Amankah Naik Pesawat Terbang Saat Hamil?


Saat kita sedang hamil, apalagi hamil pertama pasti akan ada berjuta pertanyaan di kepala. Kalau gini aman nggak? Kalau gitu boleh nggak? Walau kadang si calon ibu santai, calon bapak yang paranoid, belum lagi para ibu mertua yang suka panik sendiri. Bisa dimengerti sih, terutama kalau pernah mengalami keguguran sehingga merasa harus lebih hati-hati.

Ibu hamil naik pesawat aman
Ibu hamil naik pesawat aman

Saya sendiri sering sekali ditanyai masalah naik pesawat terbang ketika hamil. Percaya atau tidak, saya pun pernah bertanya masalah itu kepada dokter spesialis kandungan. Menurut dr. Esti Utami, SpOG, “Aman, selama ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan tidak sedang hamil kembar.”

Lalu, seperti orang-orang kekinian, sudah dapat jawaban dari ahli pun masih tetap googling kan? Dari berbagai artikel yang saya baca, semuanya pun memiliki kesimpulan yang sama, yaitu selama kehamilan normal dan sehat, tidak masalah ibu hamil bepergian dengan pesawat terbang. Beberapa menekankan bahwa walaupun secara umum aman, waktu paling aman adalah setelah masuk trimester dua. Ada beberapa argumen yang melandasi pendapat ini antara lain karena setelah memasuki trimester ke dua, ancaman keguguran pun makin tipis. Selain itu – bagi yang mengalami morning sickness (mual muntah) – biasanya sudah jauh berkurang saat memasuki trimester 2.

Berbagai tulisan yang saya baca juga menyatakan bahwa sebaiknya ibu hamil tidak lagi bepergian dengan pesawat terbang setelah minggu ke 35-36. Kebanyakan maskapai juga sudah menolak untuk menerbangkan ibu hamil dengan usia kandungan sekitar itu (misal AirAsia, Malaysia Airlines). Beberapa maskapai bahkan meminta surat dokter untuk ibu hamil dengan usia kandungan tertentu (28-35 minggu Turkish Airlines, 29-36 minggu Singapore Airlines, dan tidak akan mau menerbangkan penumpang setelah itu).

Bagaimana bunyi surat dokter tersebut? Anda bisa minta ke Obgyn Anda, lebih baik dalam Bahasa Inggris bila terbang menggunakan maskapai internasional. Biasanya dokter sudah tahu apa yang harus ditulis. Intinya Fitness to Fly Certificate ini berisi tentang nama pasien, usia kandungan, hari perkiraan lahir, dan apakah dia sehat untuk terbang. Harus ditulis jelas nama dokter, kapasitas dokter (sebagai dokter kandungan, bukan dokter hewan), dan tanda tanga. Surat ini dibuat paling lama 7 hari sebelum hari terbang (boleh dibuat untuk pesawat pulang pergi bila jaraknya memang tidak terlalu lama).

Permasalahan hamil besar tidak boleh terbang alasannya adalah karena saat itu ibu hamil sewaktu-waktu dapat melahirkan. Sangat beresiko apabila ibu hamil mengalami kontraksi di udara.

Masalah Tekanan Udara dan Metal Detector

Salah satu yang ditakutkan oleh para calon ibu adalah bagaimana tekanan udara mempengaruhi janin. Sekali lagi, secara umum dalam keadaan sehat, tekanan udara tidak terlalu berpengaruh karena walaupun ada perubahaan terutama saat take off dan landing, peraturan FAA menyatakan bahwa tekanan udara di kabin harus stabil.

Waktu hamil Oliq, saat masih kerja, saya dan teman-teman yang hamil biasanya menghindari masuk melalui metal detector di pintu kantor. Bagaimana kalau di bandara? Ternyata setelah saya baca-baca, alat pendeteksi metal tersebut tidak berbahaya bagi ibu dan kandungannya karena mempergunakan gelombang elektromagnetik frekuensi rendah. Ingat: metal detector berbeda dengan mesin x-ray.

Pesawat Jarak Jauh

Sebenarnya, faktor jauh dekatnya penerbangan tidak menjadi masalah selama kondisi ibu dan janin sehat. Yang ditakutkan di sini adalah si ibu yang terlalu capai sehingga memicu permasalahan dengan kehamilannya.

Walaupun saya berkali-kali bilang bahwa naik pesawat bagi ibu hamil itu aman, saya tidak menampik lho bahwa kondisi ibu hamil itu tidak sama persis dengan kondisi dia dalam keadaan tidak hamil. Pengalaman saya, saya lebih rentan terhadap turbulensi. Ketika terbang dengan Pegasus Airlines dari Sabiha Gockcen ke Kayseri, pesawat take off menukik ke atas di dalam awan tebal (hari itu Istanbul memang hujan dan mendung). Saya mual, padahal biasanya saya cukup tangguh dengan masalah turbulensi. Puput yang tidak hamil pun berkata bahwa posisi pesawat memang tidak nyaman.

Ketika pulang dari Istanbul menuju ke Kuala Lumpur, lepas sub-kontinen India, pesawat mengalami turbulensi, yang membuat perut saya diaduk-aduk. Bahkan Oliq juga mengeluhkan perutnya sakit. Namun dari penerbangan 11,5 jam, hanya saat itulah terasa mual.

Saat hamil pertama, saya pernah terbang sendirian dari Jakarta ke KL pada usia kandungan nyaris 35 minggu. Entah bagaimana perut saya sakit, sepertinya posisi janin sedang berubah namun belum mendapatkan posisi yang wuenak. Rasa sakit itu hanya selama kurang lebih 2 jam, tidak sangat sakit hanya perut bawah terasa tidak nyaman. Saya masih sanggup jalan dari bandara, naik bus, sampai di KL Sentral mencari-cari Puput yang ngorok di McDonald’s.

