Belajar Menjadi Minoritas dengan Traveling


Salah satu hal yang paling saya sukai dari travelling (apalagi tinggal di luar negeri) adalah kesempatan untuk menjadi minoritas. Bayangkan saja, kalau di Indonesia, kurang mayoritas apa saya ini! Sudah perempuan, Jawa, muslim, setelah nikah pakai kerudung, setelah punya anak berhenti bekerja. Kurang mayoritas apa?

Justru saat berkunjung ke negara lain, saya belajar menjadi “lain”, menjadi orang bukan kebanyakan, menjadi alien.

Shalat di Ngong Ping, HK
Shalat di Ngong Ping, HK

Sekarang ini saya tinggal di Kuala Lumpur, yang artinya saya menjadi minoritas karena kewarganegaraan yang berbeda. Lainnya,tidak terlalu kentara. Kadang ditanya, “Dari Indon?” tapi tidak perlu saya serta merta marah, karena tidak semuanya mengucapkan kata tersebut dengan maksud mencela.

Ketika saya pergi ke negara-negara di Eropa, saya menjadi minoritas dalam berbagai hal, mulai dari warna kulit, agama dan busana yang dikenakan, bahasa, tentunya bangsa. Minoritas dalam hal memilih makanan juga, HARUS HALAL (kecuali teramat sangat kepepet).

Ketika saya berada di Kamboja, walaupun di sana ada penduduk muslim, tetap saja saya menjadi minoritas. Langsung terlihat dengan sekali pandang.

Apakah saya pernah mengalami perlakuan buruk karena penampilan saya yang berbeda dengan mayoritas orang di sana? Di Agra India, semua calo memanggil suami saya — yang berjenggot kambing bandot — ”brother” sesama muslim, hanya supaya kami menggunakan bajaj atau taksi mereka. Atau bahkan hanya sekadar minta uang pada kami.

Hampir dua tahun di Australia saya tidak pernah sekalipun mengalami kejadian buruk di tempat umum. Saya memang pernah mendengar beberapa Aussie mabuk di dalam mobil meneriaki beberapa mahasiswa dari Tiongkok, “F@#king Chinese!” But, jerks are everywhere.

Kejadian-kejadian tersebut malah membuat saya berkaca. Apa semua perbuatan saya juga sudah anti rasis secara sempurna? Rasanya belum. Apakah saya sudah menghormati pemeluk agama minoritas dengan baik? Dulu belum, sekarang sudah lebih baik. Contoh mudahnya saja, saya dulu sering jalan-jalan ke candi-candi dengan celana pendek, kaus tidak berlengan. Rasa-rasanya kalau ada wisatawan masuk ke masjid dengan pakaian minim, saya pasti tidak suka. Itu kan tempat ibadah, kenakan pakaian yang pantas. Sekarang pun ketika berwisata ke kuil, saya hanya selalu memotret altar dari luar karena sungguh hanya mereka yang datang untuk berdoa yang pantas berada di dalam.

Traveling membuat saya belajar banyak hal. Salah satunya, bahwa saya tidak pernah diperlakukan buruk oleh penduduk lokal mayoritas. Salah satu contoh adalah shalat. Ketika berwisata ke negara-negara di mana Islam adalah minoritas, sangat sulit menemukan masjid apalagi ketika kita sedang jalan-jalan. Walhasil, shalat dilakukan di tempat-tempat seadanya, kadang bahkan ruang terbuka di mana banyak orang lalu lalang.

Baru dua bulan yang lalu di Hong Kong, kami shalat di rerumputan, di dekat Biara Po Lin dengan latar pemandangan Big Buddha. Tidak ada yang mengganggu, bahkan mungkin tidak ada yang peduli, walaupun saya mengenakan mukena lengkap. Hanya segerombolan sapi yang tiba-tiba datang membuat Oliq teriak-teriak. Di Makau kami shalat di rumput di Fortaleza do Monte. Ada beberapa orang yang berhenti dan memperhatikan Puput yang sedang shalat tapi tidak mengganggu.

Hanya di Qutb Minar, India, kami gagal menemukan masjid (padahal sebenarnya ada) dan terpaksa shalat di halaman, malah dipotretin orang. India memang beda.

Qutb Minar, India
Qutb Minar, India

Di Kyoto, kami shalat di kompleks Kuil Kiyomizu-dera, mlipir dekat parkiran, tidak ada yang mengusir. Di Sydney kami shalat di tengah rumput Botanical Gardens, tidak ada yang mengganggu. Di Charles de Gaulle dan Schiphol, kami shalat di pinggir ruang tunggu, tidak ada satpam datang. Alhamdulillah, saya masih bisa menunaikan ibadah shalat di negeri-negeri di mana Islam masih sangat minoritas.

