Traveling Itu Hak, Jangan Diatur-Atur


Bahwasanya traveling itu kewajiban tidak pernah tertuang dalam pasal apapun di UUD 45. Bahwasanya traveling hak juga tidak diatur di mana-mana juga sih huehehe. Mau bawa koper, gendong ransel sak Bagong sekalian sama Gareng Petruknya, tidak ada aturannya. Mau bawa tongsis atau tripod dan menjadikan HP sebagai remote kameranya juga monggo saja. Mau bawa fotografer profesional ya silakan saja.

Wong dolan-dolanmu dewe. Wong duit-duitmu dewe.

Puput mabur (foto oleh Mas Bem)
Apapun gaya travelingmu yang penting happy (foto oleh Bems)

Nah-nah, beberapa hari yang lalu ada teman (sebut saja namanya @ubermoon — bukan nama sebenarnya) mengeluhkan bahwa ada orang yang seolah-olah “mewajibkan” traveler untuk naik gunung. Bukan itu saja, belum afdol kalau belum sampai Mahameru. Laaaaah!

Lalu ada pula yang bilang Indonesia ini bawah lautnya bagus banget, jadi traveler juga harus “ikut-ikutan” diving dong. Ehem, banyak faktor lho kenapa seseorang nggak mau belajar diving, kaya saya misalnya, alasannya TIDAK TERTARIK. Simple kan? It’s just not my thing. Yang lainnya mungkin juga mempertimbangkan biaya.

Diving mungkin tidak ada hubungannya dengan kemampuan berenang seseorang, tetapi seseorang yang tidak bisa berenang saya yakin punya kecenderungan untuk agak fobia dengan air dalam.

Saya pernah agak marah dengan Puput waktu dia menyuruh saya kursus diving. Ada beberapa hal, sih. Pertama, kalau suami sering diving dengan log yang sudah berjubel, apa istrinya juga diharapkan hal sama? Apa tidak bisa jadi pasangan traveler dengan ketertarikan yang berbeda? Suami senang bayar mahal untuk susah payah diving, sementara istrinya gratisan leyeh-leyeh di pantai. Seimbang kan? Yin yang, saudara-saudara sebangsa dan setanah air!

Diving juga bukan olahraga murah. Bayangkan saja kalau satu kali cemplungan 400 ribu, misalnya. Sehari 3 cemplungan bisa 1 juta lebih kan? Belum lagi kalau seperti Puput yang harus punya seperangkat alat diving seharga satu buah motor, underwater casing untuk kamera dan bla bla blanya. (Dan seumur pernikahan baru saat mau beli diving gear itu Puput pakai acara izin dulu sama saya, biasanya lempeng saja ujug-ujug pulang bawa barang)

Diving mahal? Iya
Diving mahal? Iya

Tapi, biaya itu relatif. Kadang kita hanya — seperti saya — tidak tertarik.

Ada traveler yang memang senang mendaki gunung dan diving seperti Puput (@aryakamandhanu), ada juga senang family traveling seperti kami (@travelingprecil), ada yang senang sejarah budaya (@noerazhka, @efenerr, @halim_san misalnya), ada yang hobinya kuliner (@debbzie), ada juga yang sangat tertarik dengan kuburan (@oli3ve). Mohon yang tidak kesebut jangan keplak saya….. Ada juga yang ketertarikannya tergantung promo yang ada seperti saya huehuehue

Bukan berarti traveler yang senang budaya tidak mau ke pantai. Bukaaaaaan, bukan banget. Hanya saja tidak ada aturan harus melakukan ini, harus melakukan itu ketika traveling. Harus menyukai ini, harus menyukai itu. Selama yang mereka lakukan itu tidak melanggar hukum dan kearifan lokal, ya terserah saja to? Gitu aja kok repot.

Ada juga yang mengatakan tidak akan ke luar negeri sebelum mengkhatamkan Indonesia. Boleh, monggo saja. Asal, jangan merendahkan orang-orang yang sering jalan-jalan ke luar negeri. Wong tidak ada aturannya kok. Lagipula, setahu saya, teman-teman yang sering traveling ke luar negeri itu juga mereka yang sering traveling dalam negeri kok! Dan teman-teman yang sering mencela mereka yang traveling ke luar negeri (dengan mengatakan tidak nasionalis dan istilah turunannya) adalah mereka yang memang jarang traveling ke mana-mana.

Lagipula, menurut saya, tidak ada hubungannya antara nasionalisme dengan traveling ke luar negeri. Apa iya semakin sering jalan-jalan ke luar negeri terus “lupa” sama Indonesia? Apa iya kemudian menjadi kebarat-baratan? Justru orang-orang ini termasuk yang menancapkan Indonesia di peta dunia. Menurut saya lho itu ya, kalau beda pendapat pun tak apa, wong pemikiran seseorang juga tidak ada aturannya…

Prinsip pribadi saya sih jelas: Asal tidak melanggar hukum, kearifan lokal, budaya setempat dan budaya kita, mengadopsi yang baik dan menghindari yang buruk. Selain itu tentu saja: Selama kita menikmatinya!

baluran11 gunung

Seperti yang pernah saya tweetkan tempo hari.

Indonesia itu gunung-gunungnya bagus, apa semua orang harus menjadi pendaki gunung?

Indonesia itu alam bawah lautnya bagus, apa semua orang harus bisa diving dan punya sertifikat PADI?

