Travellers’ Worst Nightmare: Imigrasi


Bagaimana perasaanmu saat mau masuk negara dan antre imigrasi*? Kalau saya sih suka deg-degan, apalagi kalau imigrasi di negara itu terkenal rewel. Kalau sudah lewat imigrasi rasanya plong kaya habis makan permen bolong.IMG_4795

Pengalaman orang dengan imigrasi di bandara/pelabuhan pasti lain-lain. Ada yang bertampang kriminal kaya Puput jadi sering kena random check. Ada juga yang dikira TKI *colek @tesyasblog. Ada juga yang dicurigai kurir narkoba sampai harus digiring dari loket ke kantor imigrasi kaya kisah NST.

Pada umumnya orang tidak suka dengan proses imigrasi (apalagi kalau antreannya panjang), kecuali pada bagian dapat cap di paspor. Yay!

Beberapa waktu yang lalu saya sempat bikin beberapa tweet mengenai imigrasi di bandara Adisucipto, Yogyakarta (JOG). Karena sekarang tidak tinggal di Jakarta lagi, otomatis frekuensi terbang saya lebih sering lewat JOG, selain KLIA2 tentunya. Menurut saya imigrasi bandara ini termasuk rewel walaupun masih dalam batas wajar. Ternyata beberapa teman juga mengamini, salah satunya bilang petugasnya suka kepo (bahasa alay untuk pengen tahu aja).

Pengalaman terbang internasional pertama saya dari JOG pada tahun 2008, menuju ke Kuala Lumpur (saat itu masih ke LCCT). Saya mau backpacking ke Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. Ransel saya lewat mesin x-ray, disuruh buka. Dibongkar sama petugasnya. Dia keluarkan sampo-sampo sachet, saya bawa mungkin sekitar 10 sachet. Seharusnya dari x-ray pun kelihatan volumenya.

Petugas: Mau ke mana?

Olen: Vietnam

Petugas: Ngapain?

Olen: Jalan-jalan

Petugas: Ngapain bawa sampo banyak-banyak, kan bisa dibeli di sana.

Olen: *mutung* ya terserah saya to, Pak

Ha yo sakarepku to, Pak, arep nggowo piro. Aku sregep kramas ben ora tumonen koyo sampeyan (pengennya sih ngomong gitu)

Salah satu yang paling saya sebeli di JOG adalah ruang tunggu internasional yang tanpa penjual minuman. Awal tahun ini pesawat kami sempat delay 1 jam dan tidak ada minuman di dalam ruang tunggu . Itu adalah pengalaman saya ke luar negeri lewat JOG lagi setelah sekian lama.

Setelah mudik lebaran kemarin, saya cuma dengan Oliq. Anaknya tidur bahkan sebelum saya antre check in. Jadi saya harus gendong Oliq tanpa bantuan apapun, ngurus 2 koper, dan sebuah hand bag besar. Sudah pegel linu punggung, saya bayar pajak bandara. Di bawah ini percakapan saya dengan petugas.

Olen: Pak, di dalam udah ada bakul mimik, nggak?

Petugas: Nggak ada.

Olen: Lha nanti kalau ngelak gimana?

Petugas: Peraturannya gitu, di mana-mana nggak boleh bawa minuman ke dalam. Nggak boleh bawa minum ke pesawat.

Olen: *ngeyel dan meradang* Nggak banget! Di bandara mana-mana itu walau nggak boleh bawa minum selalu ada bakul mimik di dalam. (Kaya kita nggak pernah ke luar negeri aja)

Saya masuk masih sambil bersungut-sungut. Antre imigrasi.

Tiba-tiba bapak yang tadi di depan masuk dan bilang, “Boleh bawa sebotol aja, kan punya anak, tapi dimasukin ke tas jangan kelihatan yang lain.”

Duh, peraturan yang aneh. Kan tinggal bikin booth kecil penjual minuman di pojok ruangan, penumpang senang, peraturan juga tidak dilanggar.

