Anak Itu Berbeda-Beda (Kisah Keluarga Multi Bahasa)


Jarang sekali saya bikin tulisan tentang parenting (dan agama), biasanya yang enak-enak saja, kan? Terinspirasi oleh seorang ibu yang curhat karena putrinya (3 tahun) belum bisa membedakan warna dan besar-kecil, saya juga jadi memikirkan Oliq. Saya sampai saat ini masih berjuang untuk tidak membandingkan Oliq dengan anak lain. Saya berusaha untuk fokus di sisi positifnya.goa langir aik

Di usia 3 tahun 3 bulan, dari segi fisik Oliq memang kecil tapi sangat jarang sakit (batuk pilek cuma 1-2x setahun). Patut disyukuri. Padahal makannya juga banyak apalagi kalau lauknya ikan laut (tengiri paling suka, salmon tidak terlalu), sayur doyan, buah hanya mau minum jus itu pun yang tidak terlalu kecut.

Oliq lebih suka main sendiri atau dengan orang dewasa daripada anak seusianya. Mungkin karena orang dewasa memang lebih memahami dia. Mungkin juga dia punya karakter introvert yang cenderung penyendiri.

Saya dan Puput kadang berpikir Oliq punya kecenderungan autism, tapi ada gejala berkebalikan. Biasanya autism ditandai keterlambatan bicara. Oliq sangat pandai berbicara, dalam Bahasa Indonesia. Dia bisa bercerita 1-2 paragraf satu kali napas, semuanya rasional. Omongannya nyambung.

Kendala bahasa memang sedikit jadi masalah. Oliq baru belajar Bahasa Inggris akhir-akhir ini, itu pun saya paksa karena sekarang kami tinggal di Malaysia. Padahal, Bahasa Indonesia Oliq sangat lancar. Dia pun bisa sedikit Bahasa Jawa. Sekarang, ia juga mendapat kosakata Melayu dari sana sini, misalnya kata “jerebu” artinya kabut asap.

Untuk banyak hal, dia bisa bilingual Inggris dan Indonesia, misalnya kata-kata aeroplanes, ship, bus, dan juga semua warna, big small tall dsb. Untuk bentuk, dia lebih mengenal dalam Bahasa Inggris (circle, square, rectangle dsb).

Jadilah Oliq anak dengan bahasa campur aduk. Suatu kali di sekolah, sedang berenang Oliq bilang dengan gurunya, “Teacher, Aik mau mentas!” Modyaro kono Simboook!wpid-dsc_0016.jpg

Btw, Oliq juga tidak terlalu senang sekolah. Saya jadi berpikiran untuk melakukan homeschooling sementara, mungkin anaknya juga belum siap sekolah karena berpisah dengan Simbok dan juga karena kendala bahasa (kebanyakan temannya berbahasa Melayu walaupun pengajaran dalam Bahasa Inggris).

Ada beberapa milestones yang terlewat, misalnya minum dengan sedotan. Sampai sekarang Oliq masih tidak mau. Hanya mau langsung dari gelas. Ia bisa ambil botol dari kulkas, membuka botol, menuang, dan minum. Bisa menaruh gelasnya di tempat cuci piring. Makan nasi sendiri masih belum mau, harus disuapin.

Perjuangan toilet training Oliq sangat mudah, hanya 2 hari saja, langsung bablas. Sekarang pun dia sudah bisa bilang kebelet pipit, lepas celana sendiri, ke kamar mandi sendiri, cawik sendiri dan mengguyur pipisnya sendiri, tapi belum bisa memakai celana sendiri.

Dari segi ketrampilan, mungkin Oliq tertinggal dari anak seusianya. Dia baru bisa mengambar pesawat terbang (ya iyalah pasti, lengkap dengan winglets-nya), bus,

Kembali ke masalah bahasa, Oliq juga dikenalkan Bahasa Arab lewat doa dan surat-surat pendek. Sampai saat ini ia sudah hapal doa mau tidur, doa bangun tidur kadang lupa (Simboknya pun buka contekan dulu), doa mau makan, doa mau pergi, doa masuk kamar mandi, doa keluar kamar mandi, doa sampai rumah (alhamdulillahi robbil alamin saja sih tapi tanpa disuruh pun dia sudah bilang sendiri). Dia juga sudah hapal Al Ikhlas dan An Nas, sementara Al Fatihah masih perjuangan (panjang banget, katanya). Kadang sedang sibuk main keruk-kerukan tanah pakai excavator pun dia sambil menghapalkan surat-surat.

