Tentang Berhenti Bekerja


 (Dan menjadi ibu rumah tangga)

Semalam saya ngobrol asyik dengan beberapa teman tentang berhenti bekerja dan menjadi freelancer. Kesimpulan yang kami dapatkan adalah itu merupakan keputusan berat, walau tidak mustahil, dan butuh kerja ekstra keras dibanding kelompok orang yang masih bekerja formal dalam konteks yang konvensional.

Saya tiba-tiba teringat seluruh perjalanan hidup profesional saya, membuat mata tak bisa terpejam hingga pukul 02.00 dinihari. Gulang-guling di kasur, diduseli Oliq sementara ngoroknya Puput membahana di ruangan.

Membuat keputusan untuk berhenti bekerja formal itu berat, kawan!

Bagi saya – seseorang yang sangat pro pada stabilitas finansial – ketika hendak berhenti bekerja, saya jadi teringat masa lalu saya berjibaku mencari pekerjaan untuk pertama kalinya. Kala itu saya masih kinyis-kinyis baru lulus, 22 tahun, bangga lulusan dari universitas (agak) mentereng dari jurusan yang melahirkan banyak orang-orang yang namanya berseliweran di suratkabar.

Toh, tidak peduli IPK yang tinggi, saya tetap harus bersaing dengan puluhan atau mungkin ratusan ribu pencari kerja lainnya di negeri lempar-kayu-jadi-tanaman ini. Kalian yang cari kerja di era internet ini harus bersyukur modal 5 ribu bisa buat bayar warnet 2 jam, kan? Kami dulu masih harus beli Kompas Sabtu, ngeprint lamaran, beli amplop cokelat, belum lagi prangkonya.

Saya lulus seleksi pertama sebuah perusahaan media, sebut saja Koran X. Saya harus melalui 6 tahapan tes masuk Koran X tersebut.

Bayangkan saja, pertama datang ke Jakarta untuk tes masuk saya sendirian, lontang-lantung di Stasiun Pasar Senen, mandi di kamar mandi umum stasiun, lalu naik Kopaja P20 tepat di sebelah sopir. “Pak, nanti bilangin kalau sampai Koran X ya!” kata saya pada sopir bus.

Ketika banyak teman tes dari luar kota yang kemudian menginap di rumah saudara mereka. Saya? Lebih memutuskan untuk ambil kereta malam dari Jogja sampai Jakarta subuh, mandi di stasiun, datang ke Koran X, ikut tes, sorenya langsung kembali ke Pasar Senen, nebeng mandi lagi, lalu ambil Senja Utama untuk kembali ke Jogja. Enam tahapan, dan dilakukan pada Bulan Ramadhan.

Di tes-tes berikutnya saya sudah nekat-nekat saja dari stasiun tanpa mandi, datang ke Koran X dan nebeng mandi di sana. Bleh, belum juga jadi karyawan, sudah berani nebeng mandi.

Pengalaman naik kereta bolak-balik seperti itu pun penuh suka duka. Sukanya, ketemu teman-teman seperjuangan yang sangat baik. Salah satunya adalah Arief, sekarang dosen UGM yang sedang menempuh PhD di Australia. Dia adalah salah satu kawan paling Islami (tapi tidak pernah sok dan tidak menggurui), paling pandai (lulusan terbaik UGM saat itu), rendah hati, dan baik hati. Saking baiknya, kalau naik kereta sama saya Arief ini langsung ngglosor di lantai, jadi saya bisa bobokan meluruskan punggung yang pegel di kursi wakakakaka.

Pernah mau sahur di kereta, ternyata nasi yang baru dibeli sudah basi. Pernah juga bersama Arief naik kereta ekonomi ke Jogja, sampai stasiun Lempuyangan ransel saya sudah disilet copet. Untungnya, dompet tersembunyi tidak hilang. Sialnya, kutang kesayangan saya sobek kena siletan si copet.

Setelah enam purnama #halah, akhirnya sampai tahap akhir tes, dan saya diterima. Mulai kerja usai Lebaran. Gaji 1,8 juta *mendadak mbrambangi*

Perjuangan jadi calon reporter itu berat, Bro! Bayangkan saja waktu itu kebijakan Koran X adalah tidak memberikan kartu ID untuk yang masih calon, hanya sebuah surat. Jadi ke mana-mana kudu nenteng surat lecek yang lebih banyak diabaikan orang.