Saya tidak menulis ini untuk menjelek-jelekkan JOG, not trashing it all, wong saya cinta, pulang pun ke Jogja. Justru itu harus ada kritik membangun supaya ada perbaikan. Citra Jogja sebagai kota wisata dipertaruhkan.

Update (23 Sepember 2014): sekarang sudah disediakan dispenser di ruang tunggu internasional JOG. Salut untuk kemajuannya. Tinggal kita tunggu teh kopinya ya…*dikeplak kepala bandara*

The one that I’m about to trash is King Abdul Aziz Airport, Jeddah (JED). Waktu kedatangan, kami disambut petugas imigrasi keturunan Afrika yang ramah tamah. Waktu pulangnya itu bikin saya gondok bin mangkel.IMG_9539

Antrean custom dibuka hanya 2 loket, dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Panjaaaang sekali antrenya. Kebanyakan orang-orang tua. Oliq nangis dan minta menyusu. Di tengah antrean saya ndeprok di lantai dan cuek saja menyusui Oliq. Akhirnya ada petugas yang muncul dan menyuruh saya beserta beberapa jamaah umrah yang sangat lanjut untuk maju duluan. Di sinilah saya menghadapi perempuan tanpa kemanusiaan. Petugasnya perempuan, bercadar rapat, full body check. Sebelum saya adalah seorang seorang ibu yang sudah sangat sepuh (pastinya di atas 70 tahun). Petugas itu membentak-bentak si ibu dalam Bahasa Arab, si ibu tidak paham. Lha bagaimana bisa paham, to? Saya suruh si ibu cepat-cepat keluar dari bilik pemeriksaan. Saya ganti bentak-bentak petugasnya pakai bahssa Inggris. Oliq nangis jerit-jerit dengar suara-suara keras. Si petugas agaknya stres juga karena ada bayi nangis plus dibentak, saya dicek hanya sekilas. Wuiiih, keluar juga dari kamp konsentrasi. Katanya sekarang sih udah jauh lebih baik.

Petugas imigrasi tidak semuanya dingin dan galak kok.

Ketika kami tiba di KLIA awal tahun ini, petugasnya baik, dia mencek paspor dan visa kami, meminta surat kontrak kerja Puput, dan semuanya dilakukan dengan sangat ramah. Tidak masalah. Padahal itu sudah tengah malam, biasanya mereka sudah ogah-ogahan. Pengalaman banyak sih peristiwa menyebalkan di bandara-bandara Malaysia hanya karena kita orang Indonesia. Waktu mau pulang kemarin lewat KLIA2, seusai x-ray tas dan sudah melangkah menjauh, tiba-tiba ada petugas perempuan yang memanggil, “Heh, kamu mau ke mana?” dengan kasar. Uopoo meneh to, Bu, jigur ig. Sepertinya pengalaman buruk dengan petugas perempuan.

Pengalaman Puput lebih parah lagi: deportasi. So, jadi itu kali pertama dia ditugaskan ke Miri, di Sarawak. Di rumah saya sempat kaget juga, lho kok paspor ditinggal. Tapi sudah melupakan ketika Puput WA bilang mau boarding. Berarti pakai i-Pass saja boleh (semacam KTP untuk WN asing).

Tahu-tahunya tengah malam buta saya mendengar ada yang buka pintu. Wah, maling iki, batin saya. Ternyata Puput.

Jadi ceritanya dia sampai di bandara Miri, ada pemeriksaan imigrasi. Warga Malaysia bisa lolos dengan MyKad (KTP mereka), baru belakangan ini boleh, dulu-dulu mereka pun tetap harus bawa paspor seperti ke luar negeri saja. Puput pede memberikan i-Pass, ditolak, diangkut ke kantor imigrasi. Dan dipulangkan dengan pesawat MH yang sama. Sapaan yang paling menyebalkan dari pramugari bagi Puput adalah, “Welcome back!”

