahal). Mau tidak mau selalu masak sendiri, kecuali pas jalan-jalan weekend saja. Di Australia kalau tidak mau memasak, mau beasiswa segede apa juga tekor, makanya waktu itu teman-teman saya para bujang yang biasanya tidak pernah menginjak dapur pun terpaksa belajar masak. Saya ngikik waktu awal-awal mereka pamer masakan yang dibawa untuk bekal makan siang di kampus. Menunya semacam telur goreng dengan rebusan brokoli, orak-arik, sosis goreng. Nasi goreng (dengan bumbu instan) sudah sangat keren.

Jadi hidup di luar negeri itu tidak seglamour yang banyak orang bayangkan. Gaya hidup kami? Nggak beda jauh dengan di Jakarta. Saya masih tetap masak sendiri, Puput ke kantor tetap naik transportasi umum. Peningkatan sedikit sih dari Kopaja 66 ke LRT :b.

Bagi kami, hidup di luar negeri bukan semata faktor finansial saja, itu hanya sebagian kecil. Sejak sebelum menikah pun saya dan Puput masing-masing sudah terbiasa merantau, jauh dari keluarga. Dan saya sangat menikmati hidup dalam perantauan itu. Walaupun Puput selalu menyebut-nyebut mau pensiun dini dan pulang ke Jogja, dalam hati saya selalu berharap bisa merantau sejauh-jauhnya sampai pensiun kelak. Nabung juga buat RTW kalau udah pensiun nanti wekekekkekek

Hidup di luar negeri artinya kita mendapatkan pengalaman yang berbeda, interaksi dengan orang-orang yang berbeda-beda pula. Hih saya suka banget. Saya yang biasanya mayoritas bisa jadi minoritas. Eh omong-omong soal minoritas, udah pernah baca tulisan minoritas saya yang ini bukan?

Dengan hidup di luar negeri kita juga jadi mendapat banyak pelajaran berharga, mengambil yang baik, membuang yang buruk, dan tidak boleh lupa pada asal muasal kita. Ehmmm, itulah kenapa Oliq tetap kami ajarin Bahasa Jawa 🙂

So, the grass is not always greener on the other side. It depends on how you water and take care of it!

 

Advertisements

25 thoughts on “The Grass is (Not) Always Greener Overseas”

  1. saya juga tetep pengen ngrasain tinggal di luar negeri mb, cita-cita saya sejak dulu, pengen nyoba beasiswa aas tahun ini tapi dapat jawaban dari dinas (saya pns di dinas kesehatan kabupaten) kalo tahun ini pengarahan dari bkd ngga boleh ada yg tugas belajar dulu soalnya yg tahun2 kemarin aja belum lulus, nyesek sekali itu padahal persyaratannya saya sudah lengkap semua tinggal tanda tangan kepala dinas yth…uggghhh

    Like

    1. Jelas no. Klo beasiswa mah enak ya. Tapi aku ga sanggup klo bayangi sekolah sambil momong anak. Ndasku pecah

      Like

  2. Kalo di Indonesia sakit seperti Oliq itu BPJS hanya membayar RS bila pasien dirawat di kelas 3 : 1,9 juta, kelas 2 : 2,4 juta dan kelas 1 : 2,8 juta. Jadi pengen tau penghasilan dokter di Malaysia berapa ya, mbak Olen?

    Like

    1. Memang mbak. Ini kan platform kami dari kantor bapake jadi tinggi. Wah jelas banyak duite dokter wong sekolahnya aja pada dari Inggris wekeke. Mau pindah sini po?

      Like

  3. Well said mbak..meski saya di Indonesia terbiasa mandiri dan tinggal di luar kota asal,begitu tinggal disini jg kdg kdg msh menyesuaikan. Gaji memang lebih banyak drpd di Indonesia,tp toh disini saya WAJIB bayar pajak dan asuransi. Ga bisa jajan tiap hari kayak di Indonesia, bisa masuk angin dompet saya. Hehe..apalagi cuaca yg beda banget,sering keterak angin pas naik sepeda,rasanya sebel pgn nglempar sepedanya. Hehehe…Salam kenal #semoga komennya ga kebanyakan haha

    Like

    1. Hahahah hooh bener…ke mana2 kudu ngonthel ya nggak ada ojek. Aku inget dulu pas di Oz sering bela2in jalan ampe 2 stasiun demi irit tiket keret

      Like

  4. Yah, stereotipe memang akan selalu begitu ya Mbok :hehe. Saya banyak belajar nih dari tulisan ini. Tentunya kepingin tinggal dan belajar di negeri orang, tapi juga mesti berpikir kalau tinggal di negara orang bukan melulu urusan enaknya, tidak enaknya juga bukannya tidak ada :)). Thanks for the writing :)).

    Like

    1. Iya memang. Byk sepetnya juga. Tergantung gimana kita menyikapi juga sih. Kalo keluarga kami emg gampang adaptasi, krn terbiasa traveling juga sih. Ga pernah homesick

      Liked by 1 person

    1. Ya emang mahal. Tapi klo orang lokal di RS kerajaan murah kok. Ada semacam puskesmas juga yg klo sakit sederhana bayarnya cuma 2-5 ringgit

      Like

  5. gaji besar di LN, pengeluaran juga besar, ya 🙂

    Kalau saya sebetulnya gak begitu tertarik ke luar negeri. Apalagi kalau untuk tinggal rada lama. Tapi, kalau buat libur sesaat, boleh lah *orang Indonesia banget :p

    Like

  6. Pengalaman sewaktu kerja di perusahaan plat merah Malaysia kartu asuransinya cuma laku di klinik2 kecil ya semodel klinik 24 jam di Jakarta. Tapi gajinya 3 kali lipat gaji di Jakarta jd bisa nombokin utang rumah & mobil begitu pulang ke Jakarta muahahaha *riya’* 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s