Selain itu, aman tenteram sentosa.

Tips:

  1. Minum air putih yang banyak karena ibu hamil membutuhkan cairan dan pressurized cabin di dalam pesawat membuat kita mudah dehidrasi.
  2. Sedia buah, atau permen jahe, mint, yang membantu kita mengendalikan rasa mual di dalam pesawat.
  3. Mengenakan pakaian yang longgar karena perubahan tekanan udara mengakibatkan sirkulasi darah kurang lancar.
  4. Lepas sepatu, kenakan kaus kaki (dan sandal bila disediakan maskapai)
  5. Gunakan selimut karena AC membuat kulit dingin dan gatal.
  6. Lepas BH, buat saya ngaruh banget ini. Sukses lepas BH di pesawat tanpa melepas baju lengan panjang. Ini membuat napas menjadi lebih lega, terutama saat perut makin membesar.
  7. Olesi bagian rawan gatal dengan losion, dan bibir dengan lip balm.
  8. Pilih tempat duduk tidak terlalu jauh dari toilet (tapi juga jangan terlalu dekat karena berisik suara flush dan pramugari mengobrol).
  9. Dalam penerbangan jarak jauh usahakan jalan-jalan agar pantat dan tubuh tidak kaku. Anda bisa menggelepor di lantai pesawat bagian ekor untuk meluruskan kaki.
  10. Jika Anda bepergian sendiri bisa bilang pada pramugari mungkin cukup beruntung diupgrade di business class.

Untuk bacaan tentang kehamilan dan pesawat, saya suka lihat http://www.babycenter.com

Petualangan saya saat hamil pertama dan tetap traveling ada di sini

Petualangan saya saat hamil ke dua dan tetap traveling sedang dalam proses.

Advertisements

24 thoughts on “Amankah Naik Pesawat Terbang Saat Hamil?”

    1. Iya…aku mah di rumah cuek aja. Pas jalan2 itu juga cuek ga berkutang karena pake winter coat jadi gelambirnya ga terlalu kelihatan wakakaka

      Like

  1. Waktu hamil 5bulan saya juga sempet liburan naik pesawat, alhamdulillah baik baik aja, malah dokternya minta oleh-oleh 🙂
    Tapi pas mau check in d Changi, petugasnya ga ngerti prosedur passanger hamil mesti isi form&ttd, dia sampe bilang kalo ibu hamil ga usah pergi pergi lah
    -_- nyebelin

    Like

    1. aku jarang isi form. males. karena form juga sebenarnya demi kepentingan maskapai, jadi kalau ada apa2 kita ga bisa nuntut. dan emang stafnya pada males2

      Like

  2. Wedeeew mak Olenka kuat bingit…gimana pegelnya ya berjam-jam di pesawat dalam kondisi hamil…pengalaman saya sih cuma penerbangan domestik. Pas kehamilan anak pertama, kedua, dan ketiga ini, selalu dapet tugas antar kota dengan naik pesawat. Bahkan, saat kehamilan anak ketiga ini, di trimester pertama, tiap bulan perjalanan Sub-Jkt. Di bulan keempat Sub-Dps. Beruntung belum pernah terkendala aturan apapun. Mungkin karena cuma domestik kali yah….

    Like

  3. Ih pas banget ih, aku lagi wondering boleh nggak naik pesawat. Soalnya ada obsgyn bilang boleh, ada yang bilang mending jangan dulu. Mungkin jangan nya karena takut aku kecapekan kali ya, mengingat riwayat hamilku dulu, bukan karena pesawatnya gimana2. Tapi dasarnya aku yang terlalu parno aja nih, hihihi. Parno tapi males, belum googling. Bahahaha. Makanya grateful banget liat Mak Olen update ini di grup. Makasih banyaak, Mak. Bermanfaat puol! :**

    Like

    1. Pengalaman saya nggak masalah bila kehamilan tidak ada problem dan tidak ada riwayat keguguran tapi banyak orangtua yang suka khawatir. Saya sarankan tanyakan SPOG Anda ya

      Like

  4. Maaf mbak, wkt mbak ke Turki brp usia kehamilan mbak? Kr sy in shaa Allah bulan februari mau ke Turki n saat itu usia janin sy 15 minggu. Apkh kita harus minum obat penguat janin saat take off n landing? Mksh sblmny mbak..

    Like

    1. 5 bulanan. Saya pernah naik pesawat terbang sejak hamil muda sampai 34 minggu ga pernag diresepkan obat. Saya bahkan ga minum vitamin juga. Mending cek spog dulu mbak kalo kuatir, kondisi kandungan beda2

      Like

  5. Mba..wkt naik pesawat usia 35 mg kehamilan. Apa diberikan surat terbang oleh dokter? Bgm dgn maskapainya? Mohon info nya..krn sy berencana terbang juga usia kehamilan demikian, walaupun cmn domestik

    Like

    1. Kalo airasia 34 minggu. Harus dgn surat dokter. Cek dulu di web maskapainya max berapa minggu daripada ditolak masuk

      Like

  6. Mba mau tanya saya kehamilan mau ke 32 minggu
    Ada penerbangan ke bali dari jkarta
    Ada yg bilang ktnya takut berpengaruh ke otak janin
    Takut ada kelainan bawaan aoa bner ya ??

    Like

    1. Saya belum pernah denger kaya gitu. Rasanya kok enggak ya hehe. Menurut spog-spog saya ga masalah. Mbaknya silakan cek ke dokternya

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s