Waktu dari Brunei ke Kota Kinabalu (BKI), tas saya sempat kena geledah. Ada sebutir apel, dan apel itu kemudian disita. Coba ya dulu bawa duren!

Banyak sekali cerita menarik tentang imigrasi di dunia ini. Yang paling ramah yang saya alami adalah di Luang Prabang. Ketika pulang, petugas imigrasi mencap visa (waktu itu masih pakai VOA yang bayar $20), dia bertanya macam-macam kepada saya. Ramah. “Come back here and bring your friends,” katanya.

Petugas imigrasi di Pelabuhan Batam pun baik juga. Saya dan Oliq didahulukan. Dan petugasnya protes, “Masih bayi kok capnya banyak banget.” *kibas dolar Zimbabwe*

Kami pernah kena random check di Haneda, Tokyo. Tapi petugasya pun sangat ramah. Dia tanya saya dari mana. Ternyata dia pernah ke Jogja, untuk urusan dinas. Sampai-sampai si bapak ini menunjukkan foto-foto Jogja yang ada di kameranya.

Imigrasi Australia suka dong-dongan. Dulu jamannya saya berangkat sekolah, naik Qantas CGK-SYD-MEL, semua barang diperiksa. Bahkan Indomie pun dilihat satu per satu. Tahun 2012 ketika Oliq masih bayi, kami terbang KUL-MEL, dan pemeriksaannya tidak ketat. Ada yang bilang kalau pesawat dari Indonesia memang lebih ketat pemeriksaannya. Entah benar atau tidak. BTW, kalau di imigrasi Australia, passport cover (walaupun yang bawaan imigrasi) lebih baik dilepas. Petugasnya ga suka scan pakai cover.

Imigrasi Bandara Charles de Gaulle Paris (CDG) sama sekali tidak ketat. Dilihat visa oke, dicap. Habis itu lempeng saja tidak ada pemeriksaan custom lagi. Kami kaget tahu-tahu sudah di luar.

Bandara Schiphol di Belanda, menurut kami lebih ketat, mungkin karena menjadi hub negara-negara Schengen. Ceritanya kami terbang dengan KLM dari DPS-CGK-AUH-AMS-SVG. Saya bawa susu Ultra 250 ml di ransel untuk Oliq di perjalanan. Susu lolos sampai di AMS. Di sana kena sita. Nggak masalah sih, karena peraturannya memang tidak boleh.

Dari AMS kami terbang ke Stavanger (SVG) di Norwegia dengan pesawat Fokker 70. Ternyata di SVG tidak ada pemeriksaan apa-apa lagi, bahkan tidak ada cap! Ada beberapa petugas yang asyik ngobrol dan malah ngetawaain kami yag sibuk ngudal-udal koper cari sweater, jaket, boots, dan gloves. Ya iya, kami terbang dari Bali yang panasnya ampun-ampunan. Bahkan sampai SVG sama cuma pakai jins, kaus tipis, dan sandal gunung.

Pengalaman di Bandara Siem Reap (REP) juga bagus. Petugasnya terang-terangan mengizinkan kami membawa satu botol minum masuk ke ruang tunggu — karena ada Oliq. Padahal, disita pun tidak apa-apa karena banyak penjual minuman.

Untuk imigrasi di Amerika Serikat, nanti akan ditambah oleh Puput (karena waktu itu saya ditinggal, terus ditinggal lagi, pokoke ditinggal teruuuussss).

Kalian punya pengalaman menarik apa dengan imigrasi?

Note: Yang dimaksud imigrasi di sini adalah CIQ : Custom, Immigration, Quarantine

 

Advertisements

62 thoughts on “Travellers’ Worst Nightmare: Imigrasi”

  1. Waktu pertama kali nyampe LCCT, saya dan dua teman digelandang ke ruang imigrasi dan ditahan hampir 1 jam lebih karena curiga dengan bawaan handbagg kami dan wajah kami yg agak kucel, kami dikira mau kerja di KL, untung ibunya temen saya yg kebetulan kerja di KL lgsung telpon dan menjamin kami hahaha….