Ah, tapi pengalaman selalu lebih berharga ketika dikenang sekarang.

Masa itu adalah kala pertama saya melihat mayat yang terbakar, ditembak polisi, maupun membusuk. Masa itu adalah kala saya pertama kali bobo liyer-liyer di kantor Polres. Berteman dengan polisi, lurah, bahkan kadang ditraktir makan Kepala Stasiun Blok M.

Mulai liputan pagi, pulang ke kantor sore, pulang ke kos malam, dilanjut dengan mencuci baju. Nggak mau deh ngulangin lagi. Jujur saya sering berpikir jahat kalau sampai sore belum ada berita, misalnya, mbok salah satu gedung meledak gitu. Iiiiiih, good news is not always bad news. Iye, jaman sekarang mah banyak yang bisa diplintir juga kan?

Ada sih beberapa cerita lucu, waktu saya naik motor yang AB sekian-sekian YU itu diteriakin mas-mas di Mampang, “Mbaaaaaak, saking Sleman nggih?”

Saya pernah dalam keadaan demam, balik ke kantor siang, berharap bisa agak santai. Redaktur muncul di ruangan dan saya disuruh cari korban Kolor Ijo di Pamulang. Dih, kirain cuma koran kuning yang liputan Kolor Ijo, ternyata koran hijau juga. Jadilah saya memutuskan pakai kendaraan umum, menyusuri Pamulang ke pelosok-pelosok desa, mewawancarai korban Kolor Ijo yang pernyataannya ngalor-ngidul. “Pokoknya kolornya ijo!” Iya entar ganti pink kalau pas Valentine.

Pernah juga dicabuli di Terminal Lebak Bulus setelah wawancara dengan kepala terminal. Saya keluar sudah dengan precaution meletakkan ransel di bagian depan untuk melindungi depan, ternyata pantat saya ada yang nyolek – salah satu calo di sana. Habis itu calo saya ludahi dan tampar berkali-kali mukanya. Andai saja saya bisa jurus peremuk tulang Chinmi, udah habis si pencabul jadi sop-sopan.

Kisah ternestapa saya menjadi calon reporter (yup, calon, wong ID aja ga punya), ketika saya di-rolling ke Bogor. Kawan ex Bogor (laki-laki) menawarkan kosnya pada saya, karena dia bertukar mendapat wilayah liputan Jakarta Selatan. Setelah boyongan naik motor bersama teman saya, Bapak Kos menyambut baik. Beliau ini baru sama menikah lagi setelah istri pertama lama meninggal. “Wah Teteh (istrinya) nanti senang ada Adik, jadi temannya!” OK lah beres kalau begitu. Kawan saya pulang ke Jakarta.

Selesai belanja groceries, saya kembali ke kos. Dihadang dua mahasiswa dari kampus paling kondang kawentar di Kota Hujan. Saya nggak perlu kan bilang kalau celana keduanya cingkrang? Eh tapi kita nggak boleh menghakimi seseorang atas dasar ukuran celana yang mereka pakai, mau sampai klengsreh, 7/8, ¾, atau gidal-gidul sepantat. Mereka menyuruh saya duduk dan tanpa tedeng aling-aling bilang, “Mbak Muslim kan? Mbak tahu kan kalau dalam Islam laki-laki dan perempuan tidak boleh tinggal seatap?” Seriously, mbok kira ibu kosmu laki-laki? Are you guys really have balls?

Intinya saya diusir dari situ, bahkan sebelum malam pertama di Bogor terlewatkan. Malam itu saya ndomblong sambil kukur-kukur, harus bagaimana, besok ke mana, wong Balaikota Bogor saja saya belum tahu letaknya. Alhasil pagi umun-umum saya langsung nyari kos, pertama yan didapat langsung dibayar dan pindahan seketika itu juga. Bapak kos sampai minta-minta maaf ke sana. Bukan salah bapak kok!

Pengalaman di Bogor pun seru, lho, saya akrab banget sama Humas Balaikota. Saya juga sering nongkrongin kamar mayat RS PMI, sampai-sampai waktu saya muncul, satpamnya bilang, “Nggak ada yang mati aneh, Teh!” Kecewa, pulang dengan langkah gontai.

