Kuliah di Luar Negeri, Perpustakaan, dan Bikini


Dalam postingan sebelumnya saya sempat sekilas menceritakan tentang teman yang mendadak buka baju di tengah acara kuliah. Well, sebenarnya masih banyak cerita absurd tentang perkuliahan di Australia.

monash
Ini waktu Oliq napak tilas perjalanan Simbok 5 tahun sesudahnya

Ingat, sistem perkuliahan di luar negeri tidak selalu serupa, tergantung universitas, jurusan, dan dosennya.

Ada teman saya yang kuliahnya seperti di Indonesia. Dosen berbicara, mahasiswa mencatat. Oh, ini program master juga lho. Tapi teman saya kuliahnya padat, satu semester entah berapa mata kuliah, satu minggu beberapa kali kelas.

Jurusan saya lain lagi. Satu semester hanya 2 mata kuliah. Satu minggu hanya kuliah 2 x 2 jam. Lhaaaa enak banget, lainnya ngapain? Pacaran lah. Kerja part time dong.

Nah,  jangan kira kuliah cuma sedikit terus santai. Kuliah saya tidak ada yg model dengar-catat. Semuanya seminar, alias ada yang presentasi dilanjutkan tanya jawab. Harus siap terus.

Kalau pas presentasi tentu harus ekstra persiapan. Apalagi kadang tidak percaya diri karena banyak mahasiswa lokal yang cas cis cus sementara kita ngomong Inggris aja harus mikir dulu. Apalagi kalau harus jawab pertanyaan.

Ada nih dosen yang hobi main tunjuk. Saya sering jadi sasaran, deh. Pas lagi ngelamun jorok, syar’i, ujug-ujug ditanyain perbedaan pemikiran antara Hassan Al Banna dengan entah siapa saya lupa. Entah kenapa, cinta berat sama saya. Mungkin karena dosen ini asli Uzbekistan jadi dia tergoda sama nama saya yang kerusia-rusiaan. Sial! Btw, Profesor ini yang kelak jadi pembimbing tesis saya.

Penampilan dosen di sini juga nggak konvensional. Selain si ganteng Dr Newman yang cakepnya tidak konvensional, ada juga dosen yang satu lengannya penuh ditato. Penuh!

Saya pernah berpikir kalau di Indonesia mungkin dikira bandit ya. Padahal di sana beliau ini profesor yang disegani, seorang ahli Politik Islam, hapal banyak ayat Quran dan hadits beserta tafsirannya.

Oh ya kembali dengan cerita si Mas Argentina yang copot baju di tengah acara kuliah outdoor (bawahnya sekalian dong mas, plis), beberapa minggu berikutnya orang yang sama bikin saya ngikik di kelas.

Dalam kuliah, dosen lagi berbusa membahas tentang NBC Terrorism (nuclear, biological, chemical). Yup bener kuliah saya banyak berkisar masalah itu, wajar kan kalau saya sekarang banyak bergaul dengan bahan-bahan serupa di dapur? Eh balik lagi ke Mas Argentina. Di tengah kuliah ini, tiba-tiba dia keluarin jeruk, kupas dengan santainya, makan tanpa nawarin orang lain. Saya masih kalem, cuma berpikir kalau di Indonesia udah disuruh keluar dari kelas.

Setelah itu Mas-nya keluarin apel. Digigit sambil mangap lebar-lebar. Woh ngelih tenan iki. Saya masih kalem.

Ealah berikutnya dia keluarin pisang. Makan itu pisang, saya terpaksa ngikik. Wooooh!

Kuliah di Australia memang jauh lebih bebas, misalnya dalam segi pakaian. Saya dulu biasa pakai kaos dan celana jins (waktu itu belum pakai kerudung), sandal jepit kalau summer, sepatu kets kalau winter atau pas jadwal mau kerja. Kalau summer juga sering pakai celana pendek dan rok mini. Summer di Melbourne emang panas sekali sering melebihi 40 derajat Celcius dan kering. Kalau pas nggak ngapa-ngapain di kos, biasanya saya baru keluar buat belanja setelah jam 10 malam.

Penampilan mahasiswa lokal lebih dahsyat. Celana pendek sepantat, tank top itu umum banget. Waktu summer dan masa ujian saya malah lihat banyak mahasiswa yang pakai celana pendek dan atasan bikini saja. Iya, kutang tipis gitu aja sampai p*ntilnya kelihatan. Mereka gegoleran di rumput. Doh, kalau di kampung saya pasti udah dipatuk ayam.