    Klo pas di suvarnabhumi, bangkok, ga ada senyum dr petugas tapi prosesnya amat cepat, foto, stempel dan melenggang 😀

    Like

    1. Itu kamu udah nunjukin tiket pulang belom? Harusnya udah ya? Skrg aku jg selalu siap dgn bookingan hotel.
      Tapi kadang aku mikir juga MY kayaknya begitu bgt sama WNI krn di sini juga banyak bgt yg kerja tanpa ijin kerja, bahkan banyak yg ga punya ijin tinggal. Biasanya paspornya udah pada mati.
      Di pasar aku biasa belanja sering ada razia ilegal

      Like

      1. Sudah mbak, sempat ditanyain juga bawa uang berapa, hahaha. Karena itu aku diwanti wanti sma ibunya temen saya buat selalu siap sedia paspor kalau jalan2 di KL haha

        Like

  2. Imigrasi di Sulaymaniyah (ISU), Irak-Kurdistan, ini termasuk yg pualing ketat. Masalahnya, temen2 pernah ada yg bawa rendang, opor ayam, disita. Koper saya pun pernah dibongkar waktu mau balik ke Indo. Abis dibongkar, udah ditinggal gitu aja. -_- Malah saya pernah liat ada orang Cina, dia bawa mangga yg dibungkus satu2 pake koran, disuruh bukain semua. -____- Kalo udah gitu, deg2an takut koper dibongkar. Meski kita tahu bawa yg ga kenapa2, tetep aja imigrasi di sini tuh ga bisa diprediksi. Ada lg temen yg bawa roti dr Sulaymaniyah, ditanya2in macem2. Yg bawa korma pun pernah disita kormanya. Duh!

    Tapi kemarin, saya baru aja mudik. Imigrasi CGK baik banget. Saya bawa sabun mandinanak2 yg botol kecil 100ml, baby oil 100ml, minyak telon 100ml, ga dibongkar n ga disita. Saya bawa susu Ultra 2x125ml sama 2x200ml buat anak2. Ga disita. Mungkin karena saya sendirian kali ya bawa 2 bocah, jadinya ga diperiksa n ga disita. Abis itu transit di Qatar (DOH), pun ga disita juga susu2 anak saya tadi. Alhamdulillaah. Padahal kalau pun disita, saya udh pasrah ga akan marsh2 karena emang seharusnya ga boleh kan ya. Dan kenyataannya, susunya ga diminum sama anak2 sampe saya tiba di Sulaymaniyah. Berat2in tas aja. -____-

    Like

    1. Kalau makanan homemade emang riskan juga, kadang ga masalah, kadang disita. Apalagi yg model rendang ya? Klo aku biasanya kupack rapat2 dan semua makanan mencurigakan pasti masuk bagasi. Setahuku kalau buah segar/sayur segar emang sering ga dibolehin lho. Iya klo punga anak susu srg lolos. Kadang mlh aku taro di luar biar kelihatan sekalian. Jauh amat sih mbak dirimu di kurdistan

      Like

      1. Huahahaha. Emang jauh amat ini, kejauhan yaks. Cobak, di KL kali ada tempat buat aku sm keluarga? Msh cukup? 😀

        Btw, itu rendang ditaro di bagasi lho. Diperiksanya pas sampe bandara sini, di mesin X-ray pdhl udh tinggal selangkah lg keluar. Disita. 😐

        Aku baru tau kalau buah dan sayuran segar ga boleh ya? Ah, untungnya kemarin aku bawa pete mentah ga kenapa2. 😀

        Like

  3. Dari sekian trip saya belum pernah tuh ngalamin yg sampek kesel sekesel-keselnya. Paling waktu ke Korea dulu saya masuk Malaysia lewat Johor dan petugasn imigrasinya lihat pasport dan cap malaysia kok banyak hahaha… jadi deh ditanya tiket balik dsb nya. Udah sih yang lain aman tentram sejahtera. Apa aku terlalu ganteng???