Demikian juga dengan puasa. Di Australia saya bekerja di sebuah restoran Malaysia, pemiliknya adalah keturunan Cina Penang. Ketika bulan Ramadhan tiba, mereka buru-buru menyuruh saya membatalkan puasa ketika kira-kira maghrib sudah tiba. Kadang, Aunty bahkan menyiapkan makanan dalam mangkuk kecil yang bisa saya makan sambil bekerja. Idul Fitri, mereka memaksa saya libur tapi saya tidak mau (butuh duit booo!). Selama kerja di situ, saya satu-satunya muslim. Dan khusus pada saat saya bekerja, pemilik restoran tidak akan menyiapkan sarapan/makan sore bersama yang mengandung babi.

Di Botanical Gardens, Sydney
Di Botanical Gardens, Sydney

Saya pernah juga melakukan puasa pada saat berwisata ke Vietnam tahun 2008. Kebetulan saya dan Mbak Yudit ikut tur Delta Mekong yang termasuk di dalamnya makan siang dan jamuan minum teh. Kami harus menjelaskan kepada guide bahwa kami puasa (karena takut kalau menolak makanan dianggap tidak sopan). Setelah guide paham, dialah yang menjelaskan kepada orang-orang lokal. Tidak ada masalah!

Dengan travelling saya jadi paham tentang teman-teman saya di Indonesia yang merupakan kaum minoritas. Saya senang pernah menjadi minoritas yang bisa menjalankan ibadah agamanya sendiri dengan bebas. Bayangkan kalau saya sedang shalat dan diusir satpam! Bayangkan kalau saya dipaksa makan babi! Bayangkan kalau saya dipaksa berdoa dengan cara berdoa agama lain! Bayangkan kalau saya dipaksa melepaskan kerudung (yang dianggap simbol keagamaan saya) bila masuk ke Basilica Sacre Coeur!

Saya belajar jadi minoritas dari travelling.

Minority

I want to be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
‘Cause I want to be the minority

I pledge allegiance to the underworld
One nation underdog
There of which I stand alone
A face in the crowd
Unsung, against the mold
Without a doubt
Singled out
The only way I know

‘Cause I want to be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
‘Cause I want to be the minority

Stepped out of the line
Like a sheep runs from the herd
Marching out of time
To my own beat now
The only way I know

One light, one mind
Flashing in the dark
Blinded by the silence of a thousand broken hearts
“For crying out loud,” she screamed unto me
A free for all
Fuck ’em all
You’re on your own side

‘Cause I want to be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
‘Cause I want to be the minority

One light, one mind
Flashing in the dark
Blinded by the silence of a thousand broken hearts
“For crying out loud,” she screamed unto me
A free for all
Fuck ’em all
You’re on your own side

‘Cause I want to be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
‘Cause I want to be the minority

The minority
I want to be the minority
The minority
I want to be the minority

*Liriknya nggak nyambung sih, tapi karena saya fans garis keras Green Day, dimaafkan doooong!

Advertisements

48 thoughts on “Belajar Menjadi Minoritas dengan Traveling”

  1. i know what you mean

    tapi menurut saya, di sekolah2 atau dimanapun di indonesia ketika kita memiliki agama yg berbeda, maka tidak ada pemaksaan berdoa dengan tata cara agama tertentu utk kita.
    setau saya, ketika ada yg berbeda agamanya, kita semua diminta utk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing2. gak pernah ada yg maksain buat doa dengan agama tertentu kok.

    Liked by 1 person

    1. Oh ya, Mbak Hikari?
      Kalau dibilang “dipaksa” itu, apakah harus dgn peraturan? Bagaimana dgn tekanan yg tdk terlihat? Gerakan FPI yg “memaksa” toleransi dr kaum minoritas utk menutup semua rumah makan di bulan puasa? Itu bahkan dgn kekerasan dan ancaman… Itu bukanlah gossib, krn SAYA SENDIRI mengalami itu!
      Lalu di sekolah2… “Himbauan” menggunakan seragam koko utk SEMUA murid. Ponakan2 saya alami itu SEKARANG, padahal jelas2 tahu kalau mrk adalah kaum minoritas…
      Belom lagi ajaran toleransi org tua ke anak2nya… Ponakan saya pernah ditanya sama temannya di sekolah, dgn merangkulkan tangan ke leher ponakan saya, teman saya tanya begini: “Sam, elo kenapa ngga masuk Islam aja sih? Drpd Tuhan elo cuman pake kancut doang! (Yg dia maksud adalah cerita Yesus yg ketika mati di kayu salib hanya berbusana penutup syahwat saja) Apa itu toleransi yg diajarkan org tua ke anak2nya ketika berbicara dgn kaum minoritas? 🙂
      Saya tidak mengeluh… Komentar reply ini hanya utk membukakan mata kalau fakta itu ada dan bukan gosib. Di Indonesia seringkali org membutakan mata terhadap ketidak idealan… Saya tidak membicarakan agama nya, atau mayoritas apa… Saya membicarakan PELAKU nya yg seringkali krn merasa mayoritas di satu tempat, lalu menjadi merasa berada di atas angin dan malah “menguasai” wilayah secara perlahan… 🙂
      It is sad, unfortunately that is still fact of life in Indonesia… 😦

