Culinary Review : Ana Ikan Bakar Petai, Kuantan, Malaysia


Kalau Anda berniat jalan-jalan atau kebetulan bertugas di pantai timur Malaysia, tepatnya di kota Kuantan, jangan lupa untuk wisata kuliner menyambangi Restoran Ana Ikan Bakar Petai. Lezatnya ikan segar dipadukan dengan gurihnya rempah-rempah khas yang dicampur petai pasti akan membuat lidah Anda menari-nari. Pelayanan yang cepat walaupun restoran selalu penuh sesak di akhir pekan juga akan membuat Anda terkesan. Semua itu bisa ditebus dengan harga yang sangat terjangkau.

Papan nama "Ana Ikan Bakar Petai" yang dipenuhi mobil-mobil konsumen yang rela berdesak-desakan
Papan nama “Ana Ikan Bakar Petai” yang dipenuhi mobil-mobil konsumen yang rela berdesak-desakan

Kuantan terletak di negeri (setara propinsi kalau di Indonesia) Pahang, negeri terbesar di Malaysia Semenanjung. Kuantan berada di pantai timur Malaysia, menghadap Laut Cina Selatan, kira-kira 253 km dari Kuala Lumpur. Dalam kondisi normal, jarak ini bisa ditempuh dalam 3 jam saja karena sepanjang jalan terhubung dengan jalan tol yang mulus meski berkelok-kelok karena melewati hutan alam dan pegunungan. Namun karena saya ke sana bertepatan dengan libur panjang Hari Malaysia, saat itu saya harus berhadapan dengan kemacetan saat melewati Genting Highland sehingga waktu tempuh menjadi molor hampir 4 jam. Tapi santai saja, semacet-macetnya sini tidak ada apa-apanya dibanding kemacetan Puncak di saat akhir pekan.

Landmark tulisan "Kuantan" di tepi Sungai Kuantan, Pahang, Malaysia
Landmark tulisan “Kuantan” di tepi Sungai Kuantan, Pahang, Malaysia

Obyek wisata andalan Kuantan adalah Pantai Teluk Cempedak, Kuantan River Cruising, Air Terjun Sungai Pandan, dan Wisata Kuliner Seafood Tanjung Lumpur. Nah, kali ini saya akan membahas lebih dalam salah satu resto paling terkenal di Tanjung Lumpur yaitu Restoran Ana Ikan Bakar Petai. Tanjung Lumpur sendiri sebenarnya adalah Kampung Nelayan yang terletak di tepi Sungai Kuantan, tak jauh dari muara yang mengarah ke Laut Cina Selatan. Dari pusat kota Kuantan, Anda tinggal melewati jembatan panjang yang menghubungkan Kuantan dengan Jalan Raya Pantai Timur yang tersambung hingga Negeri Johor. Selepas jembatan, tinggal ikuti rambu-rambu, lalu belok kiri dan Anda akan bertemu dengan deretan restoran dan warung seafood. Selepas belokan pertama Anda akan dengan mudah menemukan Restoran Ana Ikan Bakar Petai dengan nuansa hijau dan paling ramai dibanding resto-resto sekelilingnya. Awalnya saya memutuskan untuk menyusuri jalan sekitar Tanjung Lumpur hingga akhirnya menemukan bahwa jalan ini ternyata buntu. Setelah sampai ujung jalan yang ternyata juga ramai oleh warung seafood, saya balik lagi dan memutuskan untuk mencoba peruntungan di Restoran Ana Ikan Bakar Petai. Terus terang, saya agak ragu mengingat ramainya restoran ini. Biasanya, restoran seafood yang ramai macam ini pasti pelayanannya lambat, kalaupun cepat seringkali salah atau masaknya asal-asalan. Tapi demi mencoba kuliner andalan Tanjung Lumpur, saya putuskan mencoba restoran ini.

Restoran ini tidak bisa dibilang mewah, lebih cocok disebut rumah makan kalau di Indonesia. Meja dan kursinya rapat-rapat dan sederhana. Tapi resto ini sangat luas, mungkin hampir seratus meja kalau saya hitung kasar. Malam itu terlihat sangat penuh, mungkin karena long weekend. Yang menarik, di dalam resto ada tulisan besar “Wahai Tuhanku, berkatilah apa yang telah Engkau rezekikan kepada kami dan peliharalah kami dari azab neraka.”

Sebuah pesan dalam bahasa arab dan melayu yang menyapa setiap pengunjung "Ana Ikan Bakar Petai", Kuantan, Pahang
Sebuah pesan dalam bahasa arab dan melayu yang menyapa setiap pengunjung “Ana Ikan Bakar Petai”, Kuantan, Pahang

“Wah, sangat islami,” pikir saya. Kuantan memang cukup kuat keislamannya.