    Merinding tuh petugas kastam surabaya, bawa anjiiiiiiiiiiiiiinggg >_<

    Like

  4. wah mbak , meski aku baru bbrp kali keluar negeri tapi tetap yg paling mengerikan yaa imigrasi di CGK..dingin bener..padahal di negara lain kita selalu disenyumin dan disapa ramah *bukan mengintimidasi CGK loh ya ntar ditangkap lagi* 😀 postingan ini sukses bikin ngakak sendirian di cubicle nih

    Like

    1. Oh ya kok aku lupa nggak nyebutin CGK ya…padahal ada yg mau kupuji. Itu karpet baru pas di kedatangan bikin agak terang. Dulu kan kusem bgt

      Like

  5. Pengalamanku sama kayak kamu Mbok, ditinggal bojo ke Amrik. Dua kali. Tentu dia kena random check melulu. *sokor*

    Di Ostrali memang dong-dong-an. Pertama kali ke LN, aku langsung ke Sydney, thn 2006. Di sana paspor Indonesia gak bisa dipindai, jd hrs ke konter khusus. Mana aku cuma berdua sama Big A (Little A blm lahir, Nino udah nyampe duluan). Dan anakku gak percaya Emaknya bisa basa Enggres. Custom-nya jg ketat tahun segitu, semua diperiksa, kopi, makaroni saset disita. Tp thn2 berikutnya udah bisa lenggang kangkung.

    Paling ramah di New Zealand. Queenstown maupun Christchurch, petugas malah ngajak ngobrol pengen jalan2 ke mana aja. Waktu kukasih tahu temanku ketinggalan pesawat, dia malah ketawa ngakak keras banget. Lama. *awkward moment*

    Pengalaman terbaru kemarin di Singapura, pas puasa. Antrean panjang dan lama banget. E ternyata petugas melayani dengan slow motion, mukanya lemes banget, menjelang buka. Pulangnya kami pilih ke konter petugas yg kira2 nggak puasa 😀

    Like

  6. Aku pernah di random sama custom di nagoya. Ngisin2i jane, isi koper katro banget :munthu, cowek, brambang bawang lombok rawit. Rapopolah sing penting gak disita, ditambah bonus petugase kawaiiiii…….

    Like

  7. Seru yah pengalaman ngadepin petugas imigrasi dari berbagai negara, aku juga pernah kena random check petugas custom di Sydney, semua isi tas kabin aku keluarin dan disuruh jawab beberapa pertanyaan. Petugas imi yg baik waktu di bandara incheon, aku sempat ngobrol sama mbak imigrasinya. Eh tapi ga semua imigrasi galak lho, aku salah satunya hihi..

    Like

  8. Di KLIA aku pernah dikira TKI, haha… Di CDG petugasnya cuek bgt, tiba2 udah di luar aja, dan ternyata paspor gak dicap… Pas pulang lewat Schipol, petugasnya bingung, ini mana cap masuknya, error tuh yang di Prancis, kata dia… Selama ini yang paling ramah Australia… Selalu ada sapaan “welcome to Australia”, atau “enjoy your stay”, atau “welcome back” 🙂 yang lain-lain standard-standard ajah….

    Like

  9. Akyu alhamdulillah selalu aman, pasang muka imut sok polos plus senyum *gubrak.

    Adeku dulu banget abis bom bali dia selalu kena di imigrasi, masuk office di tanya tanya. Mukanya padahal kaya orang india wekekek

    Oia kalo di cgk terminal 3 ngga boleh masuk minuman taapiiii beli minuman bisa sama petugas kebersihan hehehe. Jadi lihatin aja petugas kebersihan trus deketin dan tanya ada aqua ngga ^^.

