Jalan-Jalan ke Hong Kong dan Makau (Dan Tips bagi Traveler Muslim)


Hong Kong dan Makau sebenarnya tidak pernah ada dalam daftar destinasi wisata yang sangat saya impikan. Entah kenapa, mungkin karena kedua kota tersebut selalu diasosiasikan dengan wisata belanja dan hingar bingar kehidupan malam. Maklum, sebagai traveler hemat, jangankan belanja, kalau ke luar negeri saya paling hanya membeli magnet kulkas satu buah sebagai cenderamata.

City of Skyscrapers
City of Skyscrapers

Entah ada angin apa, akibat ada tiket promo yang sangat murah, jadilah saya membeli tiket untuk saya, suami, dan anak. Rencananya kami akan liburan empat malam di Hong Kong dengan melakukan wisata sehari ke Makau. Ternyata setelah melakukan riset kecil di Internet, lokasi wisata di Hong Kong sangat beragam dan tidak mungkin kami kunjungi semua karena selain waktu yang mepet, dana juga cekak. Yang pertama saya lakukan adalah mencari hotel. Dan karena pertimbangan bahwa kami harus menjalankan shalat Idul Adha di sana, saya memilih hotel yang tidak jauh dari masjid. Tidak lucu kan, kalau pagi-pagi hendak shalat Id harus nyasar-nyasar cari masjid?

Idul Adha di Hong Kong

Hari keberangkatan cukup berat karena kami menjalankan puasa sunnah. Penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Hong Kong ditempuh dalam waktu hampir 4 jam. Untung Oliq (3 tahun) tidak rewel dan mau makan di pesawat walau orangtuanya berpuasa. Dia memang sudah terbiasa dibawa jalan-jalan jauh.

Transportasi HK yang nyaman
Transportasi HK yang nyaman

Dari bandara kami memilih menggunakan kereta ekspres bandara, karena bus bandara dialihkan akibat demonstrasi pro-demokrasi yang sedang marak terjadi. Hanya butuh waktu 24 menit untuk mencapai pusat kota yang berada di pulau berbeda. Dalam perjalanan ini, kami baru menyadari betapa indahnya lanskap Hong Kong. Kontur tanahnya berbukit-bukit, dan di mana-mana ada bangunan pencakar langit. Dari Stasiun Hong Kong kami masih harus berjalan menuju ke Stasiun Central untuk berganti kereta. Dari Central kami menumpang kereta menuju ke Stasiun Causeway Bay yang dekat dengan hotel. Peringatan saja bagi yang hendak ke Hong Kong, walaupun sistem transportasi di kota ini sangat canggih dan mudah diakses, kita harus kuat jalan karena antara kereta dengan pintu keluar stasiun selalu jauh. Suami saya sampai berseloroh, “Pantas orang Hong Kong langsing-langsing.” Tiba di hotel kami langsung beristirahat karena badan sangat lelah. Baru setelah maghrib dan berbuka puasa kami berjalan-jalan melihat keindahan malam Hong Kong sambil mencari masjid. Alhamdulillah, sesuai dengan peta, Masjid Ammar dan Osman Saddick Islamic Centre hanya berjarak 200 meter dari hotel. Di lantai 5 ada Halal Canteen yang akan menjadi tempat makan favorit kami selama beberapa hari ke depan. Ada beberapa lokasi shalat Idul Adha di Hong Kong, salah satunya adalah Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Di Masjid Ammar, shalat Idul Adha dilaksanakan dalam 3 waktu, yaitu pukul 7.30, 9.00, dan 10.00. Saking membludaknya jamaah, shalat dilaksanakan di ketujuh lantai Islamic Center, itu pun masih penuh sesak.

Masjid Ammar
Masjid Ammar

Saya bertemu dengan banyak sekali teman-teman TKI di sana, rasanya sudah kembali ke Indonesia saja mendengar Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa dari segala sudut. Prosesi shalat Idul Adha agak berbeda dengan yang biasa dilakukan di Indonesia sehingga saya – dan banyak jamaah lain – sempat agak bingung di tengah-tengah shalat. Namun, selain itu semuanya lancar walaupun saya tidak memahami isi khotbah dalam Bahasa Kanton. Usai shalat, kantin menyediakan sarapan gratis berisi empat potong dimsum beserta minuman. Di banyak tempat saya melihat kawan-kawan TKI duduk menggelar tikar untuk makan bekal yang mereka bawa. Masya Allah, sungguh indah pengalaman ini. Saya selalu bersyukur bisa menikmati Hari Raya di negara yang berbeda.

