Runaway Bride (and Groom)


Belakangan ini banyak kawan traveler yang akan menikah , membuat saya teringat masa 4,5 tahun silam kala mengakhiri masa jalang lajang. Bisa dibilang kami ini runaway bride and groom, meninggalkan acara ketika masih ada tamu berdatangan *lambai-lambai tiket*

manten5

Pernikahan Puput dan saya sederhana sesuai dengan prinsip traveller kere kami “nek iso digawe murah, ngopo ndadak larang”. Setelah pacaran (sumpah bukan taaruf, heran kan lihat kami yang sangat syar’i ini?) lebih dari tiga tahun, kami memutuskan menikah. Tidak pernah ada tembungan jelas dari Puput. Dia tipe “yang penting de facto bukan de jure”. Saya kok lupa juga bagaimana prosesnya.

Yang saya ingat hanya ketemu calon mertua di sebuah hotel di Jakarta. Byuh, udah sering ketemu sih tapi dulu saya bukan calon menantu, cuma teman main kelereng Puput. Langsung ditembak seperti ini, “Bulan depan mawon?” Artinya, bulan depan saja? Hehhhhh, duh seperti takut kehilangan menantu cantik seperti ini *pupuran*. Kami mengusulkan tanggal pernikahan 2 bulan setelah pertemuan itu dengan alasan pas long weekend. Iya bener, penentuan tanggal menikah memang didasarkan pada adanya long weekend, bukan tanggal cantik, hari baik, atau apapun itu. Simple aja, dengan long weekend memudahkan saudara datang dari luar kota, kami juga cutinya lebih irit.

Dari dulu sampai sekarang namanya cuti tetap diirit-irit demi berbagai rencana liburan.

“Mas, aku nggak bisa ikut office retreat,” kata saya pada Mas Lukas, supervisor saya di UNDP saat itu.

“Lho kenapa? Orang komunikasi kan kamu sendiri, Jeng?” Oalah nasibku jaman mbiyen……

“Aku arep kawin wakakakakaka.” Langsung kami ngekek bareng dan berpelukan ala teletubbies.

Di kantor hanya beberapa teman dekat yang tahu. Boro-boro pasang baliho bertuliskan PUPUT DAN OLEN RABI di Alun-Alun Kidul, woro-woro di media sosial pun tidak pernah. Intinya sangat sedikit orang yang tahu.

Sebagai adatnya orang Jawa, ada proses lamaran. Orangtua Puput dan Pakde datang ke rumah saya. Kata adik saya, “Bawa roti gede banget.” Udah gitu aja. Bersamaan dengan proses lamaran, Puput lagi main futsal. Saya lagi kulakan komik bekas di Blok M. Waktu itu saya masih jadi bakul online komik dan novel bekas yang cukup tenar di jagad per-olshop-an.

Permintaan pengantin perempuan berupa: Nggak usah ngundang-ngundang orang, tidak dipenuhi. Orangtua (saya) merasa harus tetap mengundang tetangga satu RT dan beberapa orang teman guru dan wartawan. Oke deh, yang penting pengantin tetap tidak mengeluarkan undangan apapun.

Alkisah ketika mama saya sibuk menyiapkan acara pernikahan seadanya di Jogja, saya di Jakarta sibuk cari tiket murah. Ya benar, buat bulan madu. Tanggalnya harus pas dengan acara pernikahan atau sehari setelahnya supaya kami tidak perlu ikut beres-beres momennya pas. Anyways, honeymoon trumps wedding party big time!

Pernikahan dilakukan di rumah saya, akad, lanjut pengajian, makan, dan sudah. Mama saya mengatur make-up artistnya adalah tetangga saya. Mbak Ndari, namanya, dandanannya lebih modis dari Syahrini.

Kami menikah hari Minggu, saya dan Puput baru datang dari Jakarta Jumat sore pulang kerja. Oh ya, sebelum itu kami heboh pindahan dari kos-kosan kami ke apartemen kecil di bilangan Karet. Pindahannya pun pakai gerobak pinjam di warung.

Etape pertama kami dicegat satpam, “Mau ke mana ini bawa-bawa gerobak?”

“Kami penghuni baru. Pindahannya dari kos di jalan sebelah.”

“Oh kalau gitu, kendaraannya silakan parkir di sini,” kata Pak Satpam sambil ngekek.

"Minyaaak...minyaaaak!"
“Minyaaak…minyaaaak!”