Indonesia itu kaya ragam budayanya, apa semua orang harus bisa menari?

*BRB mau kursus nari gambyong dulu*

Cekap semanten atur kula. Assalammualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Advertisements

34 thoughts on “Traveling Itu Hak, Jangan Diatur-Atur”

  1. Aku termasuk yg belum pernah ke Semeru & tidak tertarik diving (karena selain ga bisa renang, juga takut di kedalaman).

    Kalau jalan2 sambil bawa fotografer (pribadi) profesional, kayaknya menyenangkan ya mbak?

    Like

  2. Ahahahahahaha… *tepuk tangan* *sodorin air minum*
    Ada temenku yg mau khatamin Indonesia dulu katanya. Dia bilang kalau seminggu ke 4 pulau, bisa selesai dalam 84 tahun. Ya monggo, tapi kalau aku mau kusambi2 ke Istanbul, Kyoto, dll 😀

    Like

  3. hahaha benerr mbak , traveling itu suka – suka yang jalanin, gak usah diatur – atur mesti ini itu , kalo kesini harus ke gunung ini kalo kesini harus ke pantai ini , lah yang jalan – jalan siapa kok ngatur – ngatur hehehe :v

    Salam dari travel blogger newbie mbak , bisa mampir sama nyela tulisan saya di http://imalavins.blogspot.com/ :v

    Like

  4. Bwahahahahaha, bahagia sekali saya baca ini, Mbok, semacam mewakili kata hati yang lama terpendam gitu. Apalagi, nama saya disebut di dalamnya .. *maaf, yang terakhir agak lebay*

    Sepakat sesepakat2nya, Mbok, pengin traveling ya traveling aja, ga perlu ikut teori Si A, Si B, Si C. Kaya bercinta gitu lah, gaya favorit masing2 orang beda2, ga usah maksain .. *ups, analoginya kok gini*

    Btw, salim sik ah, sesama manusia yg ga bisa berenang .. 😀

    Like

    1. Wong aku iso renang og, mulai dari gaya ikan teri sampai ikan dugong

      eeerrrr bercinta?

      kowe mesti misonaris to, hoo to, ngaku we!

      Like

  5. Aha! Finally, people with (the same) sense! Hehehe.

    Beberapa kali aku digituin, dibilang ngapain jln ke luar, ngapain ikut cruise padahal Indonesia gak akan ada habisnya dijelajah; selama ini cm nanggepin senyum senep dan ilfeel aja. But there you go peehpul, we have different set of mind on traveling. That’s all. Susah amat sih saling menghargai. Hihihi.

    Well done, matang sempurna, Mbok!

    Like

  6. mbok,
    aku terharu baca bacaanmu..
    mau mahal mau murah, ya duit2nya sendiri.
    mau 3 hari di baluran, mau 3 hari bromo, ijen, baluran, yo karepe tho?
    mau sendiri mau rame-rame.. (atau berdua saja)
    hmm…

    Like

  7. .. sebut saja …. bukan nama sebenarnya .. koq 😉

    senang membaca tuturmu kk,
    traveling itu nyangkutnya sama renjana dan rasa jadi ndak bisa diatur2 ngikut maunya si A or B.

    ‘va dove ti porta il cuore!
    saleum kk Olen

    Like

  8. Tapi Mbok, suamiku cuman mau ke Raja Ampat kalau kita mau diving #persoalan

    Dia sih emang pengen bisa diving, dimulai dari belajar renang (niat banget), which is asyik sekarang kita weekend berenang bareng ama kiddos.

    Sementara aku, belum mau belajar diving karena takut:D Someday pengen belajar supaya bisa diving berempat, kedua kiddos emang makhluk pecinta air.

    Jadi aku mau Diving buat karena semua orang bisa diving atau sebagai orang Indonesia harus Diving Mbok, Tapi supaya requirement ke Raja Ampat terpenuhi. Halah!

    Like

  9. udah bosen dicela cela karena lebih sering keluar negeri daripada jalan di negeri sendiri. Palingan cuma senyum sambil bilang “sak karepmu lah”. Aku kan pengen terbang bebas mengelilingi dunia *berubah jadi burung* hihihi :p

    Like

  10. Reblogged this on The Life of Decci and commented:
    “Prinsip pribadi saya sih jelas: Asal tidak melanggar hukum, kearifan lokal, budaya setempat dan budaya kita, mengadopsi yang baik dan menghindari yang buruk. Selain itu tentu saja: Selama kita menikmatinya!” Heem! Sepakat! 🙂

    Like

  11. Nice artikel, mbak e…
    Tersanjung banget ada namaku disebut di sini *sungkem*
    Udah bosen ditanyain “duit dari mana bisa jalan-jalan melulu”, “sugih ya bisa jalan terus”, ahh manusia… padahal yang nyibir gituan malah punya duit lebih banyak tapi habis buat ngerokok dan dirokok #ehh

    Ini kok jadi tjurhat duit hahaha. Pokoke pas jalan kudu enjoy, karepe lah yang mengotak-kotakkan traveling ya oooooooo 😀

    Like

  12. Ini mewakili perasaanku selama ini yang berulang kali melihat para manusia saling sindir mengenai cara berjalan orang lain. Lah kayak mereka ikut bayari aja sih. They just need to take one or two chill pill.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s