Traveling dengan Anak Luar Biasa


Kisah inspiratif traveling dengan anak berkebutuhan khusus.

Banyak orangtua yang enggan traveling dengan anak-anaknya karena repot. Ataupun, ada yang memilih untuk jalan-jalan bersama pengasuh maupun eyangnya sebagai “bala bantuan”. Hey, hey, saya di sini tidak untuk menghakimi apapun pilihan traveling kalian. Tapi mari kita baca wawancara saya dengan Fitri, teman baru saya, yang ‘nekat’ traveling dengan putrinya yang berkebutuhan khusus. Bukan hanya itu, Fitri juga orangtua tunggal, lho.

Simak kisah inspiratifnya.

 

Fitri dan Sesa
Fitri dan Sesa

Fitri, bisa jelaskan kondisi putrimu dan juga kondisi kamu!

Hai, aku Fitri – 34, single parent, working at home mom. Anakku, Sesa lahir di usia kandungan 8 bulan pada tanggal 1 April 2011 dengan berat 2,1kg. Kira2 sebesar botol kecap lah. Anyway, seiring waktu dan bertambah usianya, tumbuh kembang adalah masalah utama. Ketika melewati beberapa kejanggalan, pd usia 9 bulan belum bisa tengkurap, akhirnya aku cek ke dokter spesialis tumbuh kembang anak, rujukan untuk CT-Scan di tengah malam akhirnya aku jalani. Hasilnya mengejutkan, ternyata sebagian otaknya tidak berkembang – mempengaruhi beberapa syaraf dan motoriknya.

Kelainan ini biasa disebut Cerebral Palsy, atau dalam bahasa Indonesianya lumpuh otak. Akibatnya syaraf motorik tubuh yang sebelah kiri lebih lemah dibanding yang kanan, alhasil sangat mempengaruhi keseimbangannya. Tubuh sebelah kiri pun kadang mengencang seperti serangan epilepsi ketika emosinya sedang naik. Cerebral Palsy ini ada beberapa tingkatan, alhamdulillah Sesa mengidap CP yang tidak terlalu berat.

Sekarang umurnya 3 tahun 5 bulan, dia baru bisa jalan 3 bulan yg lalu – walau belum lancar, dan kurang keseimbangan jadi sering kesandung dan jatuh, ngomong juga belum ada kata yg jelas selain “mamam” dan “mimik”, sisanya babbling dan baru huruf M yang dia kenal.

Kembali ke kelainan otak tadi, efek yg terlihat oleh kasat mata adalah kelainan pada kaki – sebenarnya sih bs dibantu pake sepatu khusus yg ada breket ke tungkai atasnya, tapi belum cek lagi ke dokter spesialis tulang. Nah si kelainan ini bisa dampaknya lumayan banyak, maklum yg diserang otak, mulai dr keseimbangan tubuh, konsentrasi anak yang kadang mengacu pada autisme, pertumbuhan badan, koordinasi mata dg tangan, bahkan mata pun gak “singkron” aka yg kiri agak “lari-lari” – susah buat dapetin foto yang bagus juga.

Serem ya kalo diceritain panjang lebar, tapi aslinya nggak kok, yang namanya anak itu anugerah terindah, ibarat bunga melati tumbuh di selokan pun tetep wangi kan?

Nah sekarang yang berhubungan dengan traveling. Kamu memang suka traveling atau gimana sih?

Aku suka banget yg namanya traveling. Buat aku, traveling itu bukan sekedar jalan-jalan tapi pelajaran yg didapatkan selama perjalanan itu yg membuat traveling lebih bermakna. Informasi yg aku dapatkan bisa aku terapkan di kemudian hari.

Sebelum punya Sesa aku udah keliling Jawa, Bali, dan sempat ke Amerika Serikat dua kali pada tahun 2004 dan 2006. Makanya, aku juga pengen ngajak anakku traveling, walau mungkinn sudah tidak semudah waktu masih single.
Ceritakan dong beberapa kisah Fitri jalan-jalan berdua dengan anak!

Dalam usianya yang 3 tahun lebih sedikit, aku bangga udah bisa bawa Sesa jalan-jalan ke Jogja, Jakarta, Bandung, Wonosobo, Solo, dan sekitarnya.

Tapi yang pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika mudik Lebaran yang lalu.

2014-06-08-20-43-21_deco

Solo-Jakarta pas malam takbiran via Kereta Api Bengawan ekonomi AC, menempuh perjalanan selama hampir 10 jam dg harga tiket berdua hanya sebesar 107.500, berangkat jam 16.00 dan sampai di Jatinegara jam 01.30.