Yang paling seru adalah ketika liputan keracunan massal di ujung berung dengan wartawan RRI. Jauuuuh banget perbatasan antara Bogor-Tangerang, pulangnya kesasar-sasar. Setelah laporan berita lewat telpon (sambil nebeng ngecharge HP di warung mie ayam), kami mentok di sebuah sungai. Ketemu mamang-mamang, “Ada jalan mutar tapi jauh banget, beberapa kilo. Tapi kalau mau adik lewat sungai juga bisa, pakai rakit. Tapi kapan itu ada yang kecebur, tenggelam, terus mati.”

Nnnngggggg *senyap*

Kecipratan hajatan kampanye tahun 2004 juga, harus liputan ke seluruh Bogor. Salah satu yang paling saya ingat adalah kampanye Amien Rais dan Didin Hafiddudin di pelosok. Saya harus naik angkot berkali-kali, sampai di sana ditolak masuk gara-gara nggak punya ID. Surat jalan kumel nggak laku.

Akhirnya sama orang-orang setempat saya ditunjukkan pintu belakang, dengan pagar setinggi 2 meter terkunci, harus dipanjat. Demi nongol di halaman nasional, manjatlah saya. Akhirnya bisa menyeruak di antara wartawan lain yang semuanya laki-laki. Karena kecil, saya bisa menyelusup ke depan dengan posisi setengah tiarap memegang tape recorder. Pak Didin yang nggak tega melihat pose saya yang tidak senonoh, ikhlas memegangkan tape recorder.

Usai konferensi pers, pengen saya berteriak, “Pak Amien, kula putrane Pak Munif, lho, mbok nebeng sampai Bogor.” AR dulu sering jogging sambil ngantar naskah opini ke rumah saya, waktu bapak saya Redpel KR. Dulu, waktu masih keren, belum mencla-mencle.

Kisah profesional saya membaik ketika saya dapat beasiswa S2 ke Australia, tapi kisah cinta tetap morat-marit. Kisah kehebohan masalah beasiswa ada di sini.

Pulang dari Australia, perjalanan professional saya cukup lurus, dimulai dengan bekerja di Aceh. Secara finansial, saya sudah tidak kere-kere amat dengan proses 4 kali naik gaji dalam 2 tahun *nari gambyong*

Tahun 2008 pindah ke Jakarta dan bekerja di sebuah institusi dengan inisal U dan N. Lebih enaknya disebut UN. Pekerjaan enak, gaji di atas 20 juta/bulan, cuti banyak. Enak bukan?

Lalu kenapa harus berhenti kerja????

Keputusan itu tidak saya ambil dengan mudah. Belum pernah terbayang saya hanya tinggal di rumah, pakai daster, ngurus anak dan rumah. *pengennya kalau ngurus rumah itu pakai lingerie* Setelah saya menikah dan hamil, entah bagaimana, insting keibuan menyeruak. Bayangan meninggalkan anak dengan pembantu atau babysitter agak sulit diterima, karena kami tinggal di Jakarta dan tidak ada nenek kakek serta saudara sebagai bala bantuan.

Pertimbangannya sangat banyak, lho. Keputusan paling berat yang pernah saya alami.

Dari segi finansial harus stabil. Saya juga berani berhenti kerja karena pendapatan Puput mencukupi dan investasi kami juga sudah ada. Tidak mungkin saya memutuskan untuk resign kalau tidak yakin ada dana jalan-jalan tiap bulan? Edan po?

Ke dua, setahu saya di Indonesia ini kadang seseoran harus menanggung kerabat di luar keluarga intinya, misalnya orangtua yang sudah sepuh, atau membiayai adik yang masih sekolah. Jangan salah, tanggungan saya adalah kedua-duanya.

Kok masih berani resign?

Pertama, saya punya investasi – yang teorinya – bisa mencukupi kebutuhan orangtua dan adik saya. Selain itu menurut Puput, secara Islam tanggungan istri beralih pada suami.

Tuh kan, dari segi keuangan saja pertimbangan resign ini berat lho, masbro! Belum lagi sisi-sisi yang lain. Makanya saya suka heran dengan yang sok cangkeman sama ibu bekerja. Mereka pasti punya alasan kenapa tetap bekerja, nggak cuma glundang-glundung tok.