    Like

  10. Paling mangkeli waktu mau masuk krabi, ditanya tiket plg aku jwb ngga plg lwt krabi ataupun thailand. Krn mau lanjut ke kamboja HCMC br plg ke jkt. Wes diunjukke kabeh tiket panggaho bentak2. Hih nggilani tenan. Ujung2e yo nyerah pasporku dicap dibalekno tp di uncalke. Temamah njitak :)))

    Like

  11. Pngalaman jelek yg ampe dbntak2 ato dicurigai sbg penyusup sih blm prnh mba. Mungkn krn wajah jg wkwkwkkw.
    Tp klo dr pengalaman imigrasi eropa itu cndrung cuek. Pas ke Berlin, Sofia di Bulgaria, ama imigrasi di Belgrade, mrk mah cm cek sepintas pasporku, di chop trs udh selesai. G ada acara nanya2 de. Tp aku smpet sebel bnget2 ama imigrasi di Istanbul.kita kan jln darat.aku ga tau kalo imigrasinya bkl d luar.dan saat itu winter.aku ninggalin jaket syal d bus. Kebayang dinginnya itu badan dan petugasnya kakek tia yg lemot bgt kerjanya.
    Tp kalo di malaysia sndiri aku justru biasanya slalu dpt yg ramah.malah srg ditanya ttg traveling2 ku yg sblmnya 😀

    Like

  12. kalo aku pas smp LCCT terbang dr SOC di imigrasinya gak ditanya apa2 juga.. mgkn krn lg rame yah.. jadi cuma ditanya mau kemana, aku bilang mau ke langkawi.. yowes cap meneh.. nah pas balik KUL-SOC aku dibilang sama petugasnya jangan masuk KUL dulu utk 6bln ke depan haha… krn diliatnya aku ada stamp extend 30hr dr imigrasi tanpa keluar dari malaysia. padahal yo wes tak kasih no surat keterangan dr rumah sakit kenapa aku extend. tapi memang smp hari ini belum balik lagi ke malaysia haha… kalo di singapore mgkn krn masuk dr batam gak jadi masalah yah…

    Like

      1. Aku malah baru mau kmalaysia. Tapi masih bingung kalo di tanya imigrasi stay di mana. Soalnya aku dapat surat udangan di Malaysia semua biyaya di tanggung disana…. hehe

        Like

  13. Trus apa yang harus saya jawab…. Apa saya unjukin surat undangannya yang menyatakan semua biyaya ditanggung oleh teman saya…

    Like

  14. Permisi mau nanya nih, kan visa thailand saya masih dijakarta, besok saya brgkt dr jogja, belinya tiket flythru jog-cgk-bangkok. Di jogja paspor ditanyakan ga ya kira2? Karena paspor saya dibawa teman dan kita akan ketemu di jkt sblm lanjut ke bangkok. Terimakasih

    Like

  15. halo kawan2… mo tanya kalau ke vietnam buat holiday aja ,, porses imigrasi mereka di bandara ribet ga??? apa cukup bawa paspor and tiket pulang pergi?

    Like

  16. hi kawan2… mo tanya dong, kalau holiday ke vietnam proses imigrasi dibandaranya gmn yah?? ribet ga? bawa paspor dan tiket PP aja apa cukup?? thx

    Like

  17. hallo dear, minta sharing nya dong kalau proses imigrasi di Bangkok ribet gak ya? mau liburan kesana. full body check gak? tks