Awalnya ragu untuk ajak anak mudik lebaran pakai kereta, soalnya sebelumnya pakai pesawat agak rewel karena dipangku dan bersebelahan dengan org yg dia gak kenal. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya drpd naik pesawat mendingan kereta dan sisa isi dompet bisa buat bekal di Jakarta.

Modal nekat aja, bawaan rada banyak, backpack menggendut dengan makanan dan printilan bocah, koper kecil yang digeret2 dan anak dalam dekapan. Ribet? Bangeeett, di stasiun Purwosari gak ada yg namanya kuli angkut barang, begitu juga sama tangga buat naik keretanya, jadi segala harus diangkut sendiri.

Selama perjalanan alhamdulillah nggak kumat hiper aktifnya, dia malah main sama penumpang depan (kereta ekonomi kursinya berhadapan), lumayan aku bisa tenang dan dia pun senang ada temen main.

Beruntung selama perjalanan dia nggak rewel sama sekali, malah asyik banget main dan liat kembang api di luar jendela. Sangat amat lega ketika dia gak ngebom, wiihh itu legaaaa banget… Maklum toilet kereta nggak bisa buat bersih-bersih plus sempit dan goyang2 hehe.

Perjalanan yng begitu panjang akhirnya berakhir di stasiun Jatinegara jam 01.30. Sesampainya di sana, aku pikir ada yang bisa jemput, eh ternyata nggak jadi dijemput gara2 efek malem takbiran di depan Stasiun Jatinegara mendadak jadi pasar kaget dan mobil, motor, angkot, dll nggak bisa lewat. Yak, perjuangan belum berakhir ternyata… Didampingi seorang kuli angkut, aku menggendong anakku dan jalan kaki sampai bisa nemu taksi – bah ternyata hari gini taksi gak mau pakai argo, harga nembak. Jalan lagi muter-muter nggak karuan sampai akhirnya nemu bajaj biru gas, tawar menawar harga dan akhirnya tancap gas ke rumah saudara di Pondok Bambu… Ngebajaj, selalu bikin anakku bahagia, saking dia nyaman “digoyang” bajaj, dia selalu tidur selama perjalanan…

Perjalanan berakhir begitu kaki melangkah masuk rumah jam 4 pagi… Gak kerasa ternyata segitu lamanya aku jalan kaki nyari kendaraan pulang.

Alhamdulillah, walaupun kurang tidur, tapi masih bisa Lebaranan sama keluarga besar, segala perjuanganku membuahkan hasil yg manis…
Rencananya tahun depan aku mau ajak Sesa traveling ke Medan dan Aceh, insya Allah juga ke Malaysia.

Kenapa kamu nekat bawa anakmu traveling? Apa tujuannya?

Banyak pertimbangan sebelumnya, tapi setelah dipikir-pikir, buat apa menimbang-nimbang, hidup cuma sekali, nikmatin selagi bisa!

Dia mungkin masih kecil dan gak ingat tempat travelingnya, tapi pengalaman itu yg dia akan ingat sepanjang masa. Pengalaman bertemu orang asing, naik pesawat, kereta, bajaj, travel, sampai angkot.

Tujuannya nggak muluk2, biar dia gak takut orang dan nyaman diajak pergi-pergi. Yes, dia dulu takut orang terutama orang banyak, diajak ke mal aja rewel krn banyak orang yg dia gak kenal – sama yg dia kenal aja suka gak mau, apalagi orang asing.

Bisa kasih tips bagi orangtua di luar sana yang  punya anak berkebutuhan khusus dan ingin traveling.

Parents, jangan pernah takut dan malu untuk ajak anak kita yg berkebutuhan khusus ini. Mereka juga perlu mengenal dunia luar yang asing. Beri ruang gerak lebih, pelajaran akan datang dengan sendirinya selaras dengan pengalaman.

Persiapkan segala yg dibutuhkan anak kita, mulai dari perlengkapan anak, mainan, makanan, cemilan, dan hal-hal yg bisa bikin anak kita nyaman dan mengalihkan kejenuhan mereka.

Kadang anak hiper aktif dan autis senang bermain di dunianya, sebisa mungkin ajak mereka bermain bersama yaa.. Untuk masalah susah tidur di perjalanan, well pada akhirnya kids will be kids, ngantuk akan datang ketika mereka lelah. Kunci utamanya sabar, sabar, dan selalu telaten.

Setiap anak itu spesial dan semua pun perlu special treatment, jangan membeda-bedakan anak kita dengan anak lainnya – anak adalah anugerah. Tugas kita sebagai orangtua adalah mendidik dan membesarkannya.