Pernikahan sederhana saja ada drama, apalagi besar-besaran ya? Saya malas menjahitkan baju pengantin, jadi saya beli saja kebaya putih, agak kebesaran akan dikecilkan sendiri oleh mama saya. Harganya sekitar 1 jutaan. Dramanya sampai bikin nangis adalah ketika saya mau belikan Puput baju koko putih.

Bride: Beli baju buat kamu

Groom: Nggak usah. Nek ming koko putih aku punya di rumah

Bride: Udah jelek to? Takbeliin aja yang baru

Groom: Nggak mau.

Bride: *nangis gero-gero di Pasaraya*

***

Kembali ke acara di Jogja. Setelah sampai di sana, Sabtu pagi para pemuda mulai memasang tenda di depan rumah orangtua saya. Orang Jawa bilang ‘tratag’.

Saya dan Puput pagi itu lagi mikir, “Ih pacaran aja foto-fotonya banyak, berbagai pose pula. Masa kawinan nggak pakai fotografer.” Meninggalkan acara pembangunan tratag dan kehebohan lainnya kami cabut ke Seturan, masuk ke sebuah studio foto.

Kami      : Mbak, bisa sewa fotografer?

Mbak    : Bisa, untuk acara apa?

Kami      : Nikah

Mbak    : Kapan?

Kami      : Besok pagi

Mbak    : WOH METENG IKI MESTI! <– kira-kira demikian yang ada dalam pikiran Si Mbak

Berusaha untuk tenang Mbaknya menilik calendar.

Mbak    : Oh bisa. Tapi cukup nggak ya listriknya?

Saya       : Saya telpon rumah dulu ya.

Tuuut tuuut.

Saya       : Mah, listrik tambahan ning omah piro? Arep sewa fotografer.

Mama   : Ngopo ndadak sewa barang. Wis sewa Mas Andika (Mas Andika ini tetangga, fotografer, dan punya studio foto juga)

JEDEERRR. Bisik-bisik ke Puput.

Kami      : Mbak, nanti kami hubungi lagi ya. *mundur teratur kabur*

Mbak    : *mlongo* ((wis meteng, tak tahu diri meneh)) <– mungkin ngomong kaya gitu huehuehue

 

Hari H

Pagi jam 6 saya bangun. Rumah sudah sibuk banget. Saya BBM-an sama Puput: Aku lagi tangi e. Puput bales: Aku yo lagi tangi. The perks of dadi manten, nggak perlu ikut sibuk.

Alkisah, Puput dan keluarga datang. Muka Puput agak poleng-poleng bentuk kacamata safety karena habis lama di rig Natuna. Berkumpul untuk akad nikah di ruang tamu, saya masih didandani. Saya mbejogrok di kamar, nunggu aba-aba keluar.

Nggak ada aba-aba.

Eh masak akad nikahnya dimulai tanpa saya! Welhadalah, kan perjanjiannya nggak kaya gini. Pas udah “SAH” saya baru didorong keluar. Guweh kan enggak mau gaya syar’i kaya gini!

Manten syar'i
Manten syar’i

Komentar Puput pertama kali setelah sah sebagai suami istri.

“Jambulmu dhuwur banget”

(((JAMBUL)))

Acara selanjutnya kurang menarik. Hihi. Makan, pengajian, salaman.

manten1

Habis itu kami berfoto-foto gila. Mas Andika sebagai fotografer sampai ikut heboh. Ada foto gendongan legendaris kami.

Kami mau ke rumah Puput untuk salaman sama Mbahnya yang ada di rumah. Setelah sanggul ambrol gara-gara pose foto yang terlalu heboh, ternyata ada kejadian lagi. Pas kami berada di ujung gang, jarik saya jebol. Kebuka semua, langsung saya diungsikan ke rumah tetangga yang ada di ujung gang. “Iki ngopo wae wis ditaleni rafia barang kok iso jebol,” seru Bu Toyo, pemilik rumah. Alhamdulillah kami sukses sampai di rumah Puput setelah menempuh jarak 200 meter – 3 menit dengan mobil.

Pulang dari rumah Puput saya ucul-ucul semua kostum, ganti kaos dan celana, nyangklong ransel. Masih ada tetamu yang datang.

Kami pamitan. Dadah-dadah.

Ke Vietnam.

Advertisements

41 thoughts on “Runaway Bride (and Groom)”

  1. Mbak e…. kit awal aku wes ngakak nonton jambul ala ibu pejabatmu…. ((JAMBULLL IBU PEJABAT))!!! Ngakak guling-guling pas jarikmu jebol, Duh mesakke men mas Puput ki :’)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s