Jalan-Jalan Asyik di Kota Minyak Stavanger


Kalau Indonesia punya Balikpapan yang menjadi banyak markas perusahaan minyak dunia, Norwegia punya Stavanger. Kota yang berada di distrik Rogaland ini menjadi pusat perminyakan karena dekat dengan ladang-ladang minyak lepas pantai di Laut Utara.

Pose di salah satu jembatan
Pose di salah satu jembatan

Jangan bayangkan Stavanger hanya terdiri dari kilang-kilang yang tidak menarik, di sini banyak yang dapat dikunjungi oleh wisatawan.

Saya keluar dari Sola Airport, disambut udara dingin. Suhu di bawah nol derajat seolah menampar pipi. Terbang dari Bandara Schiphol di Amsterdam yang pemeriksaan imigrasi serta bea cukai ketat, saya malah mengalami hal yang berlawanan di sini. Di Bandara Sola (sering disebut juga Bandara Stavanger karena kebanyakan orang terbang ke sana untuk ke Stavanger), ternyata malah tidak ada pemeriksaan sama sekali. Mungkin karena semua penerbangan ke sini harus melalui kota-kota lain yang sudah melakukan pemeriksaan imigrasi terlebih dahulu.

Jadi, ketika sampai di bandara saya melongo karena sama sekali tidak ada pemeriksaan. Bahkan beberapa petugas bandara hanya senyum-senyum saja melihat saya, suami, dan anak, sibuk membongkar koper untuk mengambil jaket musim dingin dan perlengkapannya. Maklum saja, saat itu kami langsung terbang dari Bali yang super panas, jadi hanya mengenakan pakaian tipis dan sandal.

Kota ini adalah rekor terlama kami terbang dari Denpasar-Jakarta-Abu Dhabi-Amsterdam-Stavanger. Oliq waktu itu berusia 20 bulan.

Danau-danau membeku padahal seharusnya mulai masuk musim semi
Danau-danau membeku padahal seharusnya mulai masuk musim semi

Tiba di luar, kami mencari taksi dan mengalami melongo ke dua kali ketika petugas taksi langsung menggendong Oliq, mencium pipi dan ubun-ubunnya, lalu mendoakan dalam Bahasa Arab. Agaknya, ia adalah imigran Timur Tengah, dan mengetahui kami keluarga muslim dari kerudung yang saya pakai. Padahal, setelah penerbangan lebih dari 20 jam kerudung saya sudah awut-awutan tidak jelas. Supir taksi langsung memasangkan baby seat di kursi belakang untuk Oliq. Di kemudian hari saya baru mengetahui bahwa bila membawa anak-anak, memesan taksi pun harus menyebutkan usia anak dan berat badannya, karena carseat wajib hukumnya.

Bercanda dengan Burung di Danau Beku

Seperti layaknya kota-kota lain di Skandinavia, Stavanger pun memiliki banyak danau. Sebenarnya saya datang ketika musim dingin seharusnya sudah mulai beralih ke musim semi, namun salju masih turun dan danau serta sungai masih beku. Maklum saja, akibat perubahan iklim musim pun menjadi bergeser.

Kehidupan kota Stavanger sendiri berpusat di sekeliling Danau Breiavatnet. Air di Breivatnet berasal dari Mostvatnet dari aliran Sungai Kannikbekken yang membelah kota. Di tepi danau ini berdiri Katedral Stavanger, Sekolah Katedral dan stasiun kereta api. Terminal bus dan beberapa pusat perbelanjaan pun hanya ditempuh beberapa puluh meter dari situ. Danau ini hanya memiliki ikan sedikit – dan satu-satunya yang memiliki izin memancing di sini adalah Kepala Sekolah Katedral Stavanger.

Berada di Stavanger selama tiga minggu dan ditinggal Puput bertugas, saya jadi sering membawa Oliq berjalan-jalan di seputaran danau. Ratusan burung hinggap di danau beku, ratusan bebek-bebek gemuk berenang di bagian danau yang mencair. Semuanya akan terbang berebutan ketika ada yang melemparkan remah-remah roti ke danau. Makanya, banyak para ibu yang membawa anak-anaknya ke tepi danau untuk memberi makan burung dan bebek.

Memberi makan bebek dan burung
Memberi makan bebek dan burung

Awalnya di apartemen karena terbiasa kere, saya makan juga pinggiran roti yang keras itu. Oalah, ternyata kalau di sini Cuma dijadikan makanan burung dan bebek.  Belajar dari itu, saya pun membawa bekal pinggiran roti keras untuk diberikan pada hewan di Breiavatnet ini. Hiburan yang asyik dan murah meriah di tengah kehidupan Stavanger yang sangat mahal.

Danau Mosvatnet, sumber air dari Breiavatnet pun pernah kami kunjungi. Danau di sini lebih besar an lebih beku. Beberapa anak sekolah berumur awal belasan tahun berkata pada saya dalam Bahasa Inggris, “No swimming here!” sambil menunjukkan tanda dalam bahasa Norwegia. Saya pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Dalam hati saya bilang, “Duh, Dik, nyelupin kaki ke danau saja saya nggak berani, apalagi berenang. Bisa langsung mati beku.”