Hong Kong Punya Pemandangan Indah

Ketika urusan ibadah sudah selesai, kini saatnya mengeksplorasi kota. Saya sendiri menjuluki Hong Kong sebagai “City of Skyscrapers” alias kota yang penuh dengan pencakar langit. Gedung-gedung tinggi menjulang membelah cakrawala. Bahkan di puncak bukit pun terdapat banyak gedung tinggi. Walau tidak memiliki keindahan alam spektakuler seperti wilayah timur Indonesia, misalnya, pemandangan berupa bukit-bukit hijau pun masih ditemui di Hong Kong yang sangat padat. Saya memutuskan untuk naik trem yang mendaki hingga puncak, dikenal dengan nama The Peak. Jalur trem ini sudah berusia lebih dari 120 tahun, mendaki hingga ketinggian nyaris 400 meter. Dari puncaknya saya bisa melihat pemandangan Hong Kong berupa bukit hijau dan danau di satu sisi, dan gedung-gedung tinggi menjulang di sisi lain. Sayangnya, kabut tampaknya memang akrab sekali dengan Hong Kong, bahkan di musim panas wisatawan jarang menemui pemandangan bersih tanpa kabut.

Ngong Ping
Ngong Ping

Pusat kota Hong Kong terletak di Pulau Hong Kong yang memang sangat padat penduduknya. Namun, wilayah Hong Kong juga mencakup beberapa pulau lain yang jah dari kesan metropolitan, seperti Pulau Lantau dan Pulau Lamma. Kesemuanya dihubungan dengan kereta api, feri, maupun bus. Pulau Lantau paling baik disaksikan melalui kereta gantung yang menghubungkan antara Tung Chung dengan Ngong Ping. Naik kereta gantung melewati bukit dan laut selama 25 menit ini adalah salah satu pengalaman terbaik saya selama di jalan-jalan di Hong Kong. Di puncak Ngong Ping terdapat biara Po Lin dan Big Buddha. Latar belakang Ngong Ping adalah bukit-bukit tinggi yang sangat indah untuk difoto. Siapa bilang kota megapolitan seperti Hong Kong tidak memiliki pemandangan alam indah. Di Ngong Ping tidak ada mushala sehingga saya dan suami harus mencari tempat untuk menjalankan shalat Dhuhur dan Ashar. Dengan persenjataan berupa alas sujud dan aplikasi ponsel yang dapat menunjukkan arah kiblat, kami pun shalat di rerumputan. Untungnya shalat sudah selesai ketika tiba-tiba kami didatangi beberapa ekor sapi milik biara. Berbeda dengan banyak pantai di Indonesia yang masih (agak) alami, pantai-pantai di Pulau Hong Kong biasanya dikelilingi oleh bangunan-bangunan hotel mewah dan apartemen pencakar langit. Beberapa yang sempat saya kunjungi adalah Repulse Bay dan Stanley. Di pantai disediakan banyak tempat sampah dan agaknya pengunjung pun sadar akan kebersihan.

Peninggalan Portugis di Makau

Makau selalu diasosiasikan dengan berjudi. Benar, memang Makau memiliki kasino-kasino terbesar di dunia. Namun, di balik gemerlapnya uang haram yang beredar di meja judi, Makau pun memiliki sisi eksotik yang harus selalu diangkat. Tujuan saya melakukan trip sehari ke Makau hanyalah satu: melihat peninggalan sejarah Portugis di tempat ini.

