Safari Masjid-Masjid di Istanbul, Turki (bagian 2 – habis)


Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan pertama di sini, masih tentang wisata masjid di Istanbul, Turki.

Setelah berkeliling sambil shopping di Grand Bazaar, panggilan Adzan Maghrib mengantarkan saya ke Masjid Mercan Aga. Masjid ini cukup kecil dan sederhana, tidak ada kubah besar di dalamnya. Letaknya pun tersembunyi di balik toko-toko di belakang Grand Bazaar. Tak heran, para jamaahnya pun sebagian besar pedagang di Grand Bazaar. Alhamdulillah, masjid ini cukup ramai pada saat Sholat Maghrib.

Pintu gerbang Mercan Aga Cami yang tersamar diantara kompleks pertokoan di belakang Grand Bazaar
Pintu gerbang Mercan Aga Cami yang tersamar diantara kompleks pertokoan di belakang Grand Bazaar

Hari terakhir di Istanbul saya awali dengan Sholat Subuh di Masjid Kaliceci Hasanaga. Masjid terletak persis di sebelah stasiun trem Beyazit-Kapalicarsi, namun di sisi seberang Grand Bazaar dan Masjid Bayezid. Masjid ini juga sederhana, dari luar hanya terlihat seperti bangunan kotak biasa, tak ada kubah megah atau menara tinggi. Dari papan namanya, tertulis tahun pembangunannya adalah 1751, relatif baru dibanding masjid-masjid besar lainnya.

Bagian dalam Kaliceci-Hasanaga Cami, tidak ada kubah megah di dalamnya
Bagian dalam Kaliceci-Hasanaga Cami, tidak ada kubah megah di dalamnya

Sore harinya saya langsung berniat menuntaskan safari masjid di Istanbul dengan berkunjung ke masjid terbesar yaitu Masjid Suleymaniye. Masjid ini tidak bisa dijangkau dengan trem. Stasiun trem terdekat adalah Laleli Universite. Dari sini, Anda masih harus berjalan kaki kira-kira 30 menit. Sebelum sampai di masjid tersebut, Anda akan berjumpa dengan Masjid Kalenderhane. Masjid ini terlihat unik karena dinding luarnya berupa batu bata merah. Masjid ini awalnya adalah Gereja Kristen Ortodoks pada abad ke-12, kemudian berubah menjadi Gereja Katholik Roma setelah kota Konstantinofel (nama asli Istanbul sebelum penaklukan oleh Sultan Muhammad Al Fatih / Mehmed II) direbut oleh Kerajaan Byzantium. Pada tahun 1453, setelah penaklukan Konstantinofel, Sultan Mehmed II memberikan bangunan ini kepada kaum Kalenderi (semacam kaum sufi pada masa itu), sehingga bangunan ini dikenal dengan nama Kalenderhane (rumah kaum Kalenderi). Lalu bangunan ini berubah menjadi masjid pada tahun 1746 setelah pembangunan menara, mimbar, dan mihrab.

Kalenderhane Cami yang dibangun dengan batu bata merah, terlihat klasik dan berbeda dengan kebanyakan masjid pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah
Kalenderhane Cami yang dibangun dengan batu bata merah, terlihat klasik dan berbeda dengan kebanyakan masjid pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah

Akhirnya saya sampai di Suleymaniye Cami, masjid terbesar dan termegah di Istanbul, yang dibangun atas perintah Sultan Suleymaniye Agung (Suleyman the Magnificent). Pembangunan dimulai pada tahun 1550 dan selesai tahun 1558. Terletak di Bukit Ketiga (Third Hill), masjid ini terlihat sangat berwibawa dengan pemandangan kota Istanbul yang luas di sekelilingnya. Masjid ini merupakan perpaduan arsitektur Byzantium dan Islam dengan menara yang tinggi dan ramping serta kubah besar seperti kubah pada Aya Sophia.

Suleymaniye Cami, masjid terbesar dan termegah di Istanbul, sekaligus melambangkan kejayaan Ottoman Empire pada masa Sultan Suleyman the Magnificent
Suleymaniye Cami, masjid terbesar dan termegah di Istanbul, sekaligus melambangkan kejayaan Ottoman Empire pada masa Sultan Suleyman the Magnificent

Tinggi menara mencapai 72 meter, tertinggi dari semua masjid di Istanbul, sementara diameter kubah mencapai 26 meter, masih lebih kecil dari Aya Sophia yang mencapai 31 meter. Menaranya memiliki 10 galeri yang menandakan bahwa Sultan Suleyman I adalah Sultan kesepuluh dari Kekhalifahan Utsmaniyah / Ottoman Empire.