Kendala ketika mau berhenti bekerja pun banyak, misalnya orangtua saya yang bingung sekali. Ini anak sekolah tinggi-tinggi kok mau jadi ibu rumah tangga. Wajar banget, mereka sudah biasa melihat saya bekerja sejak kuliah, mengajar di berbagai akademi, menerjemahkan buku sampai dini hari setiap hari. Saya saja yang memutuskan berhenti juga rasanya gimanaaaaa gitu. Pengen rasanya ngulek-ulek ijazah dikasih lombok rawit yang banyak.

Belum lagi omongan dari teman-teman.

“Nanti kamu ditindas suami karena ga punya penghasilan sendiri.”

“Rumah tanggamu kacau kalau kamu masih kasih “jatah” orangtua dari duit suami.”

“Kamu mainstream banget, habis punya anak resign. Lanjut deh buka toko online jual jilbab atau baju anak-anak!” Lah daripada jual togel?

Kalau ngikutin komentar orang, nggak bakal habis-habis ya?

Hidup itu sekarang mahal, BBM naik, biaya rumah (apalagi di Jakarta) tinggi sekali. Kalau misalnya masih ngontrak, makin empot-empotan lagi. Bayar sekolah anak, mahal. Untungnya sekarang ada BPJS ya.

Terus terang sejak hamil saya jadi menganggap karir saya adalah nomor yang ke sekian. Saya mantap berhenti bekerja juga karena dalam hati saya tahu pasti sooner or later suami bakal pindah kerja keluar dari Jakarta. Dan long distance marriage is not for us. Pun, saya tetap punya karir. Karir suami adalah karir saya juga. Semakin melesat karir suami karena ada istri yang mendorong, mendoakan, memasakkan yang enak-enak. Apalah Si Cucup itu tanpa saya hiyahahahahahahahh.

Ganjalan menjadi ibu rumah tangga tidak hanya berhenti begitu keputusan resign dibuat. Setelah itu pun masih ada banyak #hakdeshmoments yang kadang bikin saya mempertanyakan kembali keputusan yang sudah dibuat. Bahkan berlanjut dengan mempertanyakan keikhlasan.

Saya melihat teman-teman upload foto ngumpul bareng teman kantor di FB. #hakdesh kapan coba terakhir saya kumpul tanpa bawa anak? Lihat teman dinas ke luar negeri #hakjleb pingin woiiiii. Lihat teman pakai baju-baju bagus, ngelirik baju sendiri #hakdezighh.

Pernah ada #hakdeshmoment yang nyebelin banget ketika bertemu seorang ibu.

Ibu: Kerja apa sebelum pindah ke sini?

Olen: Nggak kerja sejak punya anak.

Ibu: Oooh jadi udah biasa nggak kerja ya? – Dengan mulut dimencongkan dan nada merendahkan banget.

*Woo takculek nganggo lombok rawit pisan!*

Ikhlas, kok, ikhlas. Bener. Tapi Simbok juga manusia.

Baru ini nih terus terang aja, saya sebenarnya paling males kalau ketemu teman-teman Puput. Nggak, mereka nggak merendahkan atau tidak sopan, kok. Justru masalahnya ada pada saya, saya minder banget-banget ya cuma kalau pas kumpul sama teman-temannya Puput.

Nah, kebanyakan teman Puput dari kampus gajah ini (kalau saya dari kampus Gadjah – beda ya!), rasanya kok SUKSES semua. Sukses pakai huruf kapital. Ada beberapa mbak-mbak yang punya keluarga juga dan bekerja dengan gaji 100 juta ++. Waaaahhh duit semua itu, nggak campur batako! Mereka berkeluarga dan punya anak juga, masih bisa melejit karir seperti itu. Sementara Simbok glundang-glundung nggak jelas.

Kalaupun bertemu dengan teman (laki-laki) lain, omongan biasanya berkisar pada:

Si A sekarang lagi disekolahin di Amerika sama perusahaannya. Dia sih pasti jadi direktur nanti kalau pulang.

Si B sekarang udah jadi bos itu!

Si C sekarang kerja di negara anu, punya ini, itu, anu-anu, inu-inu.