Ruinas do Sao Paolo
Ruinas do Sao Paolo

Hanya butuh waktu 1 jam untuk menyeberang dari Hong Kong menuju ke Makau menggunakan kapal feri. Seperti berpindah negara, semua penumpang feri pun melalui proses imigrasi. Saya langsung menuju ke Senado Square dengan bus umum. Walaupun Makau memiliki mata uang sendiri Macao Peso (MOP), dolar Hong Kong (HKD) diterima di mana saja, jadi tidak perlu repot menukarkan uang. Ternyata sesuai yang saya harapkan, Senado Square memang penuh dengan bangunan-bangunan tua bergaya Portugis. Sedikit menilik sejarah, Makau dikuasai oleh Portugis sejak abad ke 16. Bahan ketika pada Perang Dunia II Jepang menginvasi banyak tempat di Tiongkok, Makau tetap ditinggalkan dalam posisi netral. Oleh karena itu budaya Portugis masih sangat kental di sini. Makau masih menggunakan Bahasa Portugis untuk penyebutan nama jalan (misalnya Avenida de Campo), nama gedung (edificio Yung atau gedung Yung), dan nama tempat lainnya (misalnya Terminal Maritimo untuk pelabuhan alias terminal feri). Perut sudah berteriak-teriak minta diisi. Bau harum dari para pedagang Portuguese egg tarts yang terkenal itu sungguh sangat menggoda iman. Sayangnya, karena kami tidak yakin dengan kehalalannya, akhirnya cuma bisa menatap nanar tumpukan kue tersebut. “Nanti saja, kita cari yang benar-benar halal di Indonesia atau Malaysia,” kata Puput, suami saya menenangkan gejolak batin ini. Senado Square sangat ramai oleh wisatawan padahal saat itu hari senin. Saya senang berfoto-foto dengan latar belakang gedung-gedung tua berwarna. Ikon wisata sejarah yang paling terkenal di Makau adalah Ruinas de Sao Paulo atau Reruntuhan Santo Paul. Dulunya bangunan ini merupakan katedral yang dibangun pada akhir tahun 1500an. Pada pertengahan tahun 1800, Makau diterjang angin topan yang kemudian mengakibatkan kebakaran di katedral. Kini yang tersisa tinggal dinding bagian selatan, di atas sebuah bukit dengan 66 anak tangga.  Langit biru cerah membuat saya senang karena perjuangan di Makau dengan perut lapar pun tidak sia-sia. Di sisi kanan Ruinas de Sao Paulo terdapat sebuah bukit dengan pohon-pohon besar yang nyaman untuk berteduh. Bukit itu dulunya merupakan sebuah benteng bernama Fortaleza de Monte. Setelah menjalankan shalat di bawah sebuah pohon, saya kembali mendaki hingga puncaknya. Ternyata di puncak terdapat Museum Makau yang memamerkan peninggalan sejarah, budaya, dan keragaman Makau. Dari atas Fortaleza de Monte terlihat kota Makau, campuran antara hotel-kasino raksasa, gedung-gedung kantor, namun banyak juga apartemen-apartemen sederhana. Jalan-jalan di Makau berbukit-bukit dan berbatu, serupa dengan banyak kota di Eropa. Tidak salah bila Makau dijuluki Portugis Kecil.

Tips bagi traveler muslim Memilih penginapan dekat masjid

Berbeda dengan banyak kota besar lain, bagi traveler muslim sebenarnya sangat mudah untuk memilih penginapan di Hong Kong. Kota yang kembali ke pangkuan Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1997 memiliki beberapa masjid dan pusat Islam di tengah kota, tidak jauh dari berbagai atraksi wisata. Saya menyarankan untuk memilih kawasan Wan Chai, Causeway Bay, dan Kowloon. Ketiga tempat tersebut berlokasi di tengah kota, dilalui oleh jalur kereta api (MTR). Anda, seperti saya, mungkin senang mendapat pengalaman beribadah di negara lain. Selain itu, alasan mengapa memilih penginapan di dekat masjid berkaitan dengan poin berikutnya.

Berburu Makanan Halal Tidak hanya di Hong Kong, bila ada masjid di sebuah lokasi, bisa dikatakan ada komunitas muslim di sekitar tempat itu. Oleh karenanya, kemungkinan besar ada beberapa warung halal di sekitar masjid. Saya menginap 200 meter dari Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick Islamic Centre, sebuah bangunan berlantai 8. Di lantai 5 terdapat Halal Canteen yang menyediakan makanan Kanton, cita rasanya cocok dengan lidah saya. Tidak jauh dari masjid ada sebuah kedai pizza dan pasta halal, dengan pelayan seorang ibu berhijab. Ada pula sebuah restoran kebab Turki halal. Di Causeway Bay, terdapat beberapa restoran Indonesia yang memiliki sertifikasi halal. Di Kowloon, banyak terdapat restoran halal namun sebagian besar adalah restoran Arab dan India. Di beberapa minimarket, dijual juga mie instan produk Indonesia yang tentu saja berlabel halal.  

Membawa bekal untuk jalan-jalan Ada baiknya membawa bekal makanan bila hendak berjalan-jalan, karena di banyak tempat tidak ada restoran berlabel halal. Bila ada pun kadang sangat mahal seperti sebuah restoran India di Ngong Ping. Roti, biskuit, dan buah seperti apel dan pisang mungkin akan sangat membantu di saat-saat darurat. Di Makau, kami hanya bertahan dengan roti tawar karena mie instan vegetarian pun mengandung babi.