      Liked by 1 person

  2. can’t agree more mbak. Memang kudu merasakan jadi minoritas biar bisa bersikap “bijaksana” pas jadi mayoritas. Eh di sini malah banyak mayoritas yang insecure. Padahal sing dibutuhke mung toleransi kan? *trus pengin lotek *ra nyambung ya 🙂

    Like

  3. Ah, suka sekali tulisan ini…. Travelling itu memang bisa selalu membuka pikiran dan hati kita ya… Btw fans garis keras Green Day? Aku suka juga sih, walaupun gak fanatik… 2010 lalu sempet nonton konser mereka, kereeen….. eh sori, salah fokus jadinya 😛

    Like

  4. Suka dengan tulisan mbak. Terkadang juga merasakan bahwa karena kita di luar negeri menjadi minoritas kita bisa lebih bangga terhadap identitas agama maupun bangsa kita 😀

    Mungkin kalau di negeri sendiri kan sama semua kali ya mbak hehehe…

    Beberapa kali jalan, teman-teman jalan saya yang baru pasti selalu kaget ketika saya bilang saya muslim. Apalagi ketika jalan-jalan waktu puasa. Tapi sejauh ini Alhamdulillah tetap diberi kelancaran beribadah 😀

    Nice story mbak 🙂

    Like

    1. Makasih mas. Menurut saya memang perlu sekali waktu kita “pake sepatu orang lain” #halah untuk tahu apa yg dirasakan org lain

      Like

    1. Mbak Resti, saya adalah kaum minoritas di Indonesia dalam hal agama, dan jawaban saya ada tuh saya reply comment nya Mbak Hikari Azzahirah di atas… 🙂 Biar ngga diulang di sini lagi yaaa? 🙂

      Like

      1. Makasih mb rina udah komen. Saya yg sangat mayoritas merasa ga berhak utk menjawab krn mungkin melihat tp tidak merasakan sendiri 🙂

        Like

    2. Kalo mba merasa diindonesia toleransinya bagus berarti anda juga harus traveling keluar negeri untuk paham rasanya menjadi minoritas dan bisa menyadari bagaimana toleransi di Indonesia

      Like

  5. Mbak Olen,
    Saya bener2 suka refleksi mbak di tulisan ini… Seandainya dunia bisa bener2 MELAKUKAN tindakan toleransi seperti itu, tentunya dunia ini akan nyaman dan indah ya, Mbak…
    Saya juga merasakan hal yg sama… Ketika saya travel ke mana pun, saya kebanyakan menjadi kaum minoritas. Mereka bisa bergaul dgn saya sebagai saya yg mereka lihat dan tahu, bukan berdasarkan latar belakang saya… Mereka tetap nice dan memperlakukan saya sebagai manusia, yg SAMA2 perlu kejujuran, kebaikan, ketulusan dan banyak value lain, tanpa melihat apakah saya “sama” dgn mereka atau tidak!
    Selama saya melakukan traveling, saya belajar bahwa apapun yg tersirat dari tingkah laku saya, itu juga yg akan saya terima kembali dr org2 yg berinteraksi dgn saya. Kalau saya jujur ke orang, orang pun akan jujur dgn saya. Kalau saya menghargai orang lain, orang lain pun akan menghargai saya… Hukum seperti itu saya alami berkali2, sehingga saya menyadari bahwa itu harus dilakukan oleh diri sendiri terlebih dahulu…
    So, kalau dr cerita mbak, mbak mengalami banyak kebaikan dr orang yg “berbeda” dgn mbak, itu bisa saya pastikan krn mbak yg terlebih dahulu melakukan ketulusannya itu…

    Ahhhh, seandainya saya bisa dgn 100% melakukan toleransi terhadap perbedaan itu, Mbak… -_-

    Like

    1. Saya cuma berharap bisa sharing positif mbak. Belakangan ini rasanya kok yg seliweran berita negatif saja. Capek ga sih liatnya (padahal ga baca juga wekeke)
      Saya sih biasa2 aja, mungkin jg saya ga terlalu mempedulikan perbedaan itu. Makanya anak sejak bayi juga saya bawa travelling ke mana2 dgn harapan dia terbiasa melihat perbedaan.