Nggak tahu ya mungkin percakapan antarlelaki usia 30an memang berkisar masalah karir. Dan perasaan teman-teman Puput kok sukses semua ya, sugih-sugih buanget. Dulu pas di Jakarta ada temen kantornya yang takjub kami masih ngontrak di Taman Rasuna, “Kenapa nggak beli aja?” Entar kalau dapat SDSB 1 milyar.

Tapi kan saya jadi makjlebjlebjleb. *ulekan ijazah ditambahi terasi dikit biar seru*

Beda banget sama percakapan saya dengan teman-teman kuliah saya.

Noni, penake gawe rujak opo lotis?

Komeng, titip Roa Judes telu!

Saya ikhlas, kok, bener deh. Tapi memang masih suka minder gitu. Jadi ya begitu, memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga itu keputusan terberat dalam hidup saya, sampai sekarang pun masih ada kendalanya. Harus kuat finansial dan mental.

Rejeki dari Allah? Benar, tapi rejeki kadang datang dari Allah lewat seorang ibu yang bekerja.

Kondisi keluarga juga berbeda-beda, renjana seorang perempuan juga tidak sama.

Saya sih tidak masalah tidak bisa menghasilkan uang sendiri, selama nafkah jalan-jalan saya masih terpenuhi dengan baik dan benar serta layak.

 

 

 

 

Advertisements

74 thoughts on “Tentang Berhenti Bekerja”

  1. mboook!
    pancene cah Gadjah kuwi sederhana tenan yo? kepengene nduwe omah, montor, anak, wis bar ngono. saksimple someone I know. :p

    kok pengen bikin tulisan semacam ini, tapi kok belum settle baik finansial maupun hati. #lah..

    Like

  2. Mboooook, mataku berkaca2 baca ini. Tapi sayang banget, gak ada potonya yg pake lingerie 😀 *ditapuk*

    Aku tau koran apa tempatmu bekerja hanya dari P20 hahaha. Ke sono dikit, Ragunan kan? Hahaha 😀

    Like

  3. duh jadi inget ibuku… yg rela keluar kerja demi anak2nya… ya beginilah anak2nya jadi manja dipenuhi kasih sayang dan mbok2an..

    aku juga punya sahabat yg akhirnya resign krn ngga tega ninggalin anaknya di rumah pas cuti lahiran berakhir.

    kalau2 ngobrol dengan mrk yg memutuskan resign setelah menikah memang kayaknya ada nyeselnya. tapi aku nggak nyesel punya ibu yg 100 persen ibu rumah tangga. wlpn mrk mungkin nggak produktif (kadang pelit juga krn duitnya ngandelin suami) mrk heubatttt dahhh… dari lahir sampai kuliah punya banyak waktu dg ibu. rasanya ibu dah kaya sahabat , jadi teman yg asyik buat diskusi (curhat nggak termasuk)

    Liked by 2 people

  4. Aku yo pingim resign tp durung iso, mbok 😀 nek resign ra ono dana jalan2 haha. Tp kadang keroso ngelu lek kelingan akeh waktu kebuang, cah2 tiap dino karo tonggo 😀

    Like

  5. Salam kenal mbak Olen, saya juga senasib sama mbak Olen, dan juga menganut “long distance marriage is not for us”.. ayo kita semangat mbak Olen..hehe #pasangIkatKepala #pasangSumpelanKuping

    Like

  6. Waw. Curcol yang sungguh membahana 🙂 Mbak, mau nanya deh. Kalo mbak Olen anak seorang RedPel KR yang cetharr, kenapa waktu itu gak apply di KR (atau Radar Jogja, KABARE, dll pokoke Jogja punya gitu lah)… Kenapa kudu apply ke Republika sih? #hakdesszzhhh

    Like

  7. akuuu senengg bacanyaa, sukses bikin ngakak soale samaa ama keadaanku wkwkwk
    tapi ndak pernah tak pikir dalem dalem, paling cuma ngga enak sama ortu aja tapi yaa capek juga dipikir jadi cuek ajah. Makasih simbokk tuliisane kerenn 😀

    Like

  8. Apapun pilihannya pasti ada konsekuensi, yang penting ikhlas dan bersyukur ya Olen. Aku rodo bingung maksud kalimat ini opoyo? “Makanya saya suka heran dengan yang sok cangkeman sama ibu bekerja”

    Like

  9. Arep nyambut gawe, arep ora nyambut gawe, arep sugih mergo bondho dhewe, arep sugih mergo warisan, kenyinyiran orang mah ga bakal mandheg yo, Mbok ..

