Accommodation Review: Shophouse The Social Hostel, Singapura


Menginap di hostel dengan kamar dorm memang salah satu yang saya tunggu-tunggu dalam agenda dolan-dolan saya. Walaupun udah beberapa kali ke luar negeri tapi saya nginepnya di hotel karena perginya sama Mbak Olen dan Mas Puput. Hehehe. Sebelumnya saya udah banyak banget baca cerita dari blog ataupun dari buku traveling tentang pengalaman serunya nginep di hostel. Ada yang nggak bisa tidur karena teman satu kamarnya ngorok, ada yang ngeluh gara-gara banyak berbagai macam bau-bauan, bahkan ada yang digrepe-grepe bule mabok yang baru balik hostel pagi-pagi buta! Hiiii, serem!

IMG-20141007-WA0006

Nah, dalam agenda dolan ke Singapore ini saya mumet banget milih hostelnya. Apalagi saya masih bodo dalam hal-hal seperti ini. Intinya sih mau cari yang murah dan dekat dengan stasiun atau terminal. Minta tolong Mbak Olen, dia malah bilang “goleki dewe!” yasudah, saya googling dan nemu hostel yang terletak di Bugis Street yaitu Cozy Corner Hostel, harga mix dorm 6 beds cuma SGD 18. Saya lihat di website-nya dia nggak pakai Agoda atau HostelWorld jadi kalau mau booking langsung email ke dia dan bayar pakai Credit Card. Karena letaknya strategis maka saya email dia untuk booking. Tapi berhari-hari email saya nggak dibales-bales, lagi-lagi saya panik (kok koyone panik terus yo). Akhirnya mbak Olen ikut turun tangan, dia lihat review trakhir orang-orang yang nginep di sana kurang bagus. Kamar mandi becek, kotor dan bahkan ada yang bilang banyak nyamuknya dan setelah pulang dari sana kena demam berdarah! Sakit di negeri sendiri aja udah menyiksa apalagi sakit di negara orang, lagipula pasti nggak sanggup bayar RS-nya. Hahaha

Akhirnya setelah ndremis minta bantuan Mbak Olen dicariin hostel, mungkin karena takut adiknnya nggak dapet hostel dan terdampar di terminal Queenstreet dan diciduk polisi setempat, akhirnya mbak Olen mau bantuin saya. Nama hostelnya adalah Shophouse The Social Hostel, letaknya di 48 Arab Street Singapore (www.shophousehostel.com) letaknya juga cukup strategis karena dekat dengan terminal Queenstreet dan stasiun MRT Bugis. Saya nginep di mix dorm 16 Beds dengan harga SGD24 juga nggak perlu pakai DP, cukup dibayar pada saat check in. Wow, ngebayangin tidur sama 16 orang jadi inget jaman ikutan pesantren kilat!

Dalam email konfirmasi bookingan tersebut dia menjelaskan lengkap termasuk bahwa check in dibuka dari jam 2 pm hingga 10 pm, saya mikir lama…. saya sampai Johor Bahru jam 5.15 pm belum perjalanannya, belum macetnya jalanan dan belum juga imigrasinya gimana kalau kejebak disana (dan ternyata kejadian beneran!) saya email balik hostelnya, saya tanya apa yang terjadi kalau saya tiba disana setelah jam 10 pm. Nggak nyangka belum juga setengah jam, email saya sudah dibalas. Dalam email itu saya dikasih attachment berupa file pdf yang menjelaskan dimana letak kunci kamar saya dan dimana letak kamar saya lengkap dengan gambar dan denahnya. Keren ya, hostelnya sangat responsif!

Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya, gara-gara kejebak imigrasi itu saya sampai di terminal Queenstreet sudah malam. Turun dari bis saya melirik jam tangan saya. “wah ayem, isih jam 9” kata saya dalam hati. Beberapa detik kemudian saya sadar. Guoblooook! ini kan jam tangan setingan WIB yang mana sejam lebih awal. Maklum, mungkin karena laper dan masih shock gara-gara digiring imigrasi otak jadi kurang bekerja. Saya langsung lari-larian padahal nggak tau kemana arah Arab Street.

Sampai perempatan yang saya juga nggak tau perempatan apaan, saya tingak tinguk kayak bocah ilang bingung mau kemana. Tiba-tiba saya dicolek mbah-mbah Chinese, mbah-mbah yang sudah sepuuuuuuuuuh banget. Hebat banget malem-malem masih jalan-jalan sendirian. Dia tanya saya mau kemana, nyari apa? Saya bilang mau ke Arab Street nomer 48. Saya ditunjukkan jalannya, dan ternyata memang dekat dengan Queenstreet dan sebenarnya mudah dicari, saya-nya aja yang bego liat peta. Mbah-mbah itu awalnya mau nganterin saya, tapi saya menolak. Kasihan wong sudah tua. Saya ucapkan makasih banyak dan dia bilang “take care”. God bless you, mbah!

Sampai di hostel sudah jam 10 lebih, saya pikir resepsionisnya sudah pulang ternyata masih ada. Waktu saya tanya, “What time is it?” dia menanggapainya “Don’t worry, we will wait for you guys” hahahaha I like this hostel already!

Setelah diberi kunci saya diantar ke kamar yang letaknya di lantai 3, gendong backpack dan kaki udah pegel sampai atas saya ngos-ngosan. Kamar saya isinya 8 tempat tidur bunk bed, jadi total ada 16 kasur dan tiap orang pasti dapat loker yang cukup besar. Tiap kasur sudah ada selimut, bantal, lampu kecil juga colokan, begonya saya lupa kalau disana pakai colokan internasional dan saya nggak bawa adaptor jadi ngecas hp terpaksa pakai powerbank.

