Perjalanan Terlucu dari Tanah Toba


Cerita ini singkat, hanyalah satu fragmen dari kisah panjang nan berliku, namun bagi kami ini adalah satu momen yang sangat berarti. Patut dikenang sepanjang masa. Hingga kini, momen ini masih menjadi potongan perjalanan kehidupan terlucu bagi kami.

….Salah satu masalah bagi perkembangan pariwisata di Sumatera Utara adalah transportasi umum yang semrawut. Apalagi bertahun-tahun yang lalu, duh, cari bus atau minivan yang bentuknya layak pun sangat sulit. Pernah lah suatu kali kami naik L-300 di Pematangsiantar. Dari luar body tampak oke, begitu masuk saya dengan Puput langsung berpandang-pandangan.

Salah satu sudut Toba
Salah satu sudut Toba

“Pssstt…emangnya kaya gini bisa sampai Parapat,” bisik saya melihat kabel-kabel menjuntai di seluruh interior mobil yang sudah berlapis karat. Kalimat diucapkan alam Bahasa Jawa demi keamanan kami.

“Cari mobil lain aja, yuk!” bisik Puput, masih dalam Bahasa Jawa, matanya melotot melihat sekeliling mobil.

Kami beringsut keluar.

“Heh mau ke mana klian?” seru sopir, dengan logat Batak kental.

Deg. Modyar!

“Toilet, Bang!” Kami tetap beranjak dan menata langkah menuju ke toilet, lalu berputar keluar dari terminal mencari angkutan yang lebih layak.

Ini view dari Tongging
Ini view dari Tongging

Ah tapi itu lain cerita. Bukan cerita terlucu kami. Bagian paling lucu justru ketika pulang dari Parapat.

Setelah beberapa hari menghabiskan liburan di Pulau Samosir, kami mengucapkan selamat tinggal kapadanya. Lambaian tangan mengiringi kami di perahu menuju Ajibata. Dari sana kami harus naik bus (lupa judul bus-nya apakah Sentosa, Sejahtera atau Nice ya? Hakakakka).

Kami masuk ke dalam bus yang penuh sesak dan beruntung masih menemukan tempat duduk kosong – bersebelahan. Wah bisa pegangan tangan sepanjang jalan. #Halah

Seperti yang sudah saya sebut-sebut tadi, kondisi angkutan umum pada saat itu memang memprihatinkan. Penuh, sesak, bau. Ditambah lagi ada penumpang yang dengan santainya merokok dalam bus. Bukan hanya ada, ding, tapi ada BEBERAPA. Padahal seharusnya bus tersebut ber-AC.

Ini -- sayangnya-- bukan bus Parapat-Medan, melainkan Medan-Tangkahan
Ini — sayangnya– bukan bus Parapat-Medan, melainkan Medan-Tangkahan

Saya melihat ada beberapa orang turis asing yang juga terjebak dalam kemeriahan transportasi Sumatera Utara ini. Perjalanan dari Parapat memang indah karena melewati tepian Danau Toba. Supir mengebut seolah-olah mau ke rumah sakit karena ada penumpang yang sudah bukaan 9! Ah, biasa, pikir saya, lebih baik juga bus besar seperti ini daripada minivan Omegah yang pernah kamu naiki sebelumnya. Apalagi Medan Raya Tour yang kondisinya sudah mirip zombie di The Walking Dead.

Di Pematangsiantar banyak penumpang turun. Saat itu sudah 1,5 berlalu sejak kami berangkat dari Parapat. Puput sudah ngorok dengan sukses, seperti biasa. Pegangan tangan hanya angan-angan belaka.

Di sinilah hiburan dimulai. Ada sepasang wisatawan asing duduk kira-kira 3 kursi di belakang kami. Tiba-tiba saja seorang amang-amang Batak membuka percakapan dengan mereka. Bahasa Inggrisnya cukup bagus, dengan kosakata yang luas, walau ada kesalahan grammar di sana-sini.

Bapak Batak: Where are you from?

Mas Bule: The Netherlands

Bapak Batak: She your wife?

Mas Bule: No. Girlfriend (bulenya agak males nanggepin)

Bapak Batak: Oh good (sepertinya sambil manthuk-manthuk. Entah apa maksudnya “good”, emang enak Pak diPHP-in melulu?)

Berhenti sebentar. Lalu blah blah blah lagi. Bulenya nanggepin pendek-pendek. Agaknya merasa terganggu. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba si Bapak Batak bertanya, “Do you know Country Roads song? It’s by John Denver.”

Lalu bernyanyilah dia. Syairnya benar dan lengkap, suaranya pun bagus.

