Amazing Race demi Makan Halal di Hong Kong


One hell of a day. Lapar, pegel, capek, dan berantem! Hari terakhir kami di Hong Kong dengan day trip ke Makau persis sekali dengan salah satu episode di acara TV Amazing Race.

Islamic Center favorit kami
Islamic Center favorit kami

Alkisah, karena harus naik feri ke Makau, kami hanya sarapan roti tawar dan susu di hotel. Oliq pada dasarnya kurang suka roti manis, tapi masih mau kalau roti tawar tanpa selai dan spread lain. Kami naik feri dari Shun Tak pukul 11.45 dan sampai di Terminal Maritimo Makau jam 13.00. Setelah keluar imigrasi, kami naik bus umum ke Largo Senado (Senado Square). Tujuannya hari itu memang hanya ke sekitar situ saja. Maklum, mau ke kasino, lupa bawa dono dan indronya.

Sampai di Senado Square yang ramai kaya di Sekaten, panas sudah sangat ngenthang-ngenthang dan perut pun dangdutan. Oliq langsung mlipir ke bangku bawah pohong yang teduh untuk main perkakas alat beratnya. Puput ditugaskan untuk mencari makanan.

“Ada roti tawar sama mie,” katanya kembali dari mengintip Circle K tidak jauh dari situ.

“Ya udah beli roti tawar buat Aik, kita makan mie. Sama susu buat Aik,” kata saya.

Puput kembali dengan menenteng roti tawar dan susu. “Mie-nya Nissin Veggie tapi ada tulisannya ‘contains dry pork’.” Jiahhhhh, akhirnya kami cuma makan roti tawar dengan susu (lagi). Oliq dan saya cuma makan satu lembar masing-masing. Mau beli egg tart, nggak yakin juga sama kehalalannya. Akhirnya, di dekat St Paul Ruins, sempat beli jus mangga yang harganya MOP 25 alias Rp 50 ribu!

Ketika pulang, kami hanya makan roti cokelat chiffon sepotong dibagi dua, Oliq nggak mau soalnya manis. Oliq cuma makan Pokky cokelat. Saya mau beliin M&M saja dilarang sama Puput. Dia mendadak pelit banget kalau di luar negeri, makanya saya biasanya sedia uang sendiri buat jajan. Kadang rela ambil di ATM biar ga perlu minta uang.

Permasalahannya muncul setelah kami mengunjungi Museo du Macao, turun di jalan antah berantah. Dengan panduan Google Maps, kami akhirnya menemukan halte bus. Bus jalur 12 menuju ke terminal feri lama banget padahal sudah menjelang malam. Bus akhirnya datang juga dan kami empet-empetan masuk. Oliq ditaruh di tempat bagasi.

Ketika sampai di terminal feri, buru-buru kami ke TurboJet untuk beli tiket, dapat yang jam 18.15. Karena sudah jam 18.05, kami buru-buru masuk imigrasi tanpa sempat beli sangu untuk di feri. Perut rasanya sudah teriak-teriak kaya ormas lagi demo di Bundaran HI.

Masalah kembali muncul di imigrasi Hong Kong. Karena kami lupa bawa bolpen, harus mengisi kartu kedatangan dulu. Mendadak imigrasinya penuh waktu mau antre. Puput gendong Oliq terpisah dengan saya. Well, bedanya cuma satu orang sebenarnya.

“Hong Kong ID?” tanya petugas pada saya.

“No,” kata saya.

“Wis terima saja nek kamu dikira TKW!” kata Puput ngenyek dari belakang. Dia pindah ke jalur lain yang rasanya lebih pendek. Puput emang suka pindah-pindah ke lain hati kaya gitu, tapi biasanya jalur yang dia pindahi mendadak macet.

Saya terus antre. Si ibu petugas ujug-ujug nyuruh saya ke jalur HK Permanent Resident yang lagi sepi. Saya langsung lulus dengan cepat. Eh ternyata Si Puput ikutan antre di belakang saya. Dan jebulnya, dia ditolak sama petugas imigrasinya. Mukanya udah ruwet banget karena disuruh antre lagi di ujung belakang.

Saya cengar-cengir saja ngeliat dia kepayahan gendong Oliq yang juga udah bête. Sukuuuur kuwalat, makane ojo sok ngenyek!!!

Waktu Puput keluar dari imigrasi jam udah menunjkkan pukul 20.00. Artinya kami cuma punya waktu 1 jam untuk sampai di Islamic Center Canteen, dekat dengan hotel. Padahal, dari terminal feri masih harus jalan ke Stasiun Sheung Wan, naik kereta 4 stop sampai di Causeway Bay, dilanjutkan jalan kaki. Rasa-rasanya sudah mustahil karena di HK itu dari kereta sampai ke exit saja jalannya jauh banget.