Bunk bed
Bunk bed

Setelah beres-beres saya langsung mandi. Di lantai saya kamar mandinya ada 4, kamar mandi dan toilet gabung jadi satu tapi bersih walaupun agak kecil nggak masalah buat saya. Selesai mandi saya turun ke bawah sekalian ke luar cari makan, bagi yang malas ke luar tinggal turun ke resepsionis dan makan di kafenya. Mencari tempat makan (khususnya makanan halal) di kawasan tersebut sangat mudah, ha wong nama jalannya aja Arab Street ya tentu banyak makanan timur tengah dan makanan Turki disana. Cuma karena saya nggak tau rata-rata harganya, daripada disuruh cuci piring karena nggak kuat bayar makanya saya lebih milih ke Seven Eleven beli roti sama mie cup. Dasar kere!IMG-20141007-WA0002

Balik ke hostel, sudah hampir jam setengah 12 dan mas resepsionisnya masih ada di sana. Saya tanya kenapa belum pulang, dia bilang masih menunggu tamu lagi dari Taiwan. Wah, emang keren hostel ini! Balik ke kamar, saya kenalan sama bule Canada namanya Sean yang kasurnya ada di sebelah saya, dia lagi jalan-jalan keliling Asia Tenggara.

Nggak nyangka saya semalaman tidur nyenyak, ternyata pengalaman orang-orang yang saya baca itu nggak terjadi sama saya. Nggak ada yang ngorok, nggak ada yang berbau aneh, dan awalnya saya pikir bule-bule itu sukanya dugem sampai malem, ternyata nggak. Buktinya si Sean itu jam 11 udah di kasur sambil nonton film dari laptop.

Rooftop
Rooftop

Pagi hari saya mandi lalu sarapan, sarapan disediakan jam 9 pagi. Menu sarapan di shophouse seperti sarapan hostel pada umumnya. Roti tawar dengan berbagai macam selai dan ada toasternya, sereal, kopi dan susu. Ruang sarapannya ada di roof top lengkap dengan tempat cuci piring sendiri. Ternyata selain ruang makan, di lantai paling atas ini juga ada common room lengkap dengan LCD TV dan juga buku-buku bacaan dan traveling. Selain itu bagi yang pengen internetan (nggak pakai hp) disediakan juga ruangan dengan beberapa unit PC.IMG-20141007-WA0003

Overall, sebagai first timer yang nginep di hostel, saya cukup puas dengan pelayanan dan fasilitasnya. Stafnya semua friendly, dan yang paling saya suka adalah di hostel ini tiap lantai punya network wifi sendiri, jadinya kita nggak perlu rebutan network sama seluruh penghuni hostel. Waktu saya check out, saya difoto dulu. Ternyata tiap tamu yang check out pasti difoto dan fotonya diupload di FB mereka. Kata mereka itu adalah bentuk apresiasi mereka terhadap tamu-tamunya.

Advertisements

17 thoughts on “Accommodation Review: Shophouse The Social Hostel, Singapura”

  1. Jadi teringat waktu kesana, saya cuman lagi kepo ngider-ngider sendirian, mungkin emang keliatan bahwa saya turis, eh langsung di sapa dan nawarin bantuan… Orang-orang disana (terkhusus orang tuanya) perhatian ya. Pantas saja aman untuk wanita yang bepergian sendirian 🙂

    Like

  2. Jadi inget, dulu pernah ambil mixed dorm yg untuk 4 orang. Ternyata 2 orang teman sekamar (yg ntah siapa, tapi tasnya ada) ga balik penginapan karena sibuk ngider, jadilah malam itu sekamar cuma diisi 2 orang : aku dan adek ganteng berambut pirang yang perutnya kayak gilesan kumbahan 😆
    Lumayan khawatir, makanya sblm tidur niti pesen ke temen yg ada di kamar sebelah supaya waspada klo2 ada yg histeris tengah malam. Tapi tenyata, nginep di dorm itu aman dan menyenangkan

    Like

  3. wah blog ini ngebantu banget, kakak…
    saya jg lg berburu hostel di sg karena blum pernah..
    kalo ga ngerepotin, bolehkah diinfokan :
    1. klo pesan dari web nya benar2 tanpa DP dan tanpa kartu kredit kah?
    2. berapa deposit yg ditahan sampai check out?
    3. di web shophouse hostel ini dibilang free sabun & shampoo, apakah benar? (kan irit klo g perlu bawa cairan dari indo.. hehehe)
    4. air panas untuk mandi apakah tersedia?
    5. apakah disediakan air mineral gratis (selain kran singapore yg siap minum itu)?
    terima kasih sebelumnya… 🙂

    Like

    1. 1. Kalau pesan di Booking.com/hostelworld tetap harus memasukkan nomor CC tapi bayarya cash d tempat
      2. tidak ada deposit
      3. ada lengkap
      4. hot water
      5. ada ceret listrik

      Like

    1. cek aja alamat website nya di atas… mereka jg punya FB & instagram juga..

      btw, terima kasih mas puput dan mbak olen… tahun lalu saya jadi nginep di hostel ini dan recommended… terima kasih untuk bantuan infonya *waktu itu

      Like

      1. Hooh bagus. Apalagi dibandingin sama ABC yang makin lama makin surem.

        Thanks mbak! Saya suka agak gimanaaa gitu kalau pembaca blog ini nggak mau riset dikit aja, maunya tanya doang. Hadeuh.

        Like

  4. sy rencana mw trip dari malaka ke sin dgn penginapan di shophouse itu mb,btw boleh minta ptunjuk prjlnn ksna nggak y mbak?soalnya ini prdana kita buat jalan ke LN

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s