Tuhan Ada di Mana Pun: Finding Islam


Pernah mendengar orang berkomentar seperti ini: Jalan-jalan ke luar negeri terus, naik hajinya kapan? Pernah merasa #hakjleb dengan komentar semacam itu?masjid jamak india

Bagi saya, ya terserah mereka saja, wong duit-duit mereka sendiri, pahala juga pahala mereka sendiri. Bukan maksud saya menafikan rukun Islam ke-5 ini, cuma buat apa juga menghakimi orang lain. Kalau memang sudah ada rezeki yang disegerakan mendaftar (walaupun berangkatnya entah berapa tahun lamanya….). Kalaupun belum, bukan hak saya juga untuk mencela.

Bagi kami, suka jalan-jalan ke luar negeri bukan berarti terus melupakan perintah agama, makan seenaknya, lupa shalat dengan alasan musafir.

Jalan-jalan ke luar negeri di negara-negara di mana Islam merupakan minoritas tidak selalu berakhir dengan hal-hal buruk, sesuatu yang banyak ditakutkan oleh para (calon) traveler muslim, kebanyakan mereka yang mengenakan kerudung. Jangan takut.

Traveling dengan agama bisa beriringan karena Tuhan ada di mana pun.

Pernah lihat foto beberapa traveler sedang shalat berjamaah dengan latar belakang indahnya Raja Ampat? Rasanya nyes di hati. Sayang, saya belum pernah *nyengir kecut*

Tapi alhamdulillah, pernah merasaka shalat di hamparan rumput Botanical Gardens Sydney, di pelataran parkir Kuil Kiyomizu-dera Kyoto, dan nyempil di Bandara Schiphol Amsterdam.

Allah Maha Keren. Maha Baik Hati. Karena itulah, muslim yang sedang melakukan perjalanan pun mendapat “diskon” alias keringanan, seperti dapat menjamak shalat, mengqasar shalat, tidak berpuasa dengan mengganti di lain hari.

Sudah didiskon, masih minta nambah? Wah itu namanya dikasih hati minta ampela. Jangan-jangan malah dapat brutu!

Bila sedang dalam perjalanan, terutama di negara antah berantah, kepada siapa lagi kita akan berpaling? Pada rupiah? Pada kartu kredit yang limitnya 5 juta? Pada ATM yang tipis saking seringnya digesek?

Hanya pada Tuhan kita berserah. Tuhan ada di mana pun.

***

….Entah ide dari mana akhirnya aku pegang tiketnya di bagian yang sudah sobek, jadi sobekannya tertutup telapak tanganku. Pas si petugas tiket heboh memeriksa tiket-tiket lain, aku merangsek ke depan sambil bilang, “Already … already!” Maksudku, udah disobek, Pak!

Untungnya si petugas nggak terlalu perhatian. Aku diperiksa petugas yang sama tadi. Kupandang dengan tatapan tajam. Setajam silet! Hehe. Kalau beneran, si mbak petugas pasti udah jadi sashimi. Kok sashimi? Ini kan India.

Tumpukan cemilan, biskuit, dan nasi tergeletak di tong sampah dan sekitarnya. Jadi, setiap kali petugas menemukan makanan di tas tangan pengunjung, langsung saja dibuang di tong sampah. Kasihan sih sebenarnya, karena aku yakin banyak pengunjung yang merupakan orang nggak punya yang mungkin datang dari tempat yang jauh.

Aku keluar melewati alat pendeteksi logam dengan sedikit terengah-engah. Campuran antara lega dan kecapekan. Di depan gerbang Puput sudah menunggu dengan wajah tercemas yang pernah kulihat. Wajahnya bahkan kelihatan lebih panik dibandingkan beberapa bulan kemudian ketika listrik mati saat perutku sudah dibelah ketika sedang operasi caesar. Ah, itu lain cerita!…

Sebuah antologi yang berkisah tentang perjalanan 7 orang traveler di 7 negara yang berbeda. Betapapun berbeda kisah masing-masing, ujungnya tetap sama: Tuhan ada di manapun.

Antologi ini berjudul Finding Islam, selalu ada cahaya di setiap perjalanan. Sesuai benar dengan kisah nestapa saya di India. Sudah hamil, kedinginan, kereta molor berjam-jam, dikejar tukang bajaj, ditolak masuk Taj Mahal, sudah itu ditangkap polisi pula.

Kenyataannya, saya survive dengan baik-baik saja setelah menginap semalaman di stasiun yang super duper busuk.

Di Masjid Taj Mahal yang megah nan indah hanya saya, Puput, dan Imam yang shalat berjamaah. Ribuan orang ini semuanya bukan muslim?

Baru di masjid itu saya mengalami seorang imam menuangkan air dari bejana agar saya bisa langsung berwudlu. Allah Maha Baik pasti akan menyayangi mereka yang menghormati perempuan.

Di India ini saya mengalami banyak hal, mulai dari shalat di Masjid Jama’ dan nyaris diteleki burung, shalat di Masjid Taj Mahal, hingga shalat di pelataran Qutb Minar dan dipotreti wisatawan lain *kibas mukena*

Photo: @qultummedia
Photo: @qultummedia

Asyiknya lagi, lebih banyak kisah menarik lain dari kawan penulis antologi ini, mulai dari Belanda, Spanyol, Thailand, Irak, Portugal, hingga Indonesia. Semuanya ditulis dengan bahasa yang ringan namun tidak kalah menawan.

Ah sudahlah, tidak seru kalau diceritakan semuanya. Kalian beli sendirilah, untuk bantu Simbok ini jalan-jalan lagi….

Judul: Finding Islam (Ada cahaya di setiap perjalanan)

Penerbit: Qultum Media, Jakarta

Advertisements

8 thoughts on “Tuhan Ada di Mana Pun: Finding Islam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s