IMG_48695103356809

Ayo jelajah dunia sama Oliq, Sesa!

Advertisements

27 thoughts on “Traveling dengan Anak Luar Biasa”

  1. Ya Allah, luar bisa sekali mba Fitri dan putrinya kecilnya Sesa. so proud of you mba. Sesa kecil semoga kelak tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat dan akhirnya menjadi penjelajah dunia yg bawa banyak inspirasi 🙂 *peluk untuk mba Fitri dan Sesa. Makasih mak Olenka liputannya sukses bikin aku terharu dan ingin travelling dengan anakku 🙂 i hope oneday..

    Like

  2. Subhanallah, very inspiring story. Thanks for sharing, Olen. *lap air mata*
    Halo Sesa dan bundanya. Salam kenal ya. Butuh keberanian untuk ajak anak traveling, tapi perlu yg luar biasa utk ajak ABK traveling. Salut banget buat Fitri. Semoga menginspirasi yang lain.

    Like

  3. Amin amin.. Makasih atas doanya, semoga semuanya selalu dlm lindunganNya, amin.

    Ayo berpetualang sama si kecil, modal nekat aja mak, ntar juga biasa kok sama segala kerempongannya hehe. Yg penting niatnya, abis itu tinggal ngumpulin tenaga sama keberanian 😁😁

    Like

  4. Mbak Olen “sadis” banget euy!! Bikin aku mewek terharu. Sekaligus tertujes, karena selama ini kalo traveling bareng satu bocah yang (lumayan) anteng aja, aku sering sambat.

    Perempuan ini dan putrinya, sungguh, mereka menanam jariyah yang luar biasa! Salut, saluuut!

    Like

      1. Iya mbak Fitri. Dulu saya selalu menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melahirkan bayi yang sehat. Setelah secara tidak sengaja bertemu dengan teman-teman Alina di tempat terapi (biasanya kami tidak pernah bertemu karena sudah diatur jamnya) dan melihat mereka yang jauh lebih parah daripada anak saya, saya menjadi jauh lebih bersyukur karena cobaan saya tidak seberat mereka. Terus terang saya justru belajar banyak dari Alina, tentang kesabaran, keikhlasan dan semangat menghadapi cobaan yang menghadang. Bila traveling bersamanya saya harus sabar karena harus jalan pelan-pelan (sesuatu yang sulit saya lakukan), mengendongnya kalau capek dan sering-sering memijat kakinya saat lelah.

        Like

  5. Whoa, my heart starts to get warm. I was truly inspired by this story! Dear Fitri and lovely daughter, may Allah be with you and guide you in every step that you take. Wishing you both all the best!… Olen, thank you so much for the sharing

    Like

  6. Haloo Bu Fitri…
    Seneng ya bisa mudik lebaran kemarin…
    .
    Thoriq beberapa lebaran ini ndak berani mudik.
    Khawatir terjadi kejang pas di jalan…krn perjalanan lumayan jauh 8 jam ke tmpt neneknya di Jatim (dan akan lbh lama lagi khan kalo lebaran).
    Dulu pernah lebaran ke tmpt nenek sekali sblm kena kejang…
    .
    Salam buat Sesa & Bundanya…
    Tetap semangat & keep smile 🙂
    Salam CP !
    Dari Thoriq. CP 5.5 thn @Jogja

    Like

    1. Salam kenal ya Thoriq, semoga selalu sehat dan dlm lindungan Allah.

      Dulu saya jg pernah menempuh perjalanan pakai mobil jkt-solo 24jam dan bukan pas masa liburan/lebaran. Kami jalan pelan2, berapa jam sekali istirahat untuk cek kondisi Sesa. Alhamdulillah, tidak ada masalah, yg penting kondisinya dicek agar tdk lelah dan memacu emosinya krn ini penyebab dia kejang.

      Salam CP, tetep semangat yaa Thoriq *peluukkk.

      Like

    1. Wah senang Mb Fitri ada kenalan baru. Kenalkan Pak saya Olen yg punya blog. Orang jogja juga, eh sleman ding. Silakan kalau dishare semoga meginspirasi orangtua2 lain

      Like

  7. Alhamdulillah, makasih buat mbak Olen yg ud “ngangkat” cerita ini – the untold story finally revealed… Makasih buat semuanya atas respon positifnya, semoga bisa saling menguatkan yaa. Tetep semangat dan jangan menyerah, nikmatin hidup selagi bisaa!

    Your children need your presence more than your presents ~ Jesse Jackson.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s