Saya Cinta Pedersgata

Satu dua hari pertama di Stavanger saya masih tahan dengan makanan hotel bergaya cold cuts, biasanya terdiri dari lembaran tipis daging atau ikan salmon, roti, dan beranekaragam keju. Kesemuanya disajikan dalam keadaan dingin. Masih bersyukur kalau ada kentang goreng yang disajikan. Setelah itu, saya sudah tidak sanggup lagi.

Beruntung, kami akhirnya pindah ke apartemen dengan peralatan memasak yang lumayan lengkap. Sebuah minimarket yang menjual sayuran dan bahan makanan tepat berada di bawah apartemen. Lumayan, saya bisa memasak sup ikan atau sup daging yang sangat cocok untuk cuaca di bawah titik beku tersebut.

"Waaa waaa Indomie!!!"
“Waaa waaa Indomie!!!”

Ketika bumbu instan dan mi instan yang dibawa dari Indonesia habis, mulailah kami kelabakan. Setelah mencari di internet, ternyata ada beberapa toko dan restoran Asia di jalan Pedersgata. Ketika ke sana, ternyata jalan tersebut memang seperti pusat Asia. Di sana-sini ada toko bahan makanan, restoran halal, penjual sayur-sayuran Asia, dan sebagainya.

Hati Simbok langsung melonjak senang ketika melihat bungkus Indomie dengan berbagai rasa, juga sambal botolan. Harganya mahal, setara dengan Rp 10 ribu untuk satu bungkus mi instan. Satu buah terong seharga setara Rp 20 ribu akhirnya saya beli juga demi sayur lodeh panas untuk Si Cucup Markecup nanti sore.

Di sini saya takabur. Mencerca cabe gendut yang dibeli, ketika diiris mentah dicoba, “Halah nggak pedes, kaya paprika.” Ternyata setelah dioseng puedeseeeeee marahi modyar!

Untuk makanan Eropa saja Stavanger ini cukup mahal, misalnya brokoli dan wortel terlihat dari labelnya diimpor dari Spanyol. Jadi maklum saja bila sayur-sayuran khas Asia harganya mencekik leher. Hanya ikan salmon yang harganya agak murah dibandingkan yang lain, namun juga tidak lebih murah daripada di Indonesia.

Kota Tua Putih Gamle

Gamle atau dikenal dengan istilah Old Stavanger berdiri tidak jauh dari pelabuhan. Gamle adalah perkampungan yang terdiri dari 173 rumah dibangun pada abad 18. Kini jumlah rumah tersebut telah tumbuh menjadi lebih dari 250.

Old Town Gamle
Old Town Gamle

Rumah-rumah di Gamle terbuat dari kayu dan dicat berwarna putih. Hampir semuanya masih berpenghuni, terlihat dari jendela-jendela yang dihiasi pohon kecil. Cantik sekali. Keindahan rumah-rumah putih itu selaras dengan wilayahnya yang berbukit dengan jalan-jalan terbuat dari cobblestone – batu kotak-kotak yang umum dijumpai di jalanan Eropa. Beberapa jalan terlalu sempit sehingga penghuninya memiliki jatah parkir mobil di pinggiran Gamle.

Walaupun rumah-rumah tersebut sudah sangat tua, namun semuanya sudah direnovasi dan disesuaikan dengan kenyamanan modern, seperti air panas dan pemanas ruangan. Semuanya terlihat terurus, bersih, dan rapi.

Di Gamle ini ada Norwegian Canning Museum, memamerkan tentang sejarah industry pengalengan dan para pekerjanya. Hasil laut Stavanger memang banyak, antara lain salmon, sarden, dan produk perikanan lainnya.

Ah tiga minggu di Stavanger tidak bosan juga, walaupun sepi dan (terlalu) damai, banyak yang bisa dilihat dan suasananya menyenangkan!

Advertisements

7 thoughts on “Jalan-Jalan Asyik di Kota Minyak Stavanger”

  1. Sayuran mahal? Cerita-cerita seperti inilah yang kerap membuat mata hati saya terbuka dan bersyukur. Ternyata di Negeri kita ini semua-semua berlimpah dan murah meriah. Tak semuanya menyebalkan, tak semuanya memuakkan. Bahkan dari berpakaian saja tidak perlu repot dan ribet mengenakan pakaian musim dingin dan segala aksesorisnya. Tapi ya rumput tetangga selalu tampak hijau dibanding rumput di halaman sendiri. Ngebayanginnya enaak banget hidup di luar negeri padahal belum tentu juga kan 😀

    Like

  2. Itu cabe gendut kok bisa diiris tidak pedas tapi saat dioseng pedasnya minta ampun ya, Mbak? :bingung
    Wah, Indomie jauh juga peredarannya, sampai ke Norwegia!

    Like

  3. mbak Olen, kemarin pas ke Saigon aku ketemu indomi dengan harga lima rebu sebungkus 😀 akhirnya kubeli juga, daripada perut protes melulu 😀 btw, cakep banget Stavanger ini ya…

    Like

  4. Saya pernah ke Eropa sekali dan lagi usaha ciptain kesempatan kedua. Baca postingan ini semacam memotivasi saya. Kota tua putih Gamle itu juga keren. Itu yang saya suka dari negara-negara Eropa (mungkin sebagian, gak semua). Mereka peduli dengan arsitekturnya dan bener-bener diatur supaya punya karakter dan terlihat well-organized.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s