Ngomong tentang gegoleran di atas rumput, saya juga sering. Di sana tidak ada itu sign “Dilarang Menginjak Rumput”. Rumput itu buat diinjak, diduduki, ditiduri. Saya pernah sampai ketiduran hingga menjelang gelap.

Urusan makan itu gampang saja karena ada beberapa kedai halal, kedai Asia yang jual nasi. Ada juga beberapa microwave yang bebas digunakan kalau kita bawa bekal dari rumah.

Jangan dikira kuliah bebas itu berarti mudah. Semua mahasiswa, lokal maupun asing, mau tidak mau, rajin nongkrong di perpustakaan. Walau kuliahnya sedikit, paper banyak. Bukan hal yang luar biasa kalau sampai ada mahasiswa menginap di perpustakaan sebelum deadline paper (ada beberapa perpustakaan yang buka 24 jam).

Bukan juga hal luar biasa ada mahasiswa dengan rambut ungu, atau hijau, atau dengan tindikan di seluruh muka yang lagi khusyuk belajar di perpustakaan.

Tidak aneh juga melihat mature students alias mahasiswa yang sudah setengah baya, ibu-ibu maupun budhe-budhe dan pakde-pakde. Tidak aneh juga melihat mahasiswa pulang dari perpustakaan membawa troli belanja kecil berisi buku. Bukan 2-3 buku saja yang boleh dipinjam sekaligus, melainkan 20 buku. Saya pernah lho menghabiskan quota walau buku cuma mampir di flat saya, tidak sempat mampir ke otak.

Tempat favorit saya di kampus itu perpustakaan, lho. Sayangnya bukan Sir Louis Matheson Library sebagai perpus utama, tapi John Medley Library. Perpustakaan ini asyik banget karena ini adalah perpustakaan hiburan. Isinya? Novel-novel lengkap (kebanyakan thriller kesukaan saya ada, seperti misalnya bukunya John Grisham, James Patterson, dan Dan Brown). Majalah semacam Cleo dan Cosmopolitan pun ada. Di perpus disediakan bantal-bantal untuk duduk dan tiduran. Paling sial kalau ada yang ngorok.

Setiap suburb (kelurahan) punya juga perpustakaan yang isinya lumayan oke. Saya juga anggota perpustakaan Clayton untuk pinjam novel. Gratis semua!

Perjuangan berat tapi juga indah dikenang, makanya waktu Oliq umur 6 bulan akhirnya kami sekeluarga jalan-jalan ke Australia.

Tole, kamu besok jangan sekolah di Melbourne ya…tempat lain aja, biar Simbok ga bosen nengokinnya.

Advertisements

13 thoughts on “Kuliah di Luar Negeri, Perpustakaan, dan Bikini”

  1. Temennya rada2!bikin iri mak olen, aku dulu di kelas nyemilnya stik talas pedes, ga sehat blass hahaha

    Napak tilasnya pasti asik banget ya bawa baby

    Trus belanja jam 10 malem itu memangnya lebih anget ya mak?

    Memang perpustakaan lengkap nan gratis itu bagai surga di bumi yes hihi

    Cerita ostrali pake gaya bahasa njawani itu nampol banget dibacanya mak, untung saya sambil nunggu kutek kering kalo sambil makan bisa keselek. Serius2 baca trus tiba2 ngebanyol. Haha luv your story 🙂

    Like

  2. Hahaa… Seru banget ceritanya… Aku dulu di Melbourne uni kok gak pernah punya temen kuliah yang seajaib itu ya…. Jadi inget jaman kuliah juga…. Aku juga jadwal kuliahnya gak banyak, tapi tiap hari harus mau gak mau nongkrong di library dan lab computer (jaman segitu belum punya laptop), baca, nulis paper, nyiapin presentasi…. Btw mana foto dosen gantengnya? 😉

    Like

    1. Aku udah punya laptop toshiba tecra beli seken sebelum berangkat wahahaha, tapi kalo internetan cuma dial up, kalo mau cepet kudu ke libraru emang. Ga berani foto dosen ganteng udah punya pacar sih

      Like

  3. Mba Olen, duh baca critamu, timbul lagi semangatku untuk kuliah di sana deh, tapinya…. duh, Intan should be my priority. Ah, coba intips program beasiswa lagi ah, mana tau bisa dapet. 🙂 TFS, Mba!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s