Pertama kali melangkah, mata saya tertatap pada tumpukan ikan segar dengan harga yang terpampang di atasnya. Semua jenis ikan harga perkilonya terpampang jelas, dengan keterangan tambahan “Harga Mengikut Pasaran Semasa.” Di sini terlihat resto ini memang jujur dalam harga, tidak seperti sebagian resto seafood yang malas menulis harga atau hanya menulis “market price”, hanya untuk mengambil keuntungan lebih dari ketidaktahuan konsumen. Yang menarik adalah adanya tulisan “Tolong dapatkan no. Meja dahulu.”

Deretan ikan segar beserta harganya di Ana Ikan Bakar Petai, Kuantan, Pahang
Deretan ikan segar beserta harganya di “Ana Ikan Bakar Petai”, Kuantan, Pahang

“Oh, bagus juga sistemnya, jadi konsumen mencari meja dulu baru memilih ikan,” pikir saya.

Kami pun langsung mencari meja yang kosong, dan untungnya meski resto sangat ramai masih ada meja yang kosong di tengah-tengah. Setelah mengamankan meja dan mencatat nomernya, saya langsung berburu ikan di depan. Karena tak yakin dengan jenis ikannya, akhirnya saya putuskan mengambil ikan yang paling kecil. Untungnya ikan ini juga terlihat ndut alias dagingnya tebal, sepertinya enak dan empuk. Ukurannya juga tak terlalu besar, rasanya kalo dimakan berdua saja masih bisa habis walau agak kekenyangan. Saya baru tahu kalau namanya ikan aji-aji setelah membayar. Lalu saya juga ambil 3 ekor udang berukuran sedang. Ya, cukup tiga saja, karena saya yakin ikannya saja sudah cukup banyak. Lalu baskom berisi ikan pilihan diserahkan ke pelayan dan dia langsung bertanya, “Nak dimasak apa dan meja nombor berapa?” dengan logat melayu Kuantan.

“Yang ikan, masak bakar petai, dan yang udang goreng pedas, meja nombor 36” jawab saya.

Dapur yang mengepul menyebarkan bau ikan bakar yang menggoda selera di "Ana Ikan Bakar Petai", Kuantan, Pahang
Dapur yang mengepul menyebarkan bau ikan bakar yang menggoda selera di “Ana Ikan Bakar Petai”, Kuantan, Pahang

Pelayan langsung mencatat dalam sesobek kertas kecil dan diletakkan di baskom yang langsung diserahkan ke bagian dapur. Saya langsung kembali ke meja setelahnya. Pelayan lain datang menghampiri kami dan menanyakan menu lain yang ingin dipesan. Kami pun segera memesan kangkung belacan, jamur goreng, limau ais, milo ais, ais kosong, dan pastinya nasi putih dua. Ais kosong maksudnya air putih pakai es.

“Wah cekatan juga pelayan-pelayan disini,” kata kami yang cukup terkesan.

Tak pakai lama, minuman kami segera datang, disusul menu sayuran. Rupanya jamur goreng disini adalah oseng-oseng jamur, bukan jamur goreng tepung seperti harapan simbok. Tapi tak apalah, ternyata rasanya lezat juga. Kangkung belacannya pun enak, rasanya sesuai dengan lidah Indonesia. Bisa dibilang tak ada bedanya dengan kangkung belacan yang sering kami makan di Indonesia.

Jamur goreng dan kangkung belacan, pesanan kami di "Ana Ikan Bakar Petai", Kuantan, Pahang
Jamur goreng dan kangkung belacan, pesanan kami di “Ana Ikan Bakar Petai”, Kuantan, Pahang

Tak sampai setengah jam, datanglah menu utama kami. Seekor ikan aji-aji yang dibakar dengan bumbu petai dan udang goreng pedas. Ikan aji-aji ini ternyata dibungkus dengan daun pisang dan dilumuri dengan bumbu rempah lengkap dengan potongan petai utuh dengan kulitnya, baru dibakar dengan arang. Gaya masakan yang dibakar dengan bungkus pisang ini memang cerdik karena menghasilkan ikan yang matang sempurna tanpa membuat kulitnya gosong.

Menu andalan "Ana Ikan Bakar Petai" yang sangat menggoda. Bumbu rempah dan potongan petai terlihat jelas disini.
Menu andalan “Ana Ikan Bakar Petai” yang sangat menggoda. Bumbu rempah dan potongan petai terlihat jelas disini.

Begitu dihidangkan, saya langsung membuka kulit pisangnya. Wow, terlihat ikan segar yang masih mengepul dengan lumuran bumbu berwarna merah kecoklatan. Potongan petai dengan kulitnya terlihat jelas di antara bumbu rempah tersebut. Saya langsung mencolek daging ikannya, terlihat jelas ikan ini matang sempurna hingga bagian dalam. Tak sabar saya ingin mencicipnya melihat penampilannya yang begitu menggoda.