Lalu, kenallah dia dengan beberapa kata dalam Bahasa Spanyol, misalnya ola, adios, amigos, hasta la proxima karena senang nonton Pocoyo di iPad dalam versi aslinya. Padahal, Simboknya selalu berusaha mengarahkan ke versi Inggris karena nanti kalau Bahasa Spanyol simbok juga nggak mudeng.

Kesukaan Oliq selain pesawat adalah lego. Ia biasa membuat gedung (office), menara, aeroplanes (favoritnya dengan lego adalah Antonov dan Ilyushin, pertanda kudu ke Rusia segera #kode). Tidak bisa duduk jenak untuk belajar menempel, tidak suka mewarnai, menggambar sebentar-sebentar saja. Paling hapal dengan nama semua alat berat dalam Bahasa Inggris (excavator, loader, mini loader, bulldozer, truck crane, tower crane, molen atau soil compactor, impact hammer, dump truck). Hanya paku bumi dia tahu dalam Bahasa Indonesianya.

Jujur saja sih saya sebenarnya nggak tahu pasti milestones anak 3 tahun itu apa saja huahahahahahahah

Berbeda dengan orangtua lain yang khawatir anaknya rewel saat travelling, Oliq punya kecenderungan lebih rewel di rumah daripada di jalan. Mungkin memang ditakdirkan demikian.

Intinya, saya berusaha untuk tidak (lagi) membandingkannya dengan anak lain. Setiap anak berbeda dengan keunikannya.

Salam Super Simbok!

Advertisements

29 thoughts on “Anak Itu Berbeda-Beda (Kisah Keluarga Multi Bahasa)”

    1. Ealaaaah ada ibu baru mampir. Selamat ya *telat. Prakteknya maaaaaak. Kaya misalnya ini anak kok ga gendut2 kaya anak lain, simboknya aja yg makin bengkak

      Like

  1. Apalagi nanti kalau Oliq punya adek, mesti beda juga perkembangannya. Aku sendiri punya dua anak ya beda juga perkembangannya. Berbanding terbalik mereka kesukaannya.
    Jadi bener mbak, ga usah banding2in. Malah Oliq beruntung loh, kalau mau bandingin paspornya sama aku. 😀 Oliq capnya lebih banyak dan beragam mesti. 😀

    Like

      1. Lho masa? Punyaku dong, yang tengah2 udah isi cap, tapi lain-lainnya masih kosong. Petugas sini suka seenaknya aja ngasih cap. Nggak berurutan halamannya. Sekenanya dia buka, di situ dicap. 😐

        Like

      2. Paspor oliq baru di hal 28 kayanya. Akhir2 ini petugasnya suka sirik sama dia, dicapnya di hal2 depan mepet2 gitu

        Like

  2. Salam super… Oliq spertinya bakat jadi traveler sejak kecil, that’s why pinter campur aduk bahasa internesyenel. Eh tapi jangan sampe kaya Cyinta Loreng dink, mbak e… repot kalo dikira artis karbitan gagal hahahha

    Like

  3. hihihi, selalu ada cerita yang baru. Len sui g ketemu, trakhir jamane syukuran beasiswa arep ning Aussie, bareng Mindra, isih eling?
    Aku sui dadi silent reader mu, marai ngguya ngguyu dewe, wis ono ae wong iki 🙂 Maen ke sini ya Oliq, nti ta jak jalan2 ke desa..wkwkwk..

    Like

  4. Salam kenal Simboknya Oliq 🙂 Tinggal di KL ya? Saya+suami+anak juga merantau di Penang udah hampir 3 taun dan Alma dulu sempet kena speech delay pas umurnya 2 taun.. Berdasarkan pengalaman sih, memang harus terus semangaaat nemenin anak main bareng, karena lewat main anak banyak belajar 🙂 Kalau kita udah maksimal sih, anak bakal tumbuh berkembang dengan keunikannya masing2 ya, Mak 🙂

    Mau sharing juga beberapa indikator/kriteria milestones dasar yg biasa dipakai dokter anak untuk skrining tumbuh kembang anak, plus ada ‘ide ngajak main’ nya di bagan stimulasi, kali2 aja suka kehabisan ide kayak saya, hehe. Semoga manfaat, Mak 🙂

    https://andinaseptiarani.wordpress.com/2014/04/22/bagaimana-cara-mendeteksi-tumbuh-kembang-anak-balita/

    Like

    1. Halo Mbak. Huehe kalo Oliq malah pinter bgt ngomongnya, semua ditanyain kenapa ini kenapa itu
      Cuma klo udah ketemu anak lain dia ga suka main bareng, apalagi anaknya ga bisa bahasa Indonesia hee

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s