Makan-Makan di Pantai Timur Semenanjung


Ada sate rusa yang empuk dan manis, burung puyuh, ikan bakar petai yang finger-licking good, pokoknya! Ayo ke Pantai Timur Semenanjung Malaysia.

Awalnya saya tidak terlalu berharap banyak pada Kuantan, ibukota Negara Bagian Pahang, yang akan kami datangi. Setelah browsing – dan yang membuat kami memutuskan ke sana – adalah Pantai Teluk Cempedak (Telok Chempedak) yang memang bagus. Kulinernya, tidak terpikir deh!

Iseng saya riset sedikit tentang kuliner Kuantan, dan menemukan sebuah blog yang menuliskan beberapa kuliner kesukaan si blogger. Dari daftarnya, sebagian adalah restoran Cina yang saya tidak yakin dengan sertifikasi halalnya *kibas kerudung*. Tapi, mata saya langsung tertumbuk pada kedai satay yang ia tulis. Saya penggemar sate dan sering bikin sate ayam sendiri di rumah (walau membakarnya menggunakan happy call), tapi yang paling menarik adalah si blogger menuliskan bahwa salah satu menu di kedai tersebut satay rusa. Yay! Akhirnya mau makan venison juga!

Saya sudah weling-weling dengan Puput supaya nanti kita cari itu kedai satay. Puput suka agak malas cari tempat yang jauh dan njelimet hanya demi makan. Jadi saya menurunkan tingkat harapan biar tidak kecewa banget.

Setelah check-in di hotel dan kruthelan sejenak, kami menuju ke Pantai Teluk Cempedak. Ternyata tidak lama setelah mobil keluar dari parkiran saya melihat sebuah restoran Terminal Satay Zul, seperti yang tertera dalam blog yang sempat saya baca. Langsung kami merencanakan ke sana. Pulang dari pantai, setelah parker mobil di hotel, kami jalan ke tempat si Zul.

Terminal Satay Zul. the best satay in Kuantan
Terminal Satay Zul. the best satay in Kuantan

Ada tiga pembakar sate, menggunakan bakaran panjang dengan berpuluh-puluh tusuk sate untuk satu bakaran. Kira-kira sepuluh orang mengantre untuk takeaway. Restoran ini ternyata lebih besar dari yang saya sangka. Ada dua lantai, banyak sekali meja.Untungnya kami menemukan sebuah meja kosong di bagian luar. Setelah itu banyak yang harus berdiri di luar menunggu meja kosong.

Karena sate kelinci tidak ada (mereka sebut arnab, seperti dalam Bahasa Arab), kami pesan 5 tusuk sate rusa, 5 tusuk sate kambing, 2 nasi impit (semacam ketupat), 1 nasi putih, dan 1 burung puyuh goreng. Saya cukup takjub kami tidak perlu menunggu lama sampai makanan dihantarkan. Para pelayannya pun sangat efisien.

Sate di Malaysia cenderung lebih manis dan berrempah dibanding di Indonesia. Sate dan bumbunya enak, nasi impitnya sangaaaat lembut. Sate rusanya juga enak dan empuk, lebih empuk daripada kambing. Burung puyuhnya pun garing di luar dan empuk di dalam. Oliq habis satu nasi impit dengan sate rusa dan kambing.

Dinnernya Oliq: sate rusa dan nasi impit
Dinnernya Oliq: sate rusa dan nasi impit

Ternyata hanya habis RM 31 kira-kira Rp 100.000 saja. Enak, efisien, dan terjangkau.

Malam berikutnya saya sempat googling dan menemukan Martabak Mengkasar yang sepertinya jadi favorit di kota. Ada beberapa restoran seafood yang direkomendasikan tapi kok masih agak kenyang. Niatnya kami putar-putar kota dulu saja, dan mencoba menyeberang jembatan ke arah Tanjung Lumpur yang kami lewati saat melakukan river cruise.