Pesanan lengkap kami di "Ana Ikan Bakar Petai", Kuantan, Pahang. Ikan bakar petai, lengkap dengan sayur dan nasi putih, minus udang yang lupa kefoto
Pesanan lengkap kami di “Ana Ikan Bakar Petai”, Kuantan, Pahang. Ikan bakar petai, lengkap dengan sayur dan nasi putih, minus udang yang lupa kefoto

“Hhmmm, enyak tenann,” kata saya. Potongan ikan dengan lumuran rempah begitu menyatu di mulut. Ikannya benar-benar segar, terasa lembut dan gurih di lidah saya. Ikan aji-aji ini ternyata memang dagingnya cukup tebal, dan durinya hanya di tengah saja, jadi memang nikmat disantap tanpa harus menyisiri durinya satu persatu. Bumbu rempahnya juga terasa kuat, gurih, dan nikmat. Aroma petai terasa kuat, namun rasa bumbunya lebih dominan rempah-rempah karena petainya dimasak utuh, tidak ditumbuk dan dicampur dengan bumbu. Saya sendiri sebenarnya tidak doyan petai, namun karena bakar petai adalah signature dish restoran ini, rasanya sayang kalau tidak mencobanya. Bagi saya, bakar petai adalah paduan yang unik karena belum pernah saya rasakan di Indonesia. Kalau di Jawa, ikan bakar hampir selalu dibumbui kecap. Sementara kalau gaya Sulawesi, ikan bakar umumnya hanya dibumbui minimalis, kadang hanya dilumuri jeruk dan ditabur garam saja, tapi selalu dipadukan dengan sambal yang super pedas namun lezat. Jadi kalau gaya Sulawesi kekuatan rasanya ada di kesegaran ikan dan kedahsyatan sambal. Nah di resto Ana Ikan Bakar Petai, kesegaran ikan yang dibakar dalam balutan daun pisang dengan lumuran bumbu rempah beraroma petai menjadi kekuatan tersendiri yang unik.

Sementara udang goreng pedas sebenarnya juga enak, namun dibanding ikan bakar petai rasanya menjadi biasa saja. Udang ini cukup digoreng biasa, lalu dilumuri sambal goreng. Sambalnya cenderung manis, tidak pedas menurut saya. Udangnya sih jelas enak karena masih segar. Dagingnya empuk dan rasanya manis gurih.

Akhirnya saya, simbok, dan Oliq berhasil menandaskan semua hidangan, kecuali nasi putih. Harap maklum, porsi nasi putih di resto Malaysia memang biasanya porsi kuli, jadi buat saya dan simbok yang makannya sedikit, pasti tak sanggup menghabiskan gunungan nasi yang mungkin aslinya porsi untuk nelayan yang memang butuh energy tinggi.

Begitu selesai, saya langsung menuju kasir dan petugas langsung menanyakan nomer meja dan mengecek pesanan saya. Ternyata, untuk semua kelezatan ini saya cukup membayar RM 51 atau sekitar 180 ribu rupiah saja. Artinya, satu orang tidak sampai 100 ribu rupiah. Gak bisa dibilang murah banget sih, tapi untuk ukuran Malaysia dan restoran seafood, buat saya ini sangat wajar dan bisa dibilang lumayan murah lah.

Satu-satunya kekurangannya menurut saya adalah tempat sampah sisa makanan dan piring-piring kotor yang diletakkan di tengah restoran. Memang sih, ini memudahkan pelayan untuk membereskan meja yang ditinggal konsumen, namun agak mengganggu menurut saya. Tapi rasanya hal ini tidak menjadi masalah besar bagi konsumen karena mereka tetap lahap dan nikmat memakan hidangan meskipun duduknya tak jauh dari tumpukan piring kotor.

Ikan segar, masakan lezat, pelayanan cepat, dan harga pantas rasanya menjadi resep utama kenapa resto ini selalu menjadi rujukan setiap wisatawan. Meski resto ini penampilannya sederhana, dan mungkin agak jorok bagi sebagian orang, namun dengan kelebihan yang disebutkan diatas, orang-orang rela mengantri untuk mencicipi kelezatan hidangan bakar petai yang legendaries ini. So, kalau Anda sempat mampir ke Kuantan, jangan lupa mencicipi kelezatan seafood nan legendaries di Restoran Ana Ikan Bakar Petai.

Advertisements

4 thoughts on “Culinary Review : Ana Ikan Bakar Petai, Kuantan, Malaysia”

  1. salam.. saya orang malaysia rumah saya di kuantan but i’m work in shah alam.. wow nanti nak try la ikan bakar petai ni.. tq for promote my place in your blog.. salam kenal ye.. ~momyairs

    Like

  2. Luar biasa, bisa sampai 100 meja! *melongo*

    Iya warungnya sederhana saja, mirip yang ada di pinggir pantai Belitong sana, cuma aku suka konsep kejujurannya mbak Olen. Jadi gak kayak kena zonk kalo makan di sana :p apalagi teruji enak ya.

    Malam minggu, sendiri, lapar dan baca tulisan ini. Sempurna!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s