      Like

  6. Sangat2 suka sharingx, walaupun klo ke eroupe sy g jd minoritas tp sy sll dianggap warga tiongkok yg malah bkin sy ketawa ngakak….
    terima kasih sharingx mba, itu membuka mata teman2 yg tll emrasa diri mayoritas dgn mental superior agar belajar lebih rendah hati dan menerima perbedaan

    Like

    1. Hahaha itu hanya berdasar pengalaman. Dan diperlakukan diskriminatif di mana2 tetap terjadi, kita ambil sisi positifnya saja. Semoga kita ga berlaku seperti itu 🙂

      Like

  7. orang yang pernah merasakan menjadi minoritas hampir semuanya bisa menjadi lebih bijak..hanya saja masalahnya ini di indonesia dimana mayoritas semuanya muslim, mereka selalu merasa paling benar..
    kadang-kadang saya suka heran, di negara dengan mayoritas muslim ini kenapa lebih banyak saya temukan manusia-manusia ‘bangsat’ ?
    saya tidak heran mengapa negara kita selalu dipandang sebelah mata oleh negara lain, hanya karena ‘bangsat-bangsat’ di negara kita ini.
    saya hanya bisa berharap mereka dapat bertaubat atau musnah sekalian..maaf bila kata-kata saya terlalu ofensif.

    Like

    1. Menurut saya, mentalitas superior tidak hanya ada di negara kita. Misalnya dulu, zaman apartheid pun kulit putih merendahkan kulit hitam, sampai sekarang pun masih terjadi. Di byk negara, minoritas muslim pun didzalimi. Saya yakin kok sebenarnya pelakunya hanya segelintir, tapi seperti pepatah nila setitik merusak susu sebelanga. Semoga kita bukan termasuk orang seperti itu :))

      Like

  8. Saya cuma mau komentar soal rumah makan ditutup saat bulan puasa. Siapa tuh yang merasa harus tutup? Anda tinggal di udik ya? Jalan dong ke malls besar Jabkdetabek. Udah ga pake krai gorden lagi. Semua tempat makan terpampang vulgar. Malah menurut saya kaum muslim yang jadi minoritas di negara ini.
    Coba sekali2 jalan ke middle east. Silakan rasakan bulan puasa di sana. Baru deh anda para non muslim mustinya bisa bersyukur sedikit bisa tinggal aman damai di negara ini.

    Like

  9. Kepada rina rumahorbo mungkin anda tinggal di pedalaman antah brrantah indonesia. Semoga anda benar-benar merasakan apa yang anda tulis. Masukin sosmed aja. Siapa tahu dapat tanggapan dari islam garis keras.

    Like

  10. Baru baca postingan ini gara2 sibuk nganu …. ~_~…

    Pernah juga ngalami jadi minoritas saat traveling. Ketika jadi minoritas, kita jadi memiliki sudut pandang baru, yang berbeda dengan biasanya.

    Seperti pas ke Pulau Timor dulu. Kerasa banget toleransi disana bagus (khususnya untukku yang jadi minoritas). Keramahan orang2nya (seperti ketika bertemu seorang ibu di Kupang yang bantu2 nunjukin lokasi masjid terdekat, bantu kasih info, bahkan nganterin ke jalur angkot karena kami harus pisah arah), dan ngobrol2in soal budaya & kebiasaan dengan orang lokal tanpa saling menjatuhnya, tentunya semua menyenangkan

    Intinya memang ada di toleransi ya mbak

    *langsung blogwalking ke postingan2 lainnya* #BerasaKetinggalanKereta

    Like

  11. Nambahin sdkt aja,mgkn ada baiknya saat travel ke luar negeri sholatlah dgn tayamum. Pengalaman yg sudah2 di LN bnyk yg menggunakan toilet kering. Seperti di Korea kbetulan sy bertemu dgn rombongan dari Timur Tengah di salah satu tempat wisata. Tidak ada yg mengganggu mereka saat shalat berjamaah. Hanya org2 lalu lalang melihat dgn Heran. Yang terjadi sebaliknya ada di toilet. Penjaga toilet sibuk mengepel air yg berceceran, mereka marah2 dan mengusir org2 yg ingin berwudu di wastafel!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s