Memiliki aplikasi Islami di ponsel Ada beberapa aplikasi yang saya miliki di ponsel, salah satunya adalah Muslim Pro yang memiliki fitur azan, kiblat, dan lokasi masjid serta restoran halal. Namun untuk lokasi restoran halal memang kurang lengkap. Fitur azan dan kiblat akurat, sehingga Anda tidak perlu takut ketinggalan shalat bingung menentukan arah kiblat. Saya juga menginstal beberapa aplikasi lain seperti Al-Qur’an (yang ini sudah ada versi terjemahan Bahasa Indonesia)dan Duaa untuk doa sehari-hari. Khusus untuk Hong Kong, saya menemukan bahwa situs Dompet Dhuafa Hong Kong beralamat di www.ddhongkong.org sangat membantu karena memiliki daftar masjid dan restoran-restoran halal. Dari sinilah saya menemukan bahwa ada sebuah restoran halal di Bandara Internasional Hong Kong, yaitu Popeye’s, di Terminal 1. Baca juga kisah kehebohan kami mencari makanan halal di HK dan Makau: Amazing Race  

Disclaimer: versi yang sudah diedit dimuat di Republika, 2 Desember 2014

<script type=’text/javascript’ src=’http://www.hotelscombined.com/SearchBox/38209′></script&gt;

Advertisements

28 thoughts on “Jalan-Jalan ke Hong Kong dan Makau (Dan Tips bagi Traveler Muslim)”

  1. makasih mba Olen infonya, sy berencana ke HK h-7 sbelum imlek 2015. ini kali ke 2 sy ke HK, bedanya dulu sy mnggunakkan jasa guide dan pergi bareng rombongan, nah perjalanan kali sy bareng istri (baru nikah, wkwkwk) dan berencana berpetualang sendiri. nah yang mau sy tanyakan,
    1. ketika landing di HKIA, lebih hemat menggunakan Airport express atau Bus? kami landing pagi hari dan kami tinggal di daerah TST.
    2. kami berencana pergi ke ngong ping dan disneyland di hari yang sama, apa memungkinkan karena setau saya 2 tempat itu berada di daerah yg sama.

    makasih mba buat infonya,

    Like

    1. 1. Lebih murah pakai bus (HKD 40) kalau kereta HKD 100. Cek juga apa masih ada rute yg dialihkan krn demo
      2. Sebenarnya Ngong Ping dan Disneyland sama2 di Lantau Island lho. Klo tiket sudah booking online (yg lama antre tiketnya) dan berangkat pagi banget kemungkinan bisa kok walau jadinya ga maksimal

      Like

  2. Hallooww mba,numpang tny n bg info donk hotelnya namanya apa yg dkt dgn Islamic Center??kbtulan ada rencana ksana tp mah bingung sm penginapannya krn nyari dkt makanan halal yg enak,klo ky kebab2 krg doyan soale,,tq ya mba 😄

    Like

    1. Paling dekat the charterhouse persis di belakang masjid. Aku dulu di butterfly on morrison sekitar 150 m. Enak tempatnya

      Like

      1. Aku kalau di jalan selalu single kok mbak hahaha ,, iya ya pertimbangannya pasti anak. Tapi justru bagus nih mbak, kalau nanya sama yang travel bawa anak, pasti akomodasi rekomendasiannya nyaman 🙂

        Like

  3. Ass. Mba, sorry boleh Tanya. Waktu menginap di daerah wanchai yg Kira2 jaraknya coma 200m dari masjid ommar itu apa nama hotel NY ya. Mksh.

    Like

    1. Saya nginep di butterfly on morisson, masuknya causeway bay sih. Yg plg deket masjid ommar the charterhouse pas di belakangnya tapi waktu itu full booked. Ad beberap hotel lain jug daerah situ tapi lupa nama2nya. Search ya

      Like

  4. Gue ga pernah nyangka kalau Hongkong cukup ramah untuk orang Islam. Baru kali ini ulik-ulik. Tapi emang ya, semua tempat bisa dibuat ramah buat orang Islam asal mind setnya kuat juga sih.

    Like

    1. Asal jangan terlalu mempersulit diri sendiri. Puput yg ketat aja merasa HK lumayanlah buat muslim. Tapi klo dipikir2 di mana2 juga ga repot asal niat ibadah, seperti yg kamu bilang 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s