Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso


Setelah perjalanan tak berujung ke Ujung Genteng, melewati bukit dan lembah, hutan dan desa, keindahan alam ciptaan Tuhan dan kerusakan jalan ciptaan manusia, saatnya untuk pulang.

Karena sadar bahwa perjalanan pulang yang akan berliku nan panjang, bagi kami sulit untuk tiba di Jakarta sebelum malam. Prinsip road trip kami jelas, Magrib sudah hampir sampai tujuan, atau cari penginapan. Alasannya adalah karena Puput ngantukan demi keselamatan bersama.

Ini dia Si Amanda Ratu
Ini dia Si Amanda Ratu

Jadi, kami tidak kesusu untuk balik ke Jakarta. Agar terasa sah ampai di Ujung Genteng, mampirlah kami di Amanda Ratu. Apa sih Amanda Ratu ini? TANAH LOT SUKABUMI! Or so they say.

Memang ada kemiripan dengan Tanah Lot di Bali berupa sebuah pulau kecil di seberang pantai. Di situ ada kompleks yang (seharusnya mewah) bernama Resort Amanda Ratu. Sudah kebayang lokasi itu bagus sekali kalau sunrise. Kami sempat masuk ke kompleks dengan membayar uang “parkir” pada penjaga gerbang. Di mata saya, resort itu sepi tak berpenghuni, bangunannya pun terlihat lapuk padahal katanya mewah. Kolam renang kotor penuh dengan daun jatuh. Entah sebenarnya masih beroperasi atau tidak.

Vila Amanda Ratu
Vila Amanda Ratu

Teman saya menginap di Amanda Ratu hanya beberapa bulan sebelum saya ke Ujung Genteng. “Auranya kaya film Suzana,” huahahahaha lebay ya. Tapi waktu itu memang kelihatan suram, yang saya pasti memilih untuk tinggal di pondokan yang lebih basic.

Udah kebayang Oliq protes, “Ini hotelnya jaman dulu banget, jendelanya medeni. Aik takut!” seperti ketika menginap di Pelabuhan Ratu.

Lokasinya sebenarnya oke banget, mungkin kalau direnovasi akan ramai kembali karena memang didesain mewah.

Kesannya memang berhantu, tapi cuma kesan, belum tentu hantunya muncul kalo ketemu sama Simbok solehah macam saya. Apalagi di sebelah saya ada Puput yang lebih medeni daripada demitnya.

Selesai foto-foto, kami meluncur kembali ke destinasi berikutnya, yaitu Curug Cikaso.

Tadinya mengira Curug Cikaso ini mirip seperti curug-curug lain yang pernah kami kunjungi di daerah Jawa Barat. Maklum saja Puput dan saya pecinta curug. Kencan pertama kami saja di air terjun legendaris Grojogan Sewu waktu piknik SD.

Mobil sampai di parkiran dan ternyata Oliq masih tidur. Ketika nunggu ada seorang bapak yang mendekati. Dia bertanya ini itu, memberi informasi tentang ini itu. Ketika Oliq bangun si bapak mengantarkan kami ke lokasi perahu penyeberangan. Eh, ternyata si bapak ikut naik perahunya. Ya sudahlah, pikir kami, nggak pada ada pemandu, bisa tanya sedikit-sedikit. Hitung-hitung berbagi rejeki.

Naik perahu ke Curug Cikaso
Naik perahu ke Curug Cikaso

Oliq tampak sangat senang naik perahu, maklum saja nenek moyang kita kan seorang pelaut, bukan?

Tak dinyana, Curug Cikaso ternyata bagus sekali. Jauh melebihi ekspektasi. Kebetulan dua hari sebelumnya hujan deras, air terjunnya benar-benar grojogan bukan kriwikan apalagi tetesan.

Curug Cikaso ini air terjunnya triplet alias kembar tiga. Airnya bening jatuh menghantam sungai. Sungai di Cikaso rata-rata berwarna kehijauan karena lumut, tidak cokelat. Buat yang hobi fotografi menyenangkan sekali. Lingkungannya pun masih hijau.

Si kembar tiga
Si kembar tiga

Si bapak pemandu bilang bahwa jalanan di sekitar Sukabumi rusak karena ada tambang yang dikelola Korea, entah seberapa kebenarannya. Yang jelas memang kami lihat banyak truk pengangkut. Si bapak ini (saya lupa namanya) juga bilang akan dibangun jalan baru. Alhamdulillah, ya Allah, jadi para ibu-ibu yang lewat sini nggak perlu takut brojol di jalan lagi.

Di sekitar Cikaso, tanahnya becek karena cipratan air, jadi agak licin dan saya harus terus gandeng dan gendong Oliq. Tidak lama sih di sana karena tidak ada tempat duduk juga. Hanya ada beberapa dan sudah dipakai orang. Ngaso sejenak, kami kembali ke perahu yang menunggu.cikaso

Tiba di dermaga, saya kasih si bapak uang sekadarnya.

Sampai di mobil. JREEEEEENG!!!!! Pintu depan sebelah penumpang terbuka lebar. Padahal di dalam mobil ada iPad, kamera DSLR yang memang ditinggal, 1 laptop, tas saya yang di dalam ada dompet berisi lengkap.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk.

Langsung periksa satu persatu dengan jantung berdegup kencang. Gimana kalau kamera ilang padahal ada foto-foto nganu bagus dan lucu? Ternyata semuanya masih lengkap. Hampir saja sujud syukur di tanah basah kalau-kalau perhatian tidak teralih pada beberapa pemuda kekar yang cuma pakai handuk dililit ke pinggang.

Usut punya usut ternyata Puput tadi membuka dan lupa menutup kembali. Saya dan Oliq sejak tadi memang duduk di kursi belakang, jadi tidak merasa membuka pintu depan. Jadi kami meninggalkan mobil dalam keadaan pintu terbuka lebar.

Fiiiuhhhh. Cikaso masih berbaik hati pada kami.

Advertisements

17 thoughts on “Amanda Ratu Berhantu dan Ngaso di Cikaso”

  1. Pintu mobil terbuka lebar yang sudah ditinggalkan sekian lama tanpa kehilangan benda berharga satupun. Hehehe..Ini agak aneh bagi saya..Semoga berkat para pemduda berhanduk itu ya Mbak )

    Like

    1. Ga sulit banget cuma ujung genteng nih jauuuuuh dan ga bisa ngebut. Jadi ya 7-10 jam tergantung kondisi dan macet ga di jl raya sukabumj

      Like

  2. Slalu cinta ama cikaso.soalnya plg dr sini aku lgs hamil mba wkwkwkwkkwkwk… Stlh nunggu lama bok. Itu amanda resort msh berpenghuni sih pas aku ksana… Tp iya sepi bingitss.. Aku sndiri nginep d pondon hexa.

    Yg paling ga bs dilupain, makanannya enak2. Seafod dan super murah. Trs pas mw k curug ada warung gt yg jual indomie tp jg ada karedok. Dan sumpah rasanya pedes cetar tp uenak’eee ^o^

    Ah jd kgn ama cikaso

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s