Almost heaven, West Virginia,
Blue ridge mountain, Shenandoah river,
Life is old there, older than the trees,
Younger than the mountains, growing like a breeze

Country roads, take me home
To the place I belong,
West Virginia,
Mountain mamma,take me home
Country roads

All my memories, gather round her
Miner’s lady, stranger to blue water
Dark and dusty, painted on the sky
Misty taste of moonshine, teardrop in my eye

Country roads, take me home
To the place I belong,
West Virginia,
Mountain mamma, take me home
country roads

I hear her voice in the morning hour she calls me
Radio reminds me of my home far away
Driving down the road I get a feeling
That I should have been home yesterday, yesterday

Country roads, take me home
To the place I belong,
West virginia,
Mountain mamma, take me home
Country roads

I hear her voice in the morning hour she calls me
Radio reminds me of my home far away
Driving down the road I get a feeling
That I should have been home yesterday, yesterday

Country roads, take me home
To the place I belong,
West Virginia,
Mountain mamma, take me home
country roads
Take me home, country roads
Take me home, country roads

Wih, hiburan gratis nih, pikir saya sambil menyenggol-nyenggol lelaki pengorok di sebelah. Lalu Bapak Batak bilang bahwa dalam lagu itu John Denver sudah melakukan kesalahan. Namun, sudah saya tunggu-tunggu dia tidak bilang apa kesalahannya. Wah penasaran sampai tua nih. Coba saya google sebentar…. Ga ketemu!

Selama tiga jam perjalanan, si turis dibombardir berbagai pertanyaan aneh. Saya sampai cekikikan sendiri. Penumpang bus yang lain tampaknya tidak memahami karena percakapan dalam Bahasa Inggris.

Tiba saatnya ketika Bapak Batak berusaha membuka diskusi tentang Papua Barat. Deuuuh, berat bok topiknya. Tapi tampaknya Mas Bule tidak paham isu tersebut sama sekali. Hingga dia makin enggan menjawab.

Saat perjalanan hampir berakhir, Bapak Batak tetap bersemangat mengobrol dan membuka topic baru yang membuat saya terbahak-bahak.

Bapak Batak: Do you know World Bank?

Mas Bule: Yes

Bapak Batak: Do you know that World Bank will be stationed in Indonesia.

Mas Bule: Oh yeah? Where? Jakarta? (Mas Bule udah capek deh banget denger topic baru yang makin absurd)

Bapak Batak: (Membalas dengan semangat 45) No, no! It’s in Parapat or Tebing Tinggi!

GUBRAKKKK!!!!

Advertisements

17 thoughts on “Perjalanan Terlucu dari Tanah Toba”

  1. Hahaha 😀
    Haduh, amangooy, mantap bener kalo World Bank pindah ke Parapat.

    Mas, Mba, emang masih sulit sih kalau mau temukan kendraan yang bener-bener layak pakai di Medan. Sopirnya senggol bacok, mobilnya pun cepet jelek. Kami pun sering miris, ada saja sudah bersyukur. Apalagi untuk jalan-jalan ke daerah yang tidak terjangkau oleh kereta, maka transportasi umum satu-satunya ya bis. Kadang, kalau mau perjalanan lebih nyaman, sewa mobil rental. Harganya pun berbeda.
    Ya, saya ga optimis juga sih kalau soal persoalan moda transportasi ini bakal bisa dibenahi segera.

    Like

    1. Iya benar banget. Aku dulu waktu masih kerja di Aceh sering ke Medan. Itu Parapat, Pematang Siantar, Tangkahan, Bukit Lawang, Kabanjahe, Tongging, haduuuuhhh nggak ada yang bener transportnya. udah gitu banyak anak sekolah yang duduk di atap sementara mobilnya kenceng banget. karena sumut luas trayeknya pun panjang2 ya padahal bentuknya cuma angkot gitu

      Like

      1. Dulu pas main ke Brastagi pernah liat Bule yang duduk di atas mobil. Dua orang pula. Ketje banget emang dua bule itu.

        Selamat berjalan-jalan di Medan mba, sabar-sabar yaa sama orang-orangnya 😀

        Like

  2. Kemarin aku juga baca blog post yang membahas buruknya tranportasi dan jalan menuju Toba. Sedihnya yang nulis pesepeda dan traveler bule. Apa Dinas Pariwisata Sumut pernah membaca blog ya? Kalau pernah atau siapapun yang punya policy di sana, apa tidak malu membaca hal semacam ini ya, Mbak?

    Like

  3. Hahaha bapake koplak. Kalau aku dulu, ditanyain melulu sama serombongan emak2. Udah dibilangin dari Solo, wong Jawa…eh ujung2-nya tetep ditanyain marganya apa? 😀

    Like

    1. Ga….klo merunut berbagai pertanyaan anehnya kayanya agak kurang genep bapaknya itu. Cuma pengetahuan luas dan englishnya bagus

      Like

  4. Mas bulenya masih sopan, ya? Walopun njawabnya sambil males2, tapi tetep dijawab.
    Nek aku wes masang headphone, mlengos, tus embo2 turu #Eh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s