Suleymaniye Cami dilihat dari depan, terlihat sangat megah dan anggun
Suleymaniye Cami dilihat dari depan, terlihat sangat megah dan anggun

Saya datang ke masjid ini bukan pada waktu sholat, namun ternyata saya bertemu dengan hal yang menarik. Ketika saya sedang asyik memotret kubah yang megah, tiba-tiba saya didatangi oleh petugas yang memperkenalkan dirinya sebagai relawan masjid. Rupanya mereka bertugas membagi informasi tentang masjid ini dan Islam secara umum kepada para pengunjung. Dengan kata lain, mereka seperti dai yang berdakwah kepada para pengunjung. Banyak cerita menarik yang dibagi, yang akan saya tulis di postingan terpisah. Saya juga berjumpa dengan jamaah umrah dari Indonesia, setelah sebelumnya saya lebih sering bertemu dengan orang Malaysia.

Bagian dalam Suleymaniye Cami yang sangat cantik dan menawan
Bagian dalam Suleymaniye Cami yang sangat cantik dan menaw

Safari Masjid Istanbul saya tutup dengan sholat Maghrib di masjid kecil dekat apartemen saya di Tiyatro Cd, mungkin lebih cocok disebut mushola atau surau. Nama masjid ini adalah Esir Kemal Cami. Dari segi arsitektur, masjid ini tidak istimewa, bukan pula bangunan bersejarah. Namun, tetap saja masjid ini penting karena terletak di pemukiman sekaligus pertokoan yang padat. Pada saat saya sholat di sini, jamaah juga cukup ramai.

Ada beberapa hal unik setelah kunjungan ke berbagai masjid di Istanbul. Secara fisik, semua masjid yang saya kunjungi (mungkin memang standar di Istanbul) dilengkapi dengan pemanas di lantai. Awalnya memang tidak terasa, tapi begitu duduk lama baru terasa hangat, nyaman sekali pada saat musim dingin. Setelah saya lihat panel listrik besar dalam masjid, saya baru yakin memang lantainya dilengkapi pemanas / heater. Imam masjid disini juga selalu mengenakan jubah putih dan peci putih khas yang hanya dikenakan imam. Jamaah tidak pernah mengenakan peci yang persis dengan imam. Mayoritas jamaah lebih senang berdzikir dengan tasbih, sehingga masjid-masjid selalu dilengkapi banyak tasbih yang digantung di pojok dan tepi ruangan. Jadi, kalau imam sudah memulai wirid, jamaah terdekat akan membagikan tasbih ke jamaah lain yang tidak membawa tasbih.

Secara ritual, yang paling unik adalah pembacaan tiga ayat terakhir Surat Al Hasyr (ayat 22-24) yang mengandung kata-kata Asmaul Husna. Ayat ini dibacakan dengan lantang oleh sang Imam, sekaligus menjadi penutup wirid setelah sholat. Keunikan lain adalah bacaan “Amien” setelah Surat Al Fatihah hampir tidak terdengar, seperti bergumam saja. Jadi, kalau Anda sholat di sini, jangan bilang “Amien” keras-keras ya… Takbiratul Ihram pun dilakukan tanpa mengangkat tangan sejajar telinga. Sholat Subuh juga tidak menggunakan doa qunut, tapi kalau yang ini pun banyak yang sama di Indonesia. Menurut saya, ini masalah khilafiyah saja, yang tidak perlu diperdebatkan, cukup diketahui landasannya masing-masing.

Masjid-masjid di Istanbul bisa dimasuki secara gratis oleh wisatawan, tak hanya umat muslim. Hanya saja, ada batas untuk wisatawan yang bermaksud sholat. Pihak pengelola juga menyediakan semacam sarung dan jubah untuk wisatawan yang tidak menutup auratnya. Selain itu tersedia pula plastic bening untuk wadah alas kaki. Jadi, selamat bersafari di Istanbul….

Advertisements

13 thoughts on “Safari Masjid-Masjid di Istanbul, Turki (bagian 2 – habis)”

  1. How religious. Semua masjidnya bersejarah, dan masih terawat dengan demikian baiknya :salut
    Owh, rupanya itu Suleymaniye Cami. Betapa tinggi langit-langitnya 🙂

    Like

  2. menarik sekali infonya…
    saya April nanti juga mau safari masjid di Turki, dan udah dapet wejangan suruh nyoba sholat subuh di Masjid Abu Ayub, yang katanya selalu ramai di waktu subuh 🙂

    Like

  3. Assalamualaikum.
    T.kasih banyak for the info.
    Sedang saya mencari maklumat tentang Masjid Kaliceci-Hasanaga di Turki.. lalu terjumpa blog ini.

    T.kasih sekali lagi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s