Waktu di Sheung Wan saya lihat KFC, Oliq bilang, “Mama Aik lapel, Aik mau maem ayam.” Puput bilang meragukan. Saya mutung. “Yo wis rasah wae!” Puput bilang lagi, “Yo wis sana nek mau beli!” Yeee, seolah-olah yang bakal nanggung semua dosanya.

Buru-buru saya berbalik menuju ke kereta. Jalan saya cepat sekali. Di jalan Oliq berkali-kali bilang, “Kenapa nggak jadi beli ayam? Mama, kenapa nggak jadi beli ayam?.”

Sumpah saya mutung berat. Anak ini baru makan 2 lembar roti tawar seharian. Daruroooooot.

“Kok di Australia kamu mau makan Hungry Jack’s?” kata saya.

“Nek di Australia masih dibeleh, nek di Hong Kong enggak!” katanya.

Daruroooot.

Sampai di Causeway Bay, bukannya cepet-cepet untuk mengejar Islamic Center Canteen, si Puput lambat banget. Memang sih dia jalannya lambat, masih lebih lambat dari saya pas hamil 9 bulan. Kalau saya memang cepat jalannya.

Langsung Oliq saya ambil alih, saya gendong belakang. Saya jalan ngebut, waktu itu sudah jam 20.35. Kecepatan jalan saya menuju ke Islamic Center Canteen kira-kira sebanding dengan Valentino Rossi di sirkuit lah.

Sampai di Islamic Center buru-buru ke lantai 5, dengan terengah-engah. Alhamdulillah ya Allah masih buka. Rasanya pengen sujud syukur kalau nggak hampir ketabrak Pak Koki yang bawa dandang dimsum.

Langsung kami bilang “take away” karena mereka tutup jam 9 teng. Bahkan kalau ada tamu masih makan pun disuruh bawa pulang sisanya.DSC_0104

Kami pesan nasi goreng, brokoli garlic, dan tahu goreng spicy. Oliq nambah 2 kali, habis tandas di hotel.

Rekomendasi makanan halal di Hong Kong akan ditulis terpisah.

Advertisements

39 thoughts on “Amazing Race demi Makan Halal di Hong Kong”

    1. aku meh mrebes mili tenan je. itu aja klo ga bilang takeaway ga bakal dilayani. mereka bener2 tenggo. jam 9 tutup ya tutup.

      Like

  1. Ya ampuuun mbakk, kasian Oliq. Untung Oliq pinter, ga rewel meski laper. 😦 Samaaa banget sama papanya Nisa, strict banget soal makanan. Pernah juga punya pengalaman serupa, kelaperan pas jalan2 gara2 ga nemu makanan halal. Di sini roti juga susah banget dapet yg halal. Tapi masih untung Jepang banyak minimarket yg jual onigiri sih. Biasanya klo kepepet ya beli onigiri yg banyaaak (ini jg kudu liat2 sih, ada gelatinnya apa ga). hahaha. *mabok*

    Like

    1. Ya tergantung tempat sih mak, dan tergantung orgnya juga. Ada yg “yg ptg ga babi” ada yg ketat kaya suamiku. Klo makau emg susah bgt, hongkong lbh gampang nanti aku bikin ulasannya

      Like

  2. Aku mbaca postingan ini sambil “menggeh-menggeh” dan akhirnya ikut lega akhirnya kalian ketemu nasi dan pengganjal perut lainnya 😆

    Like

  3. terharu banget bacanya.. Kebayang pas Oliq nanyain ayam terus, kalo itu anakku, bojoku wes tak tinggal ke kfc. Gak urusan deh dia gak ikut makan.. Mana tega denger anak kelaperan begitu. hihihihi :’)

    Like

  4. nek aku pokoke gak babi haha,,, paling menderita nang kamboja,,, dolek muter2 babik kabeh,,, onok ayam tp wadahe dijejerno babik,,, hadeh, akhirnya tuku sego putih tok hahaha…

    Like

    1. Nang siem reap kui kami sempet mangan ning resto seafood (tapi yo tetep dodol babi). Nek ayam puput ra gelem soale ayame kamboja dicekik ora dibeleh

      Like

  5. Duuuhh mbak..aku melu ngelih..melu deg degan…. memang perjuangan tenan ya mencari makanan halal. Salut bgt sama oliq yg ga rewel .nek anakku mungkin wes gerung2 ning ngarep kfc :p

    Like

  6. Fyuh *ambegan dhisik*
    Subhanallah perjuanganmu, Mbok. Istri sholehah beneran. Keluargaku gak ketat2 banget soal makanan halal kalo sedang dalam perjalanan, beda mazhab 😀 Tp gak kutulis, takut diprotes sejuta umat 🙂

    Like

  7. mbak yg cantik waktu dihongkong boleh tahu bermalam di hotel mana? terus waktu mau ke Macau dr Hongkong naik dr termainal apa di Hongkong dan Macaunnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s