    Like

  18. #pernah ditahan di Mactan-Cebu gara2 disangka bawa bom 😭
    Entah siapa yang iseng naruh kotak roti di depan musala. Waktu itu saya pinjam kunci petugas imigrasi bandara untuk salat Asar sekalian nunggu Magrib. Jadi musalanya dekat sama gerbang pindai barang dan kuncinya selalu dibawa petugas di situ. Barang saya semua saya titipin petugas. Selesai Magrib tiba-tiba nongol tuh kotak misterius. Saya cuek aja orang gak berkepentingan. Saya balikin lah itu kunci sambil minta barang saya. Baru beberapa langkah, eh, suruh balik. Diinterogasi macem2 sambil suruh nunggu gegana dateng, padahal perut keroncongan… Well akhirnya izin makan di bandara sambil ditemani petugas… *wth udah makanan mahal, gak nyaman kali pas makan itu mata petugas ngeliat mulu* Singkat cerita abis tim gegana nyisir tuh kotak laknat itu, saya dibebasin. Gak lucu juga ada surat dateng rumah trs ngomong kalo saya ditahan di Filipina karena diduga teroris. Bisa disko Babe saya.
    #pernah diinterogasi polisi Makau di bandara, disangkanya gembel kali ya.
    Abis lolos dari imigrasi yang pake diendus-endus anjing segede jerangkong, sy kan duduk tuh sambil ngebenerin tas, makan roti sisa, ama selonjoran kaki buat rehat sejenak. Eh tiba2 ada polisi resek nyamperin saya minta paspor. Tanya nih dia, mau apa ke Makau. Ya saya bilang: traveling, masak gendong ransel mau judi di kasino… yakali…. Terus dia tanya mau tinggal di mana, ya saya bilang sorenya mau langsung ke Hongkong jadi gak nginep. Dia tanya tuh tiket balik saya, saya kasih lah… Saya tungguin dia meriksa tiket balik saya sambil makan si roti hahaha. Eh si polisi masih gak percaya trs ngobrol ama temennya sambil lirik saya…. Sampe roti saya habis dia masih aje meriksa. Akhirnya dia kasih balik tu paspor tp mukanya cemberut ky gak ikhlas gt gak dapet mangsa. 😂

    Sori kalau agak OOT ya kyknya dua cerita saya 😂

    Like

  19. Hai boleh sharing dong kak pengalaman di bandara korea incheon. Ribet gak ya ? Saya awal agustus mau kesana sendirian nih. Tp di korea ada keluarga. Ya jd saya hanya berbekal pasport + visa aja karna selama 1 bulan disana saya akan tinggal dan dijamin oleh keluarga saya. Apakah jika tanpa tiket pulang+tiket hotel akan ribet ? Karna saya tidak membawa surat jaminan/ undangan dr keluarga yg di korea. Mohon dijawab ya kak thankyou 🙂

    Like

  20. Baru pertama kali ke LN rencana mau ke HCMC, klo pas di imigrasi cukup bawa passport aja tanpa bawa tiket pulang, apa aman ya? Atau hanya tunjukkan tiket hotel saja tanpa tiket pulang, memungkinkan?
    Msh blm tau bakal disana brp lama, krn disuruh bantu set up opening new office.
    Mohon masukannya..

    Like

    1. Lebih baik bawa tiket pulang. Sekarang sering ditanyain sih tapi biasanya di negara2 lebih maju kaya malaysia, singapura, jepang. Kalau urusan kantor mending minta dibikinin tiket sama travel agent

      Like

  21. adakah yg pny pngalaman dgn petugas imigrasi bndara kansai? katanya ketat y pmeriksaan disana?
    apakah cukup dgn paspor (plus stiker bebas visa), tiket PP, bookingan hostel, dan bookingan tiket bus antar kota
    saya baru pertama kali ke LN soalnya

    Like

  22. Hai kak ada yang punya pengalaman imigrasi brunei darussalam… ke brunei cuma transit sih tujuan utama dubai.. sekakian mau nanya juga imigrasi dubai gimna.. trus di bandara soekarno hatta biasanya ditanya apa aja karena ini perjalanan pertama saya ke dubai

    Like

    1. Pernah sekali ke brunei ga masalah. Utk dubai asal ada visa ga ditanyaij macem2. Paling pertanyaan ssmacam mau berapa lama, ngapain, tinggal di mana, udah ada tiket pulang belum. Ini kalau sudah di tujuan ya. Soetta harusnya ga nanya macem2

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s