Pacaran Gaya Myanmar


Sebenarnya nggak pantes banget emak-emak bunting ngomongin pacaran. Udah lewat 5 tahun masanya, dan waktu itu pun taaruf #hasyaaah. Tapi, waktu kami ke Yangon awal tahun ini, Simbok menemukan pemandangan lucu-lucu di taman.

Alkisah, di hari terakhir sebelum pulang kami memutuskan untuk pergi ke Reclining Buddha (Buddha Berbaring) di Chauk Htat Gyi Pagoda. Kami berangkat naik taksi. Pulangnya, berencana untuk mengeksplorasi Yangon dengan berjalan kaki bawa gembolan 4,5 bulan ini.

Asmara di balik payung
Asmara di balik payung

Dari Chauk Htat Gyi Pagoda, kami jalan menuju ke Ngar Htat Gyi Pagoda yang masih berada di Jalan Shwegondaing, lumayan menggeh-menggeh untuk sampai ke atas. Kedua pagoda ini tidak menarik bayaran tiket masuk. Di dalam pun ada banyak persediaan air minum gratis.

Dari sini Puput ngotot untuk jalan menuju ke Karaweik di Danau Kandawgyi yang menurut peta dekat. Nyatanya? Well, Yangon panas dan berdebu, ramai mobil dan bus, sementara kami harus mendorong stroller Oliq di pinggir jalan tak bertrotoar.

Tapi seperti biasa Simbok memang keren *kibas daster*

Setelah menyusuri jalan panjang tanpa trotoar, kami berbelok menuju jalan dengan trotoar bolong-bolong. Intinya adalah mencari jalan sependek mungkin menuju ke tepi Danau Kandawgyi. Setelah melewati sebuah jalanan kecil, sampai juga di pintu masuk kawasan taman. Ternyata tiket masuk turis asing adalah MMK 2000 alias Rp 20 ribu seorang. Duh, batin saya, selamat tinggal makan malam!

Benar adanya, uang kira-kira hanya cukup untuk makan siang, taksi pulang, dan taksi ke bandara besok paginya.

Kami memutuskan untuk istirahat di taman di tepi danau dan membeli makan siang. Lapar menggelora. Di sinilah sana memperhatikan banyak pasangan menjondol di tepian danau. Kami pilih tempat yang teduh dan tidak terlalu dekat dengan pasangan manapun. Sementara Oliq main-main di rumput, Puput bertugas membelikan makan siang.

Di situlah saya memperhatikan memang banyak sekali pasangan sedang indehoi. Ciri khas mereka adalah pakai payung. Entah maksudnya apa. Mungkin bisa menjadi pelindung ketika ada secercah sinar matahari lolos dari antara dedaunan. Mungkin. Tapi nyatanya payung banyak beredar di tempat yang benar-benar teduh, biasanya diletakkan di belakang pasangan. Oooooh, kok saya bego banget ya kaya ga pernah muda aja, payung digunakan untuk menutupi kalau mau uhuuuk-uhuuuuuk….

Simbok manthuk-manthuk.

Tidak jelas dari mana munculnya tiba-tiba datang empat orang muda – tapi bukan remaja lagi – ramai tertawa-tawa. Satu pasang memisahkan diri duduk di pinggir danau sambil membuka payung. Pasangan yang lain duduk di bangku taman tepat di hadapan saya dan Oliq, berjarak sekitar dua meter. Menghadap ke arah kami lalu mulai peluk-pelukan, cium-ciuman, pangku-pangkuan.

Simbok ngelu.

Lalu saya menyuruh Oliq membereskan mainannya dan kami pindah beberapa meter dari tempat semula. Di depan kami ada orang pacaran lain tapi jaraknya cukup tidak terlalu nggilani. Mereka pacaran sambil berbekal rujak wakakakaka wakakakakak. Memang rujak kedondong sangat ngeboom di Myanmar.

Puput datang membawa ransum. Kami makan sangat lahap.

Selesai makan kami jalan menyusuri boardwalk pinggir danau. Di sana-sini ada payung warna-warni. “Apa nggak kerja orang-orang ini?” kata saya. Itu adalah hari kerja.

Taman di Kandawgyi dan sepasang insan
Taman di Kandawgyi dan sepasang insan

Setelah lumayan jauh menyusur danau tibalah kami di taman yang pohon-pohonnya dipotong sangat rapi. Ternyata di sana sini ada pasangan yang sedang menjondol di bawah bayangan pohon. Saya langsung nglekar di salah satu bayangan yang masih belum dihuni. Puput foto-foto dikejar Oliq.

Dia datang dan berseru, “Cop, cop. Di sana lagi ada yang demok-demokan susu!” Dyaaaar!

 

 

Advertisements

27 thoughts on “Pacaran Gaya Myanmar”

  1. Whhahahahahahahahaaa *tertawa gara2 baca cerita gaya pacaran ini*
    Whahahahahahahahahaha *tertawa gara2 …………………….. anuh!*

    Kok aku jd berharap mendadak ada angin kencang yg meerbangkan payung2 itu dr tempatnya ya #Eh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s