    Sebagai perempuan yang masih mburuh negara, saya mongkog baca tulisanmu ini .. 😀

    Like

  10. duh kak olen, lagi seru2 Baca pengalaman kakak, eh terbentur sama bahasa jawa. translate dong kak 🙂 hm… ketika kak olen memutuskan untuk beehenti berkerja setelah punya anak, saya malah baru meniti karir ketika hamil besar kak 😦 asli, setelah 26 tahun baru nyari kerjaan tetap. ya, maklumlah, kuliah aja selesainya 6 tahun plus magang dll. tapi setelah punya anak jadi ga mau jaga malam lagi. jadi, nyari kerjanya yg ga pake jaga malam 🙂 mungkin kalau investasi udah cukup bakal resigni juga (keterima aja belum kerjanya, udah mikir resign ). hehehe. Sebenarnya penghasilan bg ceudah udah cukup utk Kami bertiga, tapi seperti cerita kak olen, saya punya ibu Dan adik yang harus saya tanggung. nah, ga mungkin kan terus2an minta sama suami? ya, walau suami ga keberatan. tapi, ga enak banget rasanya . Apalagi ibu udah berharap banget, sengaja disekolahi jadi dokter biar bs bantu keluarga. nah, ini udah jd dokter malah ga kerja. jadi, mending kerja dulu, ngumpulin duit, trs resign n buka praktek sendiri Di rumah. soal lanjut sekolah jadi ga terpikir lagi. yg ADA dipikiran cuma si baby

    Like

    1. hahahaha kak yang sabar. ngerti kok kalo dokter dikit liburnya. keluarga suamiku dokter semua. jadi sekolah lagi ga? eh bhs jawanya kan gampang

      Like

  11. Seneng baca tulisanmu len, sebagai sesama alumni Gadjah………….yg hidup sederhana BTW aku selalu percaya bahwa pengorbanan pasti ada imbalan yg setimpal kok, semakin berat pengorbananmu semakin besar imbalanmu. Oliq dan anak2mu selanjutnya, pasti tahu seberapa besar pengorbananmu untuk mereka……ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, semakin berkwalitas ibunya insyaallah anak2 nya juga berkwalitas…(*beruntunglah si puput*)……urun mung sithik entuk anak2 berkwalitas

    Like

  12. Wah iya sama, aku pun. Kadang kangen meeting dan bergaul setelah jam kantor, sampe suka kepikir mau balik ngantor lagi.

    Demi menjaga agar tetap sibuk (kaya kerjaan ibu rumah tangga kurang banyak), tetep kerja freelance dan menyalurkan hobi. Alhasil anak keurusnya ya disambi2. Yang penting keliatan terus wujudnya sama kecium baunya udah bikin tenang 😀

    Like

  13. Halo mbak olen salam kenal ya ^^
    Baca tulisanmu yg ini #Hakdezigmoment banget buat aku, soalnya aku lg ngalamin dilemanya Mbak Olen bertaun2 yang lalu sblm resign.
    Aku baru setaunan married.. Sblm married ak udah biasa kerja. Nah, kebetulan suamiku ini wiraswasta, jadi waktunya dia malah lbh fleksibel.. Kadang suka trenyuh kalo aku pulang lembur dia udah ada di rumah dan masakan udah tersedia (Psst.. Untungnya suami hobi masak. Hihi), atau kalo weekend suami masih nyempet2in bantu beres2 karena kasian sama aku yang udah “Pergi-pagi-pulang-malem-pas-weekdays”. Meskipun smua itu dari kesadaran suami sendiri, tetep aja di hati terasa nyesss gtu *mbrebesmili*
    Kemarin2 sempet ada obrolan sama suami, supaya aku cari kerja yang enteng2 aja karena skg jg lg program hamil, atau malah mungkin sekalian ngga kerja aja.. Ngebayanginnya aja udah serem mbak, kebiasaan megang uang sendiri.. biasa punya budget jalan-jalan sendiri, ngasih orangtua ya dari tabungan sendiri.. *meskipungajibelum100juta* tapi lumayan cukup lah buat idup. Huhu.. Kalo Mbak Olen bisa glundang glundung kpikiran smpe jam 2 pagi. Aku malah udah beberapa bulan belakangan maju mundur niatnya.. Hiks. Semoga dalam waktu dekat diberi ketetapan hati lah aku. doain yah.. Salut deh buat Mbak Olen. Dan aku rasa ngga perlu minder deh, mbak.. Biarpun ngga bisa foto2 sama temen kantor lagi, ga punya gaji tetap dari penghasilan sendiri, tapi selain sbg ibu rumah tangga bakat Mbak Olen nulis kan bakat yang luar biasa. Berbagi ilmu, sharing pengalaman.. Bisa nambah temen ^^
    Suatu saat aku malah pengen bisa spt Mbak Olen, jadi ibu tapi juga tetep menghasilkan karya yang bermanfaat buat orang banyak (:

    Like

  14. mba olen… antara pgn mengikuti jejakmu, tp jg takut ;p hahaha… kalo aku sih lebih mikir ke, siapa yg bkl biayain hobi travelingku ntr kalo aku brenti kerja 😀 Selama ini kan biaya jalan2 itu dr gajiku, smntara urusan RT dll itu suami … jd kalo aku brenti, bye bye jalan2 artinya 😀
    hiks… jd sepertinya hrs tetep kerja demi jalan2 😀

    Like

  15. ihhh…. Kamu teh saya banget deh.. Bedanya.. Karir ku ga kayak kamu.. Tp feel nya sama banget.. Minderan..
    Baru mau mutusin bekerja hanya karena ingin menyalurkan “emosi” dan “fikiran” , dan perasaan ga mau diunderestimate sama keluarga atau rekan yg lain. Tp, trrkadang suka menggalau, ketakutan sendiri apa yg akan terjadi ke depan..
    Mohon advice nya dong.. Aku ibu dengan 4 anak , hihihi

    Like

  16. Halo, salam kenal 😀

    Ini tulisan yang bagus dan fresh, dua jempol. Saya jadi teringat postingan pacar saya dulu, “Menjadi ibu rumah tangga yang ikhlas itu hadiahnya ga sekedar kulkas atau kipas angin”, semoga apa yang menjadi kendala hati segera diringankan, aamiiin 😀

    Like

  17. I feel you, mbaaak… *tapi versi jomblo, hahahaha..

    resign-nya sih ceritanya buat jadi anak berbakti ke bapak ibu.., keputusan terlalu EKSTRIM meninggalkan lenggak lenggok Ibukota dengan segala isinya dan pulang ke rumah bapak ibuu..
    ceritanya sih memanfaatkan masa kesingle-an ini #eceilee untuk merawat orang tua dan jadi masa fokus cari jodoh #eeaaa :”) taapiii…. kok rasanya aneh yah “lama” di rumah? hahahaa.. 3 bulan di rumah rasanya msh belum cukup buat adaptasi, ahahaha.. XD

    kadang masih rindu masa-masa mengejar Kopaja 19 dengan segala kisah penjambretannya, hahaha.. :))

    Sukak sama tulisannya… sukses jadi ibu dan istri yaa mbak.. daaann… Salam kenal.. 😉

    Like

  18. Bedane mung sitik kok mbok, nek Kerjo mesti wangi, nek dadi mbok omahan ambu asep dapur. 🙂 Ternyata akeh tunggale koyok aku yo.
    Meneng wae wis, ra sah kakean cangkem timbang disepak si mbah 🙂

    Like

    1. Silakan mbak heheh. Dipikir baik2 dibicarakan dengan suami dan keuangan dihitung matang. Bukannya ga percaya sama rejeki Allah, saya sih realistis aja

      Like

  19. Ijin share ya mbak 😀
    Anak anak baru pada sakit 😷 jadi kepikiran pengen nunggu anak anak di rumah dan berenti kerja hehehe.
    Tapi galau juga ni apa nanti betah di rumah aja dan gak punya duit sendiri..

    Like

  20. salut sama tulisannya, mewakili banyak cerita mbak.

    saya mau nanya nih, dulu alesan resignnya gimana ya ngomong sama atasannya, udah niat sih, cuma rasanya bakal digandoli sama atasan, #hakdesh

    hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s