Ana Ikan Bakar Petai
Ana Ikan Bakar Petai

Setelah melewati jembatan, cari putaran balik balik tapi tidak menemukan. Akhirnya belok ke arah kiri yang ternyata isinya restoran seafood besar-besar. Salah satunya – yang juga direkomendasikan semuanya – adalah Ana Ikan Bakar Petai. Restorannya guedeeeeeeeeee banget. Di bagian tengah ada playground. Beberapa puluh meter dari restoran utama ada Ana yang, dan di pinggir jalan besar ternyata ada cabang Ana juga.

Kenyang, tapi kok menarik banget ya. Saya dan Oliq langsung mencari meja kosong (susah juga dicari karena rame), Puput langsung pilih ikan. Puput pilih ikan aji-aji yang akan dibakar petai, dan udang dimasak pedas. Dia pilih udangnya tiga ekor saja. Iyes, bener, tiga ekor. Saya pesan cendawan goreng (yang ternyata maksudnya tumis jamur), belacan kangkung, nasi dan minuman.

Penampilan ikan bakar petainya
Penampilan ikan bakar petainya
Pesanan minus udang yang tiga ekor itu
Pesanan minus udang yang tiga ekor itu

Pelayan di Ana Ikan Bakar Petai ini juga sangat efisien luar biasa. Cara mereka mencatat order, menjelaskan menu, dan membersihkan piring kotor luar biasa cepat. Eh jangan dibayangkan ini restoran mewah ya, model-model restoran seafood biasa.

Tidak lama makanan datang. Puput sih nggak tahu ikan aji-aji itu apa, pokoknya pilih yang paling kecil. Dia juga tidak doyan pete tapi tetap harus pesan signature dish si Ana. Enak banget ikannya, segar, berbumbu, rasa petainya tidak nyegrak mungkin karena dipotong-potong lengkap dengan kulitnya.

Lengkap dengan minumnya, habis RM 51, sekitar Rp 170 ribu, not bad!

Paginya sekalian check-out dari hotel kami cari sarapan (hotelnya sih bintang 4 bagus banget dan bisa nginep di situ karena makhluk kere seperti kami dapat harga diskon tapi tanpa sarapan). Sambil menuju kea rah jalan tol, kami nemu warung yang menjual berbagai menu sarapan. Ternyata itu adalah Warung Mak Su, yang juga banyak direkomendasikan di blog. Ada nasi minyak, nasi lemak, nasi goreng, nasi kerabu, roti canai dan sebagainya.

Warung Mak Su, salah satu tempat fav sarapan di Kuantan
Warung Mak Su, salah satu tempat fav sarapan di Kuantan

Kami pesan nasi lemak ayam untuk Oliq, Puput pesan nasi kerabu, dan saya laksam. Nasi kerabu asalnya dari Kelantan, nasinya berwarna biru yang diwarnai secara alami pakai bunga apa gitu. Di atas nasi ditaburi irisan kol dan daun entah-apa-namanya yang sering ada di Assam Laksa. Dulu pas kerja di Australia saya sering petikin daun itu dan daun mint kalau pas restoran sepi. Lauk nasi kerabu sama seperti nasi lemak, bisa daging atau ayam.

Nasi kerabu ayam bakar
Nasi kerabu ayam bakar
Laksam
Laksam

Saya pesan laksam, tanpa tahu apa itu. Dari gambarnya sih seperti lontong sayur. Ternyata, berupa semacam mie yang dibuat lebar tapi dari tepung beras. Mie beras tersebut digulung hingga berbentuk seperti bolu meranti, Setelah itu dipotong, persis kaya kita motong si bolu meranti itu. Kuahnya bersantan agak kental, diberi taburan sayur juga. Enak sih. Katanya laksam ini banyak dijumpai di sekitar Riau dan Kepri.

Oh ya, waktu berangkat saya sempat makan tempoyak patin di rest area. Banyak banget yang jual. Bagi saya sih rasanya aneh. Lidah saya tetap nggak terima kalau durian itu disayur. Kata Puput datar, “Wong duren aja udah aneh, apalagi dicampur iwak.” Yee, boleh dong nyobain.

Next time, boleh deh ke Kuantan lagi nyobain yang lain, cuma 3 jam dari KL.

Advertisements

12 thoughts on “Makan-Makan di Pantai Timur Semenanjung”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s