Langkawi Masih Seksi


Alkisah, suatu hari kira-kira setahun yang lalu, saya mendengar seseorang berkata, “…ternyata Langkawi cuma gitu mah!” Saya berkejap, mengira telinga caplang saya salah mendengar, atau itu hanya mimpi di tengah hari bolong melompong. Ternyata memang nyata. Saya menggelengkan kepala, mengernyitkan dahi, sambil memicingkan mata (mohon jangan ditirukan!).

Langkawi Permata Kedah
Langkawi Permata Kedah

Bukan apa-apa, hanya saja saya pernah berkunjung ke Pulau Langkawi – tujuh tahun sebelumnya – dalam rangkaian backpacking keliling Malaysia. Seingat saya Langkawi cantik, indah, pantai-pantainya banyak dan bersih, tinggal pilih mau ke mana. Apa mungkin si Ibu itu berkata benar? Apa mungkin Langkawi sudah berubah? Mungkin jadi overcrowded dan overdeveloped seperti Phuket. Tapi ah, seramai-ramainya Phuket juga pantai-pantainya tetap cantik walau kadang pemandangannya diselingi bokong yang hilir mudik. Kadang bokongnya sudah 60 tahunan usianya.

Jreng, jreng! “Saya butuh bukti,” batin saya. “Segera!” Tapi batal melulu karena tiket ke Langkawi saat akhir pekan tidak pernah murah. Lumayan, tapi tidak semurah yang saya inginkan, misal: 200 ribu pp, begitu.

Akhirnya upaya pembuktian tuduhan semena-mena si Ibu terus tertunda, diselingi dengan berbagai kunjungan kenegaraan kami ke Thailand, Myanmar, Kamboja, Hong Kong, dan Turki. Namun, jodoh memang tidak ke mana (perumpamaan yang lebih pas apa ya?). Akhirnya, kami bisa menjejakkan kaki kembali ke Langkawi, si Permata Kedah ini.

Bulan Maret ini sangat dinanti Oliq karena ibu mertua akan datang, bersama dengan dayang-dayangnya adik ibu mertua, 2 bidan bapak mertua, dan Teguh. Siapa pula itu Teguh? Teguh adalah asisten ibu mertua yang serba bisa, mulai dari bebersih, momong cucu mertua, benerin listrik, hingga menyetrika. Dan dia cowok tulen, lho! Dan kalau sudah sama Teguh, bagi Oliq yang lain tidak penting lagi.

Rombongan ibu mertua ini akan berada di KL selama tidak genap 4 hari. Menilik pengalaman terdahulu, Oliq selalu sedih tak terhingga kalau tamu rumah pulang. Apalagi ini serombongan. Ada Teguh pula! Duh biyung Simbok mumete tekan bokong!

Walhasil, saya merencanakan sebuah trip kompensasi untuk Oliq dan Simboknya. Jadi ketika Oliq sedih tak terkata akan ditinggal, ia sekejap akan gembira lagi karena esoknya akan berangkat ke Langkawi. Akhirnya saya book tiket seharga kira-kira 2 juta untuk 3 orang pulang pergi. Tidak terlalu buruk. Kami berangkat Jumat sore dan pulang Minggu sore sehingga Puput tidak perlu cuti kerja.

Tibalah kami di Langkawi, naik taksi dari bandara menuju ke Pantai Chenang. Delapan tahun akhirnya kami bersua lagi, sudah seperti apa Langkawi? Bandara sudah sedikit lebih besar walau tidak signifikan. Begitu mendekati kawasan Chenang Puput melongo melihat kafe-kafe dan toko-toko keren di pinggir jalan. Mobil pun berjajar rapi. Dulu, di sana hanya ada warung-warung milik orang-orang setempat, mobil pun masih jarang. Kebanyakan orang mengendarai sepeda motor.

Karena sudah malam kami hanya berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel, dan makan ikan bakar di salah satu warung. Hmmm siakap segar, Oliq pun lahap.

Esoknya, usai sarapan kami menuju ke salah satu penyewaan sepeda motor. Sewa untuk 24 jam adalah RM 30 bensin kosong. Motor matic kurus pas habis jadi kami kebagian motor matic gendut yang sayanya jadi agak ngangkang. Bayangkan aja Simbok syar’i macam saya harus ngangkang keliling pulau, apa nggak minta dicambuk?

Ya sudahlah, dengan berdesak-desakan kami berangkat. Kebetulan perut saya sudah besar jadi sepeda motor seolah-olah diisi 4 orang. Kali ini tujuannya sederhana saja, mau naik cable car, lalu santai-santai di pantai. Tidak ada tujuan beach-hopping ke semua pantai karena toh sudah pernah kami lakukan sewindu lalu.

“Bismillahi tawwakaltu alallahi la qawla wa la quwwata illabillah!” kata Oliq.

Cuss….langsung meluncur. Ke pom bensin.

Belum-belum boyok Simbok sudah pegel. Kami lantas memutar bandara menuju ke Burau lanjut ke Oriental Village di mana stasiun skycab berada.

Belum juga sampai tanjakan, motor mak ndruuut ndruuut ndruuut. Mogok. Huasyuuuu! Astagfirullah, ada apa pula ini? Saya sampai sudah menyiapkan gugatan perdata a la Law and Order pada pemilik motor kalau liburan kami sampai rusak gara-gara motor mogok. Setelah di-slah beberapa kali, distarter nyala lagi. Alhamdulillah!

“Kayanya bensinnya nggak turun,” kata saya pada Puput, sambil menutup wajah agar make-up tidak luntur kena terik matahari.

“Hooh kayanya kesumbat!” kata Puput.

Dengan jantung berdebar serasa mau ditembung, kami memacu motor melalui jalan menanjak. Masih sekitar 11 km lagi hingga ke tujuan. So far, aman. Eh tidak tahunya pas belokan terakhir menuju Oriental Village, motor mak ndruut ndruut lagi. Woh delengono, Pakcik, kita berjumpa di meja hijau! Karena jalanan turun, Puput nekat tetap menjalankan motor tanpa mesin sekaligus menyetater-nyetater. Dan nyala lagi! Kami pun sukses sampai di Oriental Village.

Antrean tiket skycab membludak. Nggak sengeri di Ngong Ping sih, cuma sekitar 30 menit mengantre. Perbedaannya dengan 8 tahun yang lalu adalah sekarang ada sky dome, semacam teater 3D 5 menitan. Lalu ada pula kereta gantung yang bawahnya kaca, dulu tidak ada. Seperti biasa, kami pilih yang standar *kekep dompet*

Skycab Langkawi
Skycab Langkawi

Oliq senang sekali naik kereta gantung. Dia pertama kali naik di Taman Mini (muter doang), lalu Genting (udah 3 kali!) dan terakhir di Ngong Ping, HK. Di Langkawi ini treknya pendek tapi terjal karena sampai di puncak gunung. Oliq senang sekali.

Di atas dia sempat takut karena tinggi sekali dan tidak mau pose dilempar Puput seperti biasanya. “Nanti jatuuuuuuh!” Skybridge yang fenomenal itu masih direnovasi sudah setahun lebih. Sebenarnya tetap bisa dilewati tapi Puput kasihan dengan saya yang perutnya sudah jumbo untuk turun ke jembatan. Tumben banget punya belas kasihan *gedeggedeg*

Jembatan Gantung Langkawi
Jembatan gantung Langkawi

Dari Oriental Village kami mampir ke Pantai Kok yang sepi dan cantik. “Tuuuuh si Ibu bohong, pantainya masih cantik dan bersih gini!” Di pantai ada pedagang menggunakan mobil yang berjualan laksa, rojak, minuman. Kebanyakan orang di sekitar pedagang tersebut. Di pinggir pantai hanya ada kami dan dua keluarga lain – yang merupakan penduduk setempat.

Wuiiih Oliq senang sekali main pasir dan air. (Yang berakibat dia harus berkencan dengan Dato’ Dr Vernon di Gleaneagles sepulang dari Langkawi gara-gara demam tinggi).

Pantai Kok
Pantai Kok

Ketika pulang motor mogok lagi begitu memasuki Chenang. Di-slah-slah tidak berhasil. Digoyang-goyang (agar bensin turun) tetap tidak bisa distarter Puput. Begitu disentuh Simbok starter langsung menyala. Oh, ternyata motor juga tahu…siapa yang jadi juaranya.

Esoknya kami main ke Pantai Chenang yang memang sudah jauh lebih ramai. Tapi, secara umum masih cantik dan bersih. Di pinggir pantai ada motel-motel murah milik warga setempat. Resor mahal biasanya berada di pantai-pantai lain yang lebih terpencil.

Ramai tapi masih tetap indah. Jelas lebih bersih daripada pantai-pantai di Bali.

Pantai Chenang
Pantai Chenang

Saat itu sedang ada latihan aerobatic pesawat untuk menyambut pameran dirgantara internasional di Langkawi pekan depannya. Setelah Oliq menggelepar tidur nyenyak di pasir – tidak terganggu formasi 7 Sukhoi yan bolak-balik – kami pun santai-santai saja menikmati pantai. Waktu akan pulang kami menyempatkan diri untuk masuk ke Underwater World demi melihat penguin. Begitu keluar, mencari taksi untuk ke bandara dan Pakcik taksi capat “Ada dua kapal terbang terlanggar, terbakar, tapi pilots eject, untunglah masih hidup!”

Setelah itu HP mati total kehabisan batere. Begitu sampai KL buka berita ternyata pesawat yang tabrakan milik TNI AU. Aduh. Alhamdulillah pilot selamat.

Jadi, overall, Simbok mau bilang kalau Langkawi tetap cantik, tetap indah. Langkawi masih seksi, minta ditelusuri seluruh bagiannya, diraba dengan lembut. Silakan meraba Langkawi!

Advertisements

11 thoughts on “Langkawi Masih Seksi”

  1. Alhamdullilah… Langkawi masih seperti yang dulu haha.. masih cantik dan cucok buat jomblos menyepi, menepi… kiri baaaaang..
    Setuju deh pengen balik lagi tiket PP 200ribunya mbok hehe

    Like

  2. Benar-benar permata Kedah. Itu sewa motor lumayan tricky ya, bensinnya kadang tidak turun. Tapi baliknya selamat kan Mbok? :hihi

    Like

  3. waktu di KL. sempat ngobrol sama barista starbucks, dia cerita kalau di Langkawi katanya bisa lihat elang gede banget. dan saya sampe sekarang masih belum berkesempatan kesana. emang iya mbok di langkawi ada elang gede ?

    Like

    1. Lang+kawi. Emang masih banyak elang di sana. Seliweran di atas pantai juga kok. Hutannya masih lebat jadi lestari. Maskotnya langkawi